Berawal dari sebuah pertemuan secara kebetulan dalam sebuah insiden, ternyata mereka telah dijodohkan oleh kakeknya sejak mereka masih belia. Dan sebuah insiden semalamlah yang menjadi awal pertemuan mereka.
Saling mengenal tetapi tidak sadar jika mereka yang telah dijodohkan. Dari sebuah keterpaksaan perjodohan hingga muncul benih cinta yang tak mereka sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna LA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Setelah makan siang itu Ara diantar lagi ke kantor oleh Andre. Saat di mobil Andre berjanji tidak akan mengganggu Ara lagi, tetapi Andre meminta Ara untuk tetap mau berteman dengannya. Dan Ara menyetujuinya, Ara juga berharap Andre tak ingkar dalam berucap.
“Thanks ya Ra sudah mau menemaniku makan siang.”
“Sama-sama, ingat ya dengan ucapanmu tadi, sana balik kerja, kalau tidak bisa dipecat bos kamu loh.”
“Iya iya Aurora cantik, aku balik ke kantor dulu yaa.”
“Idiihh sudah sana pergi.” usir Ara yang sudah risih dengan Andre. Kemudian Ara masuk ke kantor lagi dan berkutat dengan pekerjaannya.
Di sisi lain ada Devan yang sedang meremas sebuah kertas setelah dia melihat ponsel Rudi yang ternyata karyawan yang sedang diawasi itu bertemu, makan, bahkan memegang tangan gadis yang selama ini dia cari bahkan dia pikirkan.
“Siaaall!!! Mengapa mereka bisa bersama, apa mereka bersekongkol, aaaahhhh shiiiitt!!” umpat Devan.
“Tenang dulu tuan, atau kita langsung melangkah ke misi berikutnya untuk segera menginterogasi Andre saja?”
“Ya semakin cepat semakin baik, juga cari tahu mengapa dia bisa bersama gadis itu.”
“Baik tuan, segera saya laksanakan, permisi dulu.” pamit Rudi yang cari aman karena takut jika bosnya makin mengamuk.
“Eehh siapa suruh kamu pergi dari sini, tetap disini dan biarkan bawahanmu yang lakukan semuanya!” perintah Devan untuk Rudi
“Ba..Baik tuan.”
“Aaaaaahhhhh!! Matilah aku jika terperangkap disini bersama tuan. Tuan mengamuk tinggal aku yang di ngaaap.” batin Rudi menjerit.
Akhirnya Devan dan Rudi menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing di ruangan Devan. Masalah perusahaan sudah menemukan titik terang, tinggal membereskan masalah yang ada di beberapa anak cabang perusahaan. Dan hari ini mereka berdua masih tetap lembur agar besok bisa selesai semua dan keadaan kembali stabil.
“Aaaahhh akhirnya selesai!! Bagaimana dengan pekerjaanmu Rud?”
“Saya juga sudah selesai tuan, ini saya sedang mengecek kembali.”
“Naah begitu bagus dicek ulang.”
Sambil tersenyum ke arah Devan, “Memang biasanya tidak aku cek kah?” tanya Rudi dalam batin.
“Jika sudah selesai, yuukk kita pulang saatnya kita berakhir pekan besok, berkat bantuan orang baik, jadi kita tidak perlu lembur sampai besok, perlu kita cari orang baik itu”
“Baik tuan, saya bereskan dulu file ini terlebih dahulu.”
“Ya memang harus kamu yang membereskannya. Masa ya aku??”
“Hiiihh untung bos!!” batin Rudi sambil membereskan beberapa filenya.
“Sudah yuk pulang Rud, apa kamu tidak mau bermalam minggu dengan wanitamu?” ucap Devan sambil berlalu.
“Apa tuan sedang meledekku, wanita darimana jika setiap hari aku diberi lembur dan selalu bersamanya.” batin Rudi yang terus mengikuti langkah Devan.
“Kamu antar aku dulu ya Rud, terus bawa saja mobilnya pulang, besok senin kamu yang jemput aku di rumah.”
“Baik tuan.”
Di perjalanan Devan dan Rudi layaknya teman lama yang lama tak jumpa asyik mengobrol hingga Devan teringat lagi dengan Ara.
“Oo yaa Rud mengapa gadis itu bisa bersama Andre sialan itu, apa kamu sudah mendapatkan informasinya?”
“Menurut informasi yang diperoleh dari mulut Andre, gadis itu bernama Berlian Aurora bukan Ara seperti yang tuan kenal itu, dan gadis itu teman semasa kuliahnya dulu, dan Andre menyukai gadis itu, dan saat di restoran itu, dia mengungkapkan perasaannya tetapi ditolak oleh gadis itu, begitu informasinya tuan.”
“Aku seperti pernah mendengar nama itu, tapi siapa dan dimana aku mendengarnya ya Rud.”
“Maaf tuan saya belum sempat menyelidiki nama tersebut, karena saya masih mengurus masalah perusahaan.”
“Ya Rud tidak masalah, besok saja baru selidiki lagi.”
Tidak terasa ternyata mereka sudah sampai di rumah. Setelah Devan turun, Rudi berpamitan untuk langsung pulang. Lalu Devan masuk dan langsung menuju kamarnya karena dia tidak melihat kakek di rumah. Seperti biasa Devan langsung melakukan ritual mandinya ini dan itu. Setelah mandi dia berganti pakaian lalu dia berniat menemui kakek tapi saat melirik jam di meja, dia mengurungkan niatnya.
“Sudah larut, kakek pasti juga sudah tidur.”
“Eeehh amplop besar ini apa yaa, aku tidak ingat memiliki ini.” monolog Devan sambil membuka amplop, belum sempat melihat isinya ada ketukan di pintu.
“ Tok tok tok!”
“Den Devan ini bibi den?”
“Iyaa bii!” saut Devan dan meletakkan amplop tadi di laci meja kamarnya.
“Iya bi, ada apa?”
“Mau bibi hangatkan makanan untuk makan malam atau tidak den?”
“Tentu bi, Devan lapar sekali, apa itu tidak merepotkan bibi?”
“Tidak den sudah menjadi tugas bibi ini.”
“Terima kasih bi, sebentar Devan ambil ponsel dulu, setelahnya langsung turun untuk makan bi.”
“Baik bibi akan hangatkan dulu makanannya.”
Devan sudah turun dan sampai di meja makan, dia menunggu bibi Nur yang masih menghangatkan makanan, Devan lanjut memainkan ponselnya.
“Maaf den, bibi terlalu lama.”
“Tidak apa bi, bii apakah tadi kakek sudah makan dan meminum vitaminnya?”
“Sudah den, den Devan selamat makan, bibi ke dapur lagi, nanti jika sudah selesai panggil bibi saja.”
“Baik bi terima kasih sudah mau Devan repotin.”
“Jangan sungkan den.”
Devan buru-buru makan dan dia ingin segera merebahkan tubuh lelahnya. Dan Devan melupakan amplop yang dipeganya tadi dan dia langsung menuju balkon kamarnya agar makanan yang dia makan cepat terproses dan dia bisa segera tidur
jangan sampai emosi mu menghancurkan hati Ara ingat baru bertunsngsn loh bisa bubar apa kg yg udah nikah aja aja yg cerai
jangan sampai ego merusak segala2 y Devan🤭
Semoga berhasil dan lancar acaranya