Dulu aku adalah pria biasa di Bumi, tapi suatu hari aku tewas tersambar petir dan terbangun di dunia lain. Namun, aku tidak memiliki sistem atau kemampuan curang; aku hanyalah manusia biasa. Lalu, aku memutuskan untuk menulis novel yang terinspirasi dari game Honkai Star Rail, dimulai dari High Cloud Quintet
dan saya juga setelah selesai dari dunia anime danmachi saya memutuskan untuk menambahkan alur nya ke berbagai dunia mulai dari anime hingga game
(Pernyataan penolakan: Saya bukan pemilik anime Danmachi; pencipta Danmachi adalah Fujino Omori, dan saya juga bukan pemilik Honkai Star Rail) Ini hanyalah cerita fanfiction yang saya buat
dan saya membuat fanfiction ini dengan bantuan AI, jadi jika Anda tidak ingin membaca cerita ini, itu tidak masalah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon the anonym, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Eksekusi Senja dan Penjaga Bersenjata Kucing
Cahaya matahari sore yang mengintip dari celah jendela ruang bawah tanahku perlahan berubah warna, dari jingga keemasan menjadi merah darah. Setiap inci bayangan yang memanjang di lantai kayu terasa seperti pisau guillotine yang bersiap dijatuhkan ke leherku.
Pikiranku berpacu liar. Ketakutan yang pekat membuat otakku terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas daya tanpa sistem pendingin yang memadai—panas, bergetar, dan nyaris meledak. Aku tidak memiliki Falna, tidak memiliki sihir, dan kecepatan lariku tidak akan pernah bisa menandingi pembunuh bayaran Evilus yang terbiasa memburu petualang kelas atas.
Melarikan diri ke jalanan Orario sekarang sama saja dengan memberikan punggungku untuk ditusuk dari titik buta. Aku terperangkap di wilayahku sendiri.
Aku menarik napas panjang, memaksa tanganku yang gemetar untuk bergerak. Jika aku akan mati malam ini, aku tidak akan mati tanpa perlawanan. Aku meraih pisau lipat perak pemberian Tsubaki dan menyembunyikannya di balik lengan jubahku. Kemudian, aku memecahkan beberapa botol tinta hitam premiumku dan menyiramkannya ke karpet di dekat pintu masuk ruang bawah tanah, menyisakan sebuah jalur kecil. Tinta ini mengandung campuran minyak nabati agar cepat kering di atas perkamen; ia sangat mudah terbakar.
Aku memegang lentera batu sihir yang kacanya telah kubuka, duduk membelakangi dinding, dan menatap lurus ke arah tangga.
Matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya. Kegelapan menelan ruang bawah tanah.
Kriet...
Suara papan kayu lantai atas yang terinjak terdengar sangat pelan, nyaris seperti embusan angin. Namun, di keheningan absolut ini, suara itu sedekat napas di telingaku.
Sebuah bayangan tidak menuruni tangga secara normal. Alih-alih berjalan, siluet hitam itu merayap turun melalui langit-langit tangga seperti laba-laba raksasa yang menentang gravitasi. Saat siluet itu melompat turun tanpa suara ke lantai ruang bawah tanah, cahaya redup dari lenteraku memantulkan topeng putih pucat dengan satu lubang mata berbentuk bulan sabit.
Itu dia. Eksekutor Evilus.
"Kau tidak lari, Pencerita," suara serak dari balik topeng itu bergema. Sang pembunuh mencabut sepasang belati bergerigi yang meneteskan cairan beracun berwarna ungu. "Bagus. Itu akan menghemat waktuku untuk menyayat kulitmu dan mencari tahu dari mana kau mendapatkan informasi operasi kami."
"Aku tidak tahu apa-apa tentang kalian!" bentakku, mengangkat lentera yang apinya menjilat-jilat udara, bersiap melemparnya ke karpet berlumur tinta. "Mundur, atau kita berdua akan terbakar hidup-hidup di ruangan ini!"
Sang pembunuh terkekeh parau, suara yang terdengar seperti tulang yang digesekkan. "Api fana tidak akan menghentikan Murid Keabadian."
Ia melesat maju. Kecepatannya tidak masuk akal. Dalam kedipan mata, ujung belati beracunnya sudah berada tepat satu jengkal dari leherku. Aku tidak bahkan tidak sempat melempar lenteraku. Waktu seakan berhenti. Aku bisa mencium bau busuk kematian dari jubahnya.
Namun, belati itu tidak pernah menyentuh kulitku.
TRANG!
Sebuah benturan besi memekakkan telinga meledak di tengah ruangan. Udara tersedot oleh tekanan angin yang dahsyat, meniup padam api lenteraku seketika. Ruangan menjadi gelap gulita.
Terdengar suara daging yang terkoyak, diikuti oleh jeritan tertahan dari sang pembunuh Evilus. Sesuatu yang hangat dan kental terciprat ke wajahku.
"Berisik sekali."
Suara baru itu tidak berat atau serak, melainkan dingin, tajam, dan sarat akan arogansi absolut.
Cahaya bulan purnama tiba-tiba menerobos masuk saat atap kayu ruang bawah tanahku... terbelah dua.
Di bawah siraman cahaya perak itu, aku melihat eksekutor Evilus telah terpotong menjadi dua bagian yang tidak simetris. Di depannya, berdiri sesosok pemuda dari ras Chienthrope (manusia setengah kucing/anjing) dengan telinga runcing dan ekor panjang yang bergerak pelan. Ia mengenakan zirah ringan yang elegan dan memegang sebuah tombak hitam pekat yang ujungnya meneteskan darah musuhku.
Allen Fromel. Sang Vana Freya. Petualang tercepat di seluruh Orario.
Mata Allen yang tajam menatap tumpukan mayat di bawah kakinya dengan tatapan jijik, sebelum akhirnya beralih menatapku yang masih membeku di lantai.
"Dewi-ku sedang menunggu kelanjutan cerita tentang pengorbanan yang indah," kata Allen dingin, mengayunkan tombaknya untuk membersihkan sisa darah. "Namun, tikus-tikus selokan ini hampir merusak hiburannya malam ini."
"K-kau... Freya mengirimmu?" suaraku nyaris tak terdengar.
Allen mendengus meremehkan. "Jangan besar kepala, manusia lemah. Dewi-ku hanya melarang siapa pun menghancurkan mainan-nya sebelum ia sendiri yang bosan memainkannya. Jika bukan karena titah langsung darinya, aku sendiri yang akan menembus jantungmu karena berani-beraninya membuat Beliau menunggu naskah terbarumu."
Ia melangkah mendekatiku. Sepatunya menginjak genangan tinta dan darah, namun ia tidak peduli. Ia menunduk, menatap lurus ke mataku dengan aura pembunuh yang jauh lebih mengerikan daripada anggota Evilus mana pun.
"Dewi Kecantikan sangat menyukai bab terbarumu. Beliau meminta agar tragedinya dinaikkan satu tingkat lagi. Jangan buat Beliau kecewa, Anonym, atau aku akan kembali ke sini bukan sebagai pelindungmu, melainkan sebagai algojomu."
Tanpa menunggu jawabanku, Allen melompat ke udara, melesat keluar melalui lubang di atap yang baru saja ia buat, dan menghilang ke dalam kegelapan malam secepat kilat.
Aku tertinggal sendirian di ruang bawah tanah yang hancur, ditemani bau darah, tinta tumpah, dan mayat eksekutor Evilus.
Tanganku menjatuhkan lentera yang sudah padam. Aku tertawa hambar, sebuah tawa yang lahir dari keputusasaan yang absolut.
Aku selamat. Tapi ilusi tentang kemerdekaanku telah hancur sepenuhnya. Freya tidak hanya melindungiku dari kejauhan; ia membuktikan bahwa ia mengawasi setiap detik kehidupanku. Aku adalah burung di dalam sangkar emas, dan sangkarnya baru saja diperkecil.
Jika Evilus mengirim satu pembunuh malam ini karena bab terakhirku, mereka akan mengirim sepuluh besok malam. Dan Freya tidak akan melindungiku selamanya jika ceritaku mulai kehilangan daya tariknya.
Aku harus mengalihkan perhatian Evilus dari kota ini. Aku harus membuat mereka memburu sesuatu yang fiktif di tempat yang sangat jauh dari Orario, sesuatu yang bernilai jauh lebih besar daripada nyawa seorang penulis rendahan.
Aku mengabaikan mayat di lantai. Aku menarik kursi kayuku yang masih utuh, menyalakan kembali lenteraku dengan tangan yang gemetar, dan mengambil lembaran perkamen baru. Darah dari wajahku menetes ke atas meja, tapi aku tidak peduli.
Kutukan Abundance dan mutasi daging tidak cukup. Aku harus memperkenalkan konsep kehancuran kosmis dari dunia asalnya. Aku akan menulis tentang sebuah inti energi bintang yang korup—sebuah Stellaron yang diadaptasi menjadi Batu Bertuah Kegelapan (Kanker Semua Dunia) yang konon terkubur di lantai ke-100 Dungeon.
Aku akan membuat Evilus percaya bahwa jika mereka menginginkan keabadian sejati, mereka harus menggali dasar labirin, bukan mencariku di permukaan.
Malam ini, dengan sisa-sisa kewarasan yang kumiliki, aku merangkai kebohongan terbesar yang pernah ditulis di Orario. Permainan catur ini belum berakhir. Aku masih memegang penanya.