Menikah atas keinginan orang tua merupakan sesuatu yang tidak di inginkan oleh siapapun termasuk Taka Sanjaya. Terlebih ia tidak tahu seperti apa bentuk perempuan yang di jodohkan dengannya. Ia merasa seperti membeli kucing di dalam karung.
Namun, apa jadinya jika kucing tersebut merupakan kucing anggora? Bagaimanakah kisah di antara keduanya?
Follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengunjungi Rumah Taka
Paginya setelah sarapan, Taka meminta izin pada ayah dan ibu mertuanya untuk membawa Diba ke rumahnya sebentar. Ia harus mengambil pakaian kerjanya. Karena besok ia akan masuk kantor lagi. Ia tidak ingin meninggalkan kantor terlalu lama di saat sedang banyak urusan.
Ayah dan ibu Diba tentu saja mengizinkan. Sebab putri mereka kini sudah menjadi milik Taka sepenuhnya.
Menggunakan mobil pribadi miliknya, Taka membawa Diba ke rumah. Dan hanya membutuhkan waktu sekitar lima belas menitan mereka sudah sampai. Kebetulan ia mengambil jalan alternatif. Jadi ia tidak perlu berdesak-desakan dengan kendaraan orang-orang yang hendak pergi bekerja.
"Assalamu'alaikum .." Ucap Taka dan Diba hampir bersamaan ketika mereka memasuki rumah.
"Walaikumsalam .." jawab seseorang dari dalam. Dan seseorang tersebut merupakan asisten rumah tangga di rumah itu.
"Den Taka? Ini istrinya?" tanya asisten rumah itu serata memandang Diba dengan tatapan takjub.
"Iya, namanya Diba." jawab Taka sembari mengenalkan istrinya.
"Assalamu'alaikum, bi .." ucap Diba seraya menelungkupkan tangannya.
"Walaikumsalam, non Diba. MasyaAllah .. Den beruntung sekali bisa dapat istri secantik non Diba," ucap si bibi tanpa melepaskan pandangannya dari Diba.
"Iya, Alhamdulillah, bi. Tapi, memangnya bibi sudah tahu Diba sebelumnya? Kok bibi bisa bilang Diba cantik? Diba kan pakai cadar."
"Ya ampun Den. Walaupun bibi tidak melihat wajah non Diba secara langsung, bibi sudah bisa tebak kalau non Diba ini pasti cantik. Seperti hatinya." puji si bibi.
"Terima kasih, bi. Bibi juga cantik," balas Diba.
"Ah non bisa saja. Bibi kan sudah tua, non."
"Tapi bibi emang benar, bi. Istri aku ini emang cantik banget." sahut Taka ikut memuji istrinya.
Di balik cadarnya Diba hanya bisa tersenyum dengan sepasang mata saling temu.
"Eh .. Ada menantu mama .."
Perhatian mereka teralih begitu mama Hartati datang menuruni anak tangga.
"Assalamu'alaikum, ma .." Diba memberi salam dan mencium punggung tangan mama Hartati.
"Walaikumsalam, sayang .." Mama Hartati lekas memeluk menantunya seperti putri kandungnya sendiri.
Taka menyalami mama nya usai mama Hartati dan Diba melepaskan pelukannya. Mama Hartati sampai terkejut, sebab sebelumnya Taka jarang bahkan hampir tidak pernah mencium tangannya. Beliau sangat bersyukur jika menikahkan Taka dengan Diba membawa perubahan dalam kebaikan.
"Papa udah berangkat ke kantor, ma?" tanya pria itu kemudian.
"Iya. Papa juga katanya mau ke luar kota untuk satu minggu ke depan. Nanti sore papa berangkatnya."
"Kalau begitu aku sama Diba nginap di sini aja dulu selama papa di luar kota. Aku tidak mungkin membiarkan mama di rumah sendirian."
"Mama gak sendiri, ada bibi, ada security juga di sini yang jagain rumah."
"Iya, aku tahu, ma. Tapi aku gak mungkin ninggalin mama sendiri di rumah." Taka menoleh ke arah istrinya. "Tidak apa-apa kan kalau nginap di sini selama papa di luar kota?"
Diba mengangguk. "Iya, mas. Diba tidak apa-apa."
"Bagaimana, ma? Aku sama Diba temani mama selama papa di luar kota, ya?"
Mama Hartati pun mengangguk. "Iya, syukurlah kalau begitu. Mama juga senang kalau misalkan kalian nginap di sini."
Setelah itu Taka mengajak Diba untuk pergi ke kamarnya. Kamar yang cukup luas dan dua kali lebih besar daripada kamarnya. Diba menatap ke sekeliling. Hanya ada tempat tidur, lemari besar, pendingin ruangan, dan nakas di samping tempat tidur.
"Mas mau ke kamar mandi sebentar, ya," pamit Taka di angguki oleh Diba.
"Iya, mas."
Taka melipir ke kamar mandi yang terdapat di kamarnya. Sementara perhatian Diba tersita pada foto dalam figura berukuran yang tepajang di atas nakas samping tempat tidur tersebut.
Perlahan langkahnya mendekati nakas tersebut kemudian berhenti. Dengan tangan yang sedikit gemetar Diba mengambil figura dan menatap seseorang yang ada di salam foto. Foto tersebut merupakan seorang perempuan.
"Perempuan di foto ini siapa, ya?" batin nya.
_Bersambung_