NovelToon NovelToon
Bukan Sekedar Pelarian

Bukan Sekedar Pelarian

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintapertama / Pihak Ketiga / Cinta Murni / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Itha Sulfiana

Karena setiap orang memiliki rahasia.

Ellio yang baru sadar dari koma baru tahu bahwa gadis yang menjadi alasannya untuk bertahan hidup ternyata sudah membagi hatinya untuk orang lain. Patah hati tentu membuat Ellio hampir kehilangan arah. Namun, tekad untuk mendapatkan kembali cintanya mendorong ia lebih keras untuk segera pulih.

Di saat yang sama, ada Putri
yang mencintai Ellio dalam diam. Ia yang hanya berperan sebagai figuran di kisah cinta Ellio dan Shanum. Dia yang selalu ada untuk Ellio, malah menjadi tersangka yang harus di adili untuk kesalahan yang sebenarnya tidak patut di salahkan. Jatuh cinta.

Siapa yang bisa memvonis bahwa jatuh cinta adalah kesalahan ? Mungkin hanya Ellio. Dan, ketika Ellio baru menyadari arti kehadiran Putri, gadis itu sudah pergi. Menghilang seperti permintaan Ellio terakhir kali.

Cinta, benci serta sebuah tahta yang harus di teruskan, bagaimana kisah ini akan berakhir ?

Baca juga :
~Bima & Ellena : Pernikahan Kontrak
~Senja di Moorea

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BSP#12

Suasana menegangkan terasa begitu kental ketika Putri merasa baru saja menjadi seorang narapidana yang sebentar lagi akan di putus nasibnya. Ayahnya masih menatap penuh dendam terhadap dirinya sembari menaruh kompresan di dahinya yang tampak benjol dan memerah akibat pukulan super dari anak perempuannya sendiri.

Nadia dan Diva pun turut menatap Putri dengan tatapan pasrah. Pandangan mereka menyiratkan arti bahwa mereka tidak akan membantu Putri untuk lolos dari hukuman sang ayah untuk kali ini.

"Bapak gak apa-apa ?" Cicit Putri dengan cengir kuda andalannya. Tangan kirinya bergerak menggaruk kepala yang sebenarnya tidak gatal.

"Kamu mau bunuh bapak ya ?" Handoko melotot pada Putri.

"Bapak sih, datang-datang pake acara ngendap-ngendap segala. Ya, mana Putri tahu kalau ternyata itu bapak." Ucapnya membela diri.

Hati Handoko mencelos mendengar perkataan putrinya sendiri. Tidak pernah menyangka bahwa nasibnya akan setragis ini hanya demi memberi kejutan manis untuk anak sulung kebanggaan keluarga yang merantau jauh-jauh ke kota besar. Tetapi apa yang dia dapat ? Bukannya memberi hadiah untuk Putri, justru dia yang di berikan hadiah terlebih dulu oleh anaknya itu.

Sebuah benjolan berukuran lumayan besar semakin menambah takar kegagahan dirinya. Ya, walaupun itu hanya pendapat Putri seorang. Tak ada yang mendukung opini Putri itu, bahkan Nadia dan Diva pun malah berdiri di pihak sang ayah.

"Tapi, kan bapak nggak apa-apa. Cuma benjol segitu doang, masa' udah ngeluh sih ?" Sahut Putri lagi. Gadis itu berusaha sebisa mungkin mempertahankan keyakinannya bahwa bukan dirinya yang salah.

"Putri !" Geram Handoko kesal. Sandal yang semula melekat di kaki hampir saja melayang dan mengenai kepala Putri jika saja Diva dan Nadia tidak segera memeganginya.

"Sabar, pak ! Gitu-gitu, dia anak bapak juga loh." Sahut Nadia yang berusaha mencegah tangan Handoko melempari Putri dengan sandalnya.

Sementara yang ingin di lempar segera berlari menaiki tangga untuk menyelamatkan diri dari amukan sang ayah.

* * *

" Belum tidur, Put ? Ini sudah jam berapa ?" Handoko yang awalnya berniat mengecek apakah Putri sudah tidur atau belum langsung memasuki kamar sang anak ketika pintu kamar gadis itu terlihat terbuka setengah dan menampakkan bias cahaya lampu yang masih menyala dari dalam kamar.

"Bapak ? Belum. Putri nggak bisa tidur." Jawab Putri yang segera menutup laptop miliknya dan segera duduk di tepi ranjang sambil memeluk boneka Teddy kesayangannya.

"Ada apa ? Ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu ?" Handoko duduk di samping Putri sambil membelai rambut panjang gadis itu.

Putri menggeleng. "Nggak ada. Cuma lagi mikirin Ellio aja."

"Ellio ?" Dahi Handoko tampak mengkerut.

"Iya. Saudaranya Ellena yang lagi di rumah sakit."

"Ngapain saudara orang di pikirin, Put ?" Gurau Handoko jahil.

Putri langsung mencebik, dan memukul kecil paha milik ayahnya.

"Bapak cuma bercanda, Nak !" Lagi, Handoko mengelus puncak kepala Putri.

"Cerita ke bapak ! Orang seperti apa Ellio itu sampai-sampai anak bapak kepikiran kayak gini, hmm ?"

Putri menatap mata sang ayah dengan penuh binar semangat. Rasanya, Ellio adalah mood booster paling ampuh untuk membuat gadis itu kembali lincah dan ceria.

"Ganteng, imut, lucu, matanya bagus."

"Hanya itu ?"

"Sejauh yang Putri kenal tentang Ellio cuma itu aja, pak." Putri tersenyum.

"Kok bisa ? Kepribadiannya gimana ?"

Seketika, mendengar pertanyaan Handoko kali ini, Putri langsung tertunduk lesu. "Putri belum tahu, soalnya orangnya belum bangun-bangun." Ujarnya lemah.

"Memangnya Ellio kenapa ?"

"Koma. Udah hampir 5 tahun." Ucap gadis itu tersenyum getir.

Handoko yang menyadari ada rasa sedih yang tersirat dalam kalimat Putri hanya bungkam. Tak bisa berkomentar apapun atau memberi masukan apapun. Dia tahu, bahwa anak gadisnya pasti sudah jatuh hati pada pemuda yang masih betah tertidur itu.

Rasa perih tiba-tiba saja merasuk ke dalam rongga dada Handoko. Dia yang paling tahu seperti apa masa depan yang akan Putri alami suatu saat nanti. Anak gadisnya itu sudah semakin dewasa, yang artinya semakin dekat pula waktunya untuk segera pergi.

"Put, kamu nggak lupa kan sama nasehat bapak ?" Ujar Handoko berseru sendu. Manik hitamnya terlihat mengkilat di terpa sinar lampu tidur yang temaram. Segaris senyum demi menegarkan diri sendiri terbit di sudut bibirnya.

"Nggak, pak. Putri ingat kok. Tenang aja, Putri gak akan jatuh cinta sama Ellio kok. Putri janji sama bapak."

Handoko terkekeh kecil lalu mengacak rambut anak perempuannya sebelum membawa tubuh gadis itu ke dalam pelukan hangatnya.

"Ini baru anak bapak." Handoko bernapas lega. Dirinya hapal betul watak dari anak sulungnya itu. Meski gadis itu yang paling bandel dan paling suka mencari masalah, namun Putri juga adalah sosok yang bertanggung jawab dan selalu menepati setiap janji yang keluar dari mulut kecilnya.

Handoko tidak tahu saja, bahwa gadis yang saat ini dia peluk justru sedang menatap kosong pada lantai kamar dengan perasaan yang berkecamuk.

Maafkan Putri, Pak ! Kali ini Putri udah bohongin bapak.

"Oh iya, dahi bapak gimana ?" Putri menatap wajah Handoko dengan tatapan menelisik pada benjolan yang tadi di sebabkan olehnya.

"Udah mendingan. Gak separah tadi."

"Maafin Putri ya ,Pak ! Putri beneran nggak sengaja."

"Iya bapak maafin. Kan anak bapak lagi ulang tahun. Masa' gak di maafin ?" Sahut Handoko terkekeh.

"Putri kangen bapak."

Ayah dan anak itu kemudian kembali saling berpelukan. Meluapkan rasa rindu masing-masing karena sudah lama tak bertemu di waktu yang lalu. Atau, bisa juga untuk melampiaskan rindu yang akan tercipta di masa depan ketika waktu perpisahan itu tiba.

Handoko terdiam cukup lama dengan kedua tangan masih memeluk Putri. Pun, gadis itu turut bungkam dan tak ingin mengeluarkan suara. Setiap detik dari waktu yang terlewat semakin membuat Putri merasa takut. Dia takut, jika suatu saat nanti dia di temukan, semua kehidupan yang sudah di laluinya akan menghilang bagai buih.

"Pak, apa kita nggak punya pilihan lain selain lari dan bersembunyi seperti ini ?" Suara Putri terdengar parau. Pertanyaan ini sudah dia simpan sejak 10 tahun yang lalu dan baru berani dia sampaikan di usianya yang genap 20 tahun.

"Tidak ada, Nak ! Kamu juga pasti sangat mengenal orang itu kan ? Sekali dia menemukanmu, maka dia tidak akan pernah mengembalikan kamu lagi pada bapak dan juga ibu."

Hening kembali merajai suasana. Gadis itu terisak dalam pelukan ayahnya karena tidak sanggup membayangkan bagaimana dia hidup tanpa kedua orang tuanya suatu saat nanti. Jika boleh memilih, bolehkah Putri terlahir dari keluarga biasa-biasa saja ?

Gadis itu hanya punya mimpi yang kecil di dalam dunianya yang juga kecil. Akan tetapi, takdir tidak serta merta membuat segala sesuatu yang diinginkan gadis itu berjalan sesederhana yang dia mau. Segalanya menjadi sangat rumit, saat identitas aslinya menjadi penghalang terbesar dalam impiannya meraih kebahagiaan yang dia inginkan.

1
Sri Afrilinda
suka ceritanya thour😍💪🤗
Sri Afrilinda
Masyaallah... Senyumnya mengalihkan dunia ku.... 🤭🤭
Sri Afrilinda
manis bangettt 😍😍😍
Sri Afrilinda
🤣🤣🤣🤣🤣
Desty Winianti
ini novel udh lama bgt..tp ak baru baca🤣....btw visual putri udh almarhum
Han*_sal
terimakasih .aku suka. muuuah
Ririn Satkwantono
makasih utk cerita si ganteng kk author.. sukses slu
Ririn Satkwantono
siapa yg melindungi siapa... wkwkwk..
murat tau nggk klo putri anak.adimas
Ririn Satkwantono
wiih.. tamat kah thor
Ririn Satkwantono
nnt klo marahan .. ellio pasti yg babak belur🤣🤣🤣🤣
Ririn Satkwantono
cocok dpt menantu kyk ellio... hello kitty jg🤣🤣🤣🤣
Ririn Satkwantono
ellio cmbokur🤣🤣🤣
Ririn Satkwantono
duh Gusti... senyumnya itu lho.. ellio
Ririn Satkwantono
Masyaa Allah... siapa yg nggk mau, klo ellio khilaf🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ririn Satkwantono
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 ada ular tp bukan cobra🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ririn Satkwantono
jd kngen darren dirikuuuhhh
Ririn Satkwantono
ci cuit si ellio
Ririn Satkwantono
sayang nya... bima nggk hadir
Ririn Satkwantono
knp ellio slu ditunjukin sih foto nya... aq tkut terbawa mimpi... wkwkwk
Ririn Satkwantono
putri nangis... ellio mewek jg🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!