Menikah adalah hal yang tak akan Aleeya Addhitama impikan. Dia tak ingin mengecewakan siapapun laki-laki yang bersedia menikahinya karena dia sudah menjadi wanita yang tak sempurna.
Untuk sekarang dan ke depannya dia hanya ingin menikmati karmanya. Menjauh dari keluarga karena dia tidak ingin mencoreng nama baik keluarga besarnya. Dia sudah melakukan sebuah kesalahan besar yang menurutnya tidak bisa ditolerir.
Ada trauma yang tidak bisa dengan mudah disembuhkan. Ada luka yang menganga yang begitu dalam. Itulah yang membuat Aleeya tidak berani untuk membuka hatinya. Walaupun ada pria yang mendekatinya, dia menekankan pada si pria itu untuk tidak mengharapkan balasan cinta darinya.
"Aku tak melarang kamu mencintaiku, tapi jangan berharap balasan cinta dariku."
Apakah Aleeya memilih melajang seumur hidup? Atau akan datang seorang pria lain yang tulus mencintainya dan bersedia meminangnya? Walaupun Aleeya sudah tak sempurna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fieThaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Bukan Anak Kecil
Aleeya merenungi kejadian di restoran tadi. Dia melihat betapa bahagianya orang tua Mirza ketika melihat dia bersama Mirza.
"Kamu cantik sekali. Tante senang akhirnya Mirza bisa punya calon istri yang cantik, masih muda dan dari keluarga berada."
Helaan napas kasar keluar dari mulut Aleeya. Dia masih sangat ingat ketika ibu dari Mirza mengatakan itu. Setelah itu dia menatap dalam Mirza meminta penjelasan. Akan tetapi, Pria itu hanya tersenyum.
"Iya, Mah. Ini calon mantu Mamah."
Itulah alasan kenapa Aleeya keluar meninggalkan kedua orang tua Mirza. Dia meminta penjelasan kepada Mirza dan jawaban Mirza membuat Aleeya menggelengkan kepala. Hingga pada akhirnya, Mirza sedikit memaksa dan mengatakan jangan hancurkan kebahagiaan orang tuanya.
"Ternyata kamu egois, Kak." Aleeya bergumam.
Dia menatap lurus ke depan, perkataan ibu dari Mirza membuat hatinya tersentl.
"Tante sangat bahagia akhirnya Mirza bisa mendapatkan perawan, bukan janda."
Aleeya tersenyum kecil. Keinginannya untuk terus melajang adalah hal yang sangat tepat. Tidak semua orang akan menerima wanita yang sudah tidak sempurna. Tidak semua orang akan menerima masa lalu yang adil.
"Jangan pernah jatuh cinta pada siapapun, Aleeya. Mereka hanya menginginkan wanita sempurna, bukan dirimu. Wanita yang tidak sempurna."
Aleeya bermonolog sendiri dengan menahan air matanya. Pada akhirnya dia menunduk dalam sambil memangku guling yang ada di atas tempat tidurnya. Sungguh dia tidak tahan dan ingin menjerit kencang.
Ketukan pintu terdengar. Aleeya segera menyeka air matanya. Dia tersenyum ketika sang ayah masuk ke kamarnya. Radit menghampiri sang putri. Aleeya segera memeluk tubuh sang ayah dengan begitu erat.
"Maafkan Baba, Dek."
Aleeya mendongak menatap ke arah sang ayah tanpa melepaskan lingkaran tangannya di perut sang ayah.
"Mirza sudah melamar kamu sehari sebelum kamu ke Jakarta." Aleeya masih terdiam. Dia masih ingin mendengar kelanjutan dari ucapan sang ayah.
"Tapi, Baba dan Bubu tidak bisa memutuskan. Semuanya kembali ke kamu."
Aleeya tersenyum. Dia sudah tahu bagaimana orang tuanya menyikapi hal seperti itu.
"Adek gak pantas untuk Kak Mirza, Ba. Kak Mirza orang baik dan nyaris sempurna. Dia berhak mendapatkan wanita yang baik dan sempurna juga."
Radit memeluk erat tubuh sang putri. Dia sangat tahu bagaimana terbebaninya Aleeya dengan statusnya. Dia membelai lembut rambut Aleeya.
"Maafin Adek, Ba. Belum bisa bahagiain Baba dan Bubu."
.
Keesokan paginya, Khairan ingin sarapan bubur. Dia memilih jogging di sekitaran hotel sambil mencari tukang bubur gerobakan. Dua puluh menit lari kecil, akhirnya dia menemukan tukang bubur yang sangat ramai. Dalam pikiran Khairan makanan yang banyak pembeli pasti rasanya enak.
Baru saja dia hendak mendekat ke arah tukang bubur, dia melihat dua orang yang dia kenal turun dari motor. Wajah mereka nampak sangat bahagia. Khairan ingin pergi dari sana, tapi hati kecilnya ingin menghampiri mereka berdua. Pada akhirnya, dia menghampiri dua orang tersebut.
Khairan menepuk pria jangkung yang sedang mengantri bubur. Pria itu menoleh dan nampak terkejut. Namun, tak lama kemudian dia tersenyum.
"Nyabu juga?" Khairan pun mengangguk.
Matanya melirik ke arah perempuan yang mendadak diam. Sepertinya dia marah.
"Kamu mau pake apa, Ya?"
"Biasa aja, Bang."
Mereka adalah Axel dan juga Aleeya. Merasa didiamkan terus oleh Aleeya membuat Khairan tak tenang. Dia terus memperhatikan Aleeya, tapi Aleeya sama sekali tak menggubrisnya. Ketika makan bubur di meja yang sama pun Khairan hanya berbincang dengan Axel. Aleeya sama sekali tak ikut nimbrung.
Khairan mulai berpikir. Apa ada yang salah pada dirinya hingga menyebabkan Aleeya marah kepadanya.
"Apa masalah semalam?" Khairan mulai menerka.
Dia pun memutuskan untuk pergi ke rumah Aleeya malam ini juga. Dia merasa sangat tidak enak. Marahnya Aleeya membuat dia tidak tenang. Tibanya di rumah Aleeya, dia mengerutkan dahi ketika melihat ada mobil yang terparkir di depan rumah Aleeya. Khairan sedikit ragu untuk masuk. Namun, ada dorongan yang membuatnya berani melangkah maju.
"Selamat ma--"
Khairan mematung di ambang pintu yang terbuka ketika melihat orang yang sama yang kemarin malam dia lihat. Dia melihat ke arah Aleeya yang menatap sendu ke arahnya. Matanya sudah memerah.
"Sekarang, coba Anda pilih Pak Radit. Mau memilih putra saya atau lelaki itu?" tunjuk wanita paruh baya kepada Khairan.
Kepala Khairan baru terkoneksi dengan keadaan yang dia lihat. Dia menatap ke arah Aleeya yang mulai tertekan.
"Kenapa harus terus memaksa? Aku harus berapa kali bilang jika aku tidak pantas dengan anak Tante. Anak Tante anak baik, pasti Tuhan sudah menyiapkan wanita baik untuk Kak Mirza. Wanita itu bukan aku."
Radit dan Echa saling pandang melihat sang putri membuka suara. Terdengar suara Aleeya bergetar.
"Tolong hargai keputusan aku ini."
Melihat Aleeya yang sangat tertekan membuat Khairan melangkah menghampiri Aleeya. Dia tak bicara, tapi dia mengulurkan tangannya ke arah Aleeya.
Awalnya Aleeya hanya menatap bingung dengan mata yang merah. Anggukan kecil Khairan membuat Aleeya luluh dan menerima uluran tangan Khairan. Tanpa berkata Khairan membawa pergi Aleeya. Respon Radit hanya diam dan tak melarang.
"Kenapa Anda malah membiarkan putri Anda pergi bersama lelaki itu?" tanya ibunda Mirza. Terlihat wanita paruh baya itu tidak suka.
"Karena lelaki itu tidak pernah memaksa putri saya. Satu hal lagi, dia mampu saya percaya..." Wanita itupun terdiam.
"Anak saya bukan anak kecil. Dia memiliki keputusan sendiri. Sebagai orang tua saya dan juga istri tidak akan pernah memaksa putri saya." Tegas sekali ucapan dari Raditya Addhitama.
"Cinta itu tidak bisa dipaksakan. Saya tahu bagaimana Mirza. Dia pasti menerima keputusan Aleeya. Kenapa Anda yang malah mendesak putri saya?" Radit mulai mengeluarkan bisa yang dia miliki.
.
Khairan membawa Aleeya ke rumah di samping rumah besar Raditya. Rumah itu adalah rumah kakek dari Aleeya yang dihuni oleh Askara. Ada lapangan basket di halaman samping. Khairan membawanya ke sana.
Di tengah lapangan basket, Khairan menatap Aleeya. Perempuan itu malah menunduk karena pasti Khairan akan memakainya.
"Lihat gua, Al."
Panggilan yang berbeda dari panggilan yang lainnya. Aleeya perlahan menegakkan kepalanya dan air matanya sudah menganak.
"Gua gak mau dipaksa. Gua punya jalan hidup sendiri, Khai."
Khairan memeluk tubuh Aleeya yang terlihat sangat tertekan. Khairan mengusap lembut punggung Aleeya. Mencoba untuk menenangkan.
"Kenapa gak terus terang dari awal? Lu kayak ngasih harapan."
"Gua udah bilang, tapi Kak Mirza gak mau dengerin omongan gua. Kak Mirza terus berusaha meluluhkan hati gua. Padahal, hati gua gak akan bisa luluh ke lelaki manapun."
Tubuh Khairan menegang ketika mendengarnya. Apa maksud perkataan Aleeya? Dia menatap dalam ke arah Aleeya.
"Kalau sama gua?"
...***To Be Continue****...
Komen dong ....
terjadi saat alm.kakak kandung saya meninggal... segalak (yg negatif) apapun dia ke saya ...tetap saya urus sd pemakaman sementara saudara yg lain lepas tangan.
lanjut baca ah..😊
ketika mendengar doa anak2 ny yg mustajab 😁😁😁