Sekretaris lama bernama Indira Maheswari adalah sekretaris yang memiliki kompenten tinggi walaupun penampilannya tidak menarik.Dengan kacamata super tebal dan rambut yang selalu di ikat.Indira sangat tidak menyukai bos barunya anak dari bapak Abraham yang bernama Danish Bastian Abraham karena perlakuannya yang sering membawa keluar masuk wanita cantik dan sexy di kantornya.Begitupun dengan Danish yang tidak menyukai sekretarisnya yang cupu.
Danish akhirnya terperangkap dengan sekretarisnya karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili Indira.
yuk...guys baca dan nantikan per episodenya💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbongkar.
Brukkkk...
Belum sampai di ambang pintu, Indira terjatuh seketika. Danish langsung berdiri dari tempat duduknya dan bergegas menolong Indira. Danish menggendong Indira, meletaknya di atas kursi panjang yang berada di pojok ruangannya.
Danish pun tidak tau harus berbuat apa, sehingga Danish menelfon dokter pribadinya. Sambil menunggu dokter pribadinya, Danish menatap wajah Indira dan membuka kacamatanya.
" Waw..dia tidak terlalu buruk dengan wajah tanpa kacamata yang super tebal ini." Ucap Danish terkesan dengan wajah Indira yang polos tanpa kacamata bahkan make up namun terlihat cantik.
Lalu Danish beralih pada leher Indira. Telihat sebuah kalung dengan mainan setengah hati. Dan kalungnya tersebut sekecil dengan benda yang di temukan di rumah Danish semalam.
Danish membuka dompetnya dan mengambil benda itu. Lalu Danish mencoba menggabungkan benda itu dengan mainan kalung Indira. Dimana benda tersebut menyatu. Apa ini milik Indira? Kapan Dira datang ke Apartemennya? Fikir Danish menerka- nerka dan heran.
Pertanyaan tersebut terjeda setelah dokter pribadi Danish datang.
" Ada apa tuan? Apakah wanita ini yang sakit?" Ucap Dokter tersebut bergegas menghampiri Indira yang tengah terbaring di kursi ruangan Danish.
" Ia dok...tiba-tiba dia pinsan. Tapi sebelum ini dia terlihat pucat." Jelas Danish.
Dokter segera memeriksa Indira.
" Bagaimana dok? Dia sakit apa?" Tanya Danish setelah dokter tersebut selesai memeriksanya.
Dokter tersebut tersenyum" Dia kelelahan. Dia sedang hamil." Jelas dokter pribadinya kepada Danish.
" Apa hamil??? Tapi dok, dia..." Ucap Danish mengurung niatnya melanjutkan perkataannya jika Indira masih belum menikah bahkan, ia rasa Indira tidak memiliki kekasih. Kenapa asistennya tersebut bisa hamil? Fikir Danish.
" Kenapa tuan? Dia harus istirahat dirumah paling tidak tiga hari. Dia cukup stress dan juga kelelahan. Kalau dia tidak bisa menjaga kondisi tubuhnya, kemungkinan dia akan mengalami keguguran. Karena awal kehamilan, akan cukup rentan. " Jelas dokter. Bagaimana tidak stres, yang hamili Indira adalah Danish. Dimana Indira juga mengambil lembur dan selalu mendapatkan pekerjaan tambahan dari Danish.
" Baiklah dok...Terima kasih." Ucap Danish mengantar dokter sampai di ambang pintu.
Danish melihat Indira, lebih tepatnya ke kalung Indira. Lalu Indira tersadar berusaha membuka matanya dan mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat buram sosok didepannya.
" Maaf pak. Dimana kacamata saya?" Ucap Indira yang telah duduk mencari kacamatanya. Danish memberikan kacamata Indira. Indira memakainya dan melihat bosnya lagi.
" Maaf pak, kenapa saya bisa tertidur di ruangan bapak ya?" Tanya Indira, ketika ia tersadar bahwa ia terbangun di ruangan Danish.
" Tadi kamu pinsan." Jelas Danish.
" Duh, maaf pak..saya merepotkan bapak." Ucap Indira membenarkan duduknya yang sebelumnya berselonjor sambil memijat kepalanya yang masih terasa nyilu.
" Kau seharusnya bilang kalau lagi sakit. Jangan dipaksa." Ucap Danish.
" Maaf pak." Ucap Indira seakan bersalah telah merepotkan Danish.
" Dir, kalungmu bagus. Kau beli dimana? Sebentar lagi ulang tahun mamaku. Aku ingin membelikannya untuk dia." Ucap Danish tanpa berbasa-basi, langsung ke arah tujuannya. Jujur saja, mulai tadi Danish sangat kepikiran dengan kalung yang di pakai Indira.
" Oh..Indira tidak tau pak, yang jual kalung seperti ini dimana. Ini peninggalan almarhum ayah. Tapi sudah hilang satu pak setengah hatinya." Jelas Indira.
" Sayang sekali. Emang kapan hilangnya?" Lanjut Danish lagi semakin ingin tau.
" Satu bulan yang lalu pak. Saya sudah cari seisi Apartemen saya tapi gak ada." Jelas Indira.
Lalu Danish memperlihatkan setengah hati yang ia temukan. Membuat Indira terlihat bingung. Dan menganggap terjatuh di kantornya.
" Bapak dapat dari mana setengah hati ini? Ini memang milik saya. " Ucap Indira jujur.
" Di apartementku!" Jawab Danish jujur. Pernyataan Danish berhasil membuat Indira menganga dengan mata membulat.
" Mampus!!! Kenapa liontin itu bisa terjatuh di Apartement pak Danish? " Batin Indira terkejut, dengan jantung yang tiba-tiba semakin cepat. Posisinya sangat tidak menguntungkan dan menjebak. Hati Indira semakin was- was.
" Hellow...Dir..." Lambaian dan gertakan Danish berhasil membuyarkan lamunan Indira.
" E..sebenarnya liontin itu terjatuh saat saya menyelamatkan bapak waktu hampir terbunuh oleh tiga preman." Ucap Indira tetap mengelak. Hatinya terus bergemuruh, posisinya sangat terancam. Dan mulutnya asal bicara.
" Apa?? ternyata kau yang telah menyelamatkanku!! " Ucap Danish. Danish telah lama mencari keberadaan orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Tidak disangka bahwa Indiralah yang telah menyelamatkannya. Dimana memang suster sebelumnya memberi tahu ciri- ciri fisik wanita yang telah menyelamatkan dirinya, dimana memang ciri- ciri tersebut mengarah ke Indira.
Danish rasanya tidak habis fikir. Namun jika diterka ulang pernyataan Indira. Bahwa kalungnya hilang sebulan, sedangkan kejadian saat dirinya di tusuk adalah dua bulan lalu. Danish mencengkram liontin tersebut lalu menatap Indira kembali.
Indira sudah merasa panas dingin, berharap agar bosnya percaya dengan alasannya. Jika tidak, kemungkinan besar Indira akan menahan malu atau di depak keluar dari perusahaannya dan riwayatnya akan habis yang sebelumnya sudah hancur. Paling Tidak Indira masih bisa menggugurkan kandungannya. Daripada ia tidak di anggap anak oleh ibunya karena hamil dan juga kehilangan pekerjaannya.
" Ada apa pak? kenapa bapak menatap saya seperti itu. Saya punya bukti jika telah menyelamatkan bapak. Saya punya nada dering polisi itu." Ucap Indira sedikit menjauh dari Danish yang menatapnya tajam.
" Bukankah kau bilang jika Liontinmu hilang sekitar satu bulan? " Ucap Danish.
Dimana lontaran itu membuat Indira mati rasa. Dia harus menjawab bagaimana? Otaknya benar-benar tidak bisa berputar. Tidak bisa berfikir mencari cara agar menjauh dari situasi ini.
" Sedangkan aku mengalami penusukan itu sekitar dua bulan yang lalu." Lanjut Danish menatap tajam ke arah Indira yang mulai berkeringat dingin.
" Maaf pak...maaf...saya sudah berusaha menghindar dari bapak. Tapi bapak yang memaksa saya." Ucap Indira lansung bersujud di kaki Danish memohon maaf dan langsung mengakui pergulatan malam itu.
" Stop...apa saya yang memaksa??? bagaimana kau bisa ada di Apartementku saat itu?" Ucap Danish benar-benar tidak Ingat.
Yang Danish ingat adalah malam yang benar-benar cukup nikmat dan menggigit. Dan melihat itu adalah Indira sekarang rasanya Danish ingin mual. Bagaimana Danish bisa menggerogoti tubuh sekretaris buruknya ini? Danish merasa cukup sial. Ia mencengkram kepalanya dengan kuat.
" Bapak yang menelfonku untuk menjemput bapak. Bapak dalam keadaan mabok berat." Jelas Indira masih bersimpuh di kaki Danish.
" Sudah kuduga! Dia pasti akan segera mendepakku! Nasibku cukup sial! " Batian Indira semakin takut karena semuanya kini telah terbongkar, dimana Danish juga terlihat jijik dengan Indira.
" Sial..." Ucap Danish mengumpat. Bisa- bisanya dirinya memaksa sekretarisnya berhubungan int*m dengannya? Danish benar- benar tidak habis fikir.
" Sekarang kau keluar dari ruanganku. Dan istirahat di rumah selama tiga hari." Ucap Danish.
" Baik pak.." Ucap Indira pasrah.
Mungkinkah perintah Danish itu untuk selamanya? Yaitu dimana Indira tidak akan bisa menginjak perusahaanya kembali? Mungkin bosnya akan memecatnya? Entahlah, Indira berusaha menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh rekan kerjanya.