Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 33
Syifa yang berdiri di balik dinding koridor seketika tertegun membatu. Seluruh persendian tubuhnya mendadak terasa lemas tak bertenaga.
‘Ingatan masa laluku? Apa maksud dari semua perkataan Kakek dan Mas Fadhlan tadi? Dulu kami pernah sangat dekat? Kapan? Kalau memang benar begitu, kenapa memori otakku sama sekali tidak bisa mengingat satu pun kenangan bersamanya?’ Rentetan pertanyaan bertubi-tubi langsung berdengung hebat di dalam kepala Syifa, memicu rasa pening yang perlahan mulai menyerang pelipisnya.
Di dalam ruangan, suara Kakek Ali kembali terdengar bernada nostalgia, membawa serpihan masa lalu yang sengaja dikubur dalam-dalam.
"Dulu waktu usia Syifa satu tahun, dia sering sekali kamu gendong, diajak bermain ke sana kemari olehmu, Nak Fadhlan. Sampai-sampai, waktu Kakek dan almarhum kakekmu sedang asyik memancing di danau, kamu yang dengan setianya menjaga Syifa yang sedang ketiduran di dalam tenda kecil. Kakek masih ingat betul momen itu," imbuh Kakek Ali dengan senyuman lemah.
Fadhlan mendongak, garis senyuman haru terukir di bibirnya saat memori masa kecil itu berputar kembali di benaknya. "Iya, Kakek. Fadhlan juga masih ingat betul setiap detailnya. Terutama ketika Syifa baru belajar naik sepeda roda dua, dia terjatuh lalu menangis sambil tangan kecilnya memukul Fadhlan karena kesal. Dan sewaktu dia sakit demam dulu, Ummi Salwa bahkan sampai meminta Fadhlan untuk menginap di rumah selama satu minggu penuh, karena Syifa kecil hanya mau disuapi makanan, ditemani tidur, dan minum obat kalau ada Fadhlan di sampingnya."
Kakek Ali mengangguk-angguk emosional. "Benar, Nak. Dan sewaktu keluargamu harus pindah mendadak ke luar kota karena urusan bisnis orang tuamu, Syifa langsung jatuh sakit demam tinggi berhari-hari sambil mulut kecilnya terus-menerus memanggil namamu, Nak Fadhlan. Sampai akhirnya dia harus menjalani rawat inap di rumah sakit dan Kakek terpaksa membohonginya saat itu, berjanji kalau suatu hari nanti kamu pasti akan kembali lagi untuknya. Hingga ternyata peristiwa kecelakaan tragis itu menimpanya dan merenggut seluruh memorinya tentangmu."
"Kecelakaan...?" lirih Syifa di balik dinding dengan suara yang hampir tak terdengar. Tubuhnya bergetar hebat, ingatan tentang cerita samar-samar yang pernah dilontarkan oleh Paman Andi waktu lalu mendadak melintas di benaknya. 'Kecelakaan yang pernah diceritakan Paman Andi waktu itu...?'
Rasa pening yang teramat sangat seketika menghantam kepala Syifa bagai dihantam godam besar. Pandangannya mengabur, napasnya memburu sesak. Dengan sisa tenaga yang ada, ia perlahan meletakkan piring kaca berisi buah potong itu di atas sofa tunggu dekat pintu dengan tangan gemetar, takut benda itu pecah dan menimbulkan suara.
Tanpa memedulikan apa pun lagi, Syifa langsung berbalik arah dan berjalan cepat meninggalkan lorong paviliun tersebut dengan langkah gontai tak tentu arah. Otaknya menolak untuk mencerna, hatinya bergemuruh hebat antara rasa syok, kecewa, dan bingung yang luar biasa.
Kakinya terus melangkah menyusuri lorong demi lorong rumah sakit yang panjang dan bernuansa putih bersih itu. Di tengah kepanikan batinnya, langkah Syifa mendadak terhenti di dekat lobi transisi ambulans, tepat saat pintu otomatis terbuka lebar menampilkan beberapa petugas medis yang sedang berlari tergesa-gesa mendorong brankar pasien korban kecelakaan lalu lintas yang baru saja tiba untuk dibawa menuju ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD).
Syifa mematung dengan mata membelalak horor. Di atas brankar itu, ia melihat dengan jelas tubuh pasien yang bersimbah darah segar di bagian kepala, robek di area tangan, dan kaki yang patah. Suara sirine ambulans yang meraung-raung, kepanikan para perawat yang berteriak meminta jalan, dan aroma pekat cairan antiseptik serta darah seketika memicu trauma mendalam yang selama belasan tahun ini terkunci rapat di lubuk alam bawah sadarnya.
Ngiiiiiing—
Sebuah suara dengungan bernada tinggi menyakitkan seketika meredam seluruh suara di sekitar Syifa. Detik berikutnya, sepintas di telinganya terngiang-ngiang suara tangisan histeris seorang anak kecil perempuan yang sedang merintih kesakitan di tengah kegelapan malam.
"Kak... Kak Fadhlan, tolong Syifa mereka jahat, Kak... Syifa ta-kut..." Suara rintihan masa kecil itu menggema dengan sangat jelas dan berulang-ulang, menghantam dinding kesadaran Syifa.
"M-mimpi itu... hahh... jangan! Pergi... pergi sana!" gumam Syifa dengan napas yang terengah-engah, kedua tangannya bergerak cepat menutup rapat kedua lubang telinganya, tubuhnya merosot bersandar pada pilar koridor yang dingin.
Paman Andi yang kebetulan baru saja kembali dari arah minimarket luar rumah sakit setelah membeli beberapa keperluan darurat untuk menjaga Kakek Ali, langkah kakinya mendadak terhenti begitu melihat sesosok gadis berhijab yang sangat ia kenal sedang berdiri menyandar di pilar dekat koridor IGD dengan posisi tubuh yang aneh.
"Syifa? Kamu lagi ngapain berdiri di sini, Nak?" tanya Paman Andi heran, melangkah mendekat lalu menepuk pelan bahu keponakannya.
Begitu Syifa menoleh, Paman Andi seketika dibuat terperanjat bukan main. Wajah Syifa tampak sangat pucat pasi bagai mayat, sepasang matanya menyiratkan ketakutan yang teramat mendalam, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat layaknya orang yang sedang menggigil kedinginan di tengah badai.
"Om Andi... Syif-a... Syifa ta-takut, Om..." jawab Syifa dengan suara yang terbata-bata dan rahang yang beratuk gemetar.
"Ya Allah, Syifa! Kamu kenapa bisa begini, Nak? Astaghfirullah...ayo kita cari tempat duduk yang tenang dulu di sebelah sana," panik Paman Andi, segera merangkul dan membimbing langkah gontai keponakannya menuju deretan kursi tunggu yang sepi di taman dalam rumah sakit, karena fisik Syifa benar-benar lemas seolah bisa ambruk kapan saja.
......................
Setelah mendudukkan Syifa, Paman Andi bergegas membuka satu botol air mineral yang baru dibelinya. "Ini minum dulu sedikit. Tarik napas dalam-dalam, tenangkan dirimu," ujarnya khawatir.
Syifa menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar, meneguk cairannya sedikit demi sedikit hingga rasa sesak di dadanya agak berkurang. Setelah detak jantungnya mulai sedikit stabil, Syifa menghapus sisa air mata di pipinya, lalu menatap lurus ke arah pamannya dengan tatapan mata yang dipenuhi luka batin yang mendalam.
"Om Andi..." panggil Syifa dengan suara yang teramat lirih.
"Ya, Syifa? Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu bisa sampai se-syok ini?" kejar Paman Andi cemas.
"Syifa... Syifa sudah ingat semuanya, Om. Syifa sudah mengingat kembali peristiwa kecelakaan yang menimpa Syifa waktu kecil dulu," ujar Syifa pelan, namun setiap kata yang keluar dari bibirnya terasa begitu dingin.
Paman Andi seketika tercengang membisu, tubuhnya menegang di tempat duduknya. Karena sepanjang yang keluarga besar tahu selama ini, akibat benturan keras di kepala saat kecelakaan belasan tahun lalu, Syifa sama sekali tidak memiliki memori atau ingatan apa pun mengenai peristiwa malang tersebut.
"Dan... Syifa sekarang juga sudah ingat... siapa sosok pria yang saat ini berstatus sebagai suami Syifa," lanjut gadis itu sembari kedua tangan kecilnya mengepal kuat di atas paha, menahan gejolak emosi yang membuncah.
DEG!
Dada Paman Andi seketika berdesir hebat, ada rasa cemas yang teramat sangat mendadak menyergap hatinya. ‘Ya Allah... kabar baik atau justru sebuah kabar buruk yang akan dihadapi oleh rumah tangga mereka setelah ini, saat seluruh ingatan keponakan hamba ini kembali?’ batin Paman Andi cemas.
"T-tapi... kenapa, Om? Kenapa selama ini tidak ada satu pun orang di keluarga kita yang mau memberi tahu Syifa tentang kenyataan ini? Kenapa kakek, Abi, Ummi, dan Om Andi sengaja menyembunyikan masa lalu ini dari Syifa?!" Isak tangis Syifa yang sejak tadi ditahannya akhirnya pecah juga, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, bahunya terguncang hebat didera rasa kecewa karena merasa dikhianati oleh orang-orang terdekatnya.
Paman Andi menghela napas panjang yang terasa sangat berat. Guratan canda yang biasanya selalu menghiasi wajah paman kesayangan Syifa itu seketika sirna, digantikan oleh raut wajah yang teramat serius dan penuh penyesalan.
"Syifa... Om minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu secara pribadi. Kami sekeluarga, kami semua terpaksa melakukan ini semua demi kebaikan dan demi menjaga stabilitas kondisi psikologis serta kesehatanmu sendiri, Nak. Om tahu saat ini kamu pasti merasa sangat kecewa dan terluka pada kami. Tapi apa mau dikata, Syifa? Semuanya kini sudah terlanjur terjadi, dan pernikahanmu dengan Fadhlan pun sudah sah," jawab Paman Andi dengan nada suara yang berat dan dalam.
"Tapi dia itu adalah orang yang sudah Syifa anggap sebagai kakak kandung Syifa sendiri sejak dulu, Om!" jerit Syifa tertahan di sela tangisnya, merasa struktur perasaannya hancur berkeping-keping.
"Mengenai kesepakatan perjodohan kalian berdua dulu, Om sendiri sejujurnya tidak begitu tahu banyak. Karena waktu itu Om tidak dilibatkan langsung dalam pertemuan keluarga bersama Fadhlan. Begini saja, bagaimana kalau sekarang Om telepon Fadhlan dulu supaya dia ke sini dan kalian bisa bicara baik-baik?" usul Paman Andi, meraba saku berniat mengambil ponselnya.
"Jangan! Tolong jangan telepon Kak Fadhlan, Om!" potong Syifa cepat, memegang tangan pamannya dengan tatapan memohon yang teramat sangat.
"Untuk saat ini Syifa benar-benar belum siap dan tidak ingin bertemu dengan dia dulu. Ya Allah kenapa? Kenapa harus orang yang sama dengan orang yang dulu sangat Syifa sayangi sebagai kakak?"
Melihat kondisi mental keponakannya yang sudah sangat tidak stabil dan terguncang hebat, Paman Andi akhirnya mengalah, tidak tega memaksa lebih jauh. "Ya sudah, kalau begitu malam ini Om antar kamu pulang ke rumah Om dulu saja, ya? Kamu istirahat dan tenangkan dirimu dulu di sana. Di rumah ada Tante Dini dan adik-adikmu juga yang bisa menemanimu."
...---------------...
Malam itu, Syifa akhirnya memutuskan untuk menginap di rumah kediaman Paman Andi, tempat di mana adik-adik kandungnya memang dititipkan dan menginap selama Abi Musthofa dan Ummi Salwa fokus berjaga di rumah sakit. Tidak hanya itu, di tengah malam yang sunyi, Syifa juga diam-diam mengirimkan pesan kepada Lastri, asisten rumah tangga muda di rumah Fadhlan yang sudah ia anggap seperti teman sendiri, memintanya untuk datang menemaninya di kamar rumah Paman Andi.
Karena jarak usia antara Syifa dan Lastri yang tidak terpaut jauh, Lastri adalah satu-satunya tempat bagi Syifa untuk bertukar cerita dan mencurahkan segala gundah gulana hatinya mengenai kehidupan pernikahannya selama ini.
"Lala, aku harus bagaimana kalau harus bertemu dengan Pak Fadhlan sekarang? Dia... dia itu adalah orang yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri sejak kecil, La..." tangis Syifa kembali pecah sesenggukan di atas tempat tidur, menenggelamkan wajahnya di dada Lastri yang langsung datang malam itu karena khawatir.
Lastri menghela napas prihatin, membalas pelukan istri majikannya itu dengan erat, mengusap punggung Syifa demi memberikan sedikit kekuatan. "Non Syifa... tolong jangan menangis sekencang ini lagi, Non. Kalau sampai Den Fadhlan tahu kondisi Non seperti ini, beliau pasti di sana akan merasa sangat khawatir dan menyalahkan dirinya sendiri. Non Syifa, nasi sekarang sudah terlanjur menjadi bubur. Meskipun dulunya Non Syifa menganggap Den Fadhlan sebagai sosok kakak, toh kenyataannya sekarang Non Syifa dan Den Fadhlan sudah sah secara hukum agama dan negara sebagai sepasang suami istri yang tidak bisa dipisahkan lagi."
"Tapi selama beberapa bulan ini, aku selalu dibuat salah tingkah oleh perlakuan manisnya, Lala! Bahkan aku hampir saja benar-benar jatuh cinta padanya. Tapi ternyata, semua kebaikan dan kelembutan yang Pak Fadhlan berikan itu hanya karena dia tahu kalau aku adalah adik angkat kecilnya yang dulu sempat hilang ingatan! Hiks..."
"Ternyata dia tidak benar-benar tulus menyukaiku sebagai seorang wanita kan, La? Dia melakukan semua pernikahan ini hanya atas dasar menuruti wasiat dan permintaan dari almarhum kakeknya dan kakekku saja, kan?" cerocos Syifa dengan hati yang dipenuhi prasangka buruk akibat rasa syok yang teramat sangat.
Lastri menggelengkan kepala, menatap wajah sembab majikan perempuannya dengan pandangan iba. "Tenangkan diri Non Syifa dulu ya. Lala tahu betul kalau saat ini Non masih sangat syok dan kecewa berat menerima kenyataan masa lalu yang mendadak ini. Istighfar, Non..."
Kembalinya serpihan memori masa kecil secara tidak sengaja, meski belum seluruh rangkaian peristiwa diingatnya seutuhnya , benar-benar membuat batin Syifa didera kegelisahan dan keraguan yang teramat sangat. Di saat hatinya baru saja mulai terbuka dan bersiap menerima kehadiran Fadhlan seutuhnya sebagai pria pemilik cintanya, kenyataan pahit ini justru datang menghantam ego dan logikanya.
Apakah Syifa akan sanggup mempertahankan bahtera rumah tangganya yang baru seumur jagung itu? Sementara hatinya kini terus-menerus gundah gulana setelah mengetahui fakta bahwa pria matang yang menikahinya kini adalah lelaki remaja yang dulunya pernah menjadi pelindung sekaligus 'kakak laki-laki' tempatnya bermanja dulu.
...----------------...
Di lain tempat, setelah berhasil mengantarkan Syifa dengan aman hingga ke rumahnya, Paman Andi duduk di ruang tamu dengan perasaan berat. Ia membuka ponselnya, lalu mengetikkan sebaris pesan singkat untuk dikirimkan kepada Fadhlan.
"Fad, maaf merepotkan. Malam ini Syifa menginap di rumah Om dulu ya bersama adik-adiknya. Kondisinya sedang sangat lelah dan butuh istirahat. Kamu tidak usah khawatir."
Di paviliun VVIP rumah sakit, Fadhlan yang baru saja selesai menemani Kakek Ali tidur, menatap layar ponselnya yang berkedip menampilkan pesan dari Paman Andi. Dahi Fadhlan seketika berkerut dalam, rasa heran dan tanda tanya besar langsung berkecamuk di dalam benaknya. Mengapa bukan Syifa sendiri yang mengiriminya pesan atau meneleponnya langsung seperti biasa? Dan yang membuat perasaan Fadhlan semakin tidak enak malam itu adalah, saat ia mencoba menghubungi nomor ponsel istrinya, panggilan itu sama sekali tidak bisa terhubung dan berada di luar jangkauan.
...****************...