Noari Liora, gadis sederhana yang hidup dalam keterbatasan, tiba-tiba ditarik masuk ke dunia mewah keluarga Van Bodden, ketika Riana, sepupu perempuan kaya yang pernah menyakitinya di masa lalu, justru memintanya menjadi istri pengganti untuk suaminya, Landerik.
Di tengah rasa iba, dan desakan keadaan, Noa menerima tawaran itu. Pernikahan yang seharusnya hampa justru menyeretnya ke dalam lingkar emosi yang rumit, cinta, kehilangan, luka dan harapan.
Ketika Riana meninggal karena sakit yang dideritanya, Noa dituduh sebagai penyebabnya dan kehilangan pegangan hidup. Dalam rumah megah yang penuh keheningan, Noa harus belajar menemukan dirinya sendiri di antara dinginnya sikap Landerik, dan kehadiran Louis, lelaki hangat yang tanpa sengaja membuat hatinya goyah.
Akankah Noa bertahan di pernikahan tanpa cinta ini?
Atau justru menemukan dirinya terjebak dalam perasaan yang tidak pernah ia duga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purpledee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12. Malam pengantin
Lampu di kamar pengantin nampak sedikit redup, cahaya kuning hangat menimpa dinding hotel yang mewah namun terasa terlalu besar untuk di huni oleh dua orang. Noa sudah melepas gaun pengantinnya, kini ia hanya memakai dress tipis berwarna krem yang memang sudah di siapkan. Rambutnya tergerai, wajahnya masih sedikit basah akibat sisa make-up yang sudah ia bersihkan oleh tangan Riana sendiri.
Di tempat tidur besar itu, Riana duduk ditepi tempat tidur dengan selimut menutupi kaki hingga pinggangnya. Tubuhnya tampak lelah, wajahnya pucat, tapi matanya tetap lembut memandangi Noa yang juga duduk di tepi ranjang disampingnya.
“Noa,” panggil Riana pelan, melihat gadis itu menggigit bibir dan menunduk. Dan tiba-tiba, seolah tak mampu menahan apa pun lagi, Noa menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“A-aku tidak bisa.” suaranya pecah. “A-aku takut. Aku bingung,dan aku merasa bersalah.” Riana tersentak kecil, lalu perlahan meraih tangan Noa dengan lembut. “Noa..”
Noa menatap Riana dengan air mata yang tumpah tanpa bisa dihentikan. Tangisnya bukan suara keras, tapi gemetar, tercekik, seperti seseorang yang terlalu lama menahan semuanya sendirian.
“Aku takut Kau marah kalau aku bilang terus terang.”
“Noa, kau boleh jujur padaku, jangan menanggung apa pun sendirian, aku akan mendengarkan.” Noa menarik napasnya dalam-dalam.
“A-aku merasa hubungan ini tidak seharusnya terjadi.” Air matanya jatuh lagi.
“Aku takut menjadi beban, dan menghancurkan hubungan kalian. Aku takut salah langkah dan menjadi semua semakin rumit.” Riana mengusap kepala Noa dengan lembut.
“Kau tidak membuat rumit apa pun, Noa.”
“Tapi aku merasa terjebak,” suara Noa hampir tak terdengar. “Aku merasa aku hidup di dunia yang bukan milikku. Aku takut nanti kau pergi, aku sendirian dengan suamimu, dan dia bahkan, tidak ingin aku ada.”
Riana menghela napas panjang, napas yang terdengar seperti memukul dadanya dari dalam. “Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu ini berat untukmu.” Noa menangis lebih keras mendengar itu, entah lega karena akhirnya diakui, atau hancur karena semuanya benar-benar nyata. Riana mencengkeram tangan Noa erat.
“Noa, dengarkan aku baik-baik,” katanya, suaranya mulai bergetar tapi tegas.
“Aku tidak memintamu menikah untuk membuatmu menderita. Aku tidak ingin Landerik menyakitimu. Aku hanya ingin ada seseorang yang benar-benar baik untuk menemani dia setelah aku sudah tidak ada.” Noa menggeleng cepat, menahan sesenggukan.
“Tapi, aku bukan orang yang tepat. Aku takut aku tidak bisa membuat dia bahagia.” Riana tersenyum sedih, matanya berkaca-kaca.
“Kau sudah membahagiakan aku, Noa. Itu lebih dari cukup.” Ia mengusap pipi Noa yang basah.
“Kau tidak harus langsung dekat dengan Landerik. Tidak harus langsung mengerti dia. Yang aku butuhkan hanya, supaya kamu tidak meninggalkan dia sendirian. aku yakin dengan seiring berjalannya waktu kalian akan dekat, tidak perlu terburu-buru.”
Noa memejamkan mata, merasakan beban baru dan lama menimpa sekaligus.
“Aku takut Kau pergi.” Kali ini Riana yang meneteskan air mata.
Ia merengkuh Noa dengan hangat.
“Aku juga takut, Noa,” lirihnya. “Tapi aku ingin pergi dengan tenang. Dan kau membuatku bisa merasakannya.”
Suara Noa pecah. Mereka menangis berdua, dalam kamar yang terlalu mewah untuk kesedihan seperti itu.
Sementara di luar kamar, tak jauh dari pintu, Landerik berdiri diam, mematung, tatapannya kosong.
Ia datang berniat memanggil Noa untuk berbicara. Tapi mendengar isakan Noa dan suara lemah Riana,Ia tidak masuk.Tidak sanggup. Ia hanya menggenggam gagang pintu yang tertutup itu, jarinya bergetar, entah karena amarah pada dirinya sendiri, atau karena hatinya yang pelan-pelan ikut retak.
...♡...
Kamar pengantin itu terasa jauh lebih hening setelah pintu tertutup lembut di belakang Riana. Noa menghapus air matanya dengan punggung tangannya, meski tetap tak mampu menyembunyikan merah di sekitar kelopak matanya.
Pintu kembali terbuka.
Landerik masuk tanpa suara, langkahnya tenang namun wajahnya terlihat lelah, bukan fisik, tapi hati. Dasi kupu-kupunya sudah ia longgarkan sedikit, dan tanpa menatap Noa terlalu lama ia menanggalkan jasnya, meletakkannya rapi di kursi. Suara Landerik muncul, datar dan rendah.
“Kita sudah bicara sebelumnya tentang pernikahan ini,” katanya sambil mengancingkan kemeja bagian atas yang ia longgarkan. “Tidak akan ada cinta dalam pernikahan ini. Yang ada hanya rasa hormat.”
Noa tidak menjawab, hanya memandang lantai. Matanya masih basah. Landerik bergerak menuju sofa kulit di sisi kamar, duduk dengan posisi sedikit membungkuk, kedua siku bertumpu pada lutut, jemari saling menggenggam.
Ia menatap Noa sejenak. Tatapan yang dingin di permukaan, tapi jelas menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih rumit. “Setelah ini,” lanjutnya, “kau akan ikut kami ke Paris.”
Noa menelan salivanya. Ia tahu. Ia sudah diberi tahu. Tapi sekarang, setelah akad selesai, semuanya terasa benar-benar nyata dan mengerikan. Seolah merasakan gelisah itu, Landerik menambahkan, suaranya tetap tenang. “Seperti yang sudah kuberitahu, aku tidak akan membatasimu dalam hal apa pun.”
Ia bersandar sedikit pada sofa, menutup matanya sejenak seakan butuh waktu untuk menahan sesuatu dalam dadanya. “Kau bebas melakukan apa yang kau mau. Keluar. Jalan-jalan. Berteman. Bekerja. Aku tidak peduli.”
Tatapannya kembali mengarah pada Noa, tajam, tapi bukan menyerang. Lebih seperti seseorang yang terpaksa membangun pagar antara dirinya dan dunia.
“Aku hanya memintamu untuk menjaga nama keluargaku.” dia menjeda perkataannya, Sebuah jeda yang panjang. Penuh makna. Penuh rasa yang keduanya tidak bisa katakan. Noa akhirnya bertanya dengan suara yang hampir hilang.
“Kalau… kalau aku ingin kembali ke rumah orang tuaku?”
Landerik tidak menjawab seketika. Matanya sedikit berkedut—reaksi kecil yang Noa hampir tak lihat. “Kau bisa,” jawabnya akhirnya. “Tapi bukan berarti kau kembali … bebas.”
Suaranya kini lebih pelan, seperti bicara pada dirinya sendiri. “Kau tetap istriku.”
Noa menunduk, mencengkeram ujung gaunnya.
“Dan jika aku…” Ia gugup. “... mencintai orang lain?”
Landerik memalingkan wajah, menyandarkan kepala ke belakang sofa. Ia tidak terlihat marah. Tidak terkejut. Tidak tersinggung. Hanya… lelah.
“Itu bukan urusanku,” katanya singkat, namun terdengar getir. Kehening menyelimuti kamar itu. Hanya terdengar suara AC hotel dan napas Noa yang bergetar.
Landerik lalu berdiri, merapikan kemejanya. “Tidurlah. Kau butuh itu.” Ia berjalan menuju pintu, tetapi sebelum memegang gagangnya, ia berbicara tanpa menoleh.
“Aku tidak akan memaksamu. Dalam hal apa pun.”
Ia membuka pintu sedikit. “Tapi jangan membuat Riana menyesal.” Pintu menutup pelan, meninggalkan Noa sendirian di ruangan terlalu besar itu.
To Be Countinue...