Ayahku punya utang 500 juta. Aku dipaksa nikah sama om-om 40 tahun buat lunasin. Malam pertama dia malah tidur di sofa. Ternyata dia simpan foto mantan istri yang mirip aku. Siapa wanita itu? Kenapa dia mati? Dan kenapa om itu takut aku hamil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska bbt644, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: MALAM PERTAMA YANG GAGAL
Pintu presidential suite ketutup. Klik. Sunyi. Cuma ada suara AC, suara lilin apinya kecil-kecil, sama suara jantung gue yang dug-dug-dug kayak mau konser.
Mas Arga nurunin gue pelan-pelan dari gendongannya. Kakiku napak karpet tebel, tapi lemes. Gaun pengantin putih ini berat banget, dada sesek.
"Sayang," panggilnya pelan. Yang ketiga. Lunas jatah hari ini. Tapi kenapa malah bikin tambah deg-degan.
Dia jalan mundur dua langkah, ngasih gue jarak. "Ganti baju dulu aja. Di kamar mandi ada kimono. Yang nyaman."
Aku ngangguk kaku, terus kabur ke kamar mandi. Di dalem, aku ngaca. Muka merah, makeup luntur dikit karena nangis pas Clarissa tadi. Rambut sanggul udah acak-acakan.
"Ya Allah, Siska," bisikku ke kaca. "Lo nikah beneran. Sama om-om umur 35. Malem ini... malem pertama."
Tanganku gemeteran buka resleting gaun. Susah. Resletingnya di belakang, nyangkut. Aku muter-muter kayak kucing kejar ekor.
Tok tok. "Sayang? Perlu bantuan?" Suara Mas Arga dari balik pintu.
"ENGGAK! BISA SENDIRI!" teriakku panik. Gengsi dong.
"Yakin? Kedengeran kayak lagi gelud sama gaun."
Gue ngesot di lantai kamar mandi. "IYA! DIEM DULU NAPA!"
Dari luar kedengeran dia ketawa kecil. "Ya udah. Pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru. Gue tunggu."
Akhirnya resletingnya kebuka. Gaun mermaid 20 juta itu gue lepas, gue gantung. Badanku cuma pake lingerie putih yang tadi dipakein MUA. Tipis. Nerawang. Anjir, siapa yang milih ini?!
Gue buru-buru pake kimono satin warna champagne yang disediain hotel. Tebel, panjang, nutup sampe mata kaki. Aman. Baru gue berani keluar.
Mas Arga udah ganti juga. Jasnya udah dilepas, kemeja putihnya dibuka 2 kancing atas, lengan digulung. Rambutnya agak acak-acakan. Tapi... anjir, kok malah lebih ganteng daripada pas rapi? Dia lagi tuang wine ke dua gelas.
"Minum dulu biar rileks," dia nyodorin satu gelas. Tangannya masih diperban gara-gara pecahan gelas tadi.
Gue ambil, tapi nggak minum. Cuma pegang. "Mas..."
"Hmm?"
"Mas beneran nggak nyesel? Nikahin aku? Aku bukan siapa-siapa. Anak kos. Nggak pinter. Nggak anggun kayak Alina. Nggak elegan kayak Clarissa."
Mas Arga naruh gelasnya. Dia jalan nyamperin gue, terus... dua tangannya megang pipiku. Hangat. Jempolnya ngusap bawah mataku yang masih basah.
"Siska," katanya, mata kita sejajar. "Gue ulangin sekali lagi ya. Gue nggak mau Alina. Nggak mau Clarissa. Gue mau lo. Siska Putri Lestari yang bawel, yang suka mie instan, yang berani nantang gue. Lo itu... rumah. Ngerti?"
Air mata gue netes lagi. "Tapi aku takut, Mas. Aku nggak pengalaman. Gimana kalo Mas kecewa?"
Dia senyum, terus nonjolin jidatnya ke jidat gue. Kayak di RS kemarin. "Nggak ada kata kecewa buat lo. Mau lo diem aja kayak patung juga gue nggak kecewa. Karena yang gue mau cuma lo ada di sini. Sama gue. Halal."
DEG. Om-om ini beneran pinter bikin meleleh.
Dia nuntun gue ke ranjang. Seprainya udah ditabur kelopak mawar, ada strawberry cokelat di meja nakas. Lampu udah diredupin. Romantis banget. Tapi gue malah makin tegang.
Mas Arga duduk di pinggir ranjang, nepuk sebelahnya. "Sini."
Gue duduk kaku. Jarak 30 cm. Dia ketawa. "Segitu jauhnya? Gue nggak gigit, Sayang."
"Ih... iya..." Gue geser dikit. Jadi 20 cm.
Dia ngelus rambut gue yang udah digerai. "Boleh gue...?" jarinya nyentuh tali kimono gue.
Gue langsung tutupin dadaku. "T-tunggu! Mas, pelan-pelan ya? Aku... aku beneran takut."
"Iya. Pelan-pelan." Dia narik napas. "Gue janji nggak bakal maksa. Kalo lo bilang stop, kita stop. Oke?"
Gue ngangguk. Dia buka tali kimono gue pelan-pelan. Satin-nya melorot dikit dari bahu. Dingin AC kena kulit, gue merinding.
Mas Arga diem. Matanya jelajah dari leher gue, bahu, turun ke... dia langsung merem, buang muka. Napasnya berat.
"Mas?" panggilku lirih.
"Lo... cantik banget, Sis," suaranya serak. "Gue takut khilaf. Takut nyakitin lo."
Gue nggak tau dapet berani dari mana. Gue pegang tangannya yang ngepal di atas sprei. "Mas... aku istri Mas. Halal. Nggak papa... kalo Mas..."
Kata-kataku kepotong karena... HP Mas Arga bunyi. Tut-tut-tut. Notifikasi CCTV.
Kening Mas Arga langsung kerut. Dia lepasin tanganku, ambil HP dari nakas. Mukanya berubah. Dari lembut, jadi beku. Jadi Arga Pratama CEO dingin lagi.
"Kenapa, Mas?" Aku benerin kimono, nutupin lagi.
Dia nggak jawab. Dia turun dari ranjang, jalan ke pojok kamar. Matanya nyari-nyari ke atas. Ke vas bunga gede di atas meja. Dia nyamperin, terus... tangannya masuk ke dalem rangkaian bunga lili.
KLEK. Dia cabut sesuatu. Kecil. Item. Ada lampu merah kedip-kedip.
Kamera.
Darah gue berdesir. Dingin.
"ELANG!" Mas Arga teriak kenceng banget sampe gue kaget. Pintu suite langsung kebuka, Elang sama 3 bodyguard masuk. "STERILKAN SELURUH KAMAR SEKARANG! CEK SEMUA SUDUT! CEK KAMAR MANDI, CEK BAWAH RANJANG, CEK LAMPU!"
Elang nggak nanya. Dia sama timnya langsung kerja. Pake alat detektor, ngecek semua.
Mas Arga jalan balik ke gue. Mukanya gelap. Dia narik selimut, nyelimutin gue dari leher sampe kaki. "Maaf, Sayang," bisiknya, tapi rahangnya keras. "Malam pertama kita... ditunda."
"Mas... itu..."
"Clarissa." Dia ngucap nama itu kayak ngeludahin racun. "Dia pasang ini sebelum diseret tadi. Dia mau rekam kita. Mau sebar. Mau hancurin lo. Hancurin gue."
Gue nangis. Bukan karena takut. Tapi karena jijik. Karena marah. Malam yang harusnya sakral, dia rusak. "Mas, aku kotor... rasanya..."
"Enggak!" Mas Arga peluk gue, kenceng banget. "Lo nggak kotor. Yang kotor itu dia. Yang bejat itu dia. Lo istri gue. Lo bersih. Lo suci. Ngerti?"
Elang lapor: "Tuan, cuma ada satu. Udah di-off-in. Rekamannya belum kekirim ke mana-mana. Aman."
Mas Arga ngangguk. "Lacak. Dari mana dia dapet akses ke suite ini. Siapa yang kerja sama. Gue mau nama dalam 1 jam. Kalo nggak, kalian semua gue pecat."
Setelah semua keluar, kamar sunyi lagi. Tapi udah beda. Romantisnya ilang. Tinggal marah sama jijik.
Mas Arga duduk lagi di sampingku. Dia ngusap air mataku. "Maaf ya, Sayang. Gara-gara gue, lo jadi kena imbasnya terus. Dulu Dimas, sekarang Clarissa."
Gue geleng. "Bukan salah Mas. Salah mereka yang jahat."
Dia narik gue ke dadanya. Jantungnya jedag-jedug, tapi teratur. Nenangin. "Tidur aja ya. Malam ini lo tidur di pelukan gue. Nggak ada yang bakal nyentuh lo. Gue janji. Urusan malam pertama... kita tunda sampe lo bener-bener ngerasa aman. Seminggu, sebulan, setahun. Gue tunggu."
Gue meluk pinggangnya erat. "Mas nggak kecewa?"
Dia ketawa kecil di rambutku. "Satu-satunya yang bikin gue kecewa itu kalo lo kenapa-kenapa. Yang lain gampang."
Gue merem. Di pelukan dia, denger detak jantungnya, semua rasa takut pelan-pelan ilang. Iya. Gue aman. Selama ada Mas Arga, gue aman.
Tapi di luar suite, di kantor polisi, Clarissa lagi ketawa ke HP-nya. "Kamera satu gagal? Tenang. Masih ada kamera dua. Di dalam kancing gaun pengantin Siska. Selamat menikmati, Mas Arga. Malam pertama kalian bakal jadi tontonan satu Indonesia."
Perang belum selesai, Ma. Baru mulai.