Bisa menjalani sebuah pernikahan yang bahagia, mungkin adalah dambaan bagi setiap wanita yang ada di dunia ini. Namun apalah jadinya nasib dari sebuah pernikahan itu apabila sang suami sudah tak mempercayai istrinya?...
Maura Vinaya, seorang gadis yatim piatu yang berparas cantik. Sungguh memilukan nasib yang harus diterimanya. Di malam pertamanya, sang suami malah menuduhnya dengan tuduhan yang begitu sangat melukai hati dan juga harga dirinya.
Entah apa yang terjadi, laki - laki yang masih belum genap satu hari resmi menikahinya itu, malah dengan begitu teganya menuduh jika dirinya sudah tak suci lagi.
Sungguh memang nasib, akibat dari kesalahpahaman itu, membuat dirinya dan juga sang suami menjadi harus berpisah.
Namun sungguh sayang seribu kali sayang, disaat dirinya dan sang suami telah berpisah, dirinya malah dinodai oleh mantan suaminya sendiri.
Hingga dari kejadian yang begitu memilukan itu, telah mampu menghadirkan adanya malaikat kecil di dalam rahimnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayuk Handayani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maafkan Aku Sayang
Selamat Membaca
🌿🌿🌿🌿🌿
Sinyal - sinyal alam mulai dirasakan oleh seorang pria dengan tubuh kekar dan besarnya yang terlalu lama untuk tersadar dari tidurnya.
Ia tidur dengan begitu sangat pulasnya hingga waktu pun telah hampir menembus maghrib. Sungguh aneh namun nyata itulah yang terjadi pada Rendra.
Rendra memang akan membutuhkan waktu yang terbilang lama ketika akan sadar dari tidurnya yang diakibatkan oleh rasa mabuk.
Karena kegiatan minum - minumannya di club membuat Rendra sangat lama dari tidurnya dan itulah yang memang menjadi kebiasaan Rendra.
Dan kini, di waktu yang sudah hampir menjelang maghrib ini Rendra baru mulai tersadar dari tidur panjangnya, dengan tanpa mengetahui bagaimana keadaan di rumahnya saat ini, Rendra masih harus mengumpulkan serpihan - serpihan nyawa dan tenaganya sehingga benar - benar sepenuhnya tersadar.
" Ssshhh... kepalaku ". Rintih Rendra karena merasakan kepalanya yang masih terasa agak berat.
" Kepalaku kenapa berat seperti ini? ". Dengan memegangi kepalanya Rendra mencoba mendudukkan tubuh besarnya itu dengan benar.
Rendra mencoba memijat - pijat kepalanya yang masih terasa agak berat ini, semoga dengan pemijatan ini bisa mengurangi rasa tak nyaman di kepalanya.
Dengan masih memijat - pijat kepalanya, entah mengapa ada sesuatu yang aneh dalam pandangan Rendra. Rendra merasa suasana ruangan di kamar ini nampak sedikit berbeda.
" Ini bukan kamarku.... hah?, di mana bajuku? ". Heran Rendra.
Rendra bertanya - tanya karena keadaannya sendiri. Dirinya mencoba menelisik terhadap keadaan di sekitarnya, dan anehnya kondisi kasurnya sangatlah berantakan.
Hingga pada akhirnya pandangan Rendra tertuju pada beberapa bercak merah yang ada di sprei kasur dan juga selimutnya.
" Ini apa?... ".
Deg....
Seketika itu tubuh Rendra seolah terdiam membeku. Rendra sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Rendra sangat mengenali akan adanya bercak - bercak merah itu. Bercak merah itu adalah darah.
" Ya Tuhan, apa yang sudah terjadi? ". Resahnya.
Dengan menggunakan kepalanya yang masih terasa agak berat, Rendra mencoba mengingat dengan apa yang sudah terjadi.
Rendra menggunakan memorinya untuk memutar ingatannya tentang apa yang telah terjadi sampai membuat dirinya berada di kamar ini, hingga pada akhirnya...
Deg....
Dada Rendra terasa seolah dihantam dengan batu besar, menjadi retak namun tak berdarah. Rasanya begitu sangat sesak namun deru nafasnya malah menjadi cepat. Serpihan - serpihan akan kejadian yang dilakukannya nampak dengan jelas dalam memorinya, hingga sekian pada deretan ingatannya itu, akhirnya Rendra benar - benar mengingat akan kejadian di mana dirinya telah merudapaksa Maura.
" Ya Tuhan, ya Tuhan, Maura ". Dengan penuh rasa khawatir Rendra mulai merasa bersalah pada perbuatannya.
" Ya Tuhan, maafkan aku sayang, maafkan aku ".
Jadi benar dirinya telah memperkosanya, dirinya telah memperkosaa Maura.
Ternyata selama ini istrinya Maura masih seorang gadis perawan, dan mirisnya dirinya telah mengambil paksa keperawanan istrinya itu dengan cara yang biadab.
Dengan tanpa memikirkan apa - apa lagi Rendra mulai menyingkap selimut yang menutupi setengah dari tubuhnya. Nahas, pandangannya menjadi terheran setelah melihat adanya cairan merah yang juga bercampur dengan cairan putih miliknya yang ternyata masih menempel pada senjatanya itu.
Meski sudah terlihat mengering, Rendra tetap bisa melihat dan juga mengenalinya dengan jelas jika benihnya sudah keluar dengan jumlah yang sangat banyak.
" Ya Tuhan, aku baru ingat, aku sudah mengeluarkan nya di dalam berkali - kali, maafkan aku Maura, semoga kamu mau memaafkan ku ". Sesal Rendra.
Rendra kembali bergegas dan turun dari ranjang kasurnya. Ia ingin kembali mengenakan pakaian yang telah dihempaskan nya dengan tidak karuan itu.
Sungguh nahas, lagi - lagi pandangan Rendra menjadi terfokus akan adanya bercak darah di lantai kamarnya, bahkan juga ada bekas tapak kaki mungil yang juga terbentuk karena bercak darah itu juga, dan itu sudah mengering. Bisa Rendra pastikan jika bekas kaki mungil ini adalah bekas kaki Maura.
" Ya Tuhan, maafkan aku, maafkan aku sayang ".
Rasa bersalah Rendra semakin bertambah dan bertambah saja. Sudah tak bisa dibayangkan lagi bagaimana rasa penyesalannya setelah mengetahui akan bagaimana nasib istrinya Maura.
Sebegitu banyaknya kah darah yang dikeluarkan oleh istrinya Maura akibat dari perbuatannya. Iya, tentu saja Maura mengalami pendarahan hebat hingga seperti ini, karena dirinya pun sudah melakukan perbuatan bejatnya itu hingga berkali - kali.
" Sial... ini semua gara - gara Nindi dan obat sialan itu, sial sial sial... ". Bahkan Rendra masih tak mengenakan pakaiannya.
" Maura, aku harus menemuinya, maafkan aku sayang ".
Rasa bersalah, marah, khawatir, semuanya telah bercampur aduk menjadi satu. Apa yang dirasakan oleh Rendra benar - benar sudah tak karuan.
Tuduhannya selama ini tidaklah benar tentang Maura. Istrinya Maura adalah seorang gadis yang masih suci, dan pria pertama yang telah menyentuhnya adalah dirinya sendiri.
Hanya ada satu hal yang ingin Rendra lakukan saat ini, yaitu menemui istrinya Maura dan meminta maaf kepadanya. Entah bagaimana kondisi istrinya Maura saat ini. Rendra berharap semoga Maura tak melakukan hal - hal yang dapat merugikan dirinya sendiri.
*****
Waktu maghrib telah usai, mungkin tak lama lagi sudah hampir memasuki waktu isyak.
Tak butuh waktu lama bagi Rendra untuk segera sampai di rumah kontrakan istrinya Maura.
Rendra sangat yakin jika istrinya itu sedang mengurung diri di dalam rumahnya. Hal itu terlihat dari gorden jendela rumah Maura yang tertutup rapi dari dalam.
Hingga pada akhirnya Rendra telah benar sampai di depan pintu rumah istrinya ini.
Tok... tok... tok...
Rendra mencoba mengetuk pintu rumah ini.
Tok... tok... tok...
Lagi, dirinya mengulangi lagi untuk mengetuk pintu. Rendra memang sengaja tak mengeluarkan suaranya. Rendra tidak ingin jika istrinya Maura malah tak membukakan pintu untuknya disaat mengetahui jika dirinya lah yang datang.
Tok... tok... tok...
Ternyata Maura masih tak kunjung membuka pintu rumahnya.
" Maura, buka pintunya sayang ". Gumam Rendra.
Sayangnya dengan suara yang selirih itu tentu Maura tak dapat mendengarnya.
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
" Ayolah buka pintunya sayang, aku ingin menemui mu Maura ".
Nomor telepon yang biasa digunakan untuk menghubungi Maura sudah tak bisa dirinya hubungi lagi karena handphone Maura memang sudah tak aktif lagi. Entah Maura yang sudah berganti nomer handphone atau memang handphone nya yang sudah tidak aktif sehingga Rendra pun menjadi kesulitan saat menghubunginya.
Tok... tok... tok...
" Maura, buka pintunya Maura ". Rendra pun mulai bersuara dengan agak nyaring.
Mau bagaimana lagi, semoga dengan cara ini istrinya Maura bersedia untuk membukakan pintu untuknya.
Tok... tok... tok...
" Maura buka pintunya sayang, aku tahu kamu ada di dalam, buka pintunya aku ingin bicara denganmu sayang ". Seru Rendra.
Tok... tok... tok...
" Maura, aku mohon buka pintunya sayang, beri aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya ". Seru Rendra.
Tok... tok... tok...
Tok... tok... tok...
" Permisi, ada apa ya nak? ". Seru sapa suara seorang wanita yang datang dari arah belakang tubuh Rendra.
Reflek Rendra pun menjadi menoleh ke arah belakang tubuhnya. Ternyata yang datang adalah seorang ibu - ibu yang sudah cukup berumur, jika dilihat dari keadaannya ibu - ibu ini beberapa tahun terlihat lebih tua dari mamanya.
" Bu, saya Rendra, saya ingin bertemu dengan Maura, tapi Maura masih belum membukakan pintu, bisa tolong bantu saya agar Maura mau membukakan pintu rumahnya ". Sahut Rendra.
" Mohon maaf nak Rendra, nak Maura nya sudah tidak tinggal lagi di kontrakan ini ".
Deg...
" Saya pemilik kontrakan di rumah ini, nak Maura sudah pindah, baru hampir tadi siang tadi nak Maura yang mulai meninggalkan kontrakan milik ibu ". Sahut sang ibu pemilik kontrakan.
" Pergi?, pergi kemana bu?, bisa ibu kasih tahu kemana Maura pergi? ". Tanya Rendra.
Rendra merasa sangat khawatir jika dirinya sampai tak bisa bertemu dengan Maura lagi.
" Kalau soal itu ibu juga kurang tahu nak, karena yang datang ke rumah ibu dan menyerahkan kunci kontrakan ini adalah teman nak Maura, kata temannya itu nak Maura tidak ingin tinggal di kontrakan milik ibu lagi, nak Maura pergi ke tempat lain nak ". Jelas sang ibu kontrakan.
" Maksud ibu teman Maura yang datang itu perempuan? apa namanya Audi? ". Rendra sangat berharap jika teman Maura yang ibu kontrakan ini maksud adalah Audi, sehingga kemungkinan Audi bisa mengetahui di mana Maura berada atau mungkin Maura memilih tinggal di rumah Audi.
" Tidak nak, teman Maura yang datang itu laki - laki, dia datang dengan menyerahkan kunci kontrakan milik ibu, katanya atas permintaan nak Maura ". Jelas sang ibu kontrakan.
Mendadak perasaan Rendra menjadi sangat khawatir. Rendra merasa khawatir setelah mendengar jika teman Maura itu adalah seorang pria, bukan karena Rendra cemburu melainkan karena Rendra merasa sangat khawatir jika istrinya Maura malah mengalami hal - hal yang tidak - tidak dari pria itu.
Karena rasa khawatirnya yang teramat sangat, Rendra kembali melangkah untuk menuju mobilnya tanpa permisi terlebih dahulu pada ibu pemilik kontrakan ini.
" Ya Tuhan, anak itu main langsung pergi, setidaknya pamit dulu lah kalau dia memang benar temannya nak Maura ". Gumam sang ibu kontrakan dengan sambil lalu menggeleng.
Nampaknya ibu pemilik kontrakan ini tak mengenali seorang Rendra. Seorang pengusaha dan juga investor ternama dengan segudang kekayaan yang begitu melimpah ruah.
Rendra sendiri sudah tak bisa berpikir jernih. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana agar dirinya bisa bertemu dengan istrinya Maura.
Rendra sangat berharap jika istrinya Maura berada di rumah Audi. Rendra ingin menjemput istrinya Maura. Iya istrinya, karena Maura memanglah istrinya.
Bersambung........
🙏🙏🙏🙏🙏
❤❤❤❤❤