Jika ada yang harus disalahkan, maka permainan Truth Or Dare-lah yang harus disalahkan.
Karena semua berawal dari sana.
Permainan yang telah dicap sialan oleh cowok gondrong anggota inti The Lion. Sebuah permainan tidak masuk akal dari teman-temannya yang mau tidak mau harus ia selesaikan dikarenakan kebodohannya memilih 'Dare'.
Alhasil, cewek ketua ekskul modern dance yang mendapat julukan Queen Shadow SMA Garuda itu pun menjadi sasaran empuk permainannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Zakinah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN # 12
“Selamat pagi, cantik.”
Krystal tersentak ketika membuka pintu apartemen seorang cowok jangkung berdiri di depannya dengan memasang senyum lima jari. Krystal sempat tertegun sebelum akhirnya mendengus tidak suka. “Ngapain lo? Lupa gue pernah bilang apa sama lo?” ketusnya.
“Iya gue lupa. Soalnya yang gue bisa ingat cuma lo doang, sih.” Matanya mengerling jahil kemudian merebut tas ransel milik Krystal yang baru saja cewek itu akan pakai. Si empu bergerak tidak terima. “Eh, apa-apaan lo! Balikin tas gue!” pekiknya mengundang beberapa tatapan orang-orang yang unit-nya berada di dekat Krystal.
“Pagi ini lo berangkat bareng gue. Gak mau tau dan gak mau penolakan!”
“Lo kok, maksa?!”
“Karna gue tau lo tipe cewek yang dipaksa dulu baru mau. Sana kunci unit lo. Empat puluh menit lagi bel.” Dagu cowok yang memakai boomber hitam itu mengendik ke arah pintu.
Walaupun dongkol setengah mampus, Krystal dengan ogah-ogahan mengunci unitnya kemudian berjalan lebih dulu. Terkekeh geli, cowok itu mulai melangkah menyusul Krystal.
“Pelan-pelan jalannya atuh, Neng. Kecapean saya ngejarnya.”
“Bacot lo!”
Bagus terkekeh lagi lalu menepuk puncak kepala Krystal. “Galak tapi gue suka. Cantik soalnya.”
Kali ini Bagus yang berjalan lebih dulu akibat Krystal yang tiba-tiba terpaku di kakinya. Walau terdengar bercanda, bohong jika Krystal mengatakan tidak ada yang aneh pada dirinya ketika mendengarnya. Ia berdesir, merasa aneh pada perutnya namun ia menyukainya. Sebelum pikirannya semakin tersesat, Krystal menggelengkan kepala cepat.
“Helm-nya dipake, ya, Mbak. Biar perjalan hidup kita-eh perjalanan menuju sekolah aman.” Bagus nyengir. “Salah ngomong gue,” sambungnya kemudian memakaikan helm pada Krystal.
“Gue bisa sendiri.” Tangan Krystal yang hendak menepis tangan Bagus yang memakaikan helm menggantung di udara saat cowok itu menundukkan wajahnya setara dengan wajah Krystal. Refleks, Krystal menahan napas ketika aroma mint menerpa lembut wajahnya.
“Bernapas kali. Entar lo mati gue yang berabe.” Seolah tersadar dari alam bawah sadarnya, Krystal memukul keras lengan Bagus yang berani-berani mengerjainya padahal cowok itu hanya membantu mengaitkan pengait helm.
“Dasar lo rese!”
Bukannya mengaduh sakit, Bagus malah tertawa lalu menaiki motor Harley-nya disusul Krystal yang masih memasang raut wajah terpaksa. Krystal realistis, menurunkan egonya sedikit untuk menerima tumpangan Bagus agar dirinya tidak terlambat ke sekolah.
“Tal, lo gak takut jatuh kalo gak pegangan?” tanya Bagus. Menolehkan wajahnya untuk menatap Krystal.
Cewek itu mendengus kemudian menaruh kedua tangannya ke bahu Bagus dengan malas. “Udah. Jalan buru!”
“Eh, lo kira gue kang ojek pake pegang-pegang bahu segala? Masa lo kalah sama teletabis.” Bibir Krystal menipis menahan kekesalannya. “Lo jalan aja bisa gak, sih? Entar telat tau!”
Bagus mulai menyalakan mesin motor kemudian melajukan motornya. “Kalo gue jalan yang ada kita gak akan sampai ke sekolah. Emang lo bisa bawa motor sendiri?”
Krystal tidak lagi menanggapi. Ia hanya diam membiarkan Bagus berargumen sendiri hingga cowok itu lelah sendiri. Merasakan keterdiaman Krystal, Bagus melirik spion motornya. Dalam hati ia terus bergumam kata maaf berkali-kali untuk Krystal.
“Gue nyerah dan ngaku kalah aja, deh. Gue gak mau lanjutin dare ini lagi sama Krystal.”
“Lah, gak bisa gitu dong. Dare, ya, dare. Gak gantle banget lo, Gus.”
“Yan, gue kasian sama Krystal. Tuh cewek udah banyak bebannya. Lagian mau berbulan-bulan juga gue deketin kagak bakal dia baper sama gue. Orang dia gak suka sama gue.”
“Itu lo aja yang kurang gercep, Gus. Cewek kalo sering lo deketin, sering lo gombalin, sering lo kasih perhatian-perhatian kecil, pasti bakal luluh juga. Apa lagi ini Krystal, gue yakin tuh cewek butuh perhatian banget.”
“Tapi, Yan. Gu-”
“Gak ada kata nyerah. Sebelum dua bulan terpenuhi lo harus gencar deketin Krystal. Nanti gue sama yang lain bantu lo buat nyusul strategi PDKT sama dia.”
Percakapannya dengan Tian beberapa hari lalu kembali terngiang di otaknya. Bagus kembali menatap spion dengan nanar. Maafin gue, Tal, batinnya.
####
“Jadi kapan, nih, kita bakal ke puncak?” Malik membuka suara ketika ia baru saja duduk di dekat teman-temannya dengan semangkuk mie rebus yang ia bawa. “Jadilah, ke Bandung cuma beberapa jam doang, kok.” Ezra menjawab.
Setelah mengadakan rapat dengan mengikut sertakan Gilang, Laskar dan Nando, akhirnya mereka mendapatkan keputusan. Awalnya ada dua kubu yang menjadi perdebatan. Kubu Yogyakarta yang dipimpin Gilang dan kubu Bandung yang dipimpin Ezra. Dan akhirnya Bandung lah tempat yang menjadi destinasi mereka untuk me-refresh otak.
“Boleh bawa cewek gak, nih?” tanya Nando. Gilang, Laskar dan Nando saat ini juga ikut berkumpul di warung belakang sekolah. Di warung ini sebenarnya pengunjungnya tidak dibatasi. Banyak siswa lain dari sekolah lain juga yang berada di warung ini. Itulah sebabnya warung belakang sekolah ini selalu diwanti-wanti oleh guru kesiswaan agar tidak terjadi pelanggaran berat.
“Boleh, lah. Kan, asik camping-nya kalau ditemenin yang seger-seger,” sahut Malik menyetujui. “Tapi gue mau ngajak siapa, ya?” bingungnya kemudian yang disambut tawa mengejek dari temannya.
“Sok lu, Bambang! Cari cewek dulu sana.” Adnan menyoraki dengan melempar kulit kuaci pada Malik. “Tenang, cowok seganteng gue mana ada yang gak mau gue ajak. Entar gue kasih komisi,” balas Malik kepedean.
“Sejam berapa, bray?” timpal Tian menenggak soda kalengnya.
“Entar gue rapatin dulu sama tuh cewek,” jawab Malik.
Dimas tertawa. “Rapat apaan, Bang? Rapat biasa apa rapat-rapatan?” ejeknya dengan gelak tawa. Malik ikut tertawa dengan umpatan kecilnya.
“Eh, Nold. Lo sama siapa, dong? Alka sama adek gue pasti. Gue udah ada, yang lain juga. Lo doang, nih. Cari juga dong, bre,” seru Gilang dengan menyenggol lengan Arnold yang tampak tidak peduli dengan percakapan mereka. Cowok sarkas itu malah asik dengan kacang polong yang dibawa Laskar tadi.
“Gak butuh gue.” Suara mereka terdengar menyorak kecuali Alka yang cuma menggeleng-gelengkan kepala.
Jika orang mengatakan hati Alka yang paling dingin di antara semuanya maka Alka akan menjadi garda terdepan untuk mengelak. Nyatanya hati seorang Arnold lebih beku. Bahkan nyaris mati.
“Jangan gitu, bro. Tujuan kita buat adain camping kecil-kecilan bukan cuma buat refresh otak doang. Tapi juga refresh hati. Ya, gak?” tanya Adnan mengendik dagu pada teman-temannya. Tangan kanannya merangkul bahu Arnold akrab.
“Yoi. Gue gak mau denger, ya, Nold, kalau sampe ada berita yang bilang salah satu anggota The Lion ada yang gay.”
“Hust! Mulut lo setan!” umpat Arnold pada Tian yang sudah tertawa. “Ya, lagian. Lo jadi cowok cemen amat,” timpal Devan yang baru saja datang entah dari mana. Cowok bertopi dengan posisi terbalik itu mendekat kemudian menggeser Gilang tidak santai hingga Gilang nyaring terjungkang dari kursi.
Devan menepuk pundak Arnold. “Nold, lo boleh kecewa sama cewek. Lo boleh marah karna lo pernah dikhianatin. Tapi jangan karna satu cewek yang khianatin lo, semua cewek lo pukul rata, bro. Gak semua cewek sama kayak mantan lo. Seharusnya lo tuh bersyukur karna kedok tuh cewek cepat ketahuan.” Ucapan Devan yang terdengar bijak disambut anggukan oleh yang lain. Gilang yang tadinya ingin mengumpati Devan beralih menepuk bahu Devan tidak
santai.
“Nih, hasil didikan Aa Gilang,” ucapnya menepuk dada bangga.
Devan mendelik. “Najisin lo, Bang!”
Perbincangan mereka kembali berlanjut mengenai camping mereka dan masih memaksa Arnold untuk membawa perempuan. Sedangkan di sisi lain, Bagus sejak tadi hanya diam menyimak. Biasanya ia sangat bersemangat jika mereka akan melakukan touring. Namun kali ini raut wajahnya terlihat murung.
Adnan yang lebih dulu sadar akan sahabatnya itu mendekat lalu merangkulnya. “Lo kenapa diam aja, Gus?” suara Adnan ternyata menyita perhatian mereka hingga kini semua perhatian tertuju pada Bagus.
Bagus diam. Bimbang. Berbagai macam pikiran berperang dalam otaknya. Namun yang lebih mendominasi adalah sosok Krystal. Satu bulan sudah berlalu namun cewek itu belum juga menunjukkan ketertarikan padanya. Bukan, bukan itu yang lebih masalah bagi Bagus.
Melainkan, bagaimana jika akhirnya Krystal luluh padanya dalam empat minggu ke depan? Bagaimana jika cewek itu kembali menanggung sakit saat tahu ia hanya dipermainkan olehnya?
“Lo ajak Krystal, ya, Gus. Sekalian biar bisa ajang PDKT.”
Kalimat Malik semakin membuat Bagus lemas.
.
.
.
Bagus galau nih😭
Eh, ada yang mau nemenin Arnold ke Bandung?😂
bukan kah di seniornya
alka sm meira dah nikah
Nyesek sumpah😭😭
aq banjir thorrrr... ikutan nyeri kaya bagus..
😭😭😭😭😭
sekarang tinggal kisahnya aluna ama devan ya... ya.. ya.. ya..