Seorang dokter muda yang idealis terjebak dalam dunia mafia setelah tanpa sadar menyelamatkan nyawa seorang bos mafia yang terluka parah.
Saat hubungan mereka semakin dekat, sang dokter harus memilih antara kewajibannya atau cinta yang mulai tumbuh dalam kehidupan sang bos mafia yang selalu membawanya ke dalam bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Dingin malam menyelimuti jalanan yang sepi saat mobil yang dikendarai Luca melaju keluar dari kota. Di dalamnya, Rafael duduk di kursi belakang, memangku tubuh Liana yang masih pingsan. Wajahnya pucat, napasnya pelan tetapi tetap stabil. Luka tembaknya sudah ditangani oleh Dokter Anton sebelumnya, tetapi tubuhnya masih lemah. Rafael menatapnya dengan ekspresi penuh kekhawatiran, sementara pikirannya terus berputar mencari jalan keluar dari kekacauan ini.
Luca melirik Rafael melalui kaca spion. "Kita hampir sampai di rumah Dokter Anton. Tempatnya cukup tersembunyi, jadi kita bisa aman untuk sementara."
Rafael mengangguk tanpa suara. Luka di bahunya masih berdenyut nyeri, tetapi itu bukan hal yang paling mengganggunya saat ini. Yang lebih berat adalah melihat Liana dalam kondisi seperti ini. Dia telah kehilangan ayahnya, dan sekarang, dia terjebak dalam konflik yang seharusnya bukan urusannya.
Sesampainya di kediaman Dokter Anton, mereka segera membawa Liana ke dalam kamar tamu. Dokter Anton, pria paruh baya dengan rambut mulai memutih, memeriksa kondisinya dengan teliti.
"Dia butuh istirahat lebih banyak. Secara fisik, dia akan sembuh, tetapi mentalnya... itu yang sulit," kata Dokter Anton dengan nada prihatin.
Rafael berdiri di ambang pintu, menatap tubuh Liana yang terbaring diam. "Aku tahu," gumamnya.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, Liana mulai bergerak. Napasnya lebih teratur, alisnya mengernyit sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. Rasa sakit menyebar di tubuhnya, tetapi yang lebih menyakitkan adalah beban emosional yang menghantamnya begitu ia sadar.
Begitu melihat Rafael di kursi samping tempat tidur, emosinya langsung meledak. "Apa yang kau lakukan?!" suaranya parau tetapi dipenuhi amarah.
Rafael terkejut dengan reaksinya, tetapi ia tetap tenang. "Aku membawamu pergi dari sana. Jika tidak, Adrian pasti akan membunuh kita semua."
Liana mencoba bangun, tetapi tubuhnya masih lemah. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap Rafael dengan kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. "Kau tidak punya hak untuk memutuskan itu untukku! Aku seharusnya ada di sana... aku seharusnya bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan nyawa ayahku!"
Rafael mengepalkan tangannya. "Dan mati bersama ayahmu? Itukah yang kau inginkan?"
Kata-katanya menusuk, membuat Liana tercekat. Tubuhnya bergetar menahan tangis yang ingin pecah. "Aku kehilangan ayahku, Rafael! Aku bahkan tidak bisa memberinya penghormatan terakhir. Dan sekarang... aku tidak tahu kenapa aku ada di sini. Apa aku hanya beban untuk kalian? Apa aku hanya seseorang yang perlu diselamatkan?"
Luca yang baru masuk ke ruangan terdiam mendengar perkataan Liana. Rafael menarik napas panjang, mencoba mencari kata-kata yang tepat.
"Kau bukan beban," suaranya lebih lembut kali ini. "Tapi aku tidak akan membiarkanmu mati, Liana. Victor mengorbankan dirinya agar kau bisa hidup. Aku tidak akan menyia-nyiakan itu."
Air mata akhirnya jatuh di pipi Liana. Luka di hatinya terasa jauh lebih dalam daripada luka tembak yang ia derita. Ia merasa hampa. Kehilangan arah.
Saat hening mengisi ruangan, Luca berbicara, mencoba mengalihkan fokus. "Kita harus menyusun rencana, Rafael. Adrian tidak akan berhenti memburu kita."
Rafael mengangguk, menatap Liana sekali lagi sebelum berdiri. "Kami akan ada di ruang depan. Jika kau siap berbicara... kami di sana."
Liana tidak menjawab, hanya menundukkan kepala. Saat Rafael dan Luca keluar dari ruangan, ia mengepalkan tangannya, menahan gemuruh di dadanya.