Dalam satu perjalanan malam,
Nara dan Arka dipaksa menghadapi kembali masa lalu yang belum selesai.
Dan kali ini… tidak ada lagi tempat untuk lari.
Karena di antara dua perhentian,
beberapa perasaan tidak pernah benar-benar hilang
hanya menunggu waktu untuk kembali menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita.mamitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Terakhir yang Masih Ingin Dipertahankan
Tidak semua perpisahan terjadi dalam satu momen
Kadang…
ia dimulai jauh sebelum kata “kita selesai” diucapkan.
Dimulai dari ragu.
Dari diam.
Dari hal-hal kecil yang dibiarkan… sampai akhirnya terlalu besar untuk diperbaiki.
Setelah Arka akhirnya jujur, tidak ada kelegaan.
Tidak ada rasa “akhirnya jelas”.
Yang ada… justru lebih berat.
Karena sekarang Nara tahu
semuanya bisa saja berbeda
kalau waktu itu Arka memilih untuk jujur.
Kereta terus melaju.
Lampu di dalam semakin redup.
Sebagian penumpang sudah tertidur.
Tapi tidak dengan mereka.
“Lo jadi ambil itu?”
Akhirnya Nara bertanya.
Suaranya pelan.
Lebih tenang dari sebelumnya.
Arka menatap ke depan.
Beberapa detik.
“Iya.”
Satu kata.
Nara mengangguk pelan.
Tidak kaget.
Seolah dia sudah tahu jawabannya.
“Kapan?”
“Beberapa minggu setelah kita… berantem besar itu.”
Arka tidak berani menyebutnya “putus”.
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang lelah.
“Cepet ya.”
Arka menoleh.
“Bukan karena itu.”
Langsung.
Seolah dia takut disalahpahami lagi.
“Terus karena apa?”
Arka terdiam.
Lama.
Lalu berkata
“Karena gue pikir… lo udah nggak butuh gue.”
Kalimat itu jatuh.
Pelan.
Tapi dalam.
Nara langsung menoleh.
Untuk pertama kalinya, emosinya naik lagi.
“Lo serius?”
Arka mengangguk.
“Iya.”
Nara tertawa kecil.
Tapi kali ini… benar-benar pahit.
“Gue bilang gue capek…”
Matanya mulai berkaca.
“Bukan berarti gue nggak butuh lo.”
Hening.
“Gue cuma pengen lo berjuang juga.”
Kalimat itu
yang selama ini tidak pernah diucapkan
akhirnya keluar.
Arka menunduk.
Tangannya mengepal.
“Gue kira… dengan gue mundur… lo bakal lebih tenang.”
Nara menggeleng cepat.
“Itu bukan tenang, Ka.”
Suaranya bergetar.
“Itu kehilangan.”
Hening.
Panjang.
Kereta sedikit berguncang.
Seolah ikut merasakan apa yang mereka tahan.
“Kenapa kita jadi kayak gini ya?”
Nara berbisik pelan.
Lebih ke dirinya sendiri.
Arka mengangkat wajahnya.
Menatapnya.
Dengan mata yang… masih sama seperti dulu.
“Karena gue salah.”
Akhirnya dia mengaku.
Tidak ada pembelaan.
Tidak ada alasan.
Nara menatapnya lama.
Air matanya jatuh lagi.
“Bukan cuma lo.”
Pelan.
“Gue juga.”
Arka menggeleng.
“Nggak, Nar”
“Gue terlalu berharap lo ngerti… tanpa gue bilang.”
Nara memotong.
Jujur.
Terbuka.
“Dan lo terlalu takut buat jujur.”
Dua kalimat.
Dua kesalahan.
Yang akhirnya menghancurkan segalanya.
Sunyi.
“Kalau kita dikasih kesempatan lagi…”
Arka mulai.
Pelan.
Hati-hati.
Nara langsung memotong
“Jangan.”
Arka terdiam.
“Jangan ngomong soal ‘kalau’.”
Nara menatap ke depan.
Suaranya lebih tegas sekarang.
“Karena kita pernah punya itu.”
Dan mereka menyia-nyiakannya.
Arka menelan.
Sakit.
“Tapi gue masih”
“Gue juga masih.”
Nara memotong lagi.
Lebih cepat.
Lebih jujur.
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
mereka sama-sama mengakui sesuatu yang selama ini disembunyikan:
perasaan itu… belum hilang.
Tapi justru itu yang membuat semuanya lebih sulit.
“Terus kenapa rasanya jauh banget?” tanya Arka pelan.
Nara tersenyum kecil.
Senyum yang penuh lelah.
“Karena kita udah beda tempat, Ka.”
“Secara fisik kita deket.”
Satu jeda.
“Tapi hati kita… nggak lagi di titik yang sama.”
Kalimat itu menggantung.
Dan tidak bisa dibantah.
Kereta mulai melambat sedikit.
Tanda bahwa mereka semakin dekat ke tujuan.
Dan entah kenapa…
itu justru membuat semuanya terasa lebih sempit.
Lebih terburu-buru.
Seperti waktu mereka… hampir habis.
“Nar…”
Suara Arka pelan.
Hampir seperti permohonan.
Nara menoleh.
Arka menatapnya dalam.
Lebih lama dari sebelumnya.
Seolah mencoba mengingat setiap detail wajahnya.
“Kalau ini terakhir…”
Dia berhenti.
Suaranya hampir hilang.
“Gue cuma mau bilang…”
Nara menunggu.
Diam.
“Gue beneran sayang sama lo.”
Kalimat itu.
Akhirnya keluar.
Tanpa ego.
Tanpa pertahanan.
Dan justru itu… yang membuatnya terasa paling menyakitkan.
Air mata Nara jatuh lagi.
Dia tersenyum kecil.
“Iya.”
Pelan.
“Gue tau.”
Hening.
“Dan gue juga…”
Dia berhenti.
Menarik napas.
“…masih.”
Tidak perlu dilanjutkan.
Arka mengerti.
Kereta semakin melambat.
Lampu luar mulai terlihat lebih jelas.
Tanda bahwa perjalanan ini… hampir selesai.
Dan mungkin…
begitu juga mereka.
Nara menatap ke depan.
Menghapus air matanya.
“Kadang…”
Suaranya pelan.
“Dua orang bisa saling sayang…”
Satu jeda.
“…tapi tetap nggak bisa bersama.”
Arka menutup matanya.
Karena dia tahu
itu bukan sekadar kalimat.
Itu keputusan.
Kereta hampir berhenti.
Dan di antara mereka…
ada satu hal terakhir yang masih ingin dipertahankan
tapi tidak lagi punya tempat untuk tinggal.
Perjalanan ini…
hampir sampai di titik yang tidak bisa kembali.