Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.
Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.
Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Hancur Dan Terusir
"Aku mengajakmu kesini karena aku mau pamit. Besok aku berangkat ke Kalimantan, untuk merantau."
Degh...
Alina yang menangis reflek menoleh ke arah sang kekasih.
"Temanku ada proyek di sana. Dan mereka kekurangan pekerja. Aku akan ke sana untuk membantunya. Gajinya lumayan," ucap laki-laki itu tanpa menatap kekasihnya.
Tatapan mata Alina yang semula sendu berubah membeku. Alisnya mengkerut, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja Adit ucapkan.
"Aku hamil loh, Mas," ucapnya. "Bukannya kamu udah janji dalam waktu dekat ini kamu akan melamarku? Kok kamu malah mau pergi?" tanya Alina kecewa.
Adit menoleh. "Sepertinya kita harus berfikir ulang tentang hubungan kita, Al."
Degh...
Alina memundurkan tubuhnya. Ia kembali terkejut mendengar ucapan sang kekasih.
"A-apa maksudnya?" tanya lirih. Seolah merasa perih mendengar kalimat yang keluar dari mulut Adit.
"Al, aku yakin kamu juga mulai ragu dengan hubungan ini," ucap Adit. "Hubungan kita terlalu rumit, Al. Ini terlalu dipaksakan. Orang tua kamu nggak bisa menerima aku sampai detik ini. Aku belum punya pekerjaan mapan. Ini terlalu berat!"
"Apanya yang berat?! Bukannya kita sepakat kita akan mencari restu itu sama-sama? Bukannya aku udah bilang kalau aku siap menerima kamu apa adanya?! Apa yang bikin kamu ragu, Mas? Aku bahkan sampai rela loh pergi cari tambahan uang buat bantu kamu ngelamar aku!" Suara itu mulai meninggi. Alina makin menangis.
"Al, ayolah! Hubungan ini udah nggak mungkin lagi!"
"Kenapa?!! Hubungan kita mungkin-mungkin aja, kok. Restu bisa didapat. Rejeki akan datang nantinya. Kamu yang mulai berubah!!"
"KAMU HAMIL, AL...!!!"
Degh...
Suasana hening seketika. Bak dihantam batu besar, dada itu sesak mendengar ucapan Adit.
"Kamu hamil sama laki-laki lain. Gimana bisa aku melanjutkan hubungan ini?!" ucap Adit mulai kesal.
"Kamu minta aku bertanggung jawab atas perbuatan yang nggak pernah aku lakukan. Kamu pikir aku nggak punya keluarga yang harus aku jaga nama baiknya?! Kamu udah kotor, Al. Aku nggak mungkin menikahi perempuan yang udah pernah disentuh laki-laki yang bahkan aku nggak kenal!"
Alina makin sesak mendengarnya. Ia tak menyangka Adit akan berucap demikian.
Plaaakk...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Adit.
"Jahat kamu bicara seperti itu," ucap wanita itu lirih karena kecewa. "AKU JADI SEPERTI INI KARENA KAMU!!" Alina yang marah berteriak sambil menunjuk wajah Adit.
"Aku nggak pernah meminta kamu untuk melakukan itu. Kamu yang menginginkannya!" jawab Adit dengan berani. "Dan sekarang sudah seperti ini kamu minta aku tanggung jawab?! Aku saja nggak tahu bagaimana prosesnya kamu bisa hamil begini. Apakah kamu melakukannya karena terpaksa, atau memang kamu yang menyerahkan diri kamu cuma-cuma. Siapa yang tahu, Al?!!
Alina terdiam. Ia tak bisa menjawab. Air matanya jatuh bercucuran. Ya, memang benar. Semua ini terjadi karena kebodohan Alina sendiri. Tak ada yang memintanya datang ke kota untuk mencari tambahan uang lamaran. Ia terlalu kecintaan dengan Adit sampai-sampai rela melakukan apapun. Dan sekarang, setelah ia berbadan dua, laki-laki yang ia perjuangkan itu justru meninggalkannya. Meragukan kesetiaannya, dan melontarkan kata-kata yang menyakiti hatinya.
Alina menatap Adit dengan penuh amarah dan kecewa. Hingga tiba-tiba...
Drrrtt... drrrtt....
Ponsel di saku celananya bergetar. Wanita itu merogoh sakunya. Sebuah panggilan dari sang ibu masuk. Ia menggeser tombol hijau itu, mengangkatnya.
"Iya, Buk," ucap Alina.
"Al, pulang sekarang! Cepat!"
Kalimat singkat, namun berhasil membuat Alina terdiam. Entah mengapa tiba-tiba perasaannya menjadi tidak tenang. Sepertinya ada masalah di rumahnya. Sang ibu terdengar ketus namun tegas. Tak seperti biasanya.
Wanita itu terdiam sejenak. Tanpa berucap sepatah katapun, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu setelah menghunuskan tatapan kemarahan pada Adit. Ia melesat menggunakan motornya tanpa mengucap sepatah katapun pada Adit yang memanggil-manggil namanya.
Tak lama berselang, tak sampai lima menit, Alina tiba di rumahnya. Setengah berlari ia memasuki hunian sederhana itu. Wanita itu lantas diam. Dilihatnya di sana, kedua orang tuanya berada di kamar Alina. Sang ayah duduk di ranjang, kedua tangannya bertumpu pada kedua pahanya yang terbuka, menopang tubuh bugar yang nampak naik turun seolah menahan amarah. Sedangkan sang ibu, ia berdiri di samping ayahnya sambil sesekali mengusap usap pundak suaminya, seolah mencoba menenangkan pria paruh baya itu.
Alina mengayunkan kakinya perlahan, ragu, dan gontai. Didekatinya ruangan itu dan berdiri tepat di pintunya.
"Pak, Buk..." ucapnya perlahan yang sukses membuat kedua orang tuanya menoleh. Belum sempat ia berucap apapun. Baru seutas senyum kaku ia tampilkan, sang ayah sudah bangkit dari posisinya, mendekatinya dengan tergopoh-gopoh dan...
"Anak tidak tahu diri...!!!" Pak Herman Pak Herman menjambak rambut putrinya, lalu melempar tubuh itu hingga membentur dinding. Bu Yanti mendekat. Menarik tangan sang suami, mencoba menenangkan pria yang memang tempramental itu.
"Pak, jangan!"
"Anak macam apa kamu?!! Berani-beraninya kamu mencoreng wajah Bapak!!" Pak Herman murka sambil menunjuk-nunjuk Alina. Alina menangis ketakutan. Ia yang belum mengerti itu hanya sesenggukan di lantai tanpa berani menatap kedua orang tuanya.
"Apa yang sudah kamu perbuat dengan pria itu, Alina?!! Bapak tidak pernah mengajarimu seperti ini!!!"
Sebuah tes kehamilan terlempar ke wajah Alina. Wanita itu membulatkan matanya. Bagaimana bisa ayah dan ibunya menemukan benda ini? Padahal ia sudah menyimpannya di tempat yang aman.
Alina yang bar tersambar petir itu buru-buru mengambil benda itu lalu bangkit.
"Pak...Ibuk..ini...ini bukan....."
"Diam kamu!" ucap sang ayah kini nampak dingin penuh amarah. Alina menangis.
"Paakk...." Alina mengiba. Sang ayah tak peduli. Tangan pria paruh baya yang masih bugar itu menekan pundak sang putri ke tembok. Alina menangis sesenggukan sambil menunduk.
"Sakit, Pak..." rintih nya.
"Sekarang katakan, di mana, dan kapan kamu melakukan hal menjijikkan itu dengan pacarmu?! JAWAB...!!!"
Alina menangis tanpa menjawab.
"Pak... Alina anak kita!" ucap Bu Yanti mencoba meredam emosi suaminya.
"Diam kamu! Anak ini anak kurangg ajaar! Dia berani mencoreng wajah kita hanya demi laki-laki!! Aku tidak pernah mengajarinya menjadi pelacuuur!"
"Pak...." Alina mengiba lagi.
Daaggh...
"JAWAB!!" Pak Herman meninju dinding tepat di samping Alina. Membuat Bu Yanti menjerit takut sang suami lepas kendali.
"Katakan, dimana, dan kapan kamu melakukan hal menjijikkan itu, Alina?!! Bapak tidak pernah mengajarimu menjadi perempuan murahan!!"
"Enggak, Pak! Bapak salah paham! Aku nggak pernah melakukan hal seperti itu sama Adit!!" bantah Alina sambil berderai air mata.
"Lalu itu apa?! Kau masih berani mengelak?!!"
Alina makin sesenggukan. Di tengah tangisnya akhirnya ia pun berucap jujur pada kedua orangtuanya.
"Alina diperkoosaa, Pak! Alina dipaksa oleh majikan Alina waktu kerja di Jakarta!!"
Sepasang suami-istri itu terdiam. Sang ibu terkejut. Sedangkan ayahnya nampak membulatkan matanya yang penuh amarah.
"Ini bukan kemauan Al, Pak. Alina minta maaf... Maaf...." ucap Alina merintih memohon ampun. Alih-alih mereda, amarah sang ayah justru makin memburu. Ia menekan pundak itu makin kuat, hingga membuat sang putri meringis menahan sakit.
"Kamu tahu, kamu satu-satunya anak kami. Sejak kecil, kami selalu mengajarkanmu hal-hal yang baik. Kami selalu mengajarkanmu tentang kejujuran dan tanggung jawab!" ucap sang ayah dengan suara lebih pelan, namun terdengar penuh kekecewaan.
"Kami mendidik mu dengan segala keterbatasan dan kekurangan kami. Kami hanya berharap meskipun kamu terlahir dari keluarga yang banyak kurangnya tapi kamu menjadi wanita yang terhormat. Menjunjung adab dan kejujuran sebagai seorang wanita!"
"Tapi sekarang... kamu lihat... Apa yang sudah kamu lakukan?"
"Enggak, Pak...."
"Kamu sangat kecewa padamu!"
"Pak, Alina tahu Alina salah. Tapi sumpah demi apapun ini bukan kemauan Alina. Alina korban disini. Alina hamil bukan dengan Adit. Alina tidak pernah disentuh oleh siapapun selain laki-laki itu! Alina minta maaf. Alina akan melakukan apapun yang Bapak mau, tapi tolong maafin Alina!" ucap gadis itu mencoba menjelaskan.
"Bilang, Pak. Bilang Alina harus apa agar Bapak percaya dan memaafkan Alina!"
Pak Herman melepaskan putrinya.
"Pergi dari sini!"
Deeghh...
Alina menggelengkan kepalanya mendengar ucapan laki-laki paruh baya itu. "Enggak! Bapak, jangan begini!"
"Selesaikan masalahmu sendiri, dan jangan pernah menginjakkan kaki kamu lagi di rumah ini! Mulai sekarang, kamu bukan putri kami!"
"Pak!!" Bu Yanti mencoba mengingatkan suaminya.
"Kemasi barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah ini sebelum saya pulang!"
"Enggak...! Nggak mau! Paakk...!" Alina meraung-raung sembari mengejar ayahnya yang kini berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan langkah cepat penuh emosi. Pak Herman bahkan tak memperdulikan sang putri yang terseok-seok hingga jatuh tersandung kursi. Alina terus memanggil sang ayah. Tapi pria itu sudah pergi meninggalkan rumah itu menggunakan motornya.
Bu Yanti memeluk sang putri. Alina menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan sang ibu. Ya, Tuhan. Kenapa semuanya jadi begini? Inikah akibat dari ia yang terlalu sering mengabaikan nasehat kedua orang tuanya? Ia harus bagaimana sekarang? Apa yang harus Alina lakukan?!
Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/