Masa-masa SMA memang masa-masa yang tidak bisa dilupakan. Mulai dari percintaan, persahabatan, bahkan perseteruan diantara sesama teman.
Bagaimana jadinya jika para anak-anak sultan berkumpul menjadi satu? banyak suka duka, canda tawa, yang akan mereka rasakan.
Yuk, simak keseruan mereka dalam masa-masa remaja yang sangat menyenangkan dan dibalut dengan kisah komedi yang akan mengocok perut kalian semua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon poppy susan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Cinta Mulai Tumbuh
Gavin dan kawan-kawannya duduk di paling depan. Gavin berdiri di depan pembatas untuk menyaksikan adiknya, sedangkan Gaza yang memang dari tadi memperhatikan Alea langsung mendekati Alea dan duduk di samping Alea.
"Hai."
"Hai, Kak."
"Oh iya, perasaan kita belum kenalan. Nama aku, Gaza," seru Gaza dengan mengulurkan tangannya.
"Alea."
Gaza sangat senang bisa berkenalan dengan Alea, sedangkan yang lainnya belum sadar karena fokus kepada balap.
Gavin mulai tenang karena Gabby sudah tak terlihat lagi, Gavin membalikan tubuhnya tapi Gavin dibuat kesal karena Gaza saat ini sedang asyik ngobrol dengan Alea.
"Kurang ajar, dia berani mendekati Alea," batin Gavin.
Gavin mengambil minuman botol dari dalam tasnya, lalu dengan tengilnya duduk di tengah-tengah Alea dan Gaza.
"Minggir, Lo," ketus Gavin.
"Apaan sih Lo, Vin?" kesal Gaza.
"Al, kamu mau minum," seru Gavin dengan memberikan botol minuman.
"Ah iya, terima kasih, Kak."
"Hai kutu buku, sana pergi ngapain masih di sini?" sentak Gavin.
"Suka-suka gue dong, dan gue mau duduk di sini," sahut Gaza dengan santainya.
"Wah, cari perkara nih orang," seru Gavin dengan senyumannya.
Gavin sudah mencengkram baju Gaza tapi dengan cepat Alea menahannya.
"Kak jangan, di sini banyak orang. Kakak mau di hakimi seluruh penonton di sini kalau melakukan kekerasan," bisik Alea.
Gavin melepaskan cengkeramannya, entah kenapa Gavin begitu penurut kepada Alea.
"Pergi gak dari sini, atau gue lempar Lo ke bawah supaya dilindas motor para pembalap!' sentak Gavin.
Gaza hanya bisa mengepalkan tangannya, dia tahu kalau saat ini bukan tempatnya untuk adu kekuatan jadi lebih baik Gaza mengalah dan pergi dari sana.
Cukup lama mereka beradu kecepatan di sirkuit itu, Ghani masih berada di urutan pertama dan di belakangnya ada Gabby yang sedang berusaha menyusul Ghani.
Ghani melihat dari kaca spionnya dan mulai memelankan laju motornya membuat Gabby memanfaatkan kesempatan itu.
"Cinta memang gila, untuk tahun ini aku rela jadi juara kedua demi Gabby," batin Ghani dengan senyumannya.
Suara bising motor sudah mulai terdengar, Gavin dan kawan-kawannya berdiri untuk melihat siapa yang berada di urutan terdepan.
"Itu yang di depan, Gabby!" teriak Alexa.
"Ayo Gabby, kamu pasti bisa!" teriak Alea.
"Come on, Gabby sedikit lagi," batin Gavin dengan mengepalkan tangannya.
Hingga akhirnya, Gabby berhasil menjadi juara pertama dan di belakangnya di susul oleh Ghani.
"Yeaayyy, Gabby menang!" teriak Alexa.
Alexa dan Alea saling berpelukan sembari berjingkrak-jingkrak kegirangan, begitu pun dengan Gavin dan ketiga sahabatnya saling berpelukan.
"Gila, si Ghani kok bisa kalah sih?" seru Garra dengan kesalnya.
Gavin dan kawan-kawannya segera keluar dari bangku penonton menuju sirkuit untuk menemui Gabby.
"Gabby!"
Alexa dan Alea berlari dan langsung memeluk Gabby.
"Kamu hebat sekali, Gab," seru Alea.
"Siapa dulu dong, Gabby," sahut Alexa.
Gabby tersenyum senang karena akhirnya bisa mengalahkan Ghani. Gavin menghampiri Gabby dan mengacak-ngacak rambut Gabby.
"Lo memang hebat."
"Makasih, Bang."
Gabby, Ghani, dan satu pembalap lagi naik ke atas podium untuk menerima tropi kemenangan. Tawa Gabby terbit membuat Ghani lagi-lagi terpesona akan kecantikan gadis itu.
Setelah menerima tropi, Gabby pun turun dari podium.
"Gabby."
Gabby menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya, Ghani segera menghampiri Gabby dan langsung mengulurkan tangannya.
"Selamat, atas kemenangannya."
"Terima kasih."
Gabby pergi tanpa membalas uluran tangan Ghani.
"Sungguh gadis yang sangat menarik," batin Ghani.
***
Keesokan harinya....
Seperti biasa, semuanya berangkat ke sekolah dan menjalani aktivitas seperti biasanya. Banyak teman-teman yang mengucapkan selamat kepada Gabby kecuali Vira.
"Kata Abi aku, walaupun kamu berhasil jangan membuat kamu menjadi pribadi yang sombong karena sombong akan menghancurkan segalanya," seru Aleena.
"Nah dengerin tuh tausyiah Bu Ustadzah, jangan sombong," seru Vina dengan melirik ke arah Vira.
"Kenapa kamu melihat ke arahku?" kesal Vira.
"Apaan, siapa juga yang lihatin kamu? mata aku itu juling, orang aku lihat ke sana kok," sahut Vina asal.
Teman-teman Vina menahan tawanya mendengar sahutan Vina yang asal ceplos itu.
Tidak lama kemudian, guru pun datang semuanya duduk dengan tenang dan fokus mengikuti pelajaran.
5 jam berlalu dengan cepat, bel istirahat berbunyi dengan sangat nyaringnya. Seperti biasa, anak-anak akan berhamburan berlari ke kantin untuk makan siang.
Aleena, Alea, dan juga Dira pergi ke mushala untuk shalat terlebih dahulu sedangkan Gabby, Alexa, dan Vina langsung menuju kantin. Beberapa saat kemudian, ketiga gadis cantik itu pun selesai shalat.
"Aleena, sejak kapan kamu berhijab?" tanya Alea.
"Aku sejak kecil sudah diajarkan pakai hijab sama Umi dan Abi aku," sahut Aleena.
"Apa tidak gerah?" tanya Dira.
"Tidak, kalau kita sudah terbiasa memakai hijab, dalam kondisi panas pun kita akan merasa nyaman."
"Kalau aku belum siap memakai hijab, takutnya aku gak betah dan justru malah di lepas lagi," seru Alea.
"Kata Abi aku, kalau kita ingin berubah harus dari hati jangan karena dorongan orang lain. Aku juga masih banyak kekurangan kok, bahkan hijabku pun belum sempurna tapi semuanya juga butuh proses," sahut Aleena.
"Pasti Umi dan Abi kamu, orang yang sangat taat beribadah ya?" seru Alea.
"Abi aku seorang ustadz, dan Umi aku pemilik pondok pesantren, jadi nilai-nilai agama dalam kehidupanku sangat kental."
"Wah, hebat sekali. Lain kali aku mau dong main ke rumahmu," seru Alea.
"Boleh banget kok, pasti Umi dan Abi akan senang kalau kalian datang ke rumahku," sahut Aleena.
Ketiga gadis cantik itu baru saja selesai shalat dan mereka berbincang-bincang sedikit sembari merapikan alat shalat mereka.
Ketiganya langsung menuju kantin menyusul teman-temannya, seperti biasa mereka akan tertawa bersama dan bercanda bersama.
"Hallo girls!" sapa Arsya.
"Hallo Kak Arsya."
"Boleh kami gabung?" seru Langit.
"Tentu saja boleh dong, Kak," sahut Vina kecentilan.
Keempat lelaki itu langsung gabung bersama para gadis.
"Al, aku cobain mienya ya," seru Putra dengan mengambil mangkok mie Alea.
"Ih, Kak Putra kebiasaan main ambil makanan aku," keluh Alea.
"Pelit amat Al, minta dikit doang."
Gavin memperhatikan Alea, sungguh kalau melihat Alea bawaannya Gavin ingin tersenyum terus. Alea memang gadis ajaib yang mampu mencairkan gunung es yang sama sekali tidak bisa disentuh oleh siapa pun.
Berbeda dengan Arsya yang saat ini hatinya juga sedang berbunga-bunga, bule yang satu ini mulai terpikat oleh Aleena si gadis Sholehah. Diam-diam Arsya curi-curi pandang kepada Aleena dan itu membuat Vira yang melihatnya mengepalkan tangannya.
"Awas kamu Dira, sepertinya ancaman aku waktu itu belum mempan," batin Vira.
Vira ternyata sudah salah paham, dia mengira Arsya sedang memperhatikan Dira karena posisi Dira saat ini duduk di sebelah Aleena.