NovelToon NovelToon
Unforgettable

Unforgettable

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:865.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Kasih Kurnasih

Arga Aldiano siswa tampan berprestasi, multi talent, dan idola di SMA kencana. Dipuja kaum hawa adalah takdirnya. Dingin dan cuek itulah sifatnya. Peduli? bukanlah bagian dari hidupnya. cowo yang dijuluki sebagai Badboy ini adalah cowo yang paling di takuti seisi sekolah. Lalu apa jadinya jika cowo seberbahaya Arga justru di lindungi oleh seorang cewe culun? Apakah mungkin? bagaimana bisa?

Fika Pricilla, adalah gadis biasa yang memiliki ciri khas yaitu dua rambut berkepang dan kaca mata besar menutupi matanya yang sipit.

Berbagai pertentangan terus menggeluti keduanya. lalu bagaimana mungkin cewe berambut kepang itu mampu melindungi seorang Arga?

Simak ceritanya disini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kasih Kurnasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dia

Sial! Kenapa gue bisa ngelakuin itu?

Lamunan demi lamunan Arga terus berfikir keras sepanjang perjalanannya. Jalan yang sudah sering ia lewati, di bawah para pohon rindang dan hijau melingkupinya.

Meskipun dalam keadaaan lenggang namun Arga berkendara dengan kecepatan tinggi, hingga ia sendiri tidak menyadari orang yang sedang menyebrang di depannya. Arga pun terkejut dan tangannya gerak cepat menarik tuas rem. Kakinya berusaha kuat menahan beban motor besarnya hingga motornya terhenti dengan lutut yang menyentuh aspal.

Arga merasakan lututnya perih kemudian ia berusaha untuk berdiri. Ia segera membuka helmnya dan berbalik melihat orang yang tadi hampir ia tabrak.

“Sial!”

Umpat Arga lalu mendekati orang yang tengah duduk menekuk lututnya, ia terlihat ketakutan. Kecemasan di wajah Arga mulai terlihat saat ia semakin mendekatinya.

“Lo gakpapa?” Tanya Arga.

Arga menekuk lututnya untuk melihat cewe itu. Entah dorongan darimana, tangan Arga bergerak reflex mengelus pundak cewe tersebut. Hingga akhirnya cewe itupun mengangkat kepalanya perlahan.

Gerakan tangan Arga yang tadinya terasa hangat tiba-tiba terheti mendingin. Arga diam terpaku menatap kedua mata indah itu. Bibirnya pun kaku seketika. Entah apa yang terjadi pada aliran darahnya saat ia melihat kedua pasang mata itu. Mata indah yang dahulu selalu ingin ia pandang kini ia melihatnya kembali. Mata yang berbinar tegenang air mata itu adalah mata yang selama ini ia puja.

Arga menelan berat ludahnya kemudian kedua tangannya merangkul bahu cewe itu perlahan, mengangkatnya untuk berdiri.  Perlahan penuh perasaan, Arga tidak pernah melepaskan tatapannya hingga mereka berdua berdiri saling menatap satu sama lain.

“Lo gakpapa?” Ulang Arga, lebih lembut dari sebelumnya.

Cewe berambut cokelat tergerai itu hanya diam terpaku seraya memegang erat sikutnya yang terluka. Arga yang peka pun mulai melihat bagian lukanya dan dengan hati-hati Arga memegang tangan cewe itu untuk melihat lukanya yang ia tutupi.

“Lo ikut gue sekarang.” Tiba-tiba Arga menarik cewe itu pelan munuju motornya. Namun cewe itu yang justru menahan kakinya untuk bergerak saat Arga menariknya.

“Kenapa?” Tanya Arga lembut seraya berbalik menatapnya kembali.

“Aku mau pulang.”

“Gue bakalan anterin lo pulang, tapi sebelumnya luka lo harus di obatin dulu.”

Cewe itu menggeleng lalu menghampaskan genggaman tangan Arga.

“Gak usah! Aku bisa obatin sendiri kok.”

Arga terlihat kecewa dan menggertakkan rahangnya. Seperti ada luapan yang ingin ia keluarkan, Arga pun kembali menatap miris cewe itu.

“Sebenernya lo kenapa? Gue gakada niat jahat sama lo. Gue cuman mau nolongin lo.”

“Aku tau, tapi aku gakmau. Aku pingin pulang.”

Arga menarik nafas berat, ia tidak tahu lagi bagaimana membujuk cewe itu. Selain itu  ia tidak ingin menyakitinya.

Sedangkan cewe itu masih diam sambil memalingkan wajahnya dari Arga. Dan Arga pun akhirnya berbalik berjalan menaikki kembali motornya, tanpa mengajaknya lagi.

“Katanya kamu mau nganterin aku.”

Arga terdiam kemudian menoleh. “Ya lo sini, tadi gue ajak gakmau.”

Cewe itu terlihat salah tingkah saat Arga melontarkan kata-kata itu. Ia pun segera berjalan dan menaikki motor Arga sambil memegang erat jaket hitam cowo itu.

Angin dingin mulai menerpa keduanya, namun terasa hangat dengan suasana sore hari dan kebersamaan yang mungkin tidak akan terulang kembali.

Ada yang bilang, sekeras-kerasnya hati seseorang namun akan ada saatnya hati itu lunak karena kehadiran seseorang.

Mungkin inilah yang saat ini Arga rasakan. Rasanya masih sama seperti pertama kali ia melihat dirinya. Bahkan cowo keras kepala, keras hati, dan keras jiwa ini tidak mampu melakukan apapun pada gadis cantik yang kini tengah duduk di jok belakang motornya. 

Ingin rasanya ia mengungkapkan segalanya. Namun ini bukanlah waktu yang tepat. Baginya, bisa melihatnya saja saat ini adalah hal yang lebih dari cukup. Disinilah Arga berjanji tidak akan membiarkannya kembali pergi.

Sudah sangat lama, akhirnya kita bertemu kembali.

*****

“Tante manggil Fika?”

Fika yang sejak tadi sibuk membaca buku novel harus terhentikan karena mendengar suara panggilan dari Ratna ibunya Arga. Tanpa menunggu lama Fika pun telah menuruni tangga dan meghampiri Ratna di ruang tamu.

“Fika, kamu tau gak sekarang Arga dimana?”

Pertanyaan Ratna berhasil membuat Fika mengerutkan dahinya. “Loh, bukannya Arga udah pulang dari tadi sore? Soalnya Arga pulang lebih dulu dari Fika tante.”

Ratna menghela nafasya, kemudian memeriksa ponsel di tangannya. “Gak biasanya Arga pulang malem. Biasanya dia selalu kabarin tante kalo mau ada acara.”

“Mungkin saja Arga lagi sama temennya tan.”

“Coba kamu hubungi temen Arga, kamu tau kan nomor telponnya?”

Fika mengangguk. “Fika tau.” Fika merongoh sakunya dan mencari beberapa nama kontak di ponselnya. Yang pertama kali ia hubungi adalah Willy, karena yang Fika tau Arga lebih sering bersama dengan Willy.

Beberapa detik Fika menunggu, hingga akhirnya Willy mengangkat telponnya. “Hallo, Will.”

[Iya Fik, kenapa?]

“Arga lagi sama kamu gak?”

[Arga? Nggak. Dia kan udah balik dari sore Fik. Lo kan satu rumah sama dia massa lo gaktau]

Fila mengehela nafasnya sebelum menjawab. “Dia belum pulang.”

[Coba lo tanya sama si Andre, palingan dia ada di rumahnya.]

“Oh gitu yah, yaudah deh Fika coba tanya sama Andre. Tapi sebelumnya makasih yah Will, maaf Fika ganggu.”

[Santai aja Fik, sama-sama.]

Sambungan telpon terputus. Jari Fika bergerak cepat mencari kontak selanjutnya untuk menghubungi Andre. Namun belum sempat ia menemukannya, suara pintu terbuka membuatnya kembali terhenti.

“Arga kamu darimana saja?” tanya Ratna sambil berjalan meghampiri cowo itu di ambang pintu.

Arga berdiri menenteng jaket hitamnya di pundak kanan, ia hanya memakai kaus pendek putih  polos dan baju itu terlihat sangat tipis. Bahkan dari jarak jauh pun Fika bisa melihat perut kotak-kotak Arga.

“Maaf mah, Arga tadi ada urusan.”

“Kenapa kamu gak kabarin mamah? Mamah khawatir sama kamu.”

Arga mengurai senyum tipis. “Mamah tenang aja, Arga bisa jaga diri.”

“Tapi kan seenggaknya kamu kabarin mamah, jangan bikin mamah khawatir. Mamah takut, udah cukup mamah kehilangan satu anak, dan mamah gakmau kehilangan anak lagi. Mamah-“

“Mah,” Arga menghela nafas membuat Ratna terdiam menatapnya. “Mamah ngomong apaansih? Arga gak akan ninggalin mamah.”

Arga mengulurkan tangannya dan merangkul bahu Ratna, menggerakkan tangannya disana untuk menenangkan Ratna yang terlihat hampir saja akan menangis. “Sekali lagi Arga minta maaf karena udah bikin mamah khawatir.”

“Jangan diulang.” Ucap Ratna sedikit gemetar.

“Iya mah.” Ucap Arga lembut dan menenangkan. “Kalo gitu, Arga ke kamar dulu yah mah.”

Ratna megangguk mengizinkannya, Arga pun melepaskan rangkulannya dan berjalan. Fika yang kini  sedang berdiri di antara kursi dan tangga pun hanya bisa menunduk saat Arga baru saja melewati dirinya tanpa sepatah katapun. Ia mencoba memberanikan dirinya untuk mengangkat kepala dan seketika itu ia terkejut saat Arga juga tiba-tiba meliriknya. Namun lirikannya terlihat berbeda, tidak ada aura sinis ataupun menakutkan. Melain sesuatu yang sama sekali Fika tidak mengerti.

Arga kenapa?

*****

Selesai makan malam rumah yang hanya di huni oleh tiga orang manusia ini telah kembali ke habitatnya masing-masing. Ratna kembali ke ruang kerjanya, Arga kembali ke kamarnya dan Fika, tentu saja ia sudah duduk di depan balkon kamarnya.

Cewe itu masih setia dengan beberapa tumpukan buku novel kesukaannya. Dengan cerita yang berbeda ia terlihat lebih fokus mengikuti alur dalam cerita tersebut.

Hembusan angin malam yang dingin menerpa kulitnya menjadikan suasananya lebih dramatis karena saat ini Fika sedang membaca novel bergendre romance. Sesekali ia tertawa dan sesekali ia tersenyum saat membaca cerita tersebut. Tidak dapat dipungkiri, novel itu telah mampu membuat suasana hati Fika menjadi lebih baik dari sebelumnya.

"Itu bukan urusan lo!"

Fika mengalihkan pandangannya dari buku saat mendengar suara teriakkan keras seseorang dari luar. Ia menyernyit dan melihat jam di dinding yang telah menunjukkan pukul 10 malam. Kira-kira siapa yang berteriak sekeras itu malam-malam begini? Karena penasaran, Fika akhirnya memutuskan untuk keluar kamar.

Fika membukakan pintu kamarnya secara perlahan-lahan berusaha tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun. Di luar sana terlihat begitu sepi, bahkan beberapa lampu di ruangan sana sudah di padamkan. Kecuali lampu kamar dan dapur. Ia mengedarkan pandangannya namun suara seseorang yang terdengar sedang mengobrol membuatnya kembali penasaran. Pandangannya kini tertuju pada pintu di depannya.

"Arga." Fika mengucapkannya begitu pelan, ia hafal dengan suara khas milik laki-laki itu. Tentu saja Arga, dan suara itu terdengar dari dalam kamarnya. Fika sedikit ragu, bahkan ia sempat memutuskan untuk kembali karena tidak ingin mencampuri urusan Arga. Namun ada hal menarik yang semakin membuatnya penasaran.

"Jangan ganggu dia sialan! Kalo lo berani ganggu dia, lo bakal abis ditangan gue!"

Fika terkejut mendengar teriakkan Arga yang semakin meninggi itu. Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun ia saat ini merasa begitu khawatir. Bagaimana jika Arga benar-benar akan melakukan hal tidak diinginkan? Dan siapa yang Arga maksud?

Rasa penasaran rupanya telah mengalahkan rasa takut Fika. Ia berencana mendengar lebih dekat dengan menguping di balik pintu kamar Arga. Bahkan ia tidak ragu menempelkan kupingnya ke balik pintu demi bisa mendengar pembicaraan Arga.

"A-arga."

Tenggorokannya seakan mengering, lidahnya terasa kelu, keringat panas dan dingin mulai menyerang, dan bibir yang terkatup serta suhu tubuh yang meningkat. Demi apapun saat ini Fika beridiri mematung disana. Melihat kilatan sorot mata tajam Arga membuatnya semakin mati rasa. Ia benar-benar tidak menyangka saat ia berusaha menempelkan telinganya di pintu, ternyata tiba-tiba pintu itu terbuka. Mau bagaimana lagi, kini ia sudah tertangkap basah oleh Arga.

Namun anehnya, bukannya semprotan ataupun sentakan pedas yang kini ia dapat. Melainkan tatapan dingin lebih dingin dari biasanya. Arga si cowo dingin itu hanya diam dengan ekspresi sedatar-datarnya.

"Ma-maaf Fika nggak bermaksud buat-"

"Lo ngapain?"

Nada itu, ketus seperti biasanya. Namun entah mengapa mendengarnya seperti membuat Fika senang karena lebih baik mendengar sikap ketus Arga daripada harus melihat ia diam dengan tatapan menakutkan.

"Kalo gakada yang penting, mending lo-"

"Arga kaki kamu kenapa?"

Arga menunduk melihat lututnya yang masih terlihat berdarah. Sedangkan Fika melotot sambil menutup mulutnya.

"Arga tunggu sebentar yah, Fika ambilin kotak obat dulu. Jangan kemana-mana Fika balik lagi."

Belum sempat Arga mengatakan apapun, Fika sudah pergi berlari menuruni tangga. Cowo itu masih diam menatap kepergiannya dengan ekspresi datar dan misterius. Kegelapan yang menyelimuti ruangan di sekitar sana semakin membuat sorot mata Arga lebih menyeramkan.

Fika mencoba bergerak cepat setelah mengambil kotak obat di dapur, namun sebelum itu ia juga sudah menyiapkan semangkuk air untuk dituangan antiseptik kedalamnya. Setelah semuanya siap, Fika kembali menaikki anak tangga dengan langkah cepat.

Pintu Arga sudah tertutup kembali, sedangkan kedua tangan Fika telah penuh. Ia pun meletakkan kotak obat dilantai agar bisa mengetuk pintu kamar cowo itu.

"Arga ini Fika. Buka pintunya yah.."

Fika berteriak sedikit keras berharap cowo itu mendengarnya, namun sampai detik ini sama sekali belum ada jawaban dari Arga. Tidak ingin menunggu terlalu lama, Fika pun memutuskan untuk membuka pintunya sendiri.

"Arga.."

Fika berjalan masuk perlahan sesudah mengambil kotak obat di lantai. Entah mengapa tapi jantungnya kini berdenyut begitu cepat, baru pertama kalinya ia memasukki kamar mewah Arga. Lebih tepatnya elegan dengan cat berwarna hitam dan perpaduan warna elegan ciri khas seorang laki-laki. Kamar ini lebih luas dari kamar Fika, ranjangnya pun ukuran king size bahkan yang Fika ketahui Arga memiliki peepustakaan pribadi di kamarnya. Sayangnya ruangan ini terlihat samar-samar karena tidak semua lampu di ruangan ini menyala. Hanya mengandalkan lampu tidur di atas nakas saja.

Cukup terkagumnya, kini yang harus Fika cari adalah keberadaan laki-laki itu. Tapi dimana Arga? Dia sama sekali tidak terlihat ada disana.

"Apa di kamar mandi?" Gumam Fika. Ia meletakkan mangkuk dan juga kotak obatnya di atas nakas. Ia berniat akan melangkah menuju kamar mandi, namun sebelum itu sesuatu yang berada di atas kasur ternyata menarik perhatiannya.

Ada sebuah buku berwarna hitam seperti notbook berukuran besar. Dan terdapat beberapa lembaran foto disana. Namun yang membuat Fika tertarik adalah sebuah foto seorang cewe berambut panjang tengah duduk di kursi kayu bersama seorang laki-laki namun anehnya wajah laki-laki itu tidak bisa dilihat karena tertutupi oleh coretan seperti coretan dari spidol. Fika menyernyit dan meraih foto tersebut. Dan menatap wajah cantik cewe di foto dengan mengingat sesuatu.

"Rasanya Fika pernah liat cewe ini, tapi dimana yah?"

"Letakkan foto itu."

Fika membeku, ia yakin suara itu berasal dari Arga. Tanpa menunggu lama Fika langsung meletakkan kembali foto itu ke atas kasur lalu berbalik cepat menghadap Arga namun..

"Aaa..!!!!!"

"Kenapa lo?" Arga terkejut dengan teriakkan Fika yang secara spontan itu. Sedangkan cewe itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kedua tangan ia tutupi ke wajahnya.

"Arga kenapa gak pake baju sih?!" Geram Fika sambil menghentak-hentakkan kakinya.

Arga yang menyadari hal itupun tersenyum miring. "Kenapa? Lo gakmau liat tubuh gue?"

"GAKMAU! Iih.. Arga cepet pake baju!" Fika semakin geram karena tidak ada sama sekali pergerakkan Arga akan memakai baju, cowo itu hanya diam berdiri di depan Fika yang masih komat-kamit tidak jelas.

"Lo yakin gkmau liat tubuh gue?"

"GAKMAU!"

"Lo bilang lo pemberani-"

"ARGA CEPET PAKE BAJU!"

Terdengar suara helaan nafas Arga disana. "Gak asik lo jadi cewe."

Fika terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan Arga. Apa yang sedang terjadi pada laki-laki itu? Tidak biasanya dia seperti itu. Astaga! Dia benar-benar ingin membuatnya mati kejang disana.

Beberapa menit kemudian, Arga kembali menghampiri Fika disana yang masih diam menutup matanya. Entah apa yang merasukki Arga namun kini senyuman jahil beserta rencana licik telah merasuk kedalam otaknya.

"Arga udah blom si?" Tanya Fika dengan nada geram seperti sebelumnya.

"Udah." Jawab Arga singkat.

Mendengar pernyataannya Arga, Fika secara perlahan menurunkan tangannya dan membuka perlahan matanya.

"Loh Arga?" Fika menyernyit tidak menemukan Arga di depannya. "Ar-"

"Ekhem."

Suara deheman itu membuat Fika menyadari ada seseorang di belakangnya. Sejak kapan Arga dibelakangnya? Fika pun berbalik dan seketika membeku.

"Lo mau berdiri aja atau mau obatin gue?"

Fika meneguk salivanya dan mengangguk ragu.

"Yaudah cepet!" Tegas Arga. Membuat Fika gelagapan mengambil mangkuk dan kotak obat dengan gerak cepat.

Ya Allah kuatkan Fika dan iman Fika Ya Allah..

Fika tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya, bukan karena ia takut pada Arga melainkan ia merasa risih tidak karuan serta ketidak sanggupannya menatap Arga yang ternyata masih bertelanjang dada. Cowo itu ternyata hanya memakai celana kolor pendek dan duduk santai di atas ranjangnya. Sedangkan Fika kini menekuk lututnya berada di bawah kedua kaki Arga yang menggantung di atas ranjang.

"Lama banget sih lo?"

Mana mungkin Fika bisa bergerak cepat, sedangkan dia sendiri gemetar hebat. Bahkan mengambil kapas saja ia rasanya tidak ada tenaga.

"Lama lo!" Arga tiba-tiba meraih tangan Fika yang sedang memegang kapas. Fika terkejut bukan main, jantungnya terpacu lebih cepat dari sebelumnya rasanya hampir akan copot dari tempatnya.

"Arga.." Fika masih terdiam pasrah saat Arga mencelupkan tangan Fika yang memegang kapas itu kedalam cairan antiseptik lalu dengan cepat menyentuhkannya ke lutut Arga yang masih berdarah.

"Lo bisa sendirikan?" Fika mengangguk setelah Arga melepaskan genggamannya. Yah, rasanya itu lebih baik. Daripada ia harus mati karena serangan jantung.

Keheningan menyelimuti keduanya, suasana malam hari yang sepi semakin membuat suasana mencekam. Terlebih angin dingin dari AC membuat Fika semakin membeku. Memberapa lama kemudian Fika telah selesai mengobati luka Arga dengan memberikannya sedikit perban. Ia kembali bangkit namun tangannya tertahan karena Arga menahannya.

"Mau kemana lo?" Tanya Arga.

"Ma-mau keluar." Ucap polos Fika.

Arga tersenyum miring. "Lo pikir setelah lancang masuk kamar gue tanpa izin, gue bakal lepasin lo gitu aja?"

Fika mebelalak, ia lupa kalau Arga pernah melarangnya untuk masuk ke kamarnya. Karena terlalu panik ia sama sekali lupa akan hal itu. Lalu apa yang akan Arga lakukan padanya? Apakah dia akan menghukumnya?

"Tapi Fika kan-"

Tiba-tiba saja Arga menarik kuat Fika hingga wajah mereka hampir bersentuhan, jarak diantara mereka begitu tipis. Fika melotot dengan tangan gemetar menahan tubuhnya di kedua samping tubuh Arga.

"Gue gakmau denger alesan lo." Suara Arga begitu pelan dan serak, membuat Fika merinding dibuatnya.

Tunggu, Arga mau ngapain?

Fika menegang saat Arga semakin menepis jarak diantara mereka, reflex Fika pun memundundurkan wajahnya tapi sialnya Arga menahan tengkuk lehernya hingga ia tidak mampu bergerak sedikitpun. Fika semakin terbelalak dengan tubuh gemetar hebat sedangkan Arga semakin mendekatkan wajahnya dan...

Cup!

"Lo boleh keluar sekarang."

____

Sebelumnya mohon maaf yah kalo updatenya sekarang telat. soalnya aku masih sibuk nih..

Dan untuk sekarang 1 bab dulu,

jangan lupa komen mengenai bab ini yah..

dan jangan lupa like nya.

Maaf juga kalo ada typo soalnya belum sempet revisi.

See you next chept》

1
lizkook
xmz z. z. .z z
Sunarsih Bagus Inara
thor karakter ceweknya dibikin sesempurna mungkin agar bisa menandingi si aga
Herta Siahaan
isss jgn terlalu mudah percaya Fika. buat dia bener2 berubah
Herta Siahaan
dah berapa kali dihina masih jg g ngerti duh Fika saya yg jdi nangis. dah doonkkkk Fika jgn lagi terlalu baik
Herta Siahaan
duh Fika jgn terlalu lugu deh. terlalu hina kali.
Herta Siahaan
belum tahu kenapa fika bisa sampai dikeluarga arga dan Fika please deh ,. culun sich boleh tpi jgn terlalu lah sayang. dah dihina gitu dah biarin aja arga
kusyiwa hiroshi
menurut saya, lbh baik settingannya bukan anak SMA, krn saya rasa ceritanya terlalu sadis utk anak usia dibawah 20th..hanya saran saja 👌😊
Suryani
ternyata aku salah menebak kali ini yg aku kira ikbal jahat gk taunya gino yg mala jahat
Suryani
oh ternyata seperti itu ceritanya
Suryani
apa arga udah punya anak
Suryani
banyak misteri
Suryani
emang ada visual nya ya kok aku gk ada ya
Suryani
😴😴😴
Suryani
masih tanda tanya siapakah sebenarnya alan
Suryani
klu tebakan ku sih ikbal itu jahat soalnya ni ceritanya hampir mirip sama ceritanya aska dan salsa yg berjudul cinta dan masa lalu
Suryani
emang ma2 nya kemana thor
Suryani
ini ceritanya hampir mirio sama yg judulnya cinta dan masa lalu
Oh Dewi
Wah seru banget ceritanya kaya Novel (Siapa) Aku Tanpamu
Awal Ginting
kamu yg sabar mungkin suatu hari nanti seseorg itu akan mencintaimu km semangat jgn bersedih🌹🌹🌹❤️❤️
Sudaryanto
aku sayang you
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!