NovelToon NovelToon
Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Tumbal Pasung Perjanjian Gaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Iblis / Kutukan / Hantu / Tumbal
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Aku tak ingat lagi apa yang terjadi padaku malam itu.

Saat terbangun, tiba-tiba saja diriku sudah berada di dalam sini. Sebuah kurungan berukuran 2x1 meter yang di susun oleh besi-besi, ada gelas air di sudutnya dan sebuah handuk kotor di pegangan pintu. Seperti kandang hamster berukuran manusia.

Tampak putung rokok di meja sana mengepulkan asap. Beberapa pakaian dan surban juga terlihat menggantung di tembok serta puluhan keris berdiri di lemari.

"Tutupi tubuhmu!!" Tiba-tiba seorang kakek tua mengejutkanku dari arah yang lain dengan melemparkan selembar kain jarik.

Aku baru sadar kalau sedari tadi tubuhku sudah tak mengenakan apa pun.

Kemana perginya pakaianku?

Hijabku?

HP ku?

Ya, tuhan.

Apa mereka benar-benar menghabisiku pada malam itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ritual

Ndaru berdiri memelukku.

"Boleh juga tarianmu, kelihatan lebih seksi kalau begitu." ucapnya sambil mengusap pipiku dengan jempolnya. "Nanti malam kita nari di ranjang, oke? Sekarang mandi dulu!"

Tarian?

Bahkan aku sendiri tak pandai menari. Aku masih tak paham dengan apa yang dia katakan. Tapi setidaknya bersama pria cabul ini jauh lebih baik dari pada aku harus berada di tempat ini sendirian.

Menyeramkan.

Aku diseret menuju kamar mandi. Sedangkan Muis sibuk menimbakan air untukku.

"Masuk cantik! Bersihkan badanmu!" perintah si Bos, "Kalau udah selesai, pakai ini biar makin seksi!"

Aku masuk, tampak cahaya pagi menembus ventilasi. Di luar udara begitu basah dan berkabut. Kulepaskan perlahan semua yang menutupi tubuhku kemudian air sedingin es meluncur dari ujung kepala menuju kaki.

Kuselesaikan pembersihanku dan keluar begitu gaun tipis berwarna putih sempurnya menyembunyikan tubuhku. Bibirku bergetar menahan dingin, ketika pintu kamar mandi kulewati.

"Kenapa?" tanya Si Bos sambil melepaskan tangannya yang bersilang di dada. "Kedinginan ya, cantik?"

Muis kembali menarik rambutku yang masih basah mengikuti bosnya menuju rumah. "Cepetan!"

Setelah pintu besar berukiran wayang itu terbuka, tampak Bahlil sedang menata dupa dan kain merah di lantai. Sepertinya mereka akan mengadakan ritual. Tapi ritual apa yang dilakukan pagi-pagi buta begini?

Rumah ini cukup besar, terlihat sofa dan meja ditarik menempel ke tembok, dan beberapa barang lainnya, hanya tersisa bunga-bunga yang berserakan di atas kain merah di tengah lantai itu. Sehingga wanginya berbaur antara wangi dupa dan bunga.

"Bawa ke sini, Nak!" ujar Bahlil sambil menepuk lantai yang dia duduki. "Jangan lupa semua dalamannya di lepas, dulu."

"Oke, Pa!" sahutnya cepat. "Denger, kan. Buka dulu BH sama Celanamu cantik, nanti di pakai lagi abis acara selesai!"

"Eeeaasrghhh!" jeritku menolak. Tapi tetap saja aku masih tak bisa mengucapkan sepatah kata pun. "Aaarrgghhh!"

Aku hanya menggeleng keras dan memegangi gaun putih yang kukenakan. Sedangkan Muis dan Ndaru tetap mencoba melepaskannya dengan penuh semangat. Muis sengaja memelukku dari belakang dan Ndaru berusaha menggelitik tubuhku di mana-mana.

Mereka berdua tertawa sampai cecegukan dan aku terus meneriaki, memaki, tapi tak digubrisnya. Dan akhirnya aku menyerah.

"Plis deh, cantik. BH udah robek gini masih aja di pakai!" cicit Ndaru sambil menenteng sebongkah kain bergambarkan Minnie Mouse. "Mending mulai sekarang gak usah pakai aja! Hahaha."

"Besar banget sih! Uhh!" goda Muis, jahil merabaku dari belakang. Aku merasakan ada sesuatu yang keras menyentuh pinggangku dari belakang.

Tanganku memeluk dada yang terbuka, mencoba sekuat tenaga menutupinya dari tiga pria di depanku. Sungguh aku amat malu jika tubuhku di pandangi orang lain seperti ini, apalagi oleh laki-laki.

Tapi apalah daya, cobaan ini ternyata tak berhenti di situ, tangan Ndaru mulai merayap ke bawah, belakang dan kini dia mencoba mengelus lembut bulu halus yang tumbuh di bawah perutku.

"Hey hei.... Nak! Jangan kebablasan!" Suara bahlil mengejutkan kami semua. "Nanti, setelah ritual. Kamu bebas melakukan apa pun kepadanya."

"Dikit aja, sih Pa!" tolak Ndaru dengan manja. Jari telunjuknya nyaris menyentuh bagian itu. "Lima menit—"

"NDARUU STOOP!!" bentak sang Ayah. "Kita butuh darah dari selaput daranya, kalau kamu gituin, ini bakal sia-sia!"

"Aarggh, Papa ini! Iya-iya!" balas Ndaru sambil mengangkat kedua tangannya. "Tuh, puas, kan?"

Akhirnya aku ditelentangkan di tengah kain merah dan dikelilingi oleh dupa. Muis memegangi kedua tanganku, sedangkan Ndaru siaga dengan kedua kakiku, dan Pria tua yang di panggil Bahlil itu perlahan menyibak gaunku dari lutut.

Entah apa yang akan mereka perbuat kepadaku, aku pun tetap tak mampu berbuat apa-apa.

1
arif didu
sadiiiiiis
arif didu
ndaru kesambet apaan thor
arif didu
sadis si thor
arif didu
gak kebayang gimana bentuknya si nur
arif didu
emg kades bejat
arif didu
mbak kunti jgn2
arif didu
sakti bener mbahnya
arif didu
duh temennya bejat pisan
arif didu
duh bisa kabur ga nur
arif didu
bisa2nya si nur malah basah
arif didu
emg knp si pada benci bgt sama kamis wage
arif didu
panca ga ingat?
arif didu
disini setannya Bahlil kah thor
arif didu
miris bgt nasibmu nur
arif didu
human trafikking
arif didu
perna juga ngalami ini...
arif didu
saking saktinya thor
arif didu
ni si bos gmna si tadi anak bua nya ga boleh nyentuh eh malah Muis suruh main sama nur
arif didu
bener2 ga pnya hati
arif didu
duhh nur km diperawanin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!