NovelToon NovelToon
Apakah Itu Kamu?

Apakah Itu Kamu?

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cerai / Selingkuh / Janda / Romansa / Berondong
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Muna

Mengisahkan Livia Winarti Samego, seorang wanita 30 tahun yang harus menerima nasib bahwa ia diduakan oleh suaminya, Attar Pangestu dengan wanita lain yang tidak bukan adalah Sheila Nandhita, teman baiknya. Livia harus berjuang seorang diri dalam perpisahannya dengan Attar hingga takdir mempertemukannya dengan Ayub Sangaji, seorang mahasiswa jurusan pendidikan olahraga di sebuah kampus yang tampan dan menggoda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak Mungkin Bersama Lagi

Ayub membuka matanya. Sebagai seorang atlet, instingnya terhadap bahaya sangat tajam. Ia memperhatikan mata suster itu—mata yang berkilat tidak stabil, penuh dengan kebencian yang tidak bisa disembunyikan oleh kain masker mana pun. Saat suster itu mendekat dan tangan kirinya gemetar hebat saat meraih selang infus Ayub, pemuda itu menyadari sesuatu. Aroma parfum mahal yang sangat menyengat—arama yang sama dengan wanita gila di gudang tua itu.

"Suster... bukankah jam suntik saya jam delapan nanti?" tanya Ayub tenang, padahal jantungnya mulai berpacu.

"Ada... ada percepatan jadwal," jawab suster itu, jemarinya kini mencengkeram suntikan berisi cairan bening keruh dengan erat.

Saat jarum itu hampir menembus karet selang infus, Ayub bergerak secepat kilat. Dengan satu sentakan kuat, ia menarik kakinya dan melayangkan sebuah tendangan push kick dari posisi berbaring tepat ke arah dada suster itu.

DUAK!

"Argh!" Suster itu terjungkal ke belakang, nampannya terlempar dan botol-botol kecil pecah berserakan di lantai. Maskernya terlepas, menyingkap wajah penuh luka dan kemarahan: Sheila Nandhita.

****

Sheila bangkit dengan gerakan yang sangat liar. Rambutnya yang berantakan keluar dari penutup kepala suster. Ia tidak lagi peduli pada penyamarannya. Tawanya pecah—sebuah tawa histeris yang menggema di ruang sunyi itu.

"Kamu lagi! Kamu lagi yang menghalangi jalanku!" teriak Sheila. Matanya melotot gila, urat-urat di lehernya menonjol.

Sheila melihat gagang infus dari besi yang berdiri di samping ranjang. Dengan kekuatan yang didorong oleh kegilaan murni, ia mencabut gagang infus itu dari dudukannya dan mengayunkannya secara brutal ke arah kepala Ayub.

PLANG!

Ayub berhasil menangkis dengan lengannya, namun hantaman besi itu terasa sangat menyakitkan. Sheila tidak berhenti. Ia memukul secara membabi buta, menghantamkan besi itu ke bahu dan punggung Ayub yang masih lemah.

"Mati kamu! Mati! Kenapa kamu selalu mengganggu urusanku dengan Attar!" teriak Sheila sambil terus mengayunkan besi itu dengan napas menderu.

Ayub mencoba bertahan di atas ranjang, namun luka jahitan di kepalanya kembali mengeluarkan darah akibat gerakan yang terlalu ekstrem. Tepat saat Sheila hendak melayangkan pukulan mematikan ke dahi Ayub, pintu kamar terbuka lebar.

"Satpam! Tolong! Ada keributan di kamar 302!" teriak seorang perawat asli yang kebetulan lewat.

Dalam hitungan detik, dua orang petugas keamanan (satpam) berbaju safari masuk dan langsung menyergap Sheila dari belakang. Sheila meronta, menggigit tangan salah satu satpam, dan tertawa histeris saat mereka menjatuhkannya ke lantai.

"Lepaskan aku! Aku harus membunuhnya! Dia pengganggu!" Sheila menjerit-jerit saat tangannya diborgol. Suara tawanya yang menyeramkan perlahan menjauh seiring petugas menyeretnya keluar koridor menuju unit gangguan jiwa kepolisian yang lebih ketat.

Ayub jatuh terduduk di tepi ranjang, napasnya tersengal. Bahunya berdenyut hebat, namun ia bersyukur Livia berada di kamar yang berbeda hari ini untuk pemeriksaan radiologi, sehingga wanita itu tidak perlu melihat kegilaan ini lagi.

****

Di belahan kota yang lain, suasana sangat kontras. Tanah pemakaman umum tampak basah oleh embun dan air mata. Sebuah nisan kayu bertuliskan nama Rahmi Pangestu berdiri tegak di tengah tumpukan bunga melati dan mawar merah yang masih segar.

Hilman duduk di kursi lipat di depan makam istrinya. Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam beberapa hari. Ia menatap gundukan tanah itu dengan pandangan kosong, tangannya terus memegang buku yasin yang sudah basah oleh tetesan air mata.

Di sampingnya, Attar Pangestu berdiri tegap dengan setelan jas hitam formal. Kacamata hitam menutupi matanya yang sembab, namun bahunya yang berguncang tidak bisa menyembunyikan isak tangis yang tertahan. Attar merasa seolah sebagian dari jiwanya turut terkubur di bawah tanah itu. Setiap kali ia melihat pusara ibunya, ia diingatkan pada pengkhianatan yang ia lakukan—sebuah dosa yang tak akan pernah bisa ia tebus seumur hidup.

"Maafkan Attar, Ma... Maafkan Attar," bisik Attar lirih di balik kacamata hitamnya.

Para pelayat mulai meninggalkan lokasi satu per satu, menyisakan kesunyian yang berat. Attar menoleh ke arah gerbang pemakaman, seolah berharap melihat seseorang di sana.

****

Di bawah pohon beringin besar, sekitar lima puluh meter dari lokasi makam, sebuah mobil hitam terparkir. Di dalamnya, Livia duduk diam mengenakan kerudung hitam dan kacamata gelap. Ia tidak berani mendekat. Ia merasa belum sanggup berhadapan dengan Attar atau Hilman dalam kondisi batin yang masih hancur berkeping-keping.

Livia melihat Attar dari kejauhan. Pria yang dulu ia cintai dengan sepenuh hati itu kini tampak sangat kecil dan rapuh. Namun, rasa sakit akibat pengkhianatan itu masih terlalu nyata untuk diabaikan. Livia menyentuh kaca jendela mobilnya, seolah sedang membelai nisan ibu mertuanya dari jauh.

"Selamat jalan, Mama... Maafkan Livia tidak bisa memeluk Mama untuk terakhir kalinya," bisik Livia dengan air mata yang mengalir di balik kacamata hitamnya.

Livia melihat Attar berlutut dan mencium tanah makam ibunya. Ada rasa perih di hati Livia melihat suaminya seperti itu, namun ia segera memalingkan wajah. Ia tahu, kembali ke sisi Attar hanya akan membuka luka baru. Pengkhianatan Attar telah merenggut nyawa Rahmi secara tidak langsung, dan itu adalah beban yang tidak sanggup Livia tanggung bersama-sama.

Saat mobil yang membawa Livia perlahan mulai bergerak meninggalkan area pemakaman, Attar sempat menoleh ke arah jalan raya. Ia seperti mengenali profil wanita di dalam mobil itu, namun mobil tersebut sudah menghilang di balik tikungan jalan.

Attar menunduk lagi, meremas segenggam tanah makam ibunya. "Aku sudah kehilangan segalanya, Ma. Mama, Livia... semuanya pergi karena kesalahanku sendiri."

****

Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan tampak angkuh di bawah terik matahari pagi yang menyengat. Bagi Livia Winarti Samego, pilar-pilar putih gedung itu bukan sekadar simbol keadilan, melainkan gerbang menuju kebebasan dari penjara rasa sakit yang selama ini menghimpitnya.

Livia turun dari mobil dengan langkah mantap, meski hatinya masih bergetar. Ia mengenakan kemeja putih polos dan celana bahan hitam, rambutnya diikat rapi—sebuah pernyataan bahwa ia siap menata kembali hidupnya yang sempat hancur berkeping-keping. Di sampingnya, Ayub Sangaji setia mendampingi. Pemuda itu mengenakan kemeja biru tua yang rapi, menutupi bekas luka di bahunya yang masih dalam proses pemulihan.

"Mbak siap?" tanya Ayub lembut, menatap Livia dengan sorot mata yang menguatkan.

Livia mengangguk tipis. "Sangat siap, Ayub. Ini harus berakhir hari ini."

Di dalam ruang mediasi yang sempit dan ber-AC dingin, Attar Pangestu sudah menunggu. Penampilannya jauh dari kesan arsitek sukses yang dulu selalu tampil klimis. Wajahnya tirus, matanya cekung dengan lingkaran hitam yang kentara, sisa duka kehilangan ibunya dan rasa bersalah yang tak berujung.

Saat Livia masuk, Attar langsung berdiri. "Livia..." suaranya serak, penuh pengharapan yang menyakitkan.

Seorang hakim mediator duduk di antara mereka, mencoba membuka jalan tengah. "Bapak Attar dan Ibu Livia, sebelum kita masuk ke persidangan formal, apakah tidak ada celah untuk memaafkan? Mengingat usia pernikahan yang sudah delapan tahun..."

"Saya minta maaf, Pak Hakim," sela Livia dengan suara yang tenang namun sedingin es. "Tidak ada yang perlu dimediasi. Kesalahan suami saya bukan hanya soal perselingkuhan, tapi soal nyawa dan harga diri yang sudah diinjak-injak. Saya bersikeras untuk melanjutkan proses perceraian ini secepat mungkin."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!