Dalam kisah ini, seorang mantan aktivis kurus berkacamata bernama Tento dan sahabatnya Perikus, mantan santri absurd yang pernah lari dari pesantren, terjebak dalam konspirasi gelap. Mereka menyelidiki cairan misterius B16 yang disuntikkan ke karyawan pabrik, membawa mereka menyusuri lorong-lorong bawah tanah, desa, pasar, hingga pelabuhan. Di perjalanan, mereka bertemu profesor eksentrik, jurnalis pemberani, dan saksi-saksi yang hilang. Di balik thriller menegangkan ini terjalin humor liar, obrolan soto ayam, dan persahabatan yang tak lekang. Bahasanya jenaka, penuh panca indera, namun juga memaksa merenungkan keadilan. Ini adalah perjalanan menantang dari gang sempit Malang sampai gelapnya pelabuhan, di mana dua orang biasa menghadapi raksasa korporasi demi menyelamatkan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ombak dan Arus Berbahaya
Suara gonggongan anjing semakin dekat, lalu menjauh, lalu dekat lagi, seperti irama drum dalam parade yang salah tempo. Mereka menahan napas di balik batu besar yang menjorok ke laut. Batu itu dingin, basah oleh percikan ombak. Di samping mereka, lumut hijau menempel, licin jika disentuh. Aroma garam bercampur bau lumpur menempel di hidung. Mereka bisa merasakan pasir halus meresap ke dalam sepatu. Di kejauhan, cahaya lampu senter berkedip-kedip, menari-nari di antara pohon, sesekali memantul ke permukaan air dan membentuk garis-garis cahaya yang putus-putus. Angin laut bertiup, membawa bisikan rahasia dari cakrawala.
“Jantungku ingin melompat keluar,” bisik Budi, suaranya hampir tak terdengar, bibir menempel ke batu. “Aku baru sadar, reog harimau tidak diajarkan cara melarikan diri dari anjing.” Napasnya cepat. Keringat mengalir di pelipis, bercampur dengan percikan air laut.
Tento menempelkan punggungnya ke batu, merasakan permukaan kasar. “Kita harus keluar dari sini sebelum fajar. Jika mereka menemukan kita, kita selesai,” katanya pelan. Dalam kegelapan, ia bisa melihat mata Perikus berkilat seperti mata kucing. “Tunggu sampai mereka pergi, lalu kita bergerak ke hutan, cari jalan ke dermaga atau perahu nelayan,” lanjutnya.
Perikus mengangguk. Telinganya menangkap setiap bunyi: desir angin, gesekan dedaunan, dentingan batu, langkah kaki di kejauhan. Ia ingat ucapan kiai di pesantren tentang kesabaran: bertahanlah saat badai datang. Namun, ini badai berbeda, badai manusia dan konspirasi. Ia memeluk dirinya sendiri, mengusap lengan yang dingin. “Aku tidak tahan dingin,” gumamnya. “Tapi aku akan tahan jika itu menyelamatkan banyak orang.”
Setelah beberapa lama, bunyi anjing dan langkah kaki mulai menghilang. Hanya suara ombak yang terus hadir, konstan, mengingatkan mereka bahwa waktu berjalan. Mereka mengintip dari balik batu. Cahaya lampu sudah jauh. Mereka memutuskan untuk bergerak. Mereka merangkak, bergerak menjauh dari garis pantai, masuk ke balik pepohonan. Tanah basah, penuh akar yang mencuat. Bau daun basah dan lumpur memenuhi udara. Mereka meraba-raba di kegelapan, mencoba tetap senyap.
Malam semakin larut, tetapi kegelapan tidak total. Bulan sabit memberi penerangan redup. Mereka berjalan melewati vegetasi lebat, sesekali menyingkirkan cabang yang menghalangi. Kemeja mereka basah oleh embun dan keringat. Mereka meraba-raba saku, memastikan topeng dengan kamera masih aman. Kaki mereka kadang-kadang terperosok ke lubang kecil, membuat jantung berdegup kencang. Sesekali, mereka mendengar suara burung malam, cicit serangga, dan hewan kecil berlari di semak.
Setelah berjalan beberapa ratus meter, mereka mendengar bunyi lain: suara air memukul kayu, dan bau minyak solar. Mereka menunduk, berjalan lebih pelan. Mereka mengintip dari balik pohon. Mereka melihat sebuah pondok kecil di tepi sungai kecil yang mengalir ke laut. Di depan pondok, ada perahu kayu kecil terikat, bergoyang perlahan. Perahu itu sederhana, dengan mesin tempel kecil di belakang, beberapa jaring, dan lampu gantung. Pondok terbuka, hanya berbentuk atap dengan dua tiang. Di bawah atap, seorang pria tua terbaring di tikar, selimut kain sarung menutup tubuhnya. Di dekatnya, kompor minyak tanah kecil masih menyala, dengan panci berisi air panas.
Budi menahan napas. “Perahu,” bisiknya. “Kita bisa gunakan itu.” Ia memandang kedua temannya. “Apa kita minta baik-baik atau...?”
“Aku tidak mau mencuri dari orang kecil,” bisik Tento. “Kita coba bicara. Mungkin dia mengerti.” Mereka mendekat pelan. Pria tua itu terlihat damai, wajahnya keriput, rambutnya sedikit beruban. Sebuah radio tua di sudut memutarkan lagu campursari pelan-pelan. Aroma kopi basi tercium dari cangkir logam dekat radio. Mereka berdiri beberapa meter darinya, lalu Tento batuk pelan. Pria itu membuka mata perlahan, lalu duduk. Matanya memandang mereka, sedikit terkejut namun tidak panic. Ia mengamati pakaian mereka yang kotor dan basah, kostum reog yang tergantung di bahu Budi, dan topeng wayang di tangan Tento.
“Kalian siapa?” tanyanya, suara serak. Ia mengambil senter, menyorot wajah mereka. Namun, setelah melihat topeng wayang, ia mengerutkan kening, lalu tersenyum. “Apa kalian rombongan seni dari kota? Aku melihat pertunjukan tadi sore dari kejauhan. Kalian hebat. Kenapa kalian di sini? Kalian tersesat?”
Tento melangkah mendekat, mengangkat tangan. “Maaf, Pak. Kami butuh bantuan. Kami sedang dalam masalah. Kami harus keluar dari pulau ini. Kami tahu Bapak mungkin tidak percaya, tapi kami bukan penjahat. Kami sedang membongkar kejahatan di penjara. Kami butuh perahu Bapak. Kami tidak punya uang banyak, tapi kami bisa bayar,” katanya, suaranya lirih tapi jujur.
Pria tua itu menatap mereka lama, seakan menimbang. “Kejahatan di penjara?” tanyanya. “Aku pernah mendengar. Anakku dulu bekerja di pabrik makanan kaleng, lalu dia hilang. Kata orang, dia masuk penjara karena mencuri. Tapi aku tahu, dia orang baik. Aku pergi ke penjara beberapa kali, tapi tidak pernah bisa bertemu. Mereka selalu bilang dia sibuk. Aku curiga ada yang salah. Kalian tahu tentang cairan itu? B16?”
Tiga pasang mata melebar. “Bapak tahu?” tanya Perikus. Pria itu mengangguk pelan. “Ada orang-orang yang berbicara di warung, bisik-bisik. Aku mendengar kata itu. Aku tidak mengerti. Tapi hatiku merasa tidak enak. Aku merasa, mungkin anakku digunakan untuk sesuatu. Jadi jika kalian datang untuk menghentikan itu, aku akan membantu. Aku tidak peduli uang. Aku hanya ingin kebenaran,” katanya. Suaranya lembut namun penuh luka.
Mereka terharu. Tento menggenggam tangan pria itu. Tangannya kasar, penuh luka. “Terima kasih, Pak. Kami akan melakukan yang terbaik,” katanya. Pria itu tersenyum kecil. “Namaku Pak Hadi. Ayo, aku akan bantu kalian keluar sebelum matahari terbit. Perahu ini tidak besar, tapi cukup untuk tiga orang. Aku akan menyalakan mesin. Kalian bantu lepaskan tali,” katanya, bangkit, merapikan sarung, lalu berjalan ke perahu.
Mereka bekerja cepat. Mereka melepas tali, mendorong perahu ke sungai. Suara mesin tempel menggeram pelan, menelan malam. Sungai kecil itu sempit, dipenuhi tanaman bakau dan akar pohon yang menjulur. Mereka harus menunduk melewati cabang yang menggantung. Langit mulai memucat di timur, menandakan waktu berjalan. Pak Hadi mengemudikan perahu dengan lihai, mengikuti jalur yang ia hapal. “Kita harus diam. Jika ada pos penjaga, kalian sembunyi di bawah jaring,” bisiknya.
Mereka mengikuti. Beberapa kali, suara motor perahu lain terdengar di kejauhan. Sekali, bayangan perahu patroli dengan lampu menyala melintasi sungai. Pak Hadi mematikan mesin, merunduk. Mereka menahan napas, jantung berdebar. Lampu patroli lewat, tanpa melihat mereka. Pak Hadi menyalakan mesin lagi, bergerak perlahan. Sungai mengalir ke laut, membuka ke teluk kecil di belakang pulau. Ombak kecil memukul perahu. Udara makin dingin.
Ketika mereka sampai di laut terbuka, cahaya matahari pertama muncul di horizon, menciptakan garis merah muda di atas air. Ombak lebih besar, menggoyang perahu. Budi memegang sisi perahu erat, wajahnya pucat. “Aku mabuk laut lagi,” katanya, menutup mata. Pak Hadi tertawa pelan. “Taruh pandanganmu pada horison, itu akan membantu,” katanya. “Dan jangan makan terlalu banyak.”
Perjalanan mereka menuju daratan utama memakan waktu lebih dari satu jam. Laut berwarna biru tua, memantulkan langit yang mulai berubah warna. Mereka melihat beberapa kapal nelayan di kejauhan, bendera-bendera berkibar. Sebuah kapal tongkang besar lewat, mengangkat gelombang yang menggoyang perahu kecil mereka. Mereka menggenggam kuat, air asin menciprati wajah. Rasanya asin, dingin, dan menyegarkan. Dalam keterkejutan dan ketakutan, mereka juga merasakan keindahan: matahari terbit di tengah laut, warna-warna pastel, dan garis air yang tak terputus.
Akhirnya, mereka melihat garis pantai. Tepian itu tidak seperti dermaga ramai Cilacap; itu pantai kecil dengan pasir putih, beberapa perahu kayu, dan hutan bakau. Mereka merapat, mengangkat perahu ke pasir. Pak Hadi mematikan mesin. “Ini pantai nelayan kecil. Dari sini, kalian bisa jalan ke jalan utama, lalu ke kota. Aku akan kembali ke pulau. Jika aku tidak pulang, mereka akan curiga. Aku akan berhati-hati,” katanya, matanya menatap mereka. “Tolong, sampaikan ke anakku jika kalian menemukannya. Namanya Joko. Katakan ayahnya menunggu.”
Mereka berjanji. Mereka memeluk Pak Hadi. Air mata muncul di mata pria tua itu. Ia menepuk bahu mereka. “Pergilah, nak. Semoga Tuhan melindungi kalian,” katanya. Ia menaiki perahu lagi, melambaikan tangan, lalu berbalik ke laut.
Mereka berjalan melewati hutan bakau, menembus semak, sampai mereka menemukan jalan tanah yang mengarah ke kampung kecil. Jalan itu sepi, hanya beberapa anjing berkeliaran dan ayam berkotek. Aroma wangi nasi liwet dari dapur rumah warga membuat perut mereka berbunyi. Mereka mampir ke warung kecil di tepi jalan, membeli nasi uduk dengan sambal terasi dan sepotong tempe, lalu duduk di kursi kayu. Ibu pemilik warung menatap mereka penuh rasa ingin tahu. Mereka menelan makanan dengan cepat, lelah dan lapar.
Sementara makan, mereka meminjam ponsel warung untuk menelepon profesor. Sinyal lemah, tapi cukup. “Pak, kami selamat,” kata Tento dengan suara rendah, menahan emosi. “Kami punya rekaman injeksi B16. Kami akan segera kembali. Kami keluar dari pulau dengan bantuan seorang nelayan. Kami butuh penjemputan.” Di seberang, suara profesor terdengar lega. “Alhamdulillah, kalian selamat. Aku akan kirim seseorang menjemput kalian. Tunggu di sana.”
Setengah jam kemudian, sebuah minibus tua berhenti di depan warung. Budi mengenali pengemudinya: Wahyu, sang teman Lembaga Kesenian. “Ayo, naik. Kalian bau seperti ikan asin,” canda Wahyu sambil membuka pintu. “Aku akan bawa kalian pulang.” Mereka naik, duduk, menarik napas lega. Minibus melaju melewati kampung, keluar ke jalan raya.
Di dalam minibus, suara radio menyiarkan berita. “Hari ini, sebuah artikel investigasi dari media asing mengungkap praktek percobaan manusia di pabrik makanan kaleng terkemuka di Indonesia,” suara penyiar terdengar. “Pemerintah membantah, namun masyarakat mulai turun ke jalan menuntut keadilan. Di sosial media, tagar #TolongParaPekerja menjadi trending. Sementara itu, polisi mengatakan akan menyelidiki, namun tidak akan melakukan penangkapan tanpa bukti kuat.”
Mereka menatap satu sama lain. “Artikel dari Mas Jati sudah tayang,” kata Perikus, hatinya berdebar. “Orang-orang mulai tahu. Tapi itu berarti kita juga jadi target.” Wahyu mengangguk. “Ada kabar tidak enak. Warung Pakde Selam dibakar semalam. Untung Pakde sudah di Blitar,” katanya. “Juga, beberapa aktivis di Malang mendapat ancaman. Kalian harus lebih hati-hati. Ini perang informasi dan fisik.”
Tento menggigit bibir. “Mereka marah. Mereka membalas. Kita harus lindungi semua orang.” Budi memegang perutnya yang masih mual. “Aku tidak mau warung Soto jadi korban. Kita harus cepat.”
Setibanya di rumah profesor, langit sudah biru cerah. Mereka disambut oleh Rina, Agus, Pak Mahmud, dan Pakde Selam. Mereka memeluk mereka, lega melihat mereka hidup. Pakde meneteskan air mata, lalu tertawa. “Kalian seperti anakku sendiri,” katanya sambil menyodorkan semangkuk soto ayam panas. “Makan dulu. Soto bisa menyembuhkan trauma.” Mereka tertawa, lalu makan soto dengan lahap. Kuah kuning hangat turun ke tenggorokan, menenangkan jiwa. Aroma bawang goreng dan daun seledri membawa nostalgia. Suara sendok yang beradu dengan mangkuk terdengar seperti lagu kemenangan.
Setelah makan, mereka menyetor rekaman dan laporan ke profesor dan jurnalis. Mas Jati datang ke rumah dengan tas punggung besar, membawa kamera dan laptop. Ia menatap mereka kagum. “Kalian gila,” katanya. “Rekaman ini... orang-orang akan tidak percaya. Tapi ini nyata. Aku akan menulis edisi kedua. Dan kita harus menghubungi LPSK secepatnya. Kita juga harus menyiarkan rekaman ini di media sosial, namun secara terpotong agar tidak melanggar privasi. Itu bisa memicu dukungan publik.”
Profesor menyalakan laptop, memutar rekaman. Mereka semua menonton adegan dokter menyuntikkan cairan ke narapidana, tangisan, mesin berbunyi. Ruangan sunyi. Mata Rina berkaca-kaca. “Ini yang mereka lakukan pada teman-temanku,” katanya, menahan air mata. Agus menggenggam tangannya. “Kita akan menghentikan mereka,” katanya pelan.
Setelah selesai, mereka membahas langkah selanjutnya. “Kita harus mempersiapkan perjalanan ke Kalimantan. Menurut data Maya, pengiriman akan sampai di sana dalam dua minggu,” kata profesor. “Kita harus menghalangi mereka sebelum mereka mengedarkannya ke masyarakat atau menambah korban.” Ia menunjukkan peta Kalimantan, pelabuhan K3 di Nunukan. “Kita butuh kontak lokal. Aku punya teman lama, seorang guru yang juga aktivis lingkungan. Namanya Pak Surya. Dia bisa bantu.”
Tento menatap peta. “Kalimantan, pulau besar, hutan lebat, sungai panjang. Ini akan jadi perjalanan berat,” katanya. Namun, dia merasakan semangat baru. “Tapi kita akan pergi. Kita harus.”
Budi menepuk meja. “Aku selalu ingin pergi ke Kalimantan. Aku pernah melihat suku Dayak menari di TV. Mungkin kita bisa belajar satu dua gerakan. Dan mungkin kali ini, idemu itu akan membawa kita ke sana,” katanya sambil tertawa.
Namun, malam itu juga, ada kejadian tak terduga. Saat mereka sedang menata rencana, ponsel Rina berdering. Nomor tidak dikenal. Rina ragu sejenak, kemudian menjawab. Suara di ujung sana lemah, terbata-bata. “Halo... siapa ini?” tanya Rina. Dari ponsel, terdengar suara perempuan pelan. “Rina? Ini Karin...” kata suara itu. Rina terdiam, matanya melebar. Ia memandang Tento. “Ini... suara Karin,” bisiknya. “Halo? Karin? Kamu di mana?” tanyanya, suaranya bergetar. Suara itu terdengar lagi, pelan, terputus-putus. “Aku tidak tahu... gelap... dingin... tolong...” Lalu sambungan terputus. Ponsel kembali ke layar awal. Rina terdiam, menatap layar. Semua mata menatapnya. Keheningan memenuhi ruangan. Mereka baru saja menerima tanda bahwa seseorang yang hilang mungkin hidup… dan meminta tolong.
“Suara itu... aku tidak salah dengar,” kata Rina pelan. “Itu Karin. Aku mengenali suaranya. Dia meminta tolong.” Wajah Tento berubah. Lututnya lemas. “Dia hidup,” bisiknya. “Dia... masih hidup,” diulangi seperti meyakinkan diri sendiri. Perikus menelan ludah. “Kita harus menyelamatkannya,” katanya tegas. “Kita harus.” Mata mereka saling mengunci, menyadari bahwa tugas mereka belum selesai. Mereka belum hanya melawan perusahaan, tetapi juga berlomba dengan waktu untuk menyelamatkan teman.
Malam itu berakhir dengan mereka menatap telepon Rina, jari-jari mereka kaku, otak mereka bekerja cepat. Mereka merasakan arus baru menarik mereka: suara samar di telepon, memanggil dari kegelapan. Mereka tahu, langkah berikutnya akan membawa mereka lebih dalam lagi… ke penjara, ke hutan, ke dunia di mana suara-suara lirih harus mereka selamatkan.