Devina Stefani Germanotta, wanita yang tengah hamil tua berusia 25 tahun berjalan masuk ke dalam rumah setelah memeriksa kandungannya ke rumah sakit Sejahtera Harapan Bunda.
Wanita itu menyeret dirinya ke rumah sakit, karena suaminya tidak punya waktu untuk mengantar dirinya dengan alasan sibuk mengurus perusahan yang sedang berkembang pesat.
Devina berjalan menuju kamar, karena tubuhnya terasa pegal sekali. Dan ia ingin segera mandi, agar tubuh pegalnya bisa kembali segar.
Baru separuh pintu di buka, Devina malah mendengar suara des*h*n seorang wanita tepat di dalam kamarnya. Ketika ia menghidupkan lampu kamarnya, sontak saja matanya menangkap dua orang berlawanan jenis, sedang bergumul di atas tempat tidur yang biasa ia gunakan untuk berhubungan dengan suaminya.
Namun, kini suaminya menggunakan tempat tidur itu untuk bergumul dengan wanita yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri, yaitu Vindy Bernadette Claudia.
Tapi... untuk mengetahui lebih lanjut, ikutin terus dong alur cer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12.
Sinopsis – 12.
"Wah... Nona Devina ini suatu mukjizat ya, kamu baru siuman dari koma tapi kondisimu sudah langsung stabil seperti ini saja?" ucap sang dokter sambil tersenyum setelah memeriksa kondisi tubuh pasiennya. Sedangkan Devina alias Verlyn, hanya terdiam menatap wajah dokter dengan ekspresi bingung karna belum mengerti dengan apa yang terjadi padanya.
"Tapi... Nona, meskipun begitu? Kamu tetap harus menjaga kesehatan, apalagi kamu habis operasi sesar, jadi kamu jangan banyak beraktivitas dulu, karna bekas jahitan mu ini belum sepenuhnya mengering oke?!" jelas sang dokter berbicara panjang lebar untuk memberitahu.
"Dok... Bukannya kalau habis kecelakaan pesawat, yang sakit itu kepala? Tapi... Ini kok lain, operasi, memangnya aku habis lahiran?!" ucap Verlyn bertanya dengan ekspresi bingung, membuat pria berjubah putih yang ada di sampingnya menjadi ikut bingung juga di kala mendengar penuturan wanita di hadapannya.
"Hahahaha... Nona, pertanyaan mu lucu juga ya? Nona... itu, habis kecelakaan mobil bukan pesawat? Dan... sebelum nona kecelakaan, nona sedang hamil tua saat itu? Tapi... karna kondisi nona tidak memungkinkan untuk melahirkan secara normal, jadi kami sebagai tim medis harus segera melakukan tindakan yaitu dengan cara mengoperasi sesar nona?" ucap sang dokter berbicara panjang lebar untuk menjelaskan agar wanita di hadapannya mengerti apa yang sebenarnya terjadi padanya.
Sementara dari luar ruangan, ada Bu Siska yang sedang kesal sekaligus merasa cemas karna menantunya ternyata sudah siuman dari komanya.
"Pa...?!" ucap Bu Siska dengan suara terdengar kesal, setelah panggilan teleponnya tersambung.
"Apa sih Ma?" tanya Tuan Bagas dari seberang telepon.
"Devina... Pa, sudah siuman?" rengek Bu Siska pada suaminya dari seberang telepon.
"Ya... Alhamdulillah dong Ma kalau Devina sudah siuman, Papa jadi bisa bernafas lega kalau begitu?" ucap Tuan Bagas penuh dengan kebahagiaan di kala mendengar berita dari istrinya tersebut.
"Tapi... Mama—"
"Suster, ayo bawa anak itu masuk?" ucap Bu Siska langsung terpotong, di kala dokter yang menangani Devina tiba-tiba memanggil suster untuk mengambil anak yang ada di gendongannya.
"Baik dokter? Bu maaf, bolah saya ambil dulu cucunya?" balas suster sambil meminta izin terlebih dahulu sebelum mengambil anak Devina dari gendongan Bu Siska.
Dengan keadaan terpaksa. "Mama gak rela kalau cucu kita bakal di ambil oleh Devina Pa?" Bu Siska akhirnya menyerahkan cucu kesayangannya pada suster dengan tatapan sinis sambil terus melanjutkan percakapannya dengan suaminya di seberang telepon.
"Lah... kok Mama kayak gitu sih, Arsha kan memang anak Devina Ma? Mama... memang oma dari cucu kita, tapi Devina adalah ibunya? Mau sebesar apapun kasih sayang Mama terhadap Arsha, Devina tetap memiliki hak penuh atas anaknya dan Mama gak boleh melarang mereka untuk bersama?" ucap Tuan Bagas berbicara panjang lebar dari seberang telepon untuk memberitahu sekaligus mengingatkan istrinya agar tidak memisahkan ibu dari anaknya.
"Pokonya Mama gak rela, Mama gak rela!!"
Tuutt. Tuutt. Tuutt.
Dengan perasaan marah, Bu Siska langsung memutuskan panggilan teleponnya secara sepihak.
"Astaga... Mama, susah sekali sih di bilangin?" gumam Tuan Bagas sambil menatap layar ponselnya, setelah istrinya mengakhiri panggilan telepon secara sepihak.
Sementara di dalam ruangan. " Anak siapa itu dok, kok di bawa masuk ke sini?" Lagi-lagi Verlyn bertanya dengan ekspresi bingung setelah melihat anak Devina di bawa masuk ke ruangannya.
"Ini anak nona?" jawab dokter dengan suara lembut sambil tersenyum.
"Lah... dok, memang benar ya dok aku habis lahiran?" ucap Verlyn dengan ekspresi terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya? Silahkan beri asi pada anak nona terlebih dahulu, dan kami akan keluar sebentar? Setelah memberi asi, nona pencet tombol merah yang ada di sebelah nona? Karna setelah menyusui, anak nona akan kami masukan kembali ke ruang inkubator?" jelas sang dokter kemudian memberikan anak itu pada wanita di hadapannya.
Meskipun sedikit ragu, namun Devina alias Verlyn tetap menerima dan perlahan memberi asinya pada anak itu.
"Sebelum kecelakaan perasaan aku gak hamil deh? Tapi kenapa aku tiba-tiba udah punya anak saja " monolog Verlyn dalam hati, sambil menyusui anak yang ada di pangkuannya. Lalu dokter dan suster yang mendampingi perlahan melangkah keluar dari ruangan itu.
"Emang sedikit geli sih? Tapi gak apalah, biasanya juga aku menyusui bayi jauh lebih besar dari pada ini, punya kumis malahan " monolog Verlyn lagi dengan dirinya sendiri, sambil terus memberi asinya pada anak yang ada di pangkuannya itu, dan sesekali tersenyum karna merutuki nasibnya yang sedikit lucu menurutnya.
"Hai... kamu, awas ya jangan sampai membuat lecet cucu kesayangannya ku?"
Sedangkan Bu Siska yang masih memantau di dalam ruangan itu, menegur menantunya agar tidak melukai cucu kesayangannya.
"Apa sih emak-emak ini, orang lagi menyusui malah di tegur-tegur segala " batin Verlyn melirik sebentar, kemudian kembali menyusui anaknya lagi.
Bersambung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...****************...
Nah... loh, penasaran kan dengan ceritanya dan sebelum lanjut, jangan lupa ya tinggalkan jejak terlebih dahulu supaya author tetap semangat dalam berkarya. Oke 👍👍
See you again thanks for watching 🙏🙏🙏