Keseharian Lana menjadi pendamping Tuan Buta untuk menjadi pengganti istrinya yang sering keluar dengan pria lain itu berbuah kebingungan. Itu terjadi ketika Tuan buta itu sembuh dari kebutaannya. Dia mengira selama ini istrinyalah yang mendampinginya. Keberadaan Lana lenyap seketika tanpa berbekas.
Apa yang akan terjadi ketika semua kebiasaan yang ia pikir adalah milik istrinya itu tidak nampak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 12 Cerita di pagi hari
"Kamu naksir juga enggak apa-apa, kok. Dia masih jomlo. Enggak ada kisah seorang pria dalam hidupnya." Kalimat ini membuat Rio melirik. Bukan lirikan tajam seperti tadi, itu lirikan tertarik. "Percaya padaku. Aku kan sudah punya informasi tentang dia. Laki-laki yang ada di dalam hidupnya kemungkinan besar hanyalah ayahnya yang sudah meninggal dan pamannya yang tinggal serumah dengan neneknya."
"Dia anak yatim?"
"Bukan. Dia yatim piatu. Ayah ibunya sudah meninggal karena kecelakaan ketika dia masih SMP. Lalu dia tinggal dengan neneknya," jelas Rena. Rio terkesiap. Tidak menduga seperti itu riwayat hidup Lana.
Mereka sudah sampai di depan gerbang rumah atasan mereka.
Din! Din! Rio menekan klakson untuk menunjukkan keberadaannya pada orang yang ada di pos satpam. Tak lama kemudian pintu gerbang di buka. Mobil Rio masuk perlahan.
"Aku turun dulu," pamit Rena bergegas masuk lebih dulu.
"Ya," sahut Rio. Ketika ia berjalan memasuki pintu utama yang sudah di buka oleh pembantu rumah ini, ia ingat ketika bertemu kedua kalinya dengan Lana adalah di dekat pintu ini juga. Saat itu bola mata gadis itu terkejut melihatnya muncul di rumah ini. Mungkin Rena tidak memberi tahu kalau dia juga bekerja pada pemilik rumah ini.
Rio berjalan masuk ke dalam rumah. Saat itu Erna terlihat melintas.
"Pagi Bu Erna," sapa Rio.
"Oh, pagi Sekretaris Rio. Kalian datang bersama?" tanya Erna yang pasti maksudnya adalah Rena.
"Ya."
"Kalian tampak dekat." Erna seperti sedang menggoda hubungan dia dan Rena yang terbilang sangat dekat.
"Ya. Kita teman sekolah," jelas Rio dengan senyum tipis.
"Kalian pasti sudah begitu mengenal masing-masing. Pekerjaan juga sudah bagus. Kenapa tidak menikah saja?" canda Erna. Kalau seperti ini, beliau tampak seperti seorang ibu, bukan rekan kerja. Ibu yang perhatian.
"Kita bersama bukan untuk menikah, Bu Erna. Meskipun sudah mengenal kepribadian masing-masing, itu bukan jalan kita berdua bersatu dalam pernikahan," ujar Rio menjawab candaan Erna. Dia serius soal ini. Karena menurutnya, dia dan Rena bukankah pria dan wanita yang di takdirkan untuk menjadi pasangan. Cukup sebatas teman saja.
"Ya. Meskipun terlihat langgeng bersama, kalau memang bukan jodoh, menikah bukan jadi akhir kisahnya." Erna tidak lanjut menggoda. Dia mengerti soal jodoh. "Aku doakan kamu dapat perempuan baik yang nanti jadi istrimu." Beliau menepuk pundak Rio dengan lembut. "Sayang, aku tidak punya anak perempuan. Kalau aku punya, pasti aku minta padamu untuk menikahinya."
"Aku senang mendengarnya." Rio tersenyum.
"Selamat bekerja Sekretaris Rio." Erna kembali dalam mode pekerjanya.
"Selamat bekerja juga Bu Erna." Mereka pun kembali ke pekerjaan masing-masing. Rio terus berjalan. Saat itu Lana melintas. "Lana," panggilnya tanpa sadar. Terlihat dari dirinya yang terkejut sendiri ketika menyebut nama itu, itu adalah bukti kalau dia memanggil Lana tanpa sadar.
Kenapa aku memanggilnya? Keluh Rio. Sedikit menyesal karena ia akhirnya kebingungan sendiri.
"Oh, sekretaris Rio selamat pagi." Lana membungkuk sedikit untuk bersikap hormat. Rio terpaksa berjalan mendekat karena ia sendiri yang memanggil gadis ini.
"Selamat pagi," sahut Rio yang entah kenapa terlihat tidak nyaman.
"Ada perlu apa, Sekretaris?" tanya Lana yang menanti Rio berbicara lagi.
"Em ... tidak ada. Aku hanya menyapa." Rio menjawab dengan jujur. Namun kemudian dia menyesal, karena respon Lana juga singkat. Hanya menganggukkan kepala saja. Sepertinya tadi, ia berpikir kalau Rio ada perlu dengannya. "Bagaimana pekerjaan mu disini? Apa kamu merasa nyaman?" tanya Rio setelah mengumpulkan semua pilihan kalimat untuk bertanya.
"Ya. Saya merasa nyaman." Lana bersikap seperti sedang menghadapi atasannya alih-alih kepada temannya. Itu membuat Rio sedikit terganggu. Percakapan mereka canggung dan penuh batas. Apalagi penggunaan kata saya dan panggilan sekretaris untuknya, terdengar begitu kaku. Namun ia tidak bisa protes. Mereka berdua memang jauh dari kata akrab. Kenal juga hanya beberapa hari. Tidak banyak yang bisa ia harapkan. Memangnya ia mengharapkan apa? Rio merasa aneh sendiri.
"Saya harus kembali bekerja."
"Ah, ya benar." Rio tersadar bahwa ia telah mengganggu waktu Lana. "Silakan." Rio pun mempersilakan Lana untuk pergi.
...***...
...***...
Rena sedang berdiri di dekat Sonia yang sudah selesai mandi. Wanita itu tengah menikmati minuman hangat di tangannya.
"Apa Rio sudah datang?" tanya Sonia.
"Ya. Dia datang bersama saya."
"Lain kali kalau kalian datang bersama, seharusnya kamu memberi tahu aku dulu," ujar Sonia seraya meneguk cappucino hangatnya. Rena mengerjap. Tidak paham kenapa ada peraturan baru soal ini. Padahal dulu semua baik-baik saja. Namun kepalanya cukup mengangguk saja, dia tidak bisa membantah. "Aku sedang bersama Antoni pagi ini," imbuh Sonia membuat mata Rena melebar sekejap. Meskipun ini sudah bukan pertama kalinya ia mendengar soal hubungan mereka, Rena acapkali terkejut ketika membahasnya.
"Maafkan saya." Rena baru menyadari kesalahannya. Karena jika Sonia sedang bersama kekasihnya itu, keberadaan Rio sungguh harus di waspadai. Karena bisa saja pria itu mengungkap semua pada Kinos.
"Mungkin kamu belum terbiasa dengan hubunganku dengan Antoni yang mulai terbuka." Padahal Rena tidak bertanya. Namun Sonia sendiri ingin mengatakannya. Ia merasa pasti Rena berpikir keras kenapa bisa ada hubungan terlarang antara dia dan Antoni yang notabene adalah sahabat Kinos.
"Jadi ... Tuan Antoni masih ada di sini? Karena Rio ada di dalam rumah ini, Direktur." Rena langsung cemas.
"Dia pulang. Baru saja sebelum kamu dan Rio datang. Selisih beberapa menit saja."
"Ahh ... Saya pikir beliau ada di sini sekarang." Rena menyerukan kelegaannya dengan kentara. Dia ikutan tegang membayangkan ketika Sonia dan Antoni berduaan, Rio melihat semuanya. Bisa di pastikan Rio akan mengadu pada Tuan Kinos. Itu akan memperkeruh keadaan. "Maafkan saya." Sekali lagi dia meminta maaf.
Sebenarnya sudah lama Rena tahu kedekatan antara Antoni dan Sonia, tapi ia hanya berpikir itu sebuah kedekatan yang wajar. Karena mereka bertiga adalah satu pertemanan. Namun kedekatan itu justru berwujud cinta. Itu berarti, nyonya Sonia tengah berkhianat di belakang suaminya.
"Pagi ini aku akan di rumah. Semua pekerjaan di kantor aku serahkan padamu." Sonia tampak lelah.
"Baik Direktur." Rena mengangguk. Itu berarti pekerjaannya akan berat. Namun tidak perlu di pikirkan. Direktur Sonia lumayan royal pada karyawannya. Jika begitu, beliau pasti akan memberikan bonus tambahan untuknya. Itu membuat dirinya merasa senang melakukan pekerjaan tambahan.
"Coba lihat keadaan Lana. Mungkin saja dia kesulitan bersembunyi dari Rio yang mungkin sekarang menuju ke tempat Kinos."
"Baik, Direktur. Saya pamit pergi." Rena mengangguk dan bergegas mencari gadis itu. Sonia meneguk kembali cappucino-nya seraya mengalihkan pandangan ke arah lain.
...-------...
bikin penasaran dan dag Dig dug
q ga bs move on ama gara kak please gara zia ya kak mohon bgt dgn sangat🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏