Banyak yang bilang jika persahabatan antara seorang pria dan wanita tidak akan bisa terjalin dengan murni, selalu ada perasaan cinta tersembunyi yang tertutup oleh status sahabat dan itu terjadi pada ku ...
Entah sejak kapan itu bermula, nama ku Jasmine, aku memiliki sahabat sejak kecil bernama Gibran, kami tumbuh besar bersama bahkan kedua keluarga kami juga kenal dekat sampai suatu hari ada usulan untuk menjodohkan kami berdua, saat itulah aku sangat senang tapi tidak dengan dia.
Dia mencintai orang lain, sahabat ku yang lain, Ruby.
Aku mencoba ikhlas, aku merelakan cinta pertama ku menikah dengan wanita pilihannya, tapi aku tidak pernah berpikir kalau takdir mengejutkan akan membawaku pada posisi menjadi istri ke dua Gibran.
Hanya saja kisah kami bukan kisah manis yang bisa membuatku mengungkapkan bahwa aku bahagia dapat menikah dengan sahabat sekaligus cinta pertama ku.
...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrlyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ciuman pertamaku milikmu
Perasaanku menjadi lebih buruk setelah itu. Saat melihat Gibran tidak bisa melepaskan pandangannya dari Ruby yang melangkah memasuki gerbang rumahnya yang menjulang tinggi itu.
Aku iri padanya, aku iri pada Ruby.
Dia memiliki keluarga yang sempurna, ada ayah yang menyayanginya dan pria yang menatapnya dengan cara yang tidak bisa aku dapatkan.
Cara Gibran menatap Ruby membuat hatiku sakit. Aku cemburu, sepertinya bukan hanya sebatas sahabat kecemburuan ini ada.
Aku cemburu karena sepertinya perasaanku pada Gibran lebih dari sekedar sahabat.
Hidupku yang menyedihkan ini membuatku lelah, rasa sesak yang memenuhi dadaku ini terasa menusuk-nusuk hatiku.
Begitu pedih karena sepertinya aku akan segera terluka lagi.
Kami tiba dalam diam, Gibran tidak mengatakan apapun setelah mengantarkan Ruby dan aku juga tidak ingin mengatakan apapun karena aku takut menangis lagi.
Aku kemudian turun dari mobil Gibran, dia terlihat berlari cepat agar bisa membukakan pintu mobil untukku, tapi aku sudah lebih dulu turun.
"Apa?" tanyaku ketika Gibran menggaruk tengkuknya dan terlihat sedikit menahan malu karena tidak berhasil membukakan pintu untukku.
"Kenapa turun duluan sih?" jawab Gibran balik bertanya, dia terlihat kecewa. Aku tersenyum tipis melihat ekspresinya lalu kemudian aku kembali memasuki mobil Gibran dan menutup pintu mobilnya rapat-rapat.
Terkesan konyol karena aku mengulang adegan hanya agar Gibran tidak merasa kecewa dan pria itu terlihat sangat senang dengan apa yang aku lakukan hingga ia terus tersenyum saat membukakan pintu mobilnya untukku.
"Silahkan turun, tuan putri..."
Aku tersenyum sekali lagi walaupun hatiku sedang tidak baik-baik saja, tapi aku tetap berusaha untuk tetap tersenyum karena aku tidak ingin kesedihanku mempengaruhi Gibran dan membuatnya kecewa meskipun sebagian kesedihanku berasal darinya.
Darinya yang kemungkinan mencintai Ruby...
Diriku yang kemungkinan patah hati karena mencintainya...
Gibran kemudian membuka bagasi mobilnya, ia membawakan barang belanjaanku dan tidak menyisakan sedikitpun untuk kubawa hingga aku hanya bisa mengikutinya di belakang dan menatap punggungnya yang selama ini menjadi tempat ku bersandar.
Air mataku menetes lagi, membayangkan jika tempat itu mungkin akan dimiliki oleh wanita lain membuat hatiku sakit.
Aku menarik nafas dalam, berharap dapat sedikit meredakan sesak di hatiku agar aku bisa menghentikan tangisanku, tapi yang aku dapatkan hanyalah perasaan yang semakin mencekik.
Kenapa semua orang yang aku sayangi senang meninggalkanku?
Seperti ayahku yang pergi dan melupakanku, apa kamu juga akan pergi meninggalkanku?
"Mau ditaro di mana?" tanya Gibran begitu ia tiba di dapur dan meletakkan semua barang belanjaan kami di atas meja dapur, dengan cepat aku segera menyeka air mataku.
"Hey, kenapa nangis lagi?" Gibran langsung menghampiriku dan menyentuh wajahku dengan kedua tangannya.
Dia menatapku dengan tatapan penuh khawatir, dia membuatku semakin sulit karena perasaan ini menjadi lebih berharap.
"Maaf Gibran, kayaknya gue lagi emosional hari ini. Lo pulang aja nanti belanjaannya gue yang beresin. Makasih udah anterin gue belanja," ucapku sambil menyingkirkan kedua tangannya dari wajahku, aku melangkah memasuki dapur.
Aku berusaha untuk berhenti menangis, aku ingin menghentikan tangisan ini hingga tubuhku gemetaran dan membuat barang belanjaan yang aku coba untuk susun ke dalam rak jadi terjatuh berantakan.
Rasanya frustasi, aku ingin melepaskan rasa sakit ini bahkan bila bisa aku ingin melepaskan perasaanku kepada Gibran, tapi bagaimana caranya?
Beritahu aku bagaimana caranya?
Sambil memunguti kotak-kotak susu yang terjatuh bersama dengan bungkusan tepung, aku terus menangis. Seperti gadis menyedihkan yang tidak memiliki apapun selain kepedihan dalam hidupnya.
"Udah cukup..."
Aku mengangkat pandanganku saat Gibran memegangi tanganku yang gemetaran. Dia kemudian membantuku merapihkan barang-barang yang jatuh berserakan di lantai sementara aku terduduk lemas di lantai dapur yang dingin sambil menangis dan menyembunyikan wajahku di balik lengan ku yang memeluk lututku.
Gibran trus menata barang-barang belanjaan ke rak penyimpanan hingga selesai barulah setelah itu ia duduk di sebelahku.
Dia tidak mengatakan apapun, Gibran hanya duduk diam dan menunggu ku menangis seraya tangannya terulur merangkul tubuhku yang masih menangis hingga gemetaran lalu membelai kepalaku yang bersandar di bahunya.
"Kan ada gue, ada gue, Jasmine... Jangan terluka, Jasmine..."
Tangisanku meluap-luap, sikapnya membuatku ingin memilikinya.
Bolehkah aku menjadi egois?
Bolehkah aku meminta hatimu dengan begitu aku tidak akan terluka lagi?
Aku sungguh ingin menjadi egois sekarang...
Aku ingin menggunakanmu sebagai penghapus rasa sakit dalam hatiku, aku ingin menggunakanmu untuk mengalihkan rasa sakit ku karena dicampakkan oleh ayahku...
Aku ingin menggunakanmu untuk mendapatkan kebahagiaan yang sudah lama aku rindukan...
Aku ingin memilikimu...
Boleh kah, Gibran?
Aku mengangkat kepalaku dari bahu Gibran dan menatapnya dalam. Gibran tidak tersenyum, tapi dia membantuku menyeka air mataku, ia membantuku merapihkan rambutku yang berantakan, dia menatapku dengan lembut dan aku menahan tangannya yang ingin melepaskan wajahku, aku tidak ingin ia menjauh.
"Jasmine..." Suara Gibran terdengar berat, "Lupain semua yang terjadi malam ini..."
Aku memejamkan kedua mataku ketika Gibran menyentuh bibirku dengan ibu jarinya sebelum akhirnya ia mendaratkan bibirnya di permukaan bibirku.
Gibran menciumku dengan sangat lembut dan juga singkat.
Kedua mata kami masih saling mengunci, tangan Gibran masih berada di wajahku. Ciuman ini berhasil mengusir sedikit rasa sakit hatiku hingga aku menginginkannya lagi.
Aku ingin menciumnya lagi dengan begitu rasa sakit hatiku akan hilang, kan? Atau aku hanya akan berakhir lebih terluka lagi...
Aku mungkin akan hancur, tapi aku tetap bergerak mendekat, aku mendekat dan menciumnya.
Bibir kami menyatu, terasa lembut dan juga manis sementara kedua mata kami terbuka, saling menatap dengan sedikit kebingungan sampai ketika Gibran menekan tengkuk ku dan memperdalam ciuman kami.
Kedua mataku langsung menutup rapat, merasakan lebih dalam bagaimana Gibran menyesap bibir bawahku hingga bibir atas ku. Dia tidak memberikan sedikitpun celah bagi bibirku.
Gibran memastikan jika bibirku sepenuhnya miliknya...
Sekarang bagaimana caranya aku melupakan semua yang terjadi malam ini jika ciuman pertamaku kulakukan dengan cinta pertamaku?
Dengan pria yang hanya menganggapku sebagai sahabatnya...
Dengan pria yang mungkin mencintai wanita lain...
Perlahan ciuman kami terlepas, Gibran tersenyum tipis sambil menyeka bibirku yang basah dengan ibu jarinya.
"Merasa lebih baik sekarang?"
"Belajar darimana kalau ciuman bisa buat ngerasa lebih baik?"
"Buktinya sekarang lo berhenti nangis kan?"
"Modus! Udah berapa cewek yang lo cium pakai cara ini?"
"Lo yang pertama, ciuman pertama ini milik lo, jadi shttt~ jaga rahasia ini antara kita berdua."
Gibran masih menatapku, dia seolah menantikan ku untuk menjawabnya.
"Ya...," jawabku pelan sambil beranjak bangun dan bergegas pergi dari dapur, tapi Gibran mencekal pergelangan tangan tanganku dan menahan langkahku.
"Ruby... Terutama dari Ruby."
***
jadi novel adil tu buang sisi wanitamu, bersikaplah netral lihat dari semua sisi, rasakan posisi semua sudut padang, jangan hanya melihat dan merasakan dari sudut padang pemeran utama wanita saja karena itu membuat jadi egois karena