Percayakah kamu adanya kesempatan kedua?
Seolah semesta ingin menghukum sekaligus memberikan kesempatan kedua bagi Senja, gadis Arogan yang selalu bersikap sesuka hatinya, entah bagaimana saat membuka mata setelah dibunuh oleh kekasih dan asistennya, Senja berada dalam dunia novel yang dia tulis sendiri.
Lantas, bagaimana kisah Senja di dunia Novel?
Siapkan imajinasi liar Anda, berpetualang dengan Airin Senja!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.angela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Strategi
Semua tim dokter yang ada di rumah sakit itu sudah berkumpul di ruangan rapat, membahas mengenai keadaan yang terjadi pada tuan Stanfield, mereka tidak bisa sembarangan bertindak, selain karena usia pria itu sudah senja, tubuhnya juga tentu saja semakin lemah terlebih karena ada penyakit lain yang menggerogoti tubuh pria itu.
Senja kalau itu sedang duduk bersama dua temannya yang asyik ngobrol dengan para suster yang membahas perihal keadaan tuan Stanfield.
Dia yang tidak tahu menahu hanya bisa duduk di pojok ruangan mendengarkan pembahasan mereka. Senja adalah tipe gadis yang tidak suka mencampuri urusan orang lain jadi dia lebih memilih untuk memasang earphone di telinganya, mendengarkan musik dari playlist di ponselnya ketika orang-orang sekitarnya menjadi narasumber untuk mereka sendiri mengenai keadaan Tuan Stanfield.
"Mbak Dinda, dipanggil sama dokter Husna, ikut ke ruangan meeting," ucap salah satu perawat senior.
Senja mengernyitkan kening, untuk apa lagi wanita jadi-jadian itu memanggilnya, bukan'kah saat ini tim dokter termasuk dirinya sedang berada di ruang rapat?
"Untuk apa ikut meeting, Mbak?" tanya Senja kepada perawat itu.
"Saya juga nggak tahu, Mbak. Saya cuma disuruh mencari Mbak Dinda dan meminta Mbak ikut ke ruang meeting," ucapnya menunggu langkah Senja. Bisa gawat kalau Senja sampai tidak mau ikut dengannya.
Senja tidak yang ingin menyulitkan perawat itu dengan memberikannya jawaban atas pertanyaannya, jadi dia menutup mulutnya dan mengikuti langkah wanita itu menuju lantai empat, tempat para tim dokter sedang rapat saat ini.
Insting senja mengatakan ini adalah jebakan untuknya lagi yang disusun oleh Husna dan bisa saja Dinda ikut juga berada di balik semua ini. Namun Senja yang punya keberanian dan juga yakin pada dirinya akan menghadapi semua rencana jahat mereka.
Senja menggeser pintu ruang rapat tepat saat semua mata menuju ke arahnya. Dinda duduk di kursi utama selayaknya pemimpin rapat yang punya kapasitas dan kemampuan, tapi semua orang tahu isi kepalanya nol besar.
"Masuk Din, semua udah pada nungguin kamu," ucap Dinda tersenyum mengejek
Senja tidak mungkin menunjukkan rasa gemetar dan juga takutnya ketika memasuki sarang sarang penyaman itu.
Dia berjalan dengan elegan ke arah kursi kosong yang ditunjuk oleh Dinda untuk ditempati. Ada dokter Husna di sebelah kirinya yang duduk sambil tersenyum menatap ke arah Dinda.
"Karena calon dokter muda kita, Dinda Dinata Putri sudah tiba di ruangan ini maka sebaiknya kita melanjutkan pembicaraan kita mengenai tindakan yang akan kita ambil untuk menyelamatkan Tuan stanfield," ucap Dinda penuh wibawa.
Dua jam lebih mereka membahas mengenai kondisi tuan Stanfield dan tindakan apa saja yang perlu mereka lakukan.
Senja yang mendengarkan semua yang dikatakan para dokter itu, sangat menggelikan bahkan untuk dokter dengan usia 40 tahun pun tidak mengerti harus apa!
Padahal berdasarkan catatan medis yang dibaca Senja, harusnya pria itu segera ditangani, dilakukan operasi karena kemungkinan benturan keras yang dia terima membuatnya hingga saat ini tidak sadarkan diri.
"Perlu saya ingatkan tindakan kita tidak boleh mengecewakan keluarga Stanfield, karena mereka adalah pemilik rumah sakit ini juga. Jadi sebisa mungkin kita lakukan yang terbaik," ucapkan Dinda menutup rapat sore itu.
"Ada masalah apa?" tanya Tina yang merasa khawatir terhadap Senja.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, seperti biasa tampaknya kakakku ingin mempermalukanku kembali. Dia memintaku menjadi salah satu tim dokter yang mengurus tuan Stanfield."
"Bagaimana mungkin, kau adalah mahasiswa kedokteran yang bahkan belum wisuda mengapa dia mengharapkanmu ikut merawat pasien sekelas tuan Stanfield?" tanya Tina duduk di samping Senja.
"Justru karena itu, bisa dipastikan niat Senja kali ini dengan menghancurkanku. Bayangkan kalau kesalahan yang terjadi di ruang operasi ataupun saat penanganan tuan Stanfield salah langkah, aku yakin mereka akan melimpahkan semua kesalahan itu padaku. Jangan-jangan justru menjebakku seperti yang terjadi pada perawat yang kemarin kamu ceritain itu," ucap Senja memandang ke depan, tepat saat itu muncul sosok yang baru beberapa hari lalu dia temui tanpa sengaja.
"Katakan di mana ruangan ayah saya!" ucapnya tanpa basa-basi kepada Senja. Gadis itu gelagapan diserang tiba-tiba seperti itu.
"Di lantai empat, ruang VIP," jawabnya gugup. Entah mengapa, sosok pertemuannya di mall beberapa hari yang lalu dan mendapati pria itu secara tidak sengaja membantunya menyelesaikan masalah dengan kekasihnya yang arogan, membuat Senja seolah tersihir dengan hipnotis mata pria itu.
Tidak membuang waktu, Edward berlalu bersama Tomi, asistennya menuju ruangan ayahnya dirawat.
Susan juga sudah berada di sana, bagi keluarga mereka disediakan satu ruangan untuk mereka bisa beristirahat saat menunggui ayah mereka.
"Menyeramkan banget tahu nggak auranya, udah kayak mafia," ucap Rina mengelus dadanya, gadis itu cepat sekali jantungan setiap ada yang membuatnya takut dan risau.
***
Kembali Senja bersama empat orang tim dokter dan beberapa perawat diminta datang menghadap Edward. Pria itu meminta agar tim yang akan merawat dan menyembuhkan ayahnya bisa dia kenali, dia tidak akan percaya kepada dokter abal-abal yang bisa melakukan kesalahan dan berakibat fatal pada ayahnya.
Senja hanya diam, kala pria arogan itu dengan mata elangnya menatap tajam satu per satu dokter yang ada di hadapannya, hingga tiba pada dirinya yang berada pada baris paling ujung. Edward tahu kalau Senja bukan dokter, tapi masih koas di rumah sakit itu.
"Mengapa gadis ini ada di sini?" hardiknya menatap tajam ke arah Dinda guna meminta pertanggungjawabannya sebagai kepala rumah sakit.
Untuk sesaat Dinda ketakutan mendapati amarah Edward. Dia tidak ingin muslihatnya ketahuan menyisipkan Senja di antara tim dokter yang akan merawat ayah tuan Stanfield.
Seharusnya saat Edward meminta tim medis yang mengurus ayahnya datang menghadapnya, Senja tidak perlu ikut, biar'lah hanya para dokter yang sudah senior yang menghadapi Edward,.tapi lagi-lagi dia melakukan kesalahan dengan membawa Senja diantara para dokter itu.
"Anggap saja dokter Dinda sekalian belajar bagaimana cara bekerja di ruang operasi, Tuan Stanfield, karena ayah saya berharap agar dia bisa belajar bersama para dokter yang hebat-hebat ini," jawab Dinda berimprovisasi.
"Apa Anda pikir kondisi ayah saya untuk main-main? Bagaimana kalau dia melakukan kesalahan? kamu mau mempertaruhkan nyawa ayah saya demi kepentingan adik Anda?" salak Edward yang marah karena merasa keputusan yang diambil Dinda tidak masuk akal.
Selama ini Edward tidak peduli mengenai sakit ini,.dia lebih memilih untuk mengurus perusahaan mereka yang lebih maju dan membiarkan keluarga Dinata yang mengurusnya, dengan pembagian hasil yang adil bagi kedua belah pihak.
"Maaf tuan, saya tidak pernah berpikir seperti itu, maksud saya calon dokter Dinda pasti bisa membantu walaupun dia bukan dokter yang sudah punya pengalaman banyak dan profesional. Namun, bila Anda memang merasa keberatan akan keputusan kami, dokter Dinda hanya akan memantau di sudut ruangan, mungkin untuk membantu memberikan peralatan kepada dokter yang bekerja atau membantu perawat yang ada di dalam tim itu," terang Dinda masih dengan ketakutan luar biasa.