"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"
Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.
Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12: BELENGGU TUJUH CAKRA
Malam di Kota Batu tidak pernah sesunyi ini bagi Arka. Setelah kejadian penggusuran yang digagalkan Jenderal Wironegoro kemarin, Arka duduk bersila di lantai kayu lantai dua toko bukunya.
HAAH... HAAH... HAAH...
Keringat dingin mengucur deras. Di punggungnya, tujuh tato segel yang biasanya berpendar agung kini menghitam dan berdenyut hebat. DUG-DAG! DUG-DAG! (Suara denyut di punggung Arka).
"Arka, hentikan! Jangan dipaksa!" suara Reyna Viyanita terdengar panik. Ia segera meletakkan telapak tangannya yang hangat di punggung Arka, mencoba menyalurkan energi penenang. SHUUUUUT...(Hawa penenang dari Reyna).
BRUK!
Arka tersungkur, nafasnya memburu. Tubuhnya terasa seperti dihimpit oleh tujuh gunung sekaligus.
"Energi itu... terlalu besar, Reyna. Setelah Segel Waktu menyatu di Puncak Paralayang, tubuh fisikku menolak. Alam semesta sedang mengunciku."
Reyna menghela napas panjang, matanya berkaca-kaca melihat penderitaan Arka. "Itu adalah Hukum Keseimbangan (Rwa Bhineda)."
"Kau telah mencapai level dewa dalam waktu yang terlalu singkat. Jika tujuh segel itu aktif 100% di dalam tubuh manusia biasa sepertimu, kau tidak akan menjadi penyelamat..."
"Kau akan menjadi lubang hitam yang menelan Nusantara. Alam secara otomatis memasang Segel Belenggu."
KRETEK...
Arka mencoba mengepalkan tangannya. Biasanya, satu kepalan tangannya bisa meretakkan dimensi ruang. Sekarang? Ia bahkan merasa tangannya gemetar hanya untuk memegang pulpen.
"Jadi, berapa banyak yang tersisa?" tanya Arka serak.
"Hanya satu persen, Arka. Dan itu pun hanya kekuatan fisik murni. Segel elemenmu Api, Air, Bumi, Udara, Ruang, dan Waktu, semuanya sedang dalam mode hibernasi total."
"Kau harus melatih fisikmu kembali dari nol agar wadah sukmamu cukup kuat untuk membuka gembok segel itu satu per satu," jelas Reyna.
Arka tersenyum getir. Dari penguasa elemen kembali menjadi "Mas Arka" yang rentan. Tapi ada kelegaan di hatinya.
Dengan kekuatan yang terkunci, ia tidak akan menarik perhatian entitas ghaib Nusantara atau organisasi global seperti The Architect untuk sementara waktu. Ia bisa kembali "piningit" (tersembunyi) secara total.
"Satu persen sudah cukup untuk melindungi Dafa dan toko ini," gumam Arka. "Aku tidak butuh api gunung untuk menghadapi lalat-lalat di kota ini."
Kenyataan pahit itu datang lebih cepat dari perkiraan.
***
Pagi harinya... NGRREEEEOOONGGG! DAR! DAR!
Suara knalpot brong motor-motor besar menderu di depan tokonya. Tiga buah motor trail berhenti, dan tiga orang pria berjaket kulit hitam dengan logo tengkorak di punggungnya turun dengan angkuh.
Mereka bukan tentara bayaran elit internasional. Mereka adalah Kelompok Gagak Hitam, preman lokal yang menguasai jasa penagihan hutang dan "perlindungan" lahan di wilayah pasar Batu.
"Heh, Penjual Buku!" teriak salah satu dari mereka, seorang pria cebol dengan luka parang di pipinya yang dikenal sebagai Suro Bledeg.
"Bos Rendra Adiningrat mungkin sudah masuk sel, tapi urusan hutang perlindungan lahan ini nggak ikut masuk sel!"
Arka tidak menoleh. Ia tetap mengelap sampul buku tua dengan telaten. SREK... SREK... "Toko ini tidak butuh perlindungan, Mas Suro. Saya punya kunci pintu yang cukup kuat."
HAHAHAHA....
Suro Bledeg tertawa mengejek, melangkah masuk dan sengaja menyenggol tumpukan majalah hingga berserakan. BRAAAKKK! "Kunci pintu nggak bakal cukup buat nahan api, Mas!"
"Bos kami yang baru, Tuan Jagad, sudah ambil alih semua aset Adiningrat yang tersisa. Termasuk ruko ini. Lu mau bayar 'uang keamanan' sepuluh juta sebulan, atau gue bikin Dafa kecil itu nggak punya tempat main lagi?"
Mendengar nama Dafa disebut, tangan Arka berhenti bergerak. DEG! Jantungnya berdesir marah. Darahnya mendidih.
Ia merasakan desakan energi di punggungnya, tapi segel itu justru memberikan rasa sakit yang menusuk, mengingatkannya bahwa ia tidak boleh menggunakan kekuatan dewa untuk urusan sepele.
'Cuma satu persen, Arka. Gunakan otakmu, bukan elemenmu,' batin Arka menenangkan dirinya sendiri.
"Sepuluh juta itu terlalu mahal untuk jasa orang yang bahkan tidak bisa parkir motor dengan benar," ucap Arka pelan, ia akhirnya berbalik menatap Suro.
Suro Bledeg merasa terhina. Ia mencabut sebuah belati kecil dari balik jaketnya. SREEET! "Lu nantang? Gue denger lu punya kenalan Jenderal, tapi Jenderal itu nggak bakal ada di sini tiap detik buat jagain lu!"
"Di jalanan ini, Tuan Jagad adalah tuhan!" WUTSH! Suro menerjang maju, mengarahkan belatinya ke bahu Arka.
Dalam kondisi normal, Arka bisa menghapus keberadaan Suro dengan satu pikiran. Tapi sekarang, ia harus bertarung secara manual.
Ia melihat gerakan Suro. Masih terasa lambat di matanya, tapi tubuh Arka terasa berat untuk merespons. Ia harus memaksa otot-ototnya bergerak melampaui batas satu persen tersebut.
TAP!
Arka menangkap pergelangan tangan Suro. Namun, alih-alih mematahkan tulang Suro secara instan, Arka merasakan tekanan balik yang kuat.
Kekuatan fisiknya benar-benar terbatas. Ia harus menggunakan teknik pengungkit (leverage). Arka memutar tubuhnya, menggunakan berat badan Suro sendiri untuk membanting pria cebol itu ke atas meja kayu.
BRAKK!
Meja itu bergetar, tapi Suro tidak pingsan. Dua anak buah Suro lainnya segera maju membawa rantai besi.
"Hajar dia! Jangan kasih ampun!" teriak Suro sambil memegang punggungnya yang nyeri.
KLING... KLING... Rantai itu berdesing di udara. WUUUSSSHHH!
Arka merunduk, namun punggungnya menghantam rak. DUG! "Akh!" Arka merintih. Rasa sakit yang sangat manusiawi.
Ia menyadari satu hal, bertarung dengan satu persen kekuatan berarti dia bisa terluka. Dia bisa berdarah. Ini adalah latihan yang sesungguhnya, pikir Arka.
Arka mengambil sebuah penggaris besi panjang yang ada di meja kasir. Ia tidak lagi menggunakan sihir. Ia menggunakan ilmu bela diri Pencak Silat pamungkas yang pernah ia pelajari saat menjadi kuli panggul dulu.
Arka menyambar penggaris besi di meja kasir. SREEEET! Ia menggunakan silat kuli panggulnya dulu.
TAK! TEK! DUAK! Penggaris itu mematuk lincah. CTAK! Hidung preman itu pecah. BUGH! Satu lagi dihantam tulang keringnya.
Suro Bledeg yang sudah bangkit kembali mencoba menusuk dari samping. Arka melakukan sidestep. SET! Lalu satu pukulan pendek ke ulu hati. DUBBB!
"Uhukk!" Suro jatuh berlutut. HOOEEK!
Arka berdiri di depan mereka, napasnya sedikit terengah. Ini gila. Menghadapi tiga preman pasar saja membuatnya berkeringat. Ini adalah hukuman sekaligus anugerah dari alam agar dia tidak lupa rasanya menjadi manusia.
"Bawa motor kalian pergi dari sini," ucap Arka dingin. "Katakan pada Tuan Jagad, kalau dia mau bicara soal lahan, datang sendiri. Jangan kirim anak TK yang mainan rantai."
Suro Bledeg menatap Arka dengan penuh dendam. "Lu... lu bakal nyesel, Arka! Lembah Hitam nggak bakal lepasin lu! Lu cuma penjual buku sialan yang kebetulan pinter berantem!"
VREEEUMMM!
Mereka bertiga kabur dengan motor mereka, meninggalkan suasana toko yang berantakan.
Reyna turun dari lantai atas setelah memastikan Dafa aman. Ia melihat tangan Arka yang sedikit lecet dan berdarah. Dengan lembut, Reyna mengambil tangan Arka dan mengobatinya dengan alkohol.
"Rasanya sakit, kan?" tanya Reyna lirih.
"Sakit yang nyata," jawab Arka sambil menatap luka di tangannya. "Tapi ini bagus. Dengan kekuatan yang terkunci, aku bisa merasakan detak jantung kota ini lagi."
"Aku bisa mendengar ketakutan warga pasar, aku bisa merasakan kelicikan mafia lokal. Selama ini, saat aku menjadi 'Dewa', aku melihat mereka terlalu kecil."
"Sekarang, aku melihat mereka sebagai tantangan yang harus kuselesaikan satu per satu untuk memperkuat sukmaku."
Reyna mengangguk. "Itu adalah jalan ksatria yang sesungguhnya. Leveling Up bukan soal menambah kekuatan, tapi soal memperlebar kapasitas jiwa."
"Jika kau bisa mengalahkan mafia 'Lembah Hitam' ini dengan kondisi satu persen, maka saat segelmu terbuka nanti, kau akan menjadi tak terkalahkan di seluruh dimensi."
Arka berdiri, menatap pintu tokonya yang sedikit rusak. "Mereka bilang Tuan Jagad punya keris haus darah. Besok, aku akan mulai berkeliling ke pasar-pasar."
"Aku ingin tahu seberapa dalam pengaruh Lembah Hitam ini di Batu. Jika polisi tidak bisa bertindak karena disuap, maka 'Mas Arka si penjual buku' yang akan bertindak secara manual."
Malam itu, Arka tidak bermeditasi ghaib. Ia melakukan push-up seribu kali di lantai tokonya. DAP! DAP! DAP! Ia melakukan latihan beban dengan tumpukan buku-buku ensiklopedia yang berat. HUFT... HUFT...
Ia sedang menempa kembali wadah fisiknya.
***
Di sisi lain kota, di sebuah rumah mewah yang dikelilingi pagar duri, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal sedang mengelus sebuah keris hitam yang diletakkan di atas nampan emas. Dia adalah Tuan Jagad.
"Jadi, Suro kalah oleh penjual buku?" suara Jagad terdengar berat dan berwibawa.
"I-iya, Tuan. Dia pakai penggaris besi," lapor anak buahnya yang gemetar.
Jagad tersenyum tipis. "Menarik. Sepertinya ada naga kecil yang sedang bersembunyi di ruko tua itu. Siapkan pesta untuknya besok malam di dermaga gudang."
Aku ingin lihat, apakah penggaris besinya bisa menahan kutukan keris Kiai Setan Kober ini." HUA-HA-HA-HA!
Arka Nirwana, sang Satria Piningit, kini benar-benar memulai perjalanannya dari bawah. Dimana kekuatan dewa terkunci di balik tubuh kuli, dan setiap tetes keringat adalah langkah menuju kebangkitan sejati.
Mafia lokal Batu tidak menyadari, bahwa mereka sedang menjadi "batu asahan" bagi sebilah pedang yang akan membelah langit.
***
Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hari. Terima kasih.