NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pengganti

Bukan Sekedar Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Triyani

Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.

Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?

Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?

Saksikan kisahnya disini….

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.12

“Jadi…maksud, Mas… kita seperti mencoba saling mengenal dulu, seperti orang yang akan memulai pacaran, begitu?” tanya Alisa pelan. Dibalas sebuah anggukan oleh Harlan.

“Kurang lebih seperti itu.”

“Memangnya… bisa seperti itu?” lanjut Alisa, suaranya hampir seperti bisikan.

“Tentu saja bisa. Kita coba saja, semoga dengan cara ini, akan semakin mendekatkan kita. Aku tidak akan memaksamu. Pelan-pelan saja. Kenal dulu, nyaman dulu. Sisanya… biar waktu yang menjawab.”

Suasana kembali hening, Alisa menundukkan pandangannya. Tangannya kembali saling bertaut, memainkan ujung jarinya sendiri. Kebiasaan yang selalu muncul saat ia gugup.

“Kalau… ternyata tidak cocok, gimana?” tanyanya lagi, kali ini lebih hati-hati.

Harlan menoleh, lalu menatap Alisa beberapa detik, seolah benar-benar mempertimbangkan jawabannya.

“Kalau tidak cocok… kita bicarakan lagi baik-baik. Tapi setidaknya, kita sudah berusaha untuk mencoba. Bukan menyerah sebelum mulai.”

Jawaban itu… tidak sepenuhnya menenangkan. Tapi juga tidak menyakitkan.

“Dan… selama proses itu berlangsung, aku harap kamu tidak pernah lagi menganggap dirimu sebagai ‘pengganti’. Karena bagiku, siapapun wanita yang aku sebut namanya dalam ijab kabul, maka, dialah istri sah ku.” lanjut Harlan, suaranya sedikit melembut.

Deg.

Kalimat itu tepat mengenai sesuatu di dalam diri Alisa. Jantung Alisa berdegup lebih cepat. Ada sesuatu yang berbeda saat Harlan mengatakannya, tidak romantis, tidak manis juga, tapi… Cukup tegas. Dan justru itu yang membuatnya Alisa terenyuh.

Perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya. Menatap Harlan, kali ini sedikit lebih berani dan lebih lama dari biasanya.

“Lalu… apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyanya.

“Sebagai langkah pertama. Bagaimana kalau kita berkenalan terlebih dahulu?”

Alisa menoleh, menatap Harlan dengan kedua alis yang menyatu. Harlan mengangkat satu alisnya sedikit, dengan ekspresi yang jarang ia tunjukkan.

“Bagaimana, Nona Alisa, bolehkan aku mengenalmu lebih dekat lagi?”

Alisa berkedip, lalu tanpa sadar tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi… suasana terasa ringan dan lebih santai.

“Baiklah. Aku setuju…. Dan tentu saja boleh, Tuan Harlan.”

Harlan langsung mengulurkan tangannya, untuk memperkenalkan diri lebih jelas lagi kepada Alisa.

“Perkenalkan, saya Harlan Dewa Mahendra Argantara. Usia 30 tahun dan seorang pengusaha muda,” ucap Harlan.

Harlan tersenyum tipis, untuk pertama kalinya senyum itu terlihat sangat tulus, bukan sekedar formalitas semata.

Tanpa sadar, sudut bibir Alisa ikut terangkat sedikit. Bukan senyum lebar, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa suasana di antara mereka mulai mencair.

Alisa membalas uluran tangan Harlan, lalu memperkenalkan dirinya. Sama, seperti apa yang dilakukan oleh Harlan barusan.

“Saya Alisa Husna Wibisono. Usia 25 tahun. Mahasiswa S2 manajemen.”

Tangan mereka pun saling menjabat satu sama lain. Lengkap dengan senyuman tulus, tanpa dibuat-buat.

Berbeda dengan suasana kamar hotel yang perlahan mulai mencair. Suasana tegang kini menyelimuti sebuah rumah mewah yang berdiri megah di sebuah perumahan elit ibu kota.

Bu Yuni dan Pak Ali duduk dengan wajah yang tegang, berhadapan dengan seorang pria lansia yang sedang menatap keduanya dengan tatap yang sangat tajam.

“Jadi ini… balasan atas apa yang sudah aku lakukan untuk kamu dan juga keluargamu?” tanyanya dengan nada yang tegas, penuh dengan intimidasi.

“Maafkan kami Pak Argantara. Kami… tidak tahu jika Marisa akan melakukan hal yang memalukan seperti ini,” jawab Pak Ali dengan mada yang bergetar.

“Cucu pertamaku, cucu kebanggaku… kalian permalukan dia, seperti sampah yang tidak layak untuk dipungut, bahkan oleh seorang pengemis sekalipun. Sungguh perbuatan yang membuat aku sangat marah.” lanjutnya membuat Pak Ali dan Bu Yuni gemetar, ketakutan.

Udara di ruang tamu itu terasa semakin berat. Tidak ada yang berani bersuara, bahkan sekadar menarik nafas panjang pun tidak ada yang berani melakukannya.

Pria lansia itu perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi, namun tatapan matanya tetap tertuju ke arah Pak Ali dan Bu Yuni yang sedang duduk dengan kepala yang menunduk dalam.

“Keluarga Argantara… bukan keluarga yang bisa kalian permainkan sesuka hati.” ucapnya lagi, lebih pelan, tapi justru terasa lebih menakutkan dan lebih mengintimidasi.

Bu Yuni tak kuasa menahan air matanya. Ia menangkup kedua tangannya di pangkuan, jemarinya saling menggenggam erat hingga memutih karena menahan rasa takut.

“Kami benar-benar minta maaf, Tuan Argantara. Kami tidak tahu kenapa Marisa tiba-tiba menghilang seperti itu,” jawab Pak Ali, suaranya pecah di tengah kalimat.

“Yakin, kalau kalian tidak tahu apa yang membuat dia lari dari pernikahan?” tanya pria tua itu dengan alis yang terangkat sedikit.

Pak Ali langsung menggeleng cepat. Karena dia benar-benar tidak tahu apa yang membuat Marisa kabur dari pernikahan.

Padahal, sejak awal Harlan menyatakan bersedia menikah dengannya, Marisa adalah orang pertama yang bersemangat menyiapkan semua kebutuhan pernikahan itu.

Entah apa yang terjadi, hingga di hari yang paling dia tunggu itu. Tiba-tiba ia menghilang tanpa jejak.

“Tidak, Tuan! Kami juga bingung, kenapa dia melakukan itu. Padahal, selama ini, dia sangat bersemangat menyiapkan pernikahannya dengan Nak Harlan. Ini adalah impiannya, menikah dengan pria yang dia cintai. Tapi… entah apa yang terjadi, hingga membuatnya melakukan semua ini.”

Suasana kembali hening. Tidak ada yang berani bersuara sedikitpun. Beberapa detik berlalu Tuan Argantara pun kembali bicara.

“Seharusnya… aku membawa kasus ini ke ranah hukum karena kalian sudah mencemarkan nama baik keluargaku. Beruntungnya… pernikahan itu bisa berlangsung dan terselamatkan karena kehadiran putri keduamu, putri yang selama ini tidak pernah kamu akui.”

Saat nama putri keduanya disinggung, Pak Ali akhirnya memberanikan diri mengangkat kepalanya sedikit. Menanti dengan tidak sabar, apa yang akan dikatakan oleh Tuan Argantara selanjutnya.

“Jika hari itu tidak ada putri kedua mu. Maka, kalian sudah pasti ada di dalam jeruji besi,” pria itu berhenti sejenak, untuk mengambil nafas terlebih dahulu sebelum melanjutkan.

“Berterima kasihlah kepadanya. Karena dia, kalian dan perusahaanmu bisa terselamatkan.”

Bu Yuni langsung menutup mulutnya, terisak pelan. Dia benar-benar marah. Sangat marah karena sudah dipermalukan oleh putrinya sendiri.

Dan kini… ia justru berhutang budi kepada anak yang selama ini ia anggap tidak ada. Bahkan, saking bencinya Bu Yuni terhadap Alisa.

Tidak ada satu foto pun di rumah Pak Ali yang menunjukkan wajah cantik Alisa. Foto keluarga yang dipajang dengan ukuran yang sangat besar pun hanya berisi empat orang.

Tidak ada sosok Alisa di dalam bingkai foto itu. Membuat keluarga Argantara kaget saat Pak Ali dan Bu Yuni menggantikan Marisa dengan Adiknya, yaitu Alisa.

“Kalian pergilah. Sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan.” lanjutnya.

Perlahan Tuan Argantara pun mulai bangkit dari duduknya. Meraih tongkat yang sejak tadi berada di samping kursi untuk digunakan untuk menopangnya.

Tok.

Tok.

Suara ketukan pelan tongkat ke lantai marmer itu menggema, menambah suasana semakin tegang.

Pria baya itu pun bersiap untuk melangkah pergi, namun sebelum benar-benar meninggalkan ruangan itu, ia berhenti sejenak, lalu berkata.

“Satu lagi. Mulai hari ini… jangan pernah mencoba menghubungi Harlan atau istrinya lagi. Karena kalian sudah kehilangan hak itu. Dan… apapun yang terjadi kedepannya, jangan pernah ikut campurkan cucu menantuku ke dalam permasalahan hidup kalian. Kalau sampai aku mendengar atau melihat cucu menantuku mengalami kesulitan karena kalian. Maka, aku tidak akan pernah tinggal diam.”

Setelah mengatakan itu, pria tersebut benar-benar pergi. Meninggalkan Pak Ali dan Bu Yuni yang hanya bisa terdiam, membeku di tempat.

Suara langkah pria tua itu terus menjauh, lalu tidak lama dari kepergiannya. Terdengar suara pintu yang tertutup perlahan.

Brak.

Keheningan kembali menyelimuti rumah itu. Bu Yuni langsung menangis terisak, tubuhnya melemah hingga bersandar pada sofa. Pak Ali hanya bisa diam, menatap kosong ke depan, dengan wajah yang pucat pasi.

Sementara di tempat lain…

Di dalam kamar hotel yang kini terasa jauh lebih hangat. Alisa masih duduk di sofa dengan sebuah majalah fashion di tangannya, jemarinya tanpa sadar menyentuh tangan yang tadi sempat berjabatan dengan Harlan.

Ada perasaan aneh yang tiba-tiba hadir di dalam hatinya. Perasaan asing yang baru pertama kali Alisa rasakan. Berdebar, tapi… terasa hangat.

Sementara Harlan, ia berdiri di dekat jendela, menatap keluar, namun pikirannya jelas tidak sepenuhnya di sana.

“Kamu bosen, gak Al?” tanyanya tiba-tiba, tanpa menoleh. Tatapannya tetap lurus, menatap pemandangan kota yang ada di luar sana.

Alisa sedikit terkejut, lalu menggeleng meski Harlan tidak melihatnya.

“Sedikit… tapi, tidak tahu juga mau kemana dan ngapain. Kota ini, masih terlalu asing buat aku.” jawab Alisa membuat Harlan langsung berbalik.

1
Uba Muhammad Al-varo
siapa tuh orang yang sedang ngintip dan menguping Harlan dan Alisa 🤔🤔🤔
Teh Yen
ngeri banget yah suasana d rmh kakek Harlan
Titik Ristiana
up lg kpn??
🌸 Triyani 🌸: maaf, insya Allah malam ini. aku nya sakit kak. jdi belum sempet nulis 🙏
total 1 replies
Teh Yen
smngta Alisa d Harlan kalian pasti bisa melewati semuanya bersama
Ariany Sudjana
kan kamu itu pelacur murahan Yuni, yang hanya ingin kekayaan pak Ali
Uba Muhammad Al-varo
harus lebih tegas lagi pak Ali kalau ngomong sama bu Yuni
Teh Yen
gegara siapa tuh pak Ali d Bu yuni jadi cekcok.terus gegara putri semata wayang mu lah Bu Yuni yg kabur d hari pernikahan 😏 sadar diri dong sedikit putrimu yg salah nyalahin Alisa terus heran 😏
Teh Yen
lah jd ikutan bingung aku hehe 😁,, tp jangan terlalu banyak berpikir Alisa suamimu kan kaya sekarang kamu istri pengusaha loh setidaknya itu salah satu bentuk tanggung jawab Harlan suamimu kalau kamu mau sekolah desain lagi ya kan jd terima saja
Eti Alifa
semoga anak2 author segera sehat kembali.
Eva Karmita
sama otor di tempat ku juga lagi musim demam bapil mungkin karena cuaca hujan panas ... aku aja satu rumah kenak semua 🥺 ..,, semoga otor dan keluarga cepat sembuh aamiin 🤲🤲
maya ayu
semoga lekas sembuh thoorrr.. amiiinn🙏🙏🙏
Uba Muhammad Al-varo
iya kakak Author 👍👍👌 yang diutamakan semuanya pada sehat, aamiin...🙏❤️💪💪💪
vita
sll suka karya2nya
Teh Yen
engg pa pa thor ,, smoga lekas sembuh yah semuanya
Elisabeth Ratna Susanti
like, subscribe plus 🌹 untuk karya keren jni🥰
🌸 Triyani 🌸: makasih kak 🤗🥰🙏
total 1 replies
Teh Yen
Alisa bingung yah mau pesen yg mana abisnya harganya.mahal" untuk dia hihii
Uba Muhammad Al-varo
Harlan apa benar kamu udah memahami Alisa, makanya sekalian kamu selidiki Alisa Harlan,ada apa sebenarnya yang terjadi pada Alisa 🤔🤔🤔
maya ayu
semangat othooorrrrr aku suka novel2 mu❤️❤️❤️👍👍
Uba Muhammad Al-varo
kini saatnya Alisa bahagia semenjak dari kecil ditinggalkan dan tanpa kasih sayang bpknya sekarang ada Harlan yang akan menyayangi, mencintai dan membahagiakan mu Alisa
Uba Muhammad Al-varo
semoga cepat sembuh kakak, aamiin...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!