NovelToon NovelToon
MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

MEMAAFKAN BUKAN MELUPAKAN

Status: tamat
Genre:Ibu Mertua Kejam / Trauma masa lalu / Keluarga & Kasih Sayang / Penyesalan Suami / Slice of Life / Tamat
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

"Kalung Tuti dipinjam, sampai sekarang belum dikembalikan." Tanpa basa-basi, Sari membuka suara dengan nada tajam.

"Ohh... yang katanya dipinjam Hendra itu? Kenapa Ibu ngomongnya ke aku? Yang pinjam, 'kan, anak Ibu sendiri," jawab Indah, berusaha tenang.

"Kalau Hendra yang pinjam, kamu sebagai istrinya harus tanggung jawab, dong!"

Menikah dengan anak sulung yang jadi tulang punggung keluarga, Indah dibawa ke pelosok tanpa akses memadai, tanpa kamar pribadi, dan tanpa perlindungan.

Ibu mertuanya merasa Indah adalah saingan dalam merebut cinta sang anak.

Sementara Hendra—suami yang seharusnya jadi penengah—lebih sering diam, seolah tak mendengar luka yang dialami istrinya.

Mampukah Indah mempertahankan rumah tangganya sendirian? Atau haruskah ia menyerah pada keluarga yang tak pernah benar-benar menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Tiket Surga di Ujung Gendongan

Seharian ini Rayhan rewel karena demam. Tangisnya serak, tapi tangannya tetap kuat mencengkeram Indah seperti jangkar kapal. Meskipun saat sore demamnya sudah agak reda, bocah itu tetap tak mau turun dari gendongan.

Indah duduk di kursi bambu panjang di teras rumah, punggungnya seperti retakan tanah tandus musim kemarau.

“Tanganku udah kebas. Bahu? Udah kayak manggul beras sekarung dari sawah ke rumah.” Desahnya pelan, sambil membetulkan posisi duduk agar pantatnya yang pegal tak sampai mati rasa.

Biasanya Rayhan mau makan bubur bayi, tapi karena sedang sakit, makanan pun ia tolak mentah-mentah. Efeknya?

“Luar binasa, bukan luar biasa.” Indah menatap langit. “Nyusu terus. Padahal lidahnya panas kayak cabai rebus. Badanku rasanya udah kering kayak janji-janji suami waktu pacaran.”

Indah melirik bocah di pelukannya. Ada cinta besar di sana, tapi juga rasa lelah yang tak bisa didebatkan oleh siapa pun, bahkan oleh ayat sabar sekalipun.

“Ini alasan kenapa aku gak pernah berani melawan orang tua, terutama ibu. Sekesel-keselnya aku, mulut kayak dikunci. Karena begini rasanya jadi ibu. Sakral. Sakau. Sakiiiit.”

Indah hanya sempat tinggal bersama ibu kandungnya selama sekitar dua bulan. Sisanya, dibesarkan nenek. Hubungan dengan ibu? Lebih seperti tetangga kos-kosan. Tidak dekat, tidak juga bermusuhan. Hanya... asing.

“Tapi sisi baiknya, aku gak pernah bikin ibu sakit hati. Karena? Ya, gak punya cukup waktu buat itu.”

Indah tersenyum pahit.

“Setidaknya, aku bisa bilang ke Allah nanti: Aku gak durhaka, bukan karena aku anak baik, tapi karena gak sempat.”

Ia mengelus pelan rambut Rayhan, yang mulai berkeringat.

Tuti, adik iparnya, tiba-tiba muncul dengan senyum sok manis dan tangan terjulur. “Sini ikut bibi, ya...”

Indah melirik, penuh harap. Tapi seperti embun pagi yang datang tanpa janji dan pergi tanpa pamit, harapan itu menguap. Rayhan melengos dan menyembunyikan wajahnya di ketiak Indah, seolah Tuti itu hantu pinjol.

Astri mencoba ganti strategi—ia tahu bocah itu biasanya gampang dibujuk pakai jajanan. Ia menyodorkan sebungkus biskuit sambil tersenyum penuh harap.

“Bibi punya kue, lho. Yuk, ikut bibi, ya?”

Sejenak, Indah sempat berharap. Siapa tahu kali ini berhasil, siapa tahu Rayhan mau lepas juga kayak mantan yang gampang pindah ke lain hati.

Tapi harapan tinggal harapan.

Rayhan tetap menempel erat di pelukannya, seperti ditempel pakai lem Korea super kuat—yang bahkan niat ninggalin hidup aja kalah lengket nempelnya.

Astri melongo. “Lho, kok gak mau?”

Indah hanya angkat alis sambil mengelus punggung Rayhan. “Lagi sakit. Mood-nya kayak harga cabe, susah diprediksi. Kadang naik, kadang ngamuk.”

Lalu muncullah sang mertua, misi mulia di mata, ego besar di hati.

"Yuk, ikut nenek lihat perahu." Ia mencoba langsung mencomot Rayhan dari gendongan Indah.

Hasilnya?

Jeritannya bisa bikin tetangga kira sedang ada eksorsisme. Rayhan menangis kencang, mencengkeram baju ibunya seperti hidup dan mati tergantung pada sehelai benang.

Indah hanya bisa pasrah.

“Pasrah adalah nama tengah dari semua ibu dengan anak rewel.”

Rayhan tidur pun hanya sebentar-sebentar. Indah mandi seperti bebek balapan—cepat dan banyak cipratan.

Indah menarik napas dalam.

“Ya Allah... pantesan ya kalau melawan ibu itu dibilang durhaka. Begini rasanya jadi ibu tuh…”

Ia mulai menghitung ujian kehidupan satu per satu.

“Hamil? Morning sickness tiap hari. Makan kayak musuh. Duduk, berdiri, tidur... semua gak enak. Kalau bisa, perut ditaruh dulu, ditinggal ke pasar. Tapi sayangnya enggak bisa.”

“Lahiran? Ya Allah... rasa sakit yang bisa bikin nyawa nunggu di ujung pintu, siap dijemput.”

“Setelah itu? Belum juga kering darah nifas, udah disuruh begadang tiap malam. Itu belum termasuk drama menyusui. Bocah sakit, gak mau makan, nyusu terus... Lidah panas, sumber nutrisi kehidupan perih, mental koyak.”

Indah tertawa miris.

“Masih aja ada anak yang ngomel ke ibunya, maki-maki, bahkan dorong orang tua yang dulu manggul dia seharian. Kalau bukan karena iman, mungkin udah banyak ibu-ibu masuk berita kriminal.”

Indah memeluk Rayhan lebih erat. Anak itu akhirnya tertidur, tubuhnya masih hangat, tapi napasnya mulai tenang.

Di tengah kelelahan, Indah tahu satu hal: ia sudah melewati satu hari lagi. Satu hari yang panjang. Satu hari yang melelahkan. Satu hari yang akan terus berulang.

Tapi itulah jadi ibu.

“Karena surga memang gak murah. Tiketnya... air mata, darah, dan pengorbanan.”

Sejenak, Indah menghela napas panjang. Ia mencoba meletakkan Rayhan yang tertidur dalam gendongan ke dalam ayunan dengan hati-hati—hati-hati level tinggi, kayak lagi naruh telur puyuh di atas kaca tipis. Salah sedikit, nangis. Salah banyak, meledak.

Bik Hasiah langsung sigap menggoyangkan ayunan pelan-pelan, seperti sedang menyuap bayi dengan lagu pengantar tidur.

Indah tak buang waktu. Langsung meluncur ke dapur dan makan dengan kecepatan kilat. Kunyah secukupnya, dorong pakai air, telan walau nyekek di tenggorokan.

Rasa makanannya? Sudah tidak teridentifikasi. Antara asin dan hambar berebut kuasa. Tapi Indah tidak peduli. Yang penting perut tidak kosong, supaya ASI tidak ikut-ikutan mogok produksi. Karena kalau ASI habis, Rayhan bisa jadi speaker bluetooth yang volume-nya rusak—terus teriak sampai batreinya habis.

Baru saja Indah meletakkan sendok, Hendra muncul entah dari mana, seperti jin yang dipanggil lewat dengusan. Ia mengambil nasi dan lauk dengan gerakan malas, duduk, suap pertama masuk... dan langsung—seperti biasa—komentarnya datang lebih cepat dari doa sebelum makan.

"Emangnya di dapur udah gak ada bawang lagi apa? Ini masakan dikasih bumbu atau cuma doa?"

Tatapannya nyasar ke Indah. Dinginnya seperti kulkas dua pintu.

Indah menyengir. Lebar. Saking lebarnya bisa disangka sedang audisi jadi iklan pasta gigi.

"Ibu yang masak hari ini. Seharian Rayhan rewel, gak mau turun dari gendongan."

Nada suaranya pelan, tapi cukup jelas untuk membuat Hendra mendadak kehilangan selera membantah. Ia diam. Lanjut makan, tanpa suara, tanpa komentar. Mungkin lidahnya sedang mencerna rasa bersalah yang tak sempat dikunyah.

Tuti dan Astri saling melirik, lalu menoleh ke arah ibu mereka, Sari, yang langsung pura-pura lipat baju dengan khidmat, seolah sedang ikut lomba melipat tercepat se-RT.

Maklum, gara-gara sudah bertahun-tahun pensiun dari dapur sejak punya menantu dan dua putrinya beranjak besar, Sari jadi lupa takaran bumbu. Masakannya kini lebih mirip eksperimen: kadang asin kayak air laut, kadang hambar kayak janji mantan.

Indah baru melangkah beberapa meter saat suara Hendra kembali terdengar.

"Ini gelas dibilas gak, sih? Apa dari disabun langsung dicelup doang ke air kayak nyuci sandal?"

Indah berhenti. Menghela napas seperti sedang membuang satu liter kesabaran.

"Yang nyuci bukan aku." Ucapnya singkat, datar, lalu melanjutkan langkah ke ruang tengah.

Saat sampai, matanya menangkap adegan sinetron keluarga: Tuti dan Astri saling nyikut. Lagi-lagi, tatapan mereka mengarah ke satu titik—ibu mereka—yang masih sibuk melipat baju... baju yang dari tadi kayaknya gak habis-habis juga.

Bik Hasiah melirik ke arah dapur, lalu ke Sari, lalu kembali ke ayunan. Pelan-pelan ia berbisik, "Tadi yang nyuci perabotan itu Sari, kok. Astri sama Tuti nyuci baju."

Indah hanya mengangguk. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Tapi di dalam kepalanya, satu narasi muncul:

“Dapur ini kayak ladang ranjau. Salah masak meledak, salah nyuci pecah, salah ngomong dituding. Tapi kalau gak masak, gak nyuci, gak ngomong? Ya tetap salah juga.”

Ia duduk, menatap sejenak ke arah jendela. Udara sore masuk membawa aroma lauk yang tadi hampir bikin cekcok, dan juga suara Rayhan yang mulai tenang di ayunan.

“Lapar bisa diatasi. Tapi kenyataan kayaknya nggak bisa dikunyah, apalagi ditelen pakai air putih.”

...🍁💦🍁...

.

To be continued

1
YuWie
aku sing baca aja sdh gak tahan..kau masih ajaaa kuat walo dg ngomel2 dah indah🙃
YuWie
Luar biasa
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
YuWie
kenapa kok yo tahan in indah..
YuWie
hendra nyinyirnya noleh juga ya..sayur dimask cmn bumbu doa.. gelas disabun trus di celup 🤣
YuWie
kenapa laki2 versi terbaiknya pas pacaran.

sedangkan wanita versi sempurna kecantik annya pas pacaran...hmmm
YuWie
nyesek ya dapat anak sulung yg dituntut untuk ngurusin adiknya terus menerus..pelajaran juga lebih baik kali ya dapat anak ragil yg tanggung jawab 🤣
Yunita Sophi
selamat ya Ndah semoga kamu akan beruntung setelah menjadi guru...
Yunita Sophi
doa dan nekat udah cukup untuk sekarang Ndah... yg penting jauh dari mertua dan ipar 😂
Yunita Sophi
gimana mau ada yg tertarik jd guru yah...
Yunita Sophi
semua jg bisa menyalahkan orang lain... tp untuk diri sendiri mereka akan menutup mata dan hatinya
Yunita Sophi
bagus Indah... semoga kamu bahagia dengan hidupmu di masa depan..
Yunita Sophi
seru sih tp kasian Indah
Yunita Sophi
semoga orang orang baik selamat 🤲
Yunita Sophi
siapa yg datang..
Yunita Sophi
asal tau aja Indah gak perlu tanya tanya... gak penting juga kali..
Yunita Sophi
dasar ponakan gak tau diri... ngembat suami tante nya
Yunita Sophi
semoga Indah jd guru biar dia bisa nabung untuk pulang ke jawa..
Yunita Sophi
nasib mu Indah... kapan mau berubah nya
Yunita Sophi
terima kasih pak Usman... semoga aja Indah di pulangkan agar dia bisa lepas dari kluarga toxis dan suami yg gak punya hati...
Yunita Sophi
tolong paman Usman antar Indah ke jawa... kasian dia tdk ada harga nya di depan suami dan kluarga nya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!