Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.
Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.
》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
...~•Happy Reading•~...
Juano berlari ke arah Rafael. "Kak Laras bikin apa di sini, Kak?"
"Kak Laras ada perlu. Juan turun ganti baju. Nanti kita pergi dengan Kak Laras." Bisik Rafael, sebab Papa Juano berjalan mendekatinya.
"Benar, Kak?" Tanya Juano. Rafael mengangguk kuat. Juano tersenyum senang.
Laras yang hendak turun, mendekati Papanya. "Pa, Laras mau ajak Rafa dan Juan keluar sebentar. Nanti pulang baru Laras kasih tahu Papa." Bisik Laras. Papanya hanya bisa menggangguk, walau heran atas perubahan sikap putrinya.
"Pa, Juan mau pergi dengan Kak Rafa." Ucap Juano yang mau turun. Papanya kembali mengangguk dan memegang bahunya. "Turun mandi dan ganti baju." Papanya menyetujui.
Setelah Juano turun, Papanya berjalan mendekati Rafael. "Rafa, apa benar Laras mau mengajakmu keluar?"
"Iya, Pak. Saya mau cari pakaian yang pantas, karna Laras mengajak saya ke acara party kantornya..." Rafael jujur menceritakan tentang permintaan Laras.
Papa Juano terkejut mendengar penjelasan Rafael. "Rafa, kau yakin mau membantunya?" Papa Juano tidak meneruskan maksud pertanyaannya.
"Iya, Pak. Laras sedang kesulitan, karna ke acara itu dia perlu pendampingan."
"Justru itu, saya agak keberatan kau ikut dengannya. Kau tahu sendiri, dia sudah punya pacar. Jangan sampai kalian ribut setelah itu." Papa Juano tidak mau Rafael bertengkar dengan Jarem.
"Mengenai pacarnya, biar Laras yang jelaskan, Pak. Sekarang saya hanya bantu menemani Laras."
"Rafa, saya tahu maksudmu baik. Tapi saya tidak mau kau terjebak oleh pertengkaran mereka. Saya juga tidak mau kau dimanfaatkan." Papa Juano tidak rela Laras memanfaatkan Rafael untuk kepentingan pribadinya.
"Saya tahu, Pak. Cuma sekarang Laras sedang butuh bantuan, agar bisa membangun rasa percaya dirinya di kantor. Saya mohon maaf, tidak bisa jelaskan lebih jauh. Nanti Laras saja yang jelaskan, mengapa meminta bantuan saya."
"Sekarang saya mau keluar dengan Juan juga, karna sudah janji mau traktir dia setelah gajian..." Rafael menjelaskan lagi, sebab melihat Papa Juano masih belum berikan persetujuan.
"Baik'lah. Hati-hati." Dengan berat hati Papa Juano menyetujui. Hatinya ragu ingat hubungan Laras dan Jarem sering bermasalah dan putus nyambung.
Papa Juano tidak mau Rafael terlibat dan terjebak di antara hubungan mereka yang sering alami pasang surut dan cendrung tidak sehat.
"Iya, Pak. Saya akan hati-hati." Rafael mengerti rasa khawatir Papa Juano. Bukan karena kedekatan mereka, tapi lebih kepada hubungan Laras dan pacaranya. Sehingga ragu mengizinkan mereka pergi bersama.
Setelah Papa Juano turun, Rafael mengambil pakaian dan turun ke kamar Juano untuk mandi dan berganti.
~••
Tidak lama kemudian, mereka bertiga tiba di salah satu Mall terkenal di kota itu. "Kak Rafa, katanya mau traktir ice cream." Ucap Juan saat mereka melewati tempat menjual ice cream dan terus menuju tempat menjual busana pria.
"Tunggu Kak Laras cari pakaian..." Bisik Rafael yang hilang konsentrasi. Dia kebingungan melihat Laras ke tempat bermerek. Sehingga pikirannya bercabang, tidak fokus pada Juano. Dia jadi menghitung uang yang dimiliki, kalau harus membeli salah satu outfit di tempat itu.
Laras yang tidak menyadari kondisi Rafael, terus masuk dan memilih outfit yang diinginkan. "Ini, coba pas di sana." Laras memberikan kemeja, celana dan jas untuk dicoba Rafael.
Rafael terdiam sambil memegang yang diberikan Laras. "Kau tidak tahu pekerjaan saya sebagai OB, dan baru dirampok di kereta?" Bisik Rafael tanpa beranjak. "Ponsel saya saja dikasih Papamu." Rafael meneruskan lagi, untuk mengingatkan Laras bahwa dia adalah Rafael bukan Jarem. Dia tidak malu mengakui keberadaannya.
"Coba saja. Saya yang bayar." Bisik Laras, memaksa. Rafael jadi serius melihat Laras, sebab sekilas dia bisa menghitung harga barang yang ada di tangannya.
"Bisa tidak bertanya lagi? Saya serius, mau membayar." Laras coba meyakinkan Rafael yang ragu.
"Ayo, Kak Rafa. Kita ke sana. Kak Laras banyak uang." Juano yang mendengar percakapan ikut mendesak.
"Baik'lah." Rafael terpaksa menuju kamar pas, di susul oleh Laras dan Juano.
Saat Rafael keluar dari kamar pas dengan memakai jas lengkap, Laras dan Juano terbelalak melihat perubahannya. Penampilan Rafael seperti pengusaha muda. "Wuaaa, Kak Rafa seperti..." Laras langsung menutup mulut Juano, agar komentarnya tidak didengar oleh pengunjung lain.
"Bagaimana menurutmu?" Tanya Rafael kepada Juano yang sedang melihatnya dengan mata membulat dan mulut ditutupi oleh Laras. Juano mengangkat dua jempol, lalu menarik tangan kakaknya.
"Kak Rafa sangat keren dan tampan." Juano tidak bisa sembunyikan rasa kagumnya, begitu juga kakaknya.
"Ok. Laras, tolong cari ukuran sedikit lebih besar dari ini. Saya merasa tidak nyaman." Rafael memegang jas di badannya.
"Tapi ini sudah pas di badanmu." Laras heran dengar permintaan Rafael. Baginya Rafael seperti yang dikatakan Juano, sangat keren dan tampan.
"Saya tidak bilang, tidak pas, tapi tidak nyaman. Jadi tolong cari ukuran yang sedikit lebih besar. Warnanya, terserah." Rafael meneruskan, sebab jas yang dipilih Laras terlalu pas. Selain membatasi gerak, menonjolkan otot lengannya.
"Baik'lah. Tolong masuk ruang ganti lagi. Nanti saya cari." Laras mengalah, sebab membutuhkan bantuan Rafael.
Tidak lama kemudian, Laras kembali dengan outfit lain, juga sepatu. Hal itu membuat Rafael makin tidak enak. Harga sepatu akan membuat dia tidak bisa mentraktir Juano. "Ukur saja. Aku yang bayar." Bisik Laras yang melihat Rafael ragu mengambil sepatu.
~••
Seminggu kemudian ; Sabtu menjelang sore, Rafael keluar dari kamar Juano sudah dalam balutan jas lengkap sambil menjinjing sepatu. Mama Juano jadi tertegun. "Rafa?" Mama Juano hampir tidak mengenal Rafael yang sudah memotong rambut dan mengenakan pakaian formal.
"Saya, Bu." Ucap Rafael sambil tersenyum dalam hati melihat Mama Juano menatap tidak berkedip.
"Sudah, jalan. Pulang jangan terlalu malam." Ucap Papa Juano yang baru keluar kamar dan melihat Laras berdandan cantik. Sangat serasi dengan penampilan Rafael.
Papa Juano mendekati Rafael. "Hati-hati. Jangan minum alkohol." Bisik Papa Juano mengingatkan.
"Iya, Pak. Saya memang tidak minum." Rafael mengatakan agar Papa Juano merasa tenang, dia pergi dengan Laras.
Tidak lama kemudian, mereka berdua dalam mobil tanpa bercakap-cakap. Masing-masing dengan perasaan dan pikiran masing-masing. "Kau bisa bawa mobil?" Tanya Laras setelah setengah perjalanan untuk memecah kebisuan.
"Tidak. Hanya motor dan sepeda." Rafael menjawab cepat. "Oh, iya. Nanti di sana saya bikin apa?"
"Makan, minum dan mendampingi saya." Jawab Laras sambil melirik. "Oh, iya. Tidak usah perkenalkan diri kalau ada yang mau berkenalan." Laras mengingatkan hal yang hampir terlupakan. "Ok."
Ketika tiba di depan gedung kantor, Laras memberikan kunci mobil kepada security lalu masuk ke lobby gedung yang sudah disulap menjadi tempat party.
Tiba-tiba Laras memegang erat lengan Rafael. Sontak Rafael melihat ke arah seorang pria yang berjalan cepat ke arah mereka. "Siapa?" Rafael bertanya tanpa menggerakan bibir, sebab dia yakin apa yang dilakukan Laras berhubungan dengan pria yang mendekati mereka. "My ex." Jawab Laras singkat.
...~•••~...
...~•○♡○•~...