NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesuatu Yang Tertunda dan Terjawab

Selesai makan, Mama berdiri dengan gerakan yang terlalu teratur. Seolah sudah latihan drama pertunjukan 17 Agustus berkali-kali.

“Mas Andi, temani Sofiah jalan sebentar ya,” katanya dengan nada terlalu ringan — seolah ide baru muncul di kepalanya. “Mama mau beresin dapur.”

Laki laki itu mengangguk kecil, meskipun hati sudah menangkap ini bukan spontan tapi rencana.

Sofiah berdiri, merapikan bajunya teliti“Sebentar aja, Tante.”

Mereka keluar rumah. Udara Bandung siang idingin seperti es yang tidak larut — tidak ramah. Langit mendung tipis, awan seolah mengintip dan mengawasi setiap langkah mereka menyusuri jalan kecil depan rumah tidak sampai ke gang depan. Tapi cukup jauh agar suara mereka tidak terdengar Mama.

Sunyi membanjiri antara keduanya. Andi menunggu. Sofiah juga. Seolah keduanya saling menantikan siapa yang akan melepas senjata pertama.

Akhirnya, Sofiah bicara duluan.

“Mas Andi orangnya pendiam, ya?”

“Sedikit, " ucapnya jujur.

“Bukan cuma agak,” Sofiah tersenyum — senyum yang kecil, tidak sampai ke mata. “Tapi kelihatan mikir terus seolah pikiran mas ada di tempat lain.”

Ia tertawa singkat, bunyinya lebih seperti hembusan napas. “Kebiasaan kerja, Dik.."

Sofiah tiba tiba berhenti seketika, dan Andi juga ikutan tanpa berpikir bawah langit yang semakin mendung. “Mas Andi sering ke Bandung?” nadanya ringan seperti berbisik — tapi bisa menembus hati

“Jarang sekali, Mas kerja di Jakarta akuntan pajak.”

“Oh.” Sofiah mengangguk perlahan. “Pantes.”

“Pantes apa?”

“Kelihatan capeknya beda,” katanya, lagi-lagi senyum kecil. “Capek orang kota selalu terburu-buru seolah ada sesuatu menunggu di sana.”

Andi terdiam sesaat lalu menengadah langit, "Mas banyak deadline dik..Mas gak bisa santai."

Mereka melanjutkan tapi baru beberapa langkah gadis itu bertanya lagi — kata-katanya tepat seperti jarum. “Tadi yang nelepon… temen kerja?”

" Eh...ia mengangguk cepat, terlalu cepat. “Iya.”

“Cewek?”

Andi berhenti sepersekian detik dadanya nya berdebar "Rekan satu kerja dimana mana banyak cewek dik..bukan hanya cowok, " jawabnya diplomasi

Gadis manis itu tidak menatapnya jauh ke depan, melihat jalanan kosong. Tidak ada nada tuduhan tidak ada ekspresi marah.

“Hm.” Ia mengangguk pelan

"Oh ya dik, apa kabar Ibu ? " Andi mengalihkan pertanyaan.

Sofiah mengerjap, bias wajahnya berbinar," Alhamdulillah Mas, Mama baik."

"Mas cuma heran melihat Ibu, jauh jauh menyuruh pulang hanya untuk makan rendang."

Ia tergelak kecil, seolah pernyataan Andi sebuah kepura puraan tidak mungkin ibunya bicara begitu saja" Mungkin Ibu kangen dengan anak lajangnya, " ujarnya tidak mengeksekusi.

Hening sesaat lalu tapi justru kesunyian itu membuat Andi semakin gelisah. Sofiah tidak mengejar jawaban hanya menaruhnya di atas meja, seakan beban jatuh di pundaknya.

Tiba tiba ponselnya bergetar didalam saku celana, ia refleks mematikan layar tanpa melihat siapa pengirimnya. Gerakan itu terlalu cepat, terlalu tergesa-gesa.

Sofiah melirik sekilas tersenyum sopan. “Maaf, aku banyak nanya.”

“Gapapa dik.”

“Cuma… aku belum terbiasa dengan orang yang pikirannya ke mana-mana.”

Kalimat itu tidak menuduh tidak pula menyimpulkan. Tapi seperti jarum yang menusuk tepat di titik terlemah membuat Andi terdiam tidak bisa berkata apa-apa.

Mereka sampai depan rumah. Mama sudah menunggu di teras, senyumnya sama seperti tadi — tapi matanya tajam seperti pisau baru diasah tahu semua kejadian di jalan.

“Gimana?” .

Sofiah tersenyum sopan. “Baik, Bu.”

Andi tahu Itu jawaban paling aman yang bisa dia berikan. Dan juga jawaban paling berbahaya.

\=\=\=

Andi duduk di tepi ranjang didalam kamar mengepak bekal oleh oleh dari Ibunya untuk dibawa pulang malam ini juga. Tangannya terasa berat saat memegang HP. Layarnya menyala, menampilkan pesan yang baru masuk.

Nayla: Kak, jangan lupa… kontrak itu bukan cuma soal pura-pura. Ada konsekuensinya.

Ia menghela napas panjang, napas yang terjebak di dada.

Di Bandung, satu dunia menunggu kepastian.

Di Jakarta, satu dunia lain menunggu peran.

Dan Ia terjebak di tengah-tengahnya, tanpa tahu sandiwara apa yang akan dimulai.

\=\=\=

Tol Cipularang malam itu seperti pita hitam yang tak ada ujungnya, melengkung dan melayang tanpa pernah benar-benar lurus. Lampu-lampu mobil lain memanjang menjadi garis cahaya, menyatu sebentar, lalu terputus — sama seperti pikiran Andi yang selalu gagal menyusun diri rapi.

Ia menyetir sendirian.

Radio mati. AC dingin sampai bikin kulit punggung merinding. Hanya suara mesin yang berdenyut pelan dan ban bergesek aspal — bunyi yang terlalu tenang, terlalu mengingatkan dia pada keheningan di jalan depan rumah Mama.

Andi tidak ingin suara lain. Tidak mau ada yang mengganggu kekosongan di dalam mobil ini.

Tadi, sebelum berangkat dari Bandung, Mama sempat menepuk bahunya dengan jari-jari yang lembut tapi tegas. “Pelan-pelan nyetirnya. Jangan ngebut.”

“Iya, Ma.”

Sofiah berdiri di dekat pintu gerbang sambil tersenyum. “Hati-hati, Mas.”Nada biasa tidak ada isyarat, tidak ada pesan tersembunyi harus dia selami.

Justru itu yang membuatnya merasa bersalah — tanpa tahu sebabnya padahal semua berjalan seperti rencana.

Mobil melaju stabil di angka sembilan puluh, tidak cepat, tidak lambat hanya tepat di tengah — seperti dirinya sendiri.

Kota Bandung perlahan hilang di balik gunung dan kegelapan. Ponselnya bergetar sekali di cup holder uaranya kecil, tapi cukup kuat untuk mengguncang dada.

Ia melirik cepat, Nayla, napas panjang terjebak di tenggorokan, aturan menyetir tidak boleh membuka ponsel tapi matanya tidak bisa lepas dari layar yang menyala sebentar, lalu mati sendirinya.

Pesan itu tertunda.

Dan entah kenapa, kebiasaannya menunda soal kerja sekarang terasa seperti beban semakin berat menekan dada.

Di KM 72, mobil menepi ke rest area. Tempat itu masih hidup — lampu putih terang menyakitkan mata, bau kopi instan dan gorengan menyebar, suara pintu mobil dibanting pelan dari jauh.

Ia mematikan mesin jari-jari terasa kaku saat menyentuh layar.

Nayla: Kakak udah jalan? Jangan maksa nyetir kalau capek ya.

Andi menatapnya lamat, tidak ada emoji berlebihan tidak ada kata manis tapi setiap hurufnya terasa tepat sasaran — seolah Nayla bisa melihatnya lelah, bingung terjebak di tengah jalan.

“Udah jalan.” Lalu menghapus mengetik lagi. “Udah jalan, tapi capek.” Hapus lagi akhirnya, yang terkirim kalimat, " Udah di jalan, aman lagi istirahat sebentar Nay."

Balasan datang dalam sekejap.

Oke. Makasih udah ngabarin 😊

Andi menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Mengapa gue haru perlu ngabarin? Ini bukan siapa-siapa gue.

Lampu rest area menembus kelopak matanya, terang tapi dingin — sama seperti udara Bandung tadi siang.

Perjalanan dilanjutkan tol mulai ramai mendekati Jakarta. Lampu kota muncul lagi, kali ini lebih rapat, lebih berisik, lebih nyata — seolah memukulnya kembali kepada kenyataan yang dia tinggalkan sebentar.

Andi menyetir dengan autopilot: tangan di setir, kaki di pedal, pikiran terbang ke mana-mana ke meja makan, senyum Sofiah yang tidak sampai ke mata, nada suara Nayla tenang di pagi buta

Semuanya tidak saling bertabrakan. Justru itu masalahnya — semuanya terasa terlalu pas, terlalu nyaman, sehingga dia tidak tahu mana yang harus dia pegang.

Mobil masuk ke area apartemen Pulo Gadung hampir jam sebelas malam. Andi memarkir di tempat biasa mematikan mesin.

Sunyi, sekali lagi sunyi yang mengganggu

Ia duduk beberapa detik tanpa bergerak, menatap pintu depan mobil. Lalu ponsel bergetar lagi.

"Kakak udah sampai?

Ia menghela napas pendek, Baru parkir.

Syukurlah. Istirahat ya. Besok ketemu.

Dua kata terakhir itu menggantung di layar — dan di kepalanya — lebih lama dari seharusnya. Besok ketemu tidak ada paksaan, tapi seperti janji yang tidak pernah ia sadari.

Andi mengunci ponsel, membuka pintu mobil. Udara Jakarta malam menyambutnya: hangat, berat, penuh suara sirine dan musik menghentak dari kejauhan .

Saat pintu apartemen tertutup di belakangnya, menutup dia dari kegelapan luar, Andi sadar satu hal kecil yang membuat dia terasa lebih terjebak:

Pesan Nayla tadi… tidak pernah terasa seperti kewajiban kerja. Dan justru karena itu, ia membiarkannya tertunda.

 

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!