NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11

Semua halal dalam perang dan cinta. Namun mengkhianati rekan kerja dengan menyebarkan rumor buruk adalah tindakan yang tidak bijaksana. Benar saja bahwa siapapun dapat berkhianat ataupun mendapat pengkhianatan. Yang paling menyakitkan adalah jika pelaku pengkhianatan adalah orang terdekat. Karena William dibesarkan pada keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang, ia bersyukur selama 28 tahun hidup, dirinya belum pernah merasakan dikhianati oleh orang terdekat. Mungkin hanya beberapa teman bisnis yang mendapat tawaran lebih besar.

William meletakkan sendoknya, ia menatap lekat-lekat gadis yang duduk di sebrangnya. "Apakah kau dekat dengan Sophia?"

"Sophia?" Angel bertanya ragu yang dijawab deheman oleh William. "Tidak terlalu. Dia hanya beberapa tahun lahir lebih dulu. Kami bertemu jika kebetulan mendapatkan proyek yang sama," sambungnya, tangannya tak berhenti menyendok makanan yang ada di depannya. Kali ini William memberikan ia makanan yang sehat berupa kukusan salmon yang disirami kecap asin. Bagian istimewanya adalah William khusus memasak untuknya. Angel tak tahu jika kemampuan memasak William cukup hebat. Lain kali ia akan memintanya untuk memasak yang lain.

"Kuharap kau tidak terkejut ataupun merasa sakit hati," jeda sebentar, Angel memusatkan perhatiannya pada William sepenuhnya. "Ternyata yang menyebarkan foto-foto kita adalah Sophia." Angel sedikit terkejut namun tidak ada ekspresi yang menyiratkan bahwa ia terluka. "Kau tak perlu khawatir, perusahaan sudah memecatnya dan akan menuntutnya jika kau setuju."

"Ow..." Angel mengedikkan bahu lalu melanjutkan makannya dengan tenang. "Entahlah, saya merasa itu tidak perlu. Bagaimanapun juga dia pernah berbuat baik pada saya. Tapi, mengapa ia melakukan itu? Apakah saya pernah berbuat sesuatu yang merugikannya?"

William berdehem sebelum menjawab, ia tersenyum kaku. "Karena dia menyukaiku. Dan mengetahui bahwa aku tengah mendekatimu, karenanya dia menargetkanmu."

"Tapi dia menyeret bapak ke dalam masalah, bukan?"

"Angel, ketahuilah bahwa jika laki-laki dan perempuan terlibat skandal maka yang paling dirugikan adalah pihak perempuan. Salah satunya nama baik yang tercemar. Dan dia berhasil melakukannya padamu."

***

Mau tak mau Angel menjadi terpengaruh pada apa yang dikatakan oleh William. Bahwa pihak perempuanlah yang selalu dirugikan. Usianya masih sangat muda saat papa dan mama pergi meninggalkannya. Dan selama mereka hidup Angel tumbuh dengan kasih sayang penuh dari orang tuanya, pengajaran yang paling banyak ia terima adalah tentang berbuat baik kepada orang lain dan memberikan mereka tindakan yang melambangkan kasih sayang. Singkatnya, Angel belum mengerti bagaimana dunia yang penuh kelicikan dan kekejaman bekerja. Mungkin karena itu, saat beritanya masuk akun gosip ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Dan saat di sekolah tadi ia seolah-olah sulit benafas. Jadi, apakah saat ini ia sudah tak bisa memandang dunia dengan sederhana lagi?

Sebenarnya, kepolosannya diam-diam terlucuti sejak ia melihat William tiga bulan yang lalu. Keingintahuannya yang besar membuatnya menahan diri untuk tak mencari tahu, sayangnya hal tersebut terlampiaskan dengan hadirnya mimpi-mimpi aneh setiap malam. Setelah pertemuannya dengan William dan beberapa kali dicuri cium, Angel tak lagi bangun tengah malam. Mimpi itu seolah lenyap bukan lagi hasrat terdalam yang Angel pendam. Angel kini mengerti bagaiamana gairah seseorang merusak akal sehat. Benar kata orang, bahwa cinta dan gairah adalah musuh utama usia. Angel menyadari seharusnya ia belum berada di tahap ini. Nasi sudah menjadi bubur, kepolosan yang dulu ia pelihara lenyap oleh cinta dan gairah yang William berikan bertubi-tubi.

Seiring kepolosannya yang hilang dan pertemuannya dengan William, kesederhanaan menjadi begitu rumit. Dulu ia berpikir bahwa berbuat baik kepada orang lain maka akan mendatangkan kebaikan pada diri kita, ya memang benar. Namun mengapa Sophia bisa berbuat sekejam itu padanya? Perasaannya terhadap William membuatnya menjadi pribadi yang buruk dengan mencelakakan orang lain. Lalu apakah itu bisa disebut dengan cinta? Ia pikir bukan, melainkan keinginan kuat untuk memiliki seseorang atau bisa disebut dengan obsesi? Entahlah ia pun tak mengerti tentang cinta dan tetek bengeknya.

Angel duduk di sofa, setengah badannya tertutupi selimut dan tv menyala menampilkan acara gosip sore hari. Ia sudah cukup lama duduk merenung hingga membuat William sedikit khawatir akan keadaannya.

"Apa kau baik-baik saja?" William mendudukkan diri di dekatnya, tangannya membawa tubuh Angel untuk bersandar ke dadanya.

Angel menurut, meski saat ini pikirannya melayang jauh pada apa yang menimpanya pagi ini. Jika gosip itu Sophia yang menyebarkannya, apakah ada kemungkinan bahwa foto-fotonya juga disebarkan olehnya?

Tak mendapat respon, William mengubah duduknya, membawa Angel untuk duduk di pangkuannya. Ia menatap lekat Angel. "Katakan apa yang kau pikirkan, Angel," tuntutnya.

"Saya sedang berpikir," mata Angel menerawang lalu kembali menatap netra hitam milik William. "Apakah pelaku penyebaran foto-foto saya di sekolah juga Sophia? Jika benar Sophia, bagaimana dia bisa mengakses penjagaan sekolah yang begitu ketat dan menyebarkannya lewat grup chat angkatan?"

"Foto apa?" William baru mengetahui informasi ini. Dia seharian sibuk menjaga Angel hingga melupakan alasan utama Angel datang ke rumahnya.

Angel turun dari pangkuan William, ia mengambil tasnya yang berada di meja dekat pintu masuk. Tangannya merogoh mencari gumpalan kertas yang berisi fotonya. Maksudnya foto dengan wajahnya tapi bukan tubuhnya.

Ia menyodorkan pada William, lalu mendudukkan dirinya ke sofa. William menerima dengan kening berkerut, membukanya dan netranya seketika menggelap melihat foto-foto tersebut. William kembali meremasnya, ia matanya menyipit menatap Angel. "Mengapa kau baru memberitahuku? Siapa yang melakukan ini padamu?" tanyanya cepat, ia berusaha mengendalikan emosinya.

Tatapan William membuat Angel menciut, ia beringsut mundur dan memeluk dirinya sendiri. Kepalanya menggeleng pelan.

William menghembuskan nafas kasar, lalu mendekati Angel. Tatapannya melunak, tangannya berusaha meraih Angel dalam dekapannya. "Maafkan aku. Aku marah karena seseorang berbuat jahat padamu. Lagi-lagi aku gagal melindungimu," tuturnya penuh penyesalan. Tangannya mengelus punggung Angel perlahan.

"Saya tidak tahu, pak. Pagi-pagi sekali foto itu sudah ada di mading sekolah. Padahal saya merasa tidak memiliki musuh di sekolah. Awalnya saya merasa aneh dengan tatapan orang-orang ketika melihat saya, ternyata karena foto-foto menjijikkan itu. Saya bersumpah tidak pernah berpose seperti itu, pak," jelas Angel sambil menahan tangis. Ia saat ini berada di dalam pelukan William, aroma tubuh lelaki itu memberinya ketenangan sekaligus keberanian untuk berbicara. "Tak hanya di mading, foto-foto itu juga disebar di grup angkatan. Bahkan ada yang menjadikannya stiker. Saya mematikan ponsel tak lama setelah bapak menelpon. Saya takut pak." Pecah sudah tangis Angel dalam dekapan William.

William tak menanggapi, tangannya tak berhenti mengelus punggung Angel. Kecupan beberapa kali ia layangkan ke puncak kepala gadisnya. "Menangislah jika itu dapat membuatmu tenang. Aku akan selalu berada di sini."

"Tapi saya lelah menangis, pak. Saya sudah menangis tadi," rengeknya mencoba berhenti menangis. Jemari lentiknya mengusap pipi, William meraih tisu lalu membantunya membersihkan sisa-sisa air matanya.

"Ada satu hal yang membuat saya penasaran pak."

"Katakan..."

"Apa hubungan bapak dengan Bu Sandra? Apakah kalian pacaran?"

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!