Kepercayaan Aleesya terhadap orang yang paling ia andalkan hancur begitu saja, membuatnya nyaris kehilangan arah.
Namun saat air matanya jatuh di tempat yang gelap, Victor datang diam-diam... menjadi pelindung, meskipun hal itu tak pernah ia rencanakan. Dalam pikiran Victor, ia tak tahu kapan hatinya mulai berpihak. Yang ia tahu, Aleesya tak seharusnya menangis sendirian.
Di saat masa lalu kelam mulai terbongkar, bersamaan dengan bahaya yang kembali mengintai, mampukah cinta mereka menjadi perisai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CutyprincesSs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Northtown siang hari terasa sangat terik, namun tidak menyurutkan semangat orang-orang untuk beraktifitas. Jalanan masih terus sibuk ditambah para pejalan kaki dan tunawisma yang memenuhi trotoar.
Mobil Victor melaju pelan saat memasuki area parkir bawah tanah mall terbesar yang berdiri anggun di tengah kota. Mall itu tak pernah sepi pengunjung ditambah kini hiasan Halloween berjejer rapi di halaman depan megastore membuat anak-anak saling berteriak takut karena beberapa badut membawa permen namun kadang menakuti mereka.
"Aku ingin sendiri dulu buat nenangin diri. Kirim saja restoran tempat Noah mengajakmu bertemu." ucap Aleesya setelah melepas seatbelt dan membuka pintu mobil. Victor menganggukkan kepala, ikut keluar setelah mesin mobilnya mati. "Baiklah, jangan terlalu lama." Aleesya hanya mengangguk lalu berjalan santai. Mereka berpisah di pintu masuk mall, Victor naik ke lantai atas memakan eskalator, sementara Aleesya berjalan mengambil jalur kiri.
Noah mengajak Victor bertemu di restoran Jepang lantai dua, baru juga ia membuka pintu restoran, teriakan kecil sudah menyita atensinya. "Victor!" seru Noah melambaikan tangan. Sahabat Victor itu duduk di dekat meja kasir dengan tiga minuman soda di depannya.
Victor mengangguk, kemudian melangkah sedikit cepat untuk menghampirinya. "Sorry telat, udah lama?" tanyanya mengambil duduk di depan Noah.
Pria di depannya menggeleng, "Santai aja. Tujuanku mengajakmu bertemu karena ada hal penting yang ingin ku bicarakan," Noah menggantungkan ucapannya membuat Victor mengangkat sebelah alisnya tanda bingung.
"namun sebelum itu, aku ingin memastikan satu hal. Aku tahu kau tidak menyukai gosip, tapi di kanal bisnis, kabar CEO Lenz selingkuh sudah menyebar luas membuat harga sahamnya menurun drastis. Aku heran saja bukankah HGE adalah investor utama Lenz? Apa ini semua ada kaitannya denganmu?" Victor diam-diam menyeringai tipis, usahanya beberapa hari ini rupanya sudah menunjukkan hasil. Ia hanya menatap Noah tanpa ingin merespon,
"Apa... aku boleh mendekati Aleesya?" Noah melanjutkan ucapannya, membuat Victor makin terdiam cukup lama, jari-jari nya mengetuk meja, kedua matanya terlihat fokus menyelami mata Noah seolah mencari kebohongan disana. Setelahnya rahangnya terlihat mengeras dengn tangan terkepal.
"Apa maksudmu?! Noah... Aleesya bukan seperti wanita-wanita yang kau kencani sebelumnya. Dia bukan seleramu! Katakan padaku tujuanmu yang sebenarnya!" Victor meninggikan suaranya, dadanya naik turun dengan napas memburu. Beruntung keadaan restoran siang itu cukup ramai, sehingga percakapan mereka tidak menarik perhatian. "Aku serius Victor! Sungguh... aku tidak bercanda. Sudah lama aku menyukai Aleesya."
"Andai kau tahu berengsek, dia baru saja putus karena memergoki pacarnya selingkuh!" monolog Victor dalam hati.
Atmosfer di antara mereka mendadak panas seketika. "Si bodoh ini rupanya juga menyukai Aleesya? Sial!" rutuknya dalam hati, ia membuang wajah karena kesal.
Ia tidak tahu apa yang lebih mengganggunya: pengkhianatan Maxime atau kenyataan bahwa sahabatnya juga menaruh hati pada wanita yang sama.
---
Sedangkan di tempat lain, Aleesya terlihat membawa tiga paperbag coklat berjalan sambil menatap ponsel yang di genggamnya untuk mencari keberadaan Victor dan Noah. "Jauh sekali aku memutar," eluhnya saat naik eskalator menuju restoran jepang lantai dua.
"Hay guys!" sapa Aleesya meletakkan paperbag nya sambil melihat Victor dan Noah bergantian, ia duduk di depan mereka.
"Sya? Kamu disini juga?" Noah tersenyum lebar menatap Aleesya, wanita itu tersenyum sedangkan Victor yang hanya diam melihat itu penuh kesal, dadanya terasa panas. "Hey! Kau kenapa?" tangan Aleesya melambai di depan wajah Victor. "Ti-tidak! Em mengapa belanjamu sedikit?" Victor pura-pura mengalihkan pandangannya untuk menutupi rasa gugup yang datang tiba-tiba, detak jantungnya berdetak tak sesuai keinginannya.
"Kau bilang aku tak usah membawa banyak barang." Aleesya menoleh ke Noah, "Hey anak manja, apa kabar? Kau absen bulan lalu kan? Kemana kau?" Ia bertanya sambil terkekeh, Noah merespon dengan tersenyum kecil. "Biasalah, aku ke Pakistan Sya. Besok aku ikut kok. Kau juga ikut kan?"
Diam-diam Victor kesal sendiri melihat interaksi dua orang di depannya. "Ikut. Mungkin aku akan sedikit lama disana, Noah." jawabnya mengangguk singkat, lalu bingung melihat Victor tiba-tiba berdiri sambil mengajaknya pulang.
"Sya, aku lupa harus menemui ayah di kantor! Maaf Noah kita harus pergi!" Aleesya terburu-buru dengan langkah kecil, tangannya sudah di genggam Victor, ia menoleh melihat Noah yang merasa canggung. "Noah... sampai jumpa!"
Noah berdiri dan mengangguk, "Baiklah, nanti aku akan mengirimimu pesan, hati-hati Aleesya."
---
Tak lama kemudian, mereka sudah keluar dari restoran dengan langkah cepat, meninggalkan Noah yang masih terpaku di tempatnya. "Kau ini kenapa sih?" tanya Aleesya bingung saat mereka sudah masuk dalam mobil. Victor sendiripun juga tak tahu dengan tingkahnya sendiri. Dia hanya diam, membuat Aleesya merasa jengkel karena merasa di acuhkan.
Kesunyian menyelimuti udara dalam mobil, hingga ponsel Aleesya berdering memecah keheningan, 'kling'
Wanita itu segera mengecek ponselnya untuk memeriksa dan ternyata satu pesan masuk dari Noah.
"Sya, besok di Nuxvar, aku ingin mengajakmu di pantai, bisakah?" senyum kecil muncul tanpa sadar. Victor yang menangkap pantulan wajahnya di kaca spion langsung mengerutkan dahi. "Bisa, tapi tumben sekali kau mengajakku ke pantai?"
"Hanya mengobrol ringan, Sya. Jarang sekali kita membahas hal lain."
Aleesya mengangguk tanda mengerti lalu dengan cepat mengetik balasan sebelum menyimpan ponselnya dalam tas. "Baiklah!"
"Mengapa kau tersenyum? Putus dari Maxime membuat akal sehatmu menguap?" tanya Victor sarkas, "Kau ini apa-apaan sih, Vic? Sensi sekali. Kau salah makan? Apa Tante dan Om membuatmu kesal hingga kau tidak mood begini?" Victor ingin menjawab lagu, namun dia urung. Ia mengatupkan bibirnya, "Sudahlah!"
Ia menarik gas mobil sedikit membuat Aleesya tersentak namun wanita itu tak berani protes lagi karena Victor terlihat menyeramkan.
---
Alis Aleesya berkerut, menyatu di tengah saat mobil Victor berhenti di depan rumahnya. "Victor? Kau bilang harus menemui Om Nathan di kantor?" Aleesya mengikuti Victor yang buru-buru keluar dan masuk ke dalam rumahnya dengan langkah besar. "Kau cerewet, Sya!" jawab Victor berteriak dan membanting pintu kamarnya. Sedangkan Aleesya yang merasa tidak ingin mengganggu pria itu memilih arah berbeda menuju dapur meskipun hatinya tak tenang bukan main gara-gara ini.
---
"Ayah akan kembali!" ucap Ferdinan mengamuk setelah mendengar cerita Aleesya mengenai Maxime. "Ayah.. tidak perlu, Maxime sudah babak belur di hajar Victor. Lagipula bulan depan pernikahan mereka akan berlangsung." balas Aleesya menarik napas dalam seolah memikirkan kembali semua kejutan yang ia terima.
"Kau! Dia sudah menghamili sekretarisnya— bahkan selingkuh darimu! Aleesya, ayh harus membuat perhitungan dengannya!" suara Ferdinan kian meninggi, seperti api yang sengaja disiram bensin. "Sayang, tenanglah." tiba-tiba suara Inggrid terdengar menenangkan suaminya. Aleesya yang mendengar itu hanya terkekeh pelan, merasa terhibur dengan omelan ayahnya.
"Dia putri kita satu-satunya! Bagaimana bisa aku tidak marah?! Padahal aku tidak pernah membuatnya kecewa dan menangis, beraninya pria itu membuat tangis putriku pecah?! Bajingan keparat kau Maxime!" Ferdinan terus marah-marah meluapkan emosinya, Aleesya sampai menutup telinganya. "Sayang kau bisa memberinya pelajaran saat kita kembali! Aku juga akan menjambak rambut wanita itu! Awas saja!
Aleesya... kau tidak harus buru-buru menikah sayang, kau harus memikirkan kebahagiaanmu. Kau mengerti?" Inggrid menatap putrinya setelah merebut ponsel dari suaminya.
"Iya ibu, aku tahu. Kalian baik-baik lah disana. Oh ya pekan depan aku akan mulai bekerja di kantor Victor, Bu." setelah suasana panas mereda, kini Aleesya membahas hal lain dengan sang ibu. Sedangkan ayahnya ntah kemana karena tidak terlihat di layar. "Kau tidak ke Nuxvar? Ini kan Minggu terakhir?" suara Inggrid begitu lembut seolah memeluk putrinya dari jauh.
"Besok kamu berangkat! Oh ya aku akan sedikit lama disana, Ibu. Moodku lagi berantakan." Inggrid mengangguk, cahaya matahari sore menyinari wajah keriput halus Inggrid, membuatnya terlihat bersinar dengan garis pipi yang tegas. "Lakukan semaumu, Nak. Padahal ibu dan ayah masih sanggup menghidupimu, tapi kamu malah memilih bekerja, aish." gerutu wanita empat puluh delapan tahun itu dengan menarik senyumnya.
Aleesya terkekeh, lalu melihat Nathan keluar dari kamar. "Istirahatlah, Ibu! Sampaikan salamku ke ayah, biar gak perlu membahas Maxime lagi, i love you." Inggrid mengangguk, "I love you too." sambungan telepon pun terputus, Aleesya meletakkan ponselnya di meja.
Aleesya menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menarik napas panjang. Ia lalu menyandarkan tubuh di kursi, menatap kosong ke arah jendela dapur yang mulai diselimuti senja. Jemarinya mengetuk pelan gelas di depannya, mencoba menenangkan isi kepala yang masih penuh dengan suara ibunya.
Suara langkah kaki mendekat membuatnya menoleh, Nathan muncul di ambang pintu dengan senyum tipis di wajahnya.
***