"Ceraikan Rey, dan kembalilah padaku!"
"Aku tidak bisa." Ujar Amora dengan wajah datar.
Farhan menatap Amora dengan bingung.
"Kenapa? Bukankah kita sudah sepakat menjadikan Rey sebagai suami sementara agar kita bisa menikah kembali?"
"Aku mencintainya."
"Apa?"
"Kami saling mencintai dan sampai kapanpun kami tidak akan pernah bercerai. Terimakasih karena memilihkan Reyhan untuk menjadi suami sementara untukku. Tapi sekarang semuanya berbeda. Aku ingin dia menjadi suamiku selamanya. Dan maaf, aku tidak bisa kembali padamu."
Awalnya, Farhan memilih sepupunya yang bernama Reyhan untuk menjadi suami sementara bagi Amora sang mantan istri agar keduanya bisa rujuk kembali. Ia sudah menjatuhkan talak tiga, dan jika ingin kembali pada Amora maka Amora harus menikah dengan pria lain terlebih dahulu. Tapi siapa sangka, cinta tumbuh antara Amora dan Reyhan hingga mereka tak ingin berpisah. Bagaimana kelanjutan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Republik Septy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku tidak gila
“Apa Kau sudah tidak waras?” Ucap Reyhan setelah mendengar permintaan Farhan yang tak masuk akal menurutnya. Ada guratan kecewa yang terpancar dari wajah pria itu. Mereka sedang berada di apartemen milik Reyhan, keduanya duduk di ruang tamu bernuansa hitam putih.
“Ayolah Rey, bantu kita.” Farhan memelas.
“Tidak. Aku tidak mau!” tolak Reyhan dengan tegas. Ia tidak akan menyetujui rencana Farhan. Ia tidak ingin menjadi suami sementara seperti yang di katakan Farhan. Pria itu berdiri, menuju jendela kaca yang ada di sudut dinding.
“Rey, hanya kamu harapan kita. Aku hanya percaya sama kamu.”
Reyhan bergeming. Ia tak menoleh sedikit pun, matanya tertuju pada pemandangan di luar jendela kaca. Beberapa objek terlihat seperti titik-titik dari lantai atas.
“Aku masih sangat mencintai Amora, Rey. Aku tidak ingin kehilangan Amora. Jadi aku mohon, menikahlah dengan Amora. Jadilah muhalil, hanya tiga bulan saja.” Farhan memohon, ia berharap Reyhan mau mengikuti idenya.
Reyhan membalikkan badan, berjalan menuju tempat sepupunya berada.
“Cinta kamu bilang?” Reyhan mendengus kesal. Rahangnya mengeras, urat-urat di wajahnya terlihat menonjol. Sedangkan kedua tangannya terkepal menahan gejolak emosi yang meluap.
“Iya, aku sangat mencintai Amora. Ayolah ... Aku tidak bisa hidup tanpa dia.”
“Lalu mengapa kamu khianati Amora? Apa itu namanya cinta? Kamu belum mengerti apa arti cinta yang sebenarnya.”
“Aku khilaf. Sudah aku bilang, aku khilaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi, aku mohon. Bantu aku.”
“Nikmati saja hasil dari kebodohanmu sendiri. Renungkan! Dan rasakan dulu kesendirian yang akan menyiksamu. Jangan mentang-mentang Amora mencintaimu, kamu seenaknya mempermainkan perasaannya! Dan satu lagi, pernikahan itu sakral. Tidak bisa di permainkan seenaknya saja!” Ucap Reyhan kesal. Ia meraih kunci motor di atas meja kecil yang ada di sudut dinding. Lalu keluar seraya membanting pintu apartemen dengan kesal.
“Kau mau ke mana? Aku belum selesai!” teriak Farhan. Ia meremas rambutnya dan mengerang frustasi.
“Kenapa jadi begini? Siapa yang akan menjadi muhalil?” gumamnya kesal.
❄️❄️❄️
Reyhan mengendarai motornya perlahan, ketika netranya menangkap siluet yang sangat ia kenal. Duduk di kursi plastik di depan gerobak nasi goreng yang tak jauh dari apartemen. Seketika ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke tempat tujuan, ia memarkirkan motornya tak jauh dari penjual nasi goreng itu.
“Amora, kau sedang apa?” tanya Reyhan setelah mendekat pada wanita dengan rambut panjang yang di ikat Cepol asal-asalan itu.
Amora menoleh, senyumnya menyambut kedatangan Reyhan dengan hangat.
“Reyhan.”
“Bukan, aku zombie.” Ujarnya tak acuh. Ia menarik kursi plastik berwarna hijau yang ada di sebelah Amora.
“Hiiy ... Aku takut. Ada zombie ....” ledek Amora dengan wajah ketakutan yang di buat-buat.
“Ekspresimu tidak lucu sama sekali. Garing!”
“Aku kan bukan pelawak, jadi wajar kalo tidak lucu. Kalo pelawak tidak lucu, itu baru tidak wajar.” Amora membela diri. Ia memasukkan sesendok penuh nasi goreng yang tinggal beberapa suap dalam piringnya.
“Lapar apa doyan?” tanya Reyhan sembari melirik piring yang berada di hadapan Amora.
“Dua-duanya.” Jawab Amora dengan mulut yang penuh.
“Awas tersedak, tidak akan ada yang mau merebut makananmu. Aku sudah kenyang.”
Amora hanya menganggukkan kepala tanpa menoleh. Ia sangat kelaparan, hingga memutuskan untuk turun dan menikmati nasi goreng sederhana yang ada di depan apartemen.
Amora meraih segelas air putih, lalu meneguknya sampai tak bersisa.
“Ahh ... Aku kenyang sekali. Nasi goreng di sini memang selalu enak.” Ujarnya tersenyum puas. Sedangkan Reyhan hanya memandangi Amora dengan penuh arti. Tangan kanannya menopang dagu.
“Kenapa? Ada yang salah? Belepotan ya?” tanya Amora, sadar Reyhan sedang menatapnya dengan intens.
“Tidak ada apa-apa. Kamu cantik, Perfect.” Kata Reyhan seraya tersenyum.
“Hah ...? Maksudnya?”
“Tidak. Bukan apa-apa, aku ingin berbicara denganmu. Bisa ikut aku sekarang?” ucap Reyhan. Mengalihkan pembicaraan.
“Bicara apa? Bicara saja di sini.” Kata Amora cuek.
“Ayo ikut.” Reyhan menarik pergelangan tangan Amora sehingga mau tidak mau wanita itu ikut berdiri.
“Tunggu!” cegah Amora menahan langkah kakinya, membuat Reyhan terpaksa ikut menghentikan langkah. Ia menoleh pada Amora yang menahan lengannya.
“Ada apa?”
“Aku belum bayar.” jawab Amora seraya meringis.
“Astaga. Bilang dong.”
“Ini kan aku bilang. Kamu saja yang tidak sabaran.” Rutuk Amora.
“Ya sudah, tunggu di sini!” Reyhan melepaskan genggaman tangannya pada Amora, lalu menuju penjual nasi goreng untuk membayar nasi goreng pesanan Amora.
“Ayo!” Lagi-lagi Reyhan menarik lengan Amora menuju sepeda motornya yang terparkir tak jauh dari mereka.
“Mau ke mana?” tanya Amora dengan bingung.
“Ke Rumah sakit jiwa!” jawab Reyhan seraya menaiki motor besarnya.
“Apa? Mau apa?”
“Ikut saja dulu.”
“Tidak mau! Aku tidak gila!” teriak Amora.
"Tapi tidak waras!"
"Apa katamu? Aku waras! aku tidak gila, Reyhan!" Amora berkacak pinggang. Emosinya sudah meluap. Jika dalam kartun anime, maka telinganya sudah berasap dan muncul dua tanduk di kepalanya.
“Ribet banget sih? Nanti di kira aku penculik. Cepat naik! Atau mau aku gendong?” seringai licik tercetak jelas di wajah Reyhan, sontak saja perkataan Reyhan membuat Amora mendelik.
“Jangan macam-macam!”
“Tidak. Ayolah cepat naik!”
Amora ragu untuk menaiki motor besar itu. Sehingga ia masih mematung tanpa bergerak sedikit pun.
“satu ... Dua ....”
“Iya iya ... Aku naik.” Sahut Amora dengan keras. Ia segera naik tanpa bicara apa-apa lagi.
“Begitu saja kok repot.” Dengus Reyhan kesal. Ia segera melajukan motornya tanpa berbasa-basi. Sehingga Amora terkejut bukan main.
“Reyhan ...!” teriak Amora. Ia terpaksa memeluk Reyhan dengan erat. Ia sangat takut akan terjungkal ke belakang. Sedangkan Reyhan tersenyum penuh kemenangan.
❤️❤️❤️
amora - evan = amora masih menunjukkan sikap baik saja, masih canggung menunjukkan sikap nyeleneh nya, masih tidak bebas berekspresi
amora - reyhan = disini amora merasa tampa bebas menunjukkan semua sikap, amora merasa bebas dan nyaman berekspresi apapun, jadi tampa sadar amora merasa nyaman berhubungan dengan reyhan yang akhirnya menimbulkan benih cinta
sampai episode ini sebenarnya aku masih tidak suka sikap amora yang tidak sadar statusnya dan kayak tidak menghargai dan menjaga harga dirinya sebagai seorang istri dia masih menunggu pria lain dan gampang berinteraksi berduaan dengan pri lain, tapi setelah episode ini aku suka sifat amora yang belajar dari kesalahan lalu dan belajar menjadi istri yang sesungguhnya dan menghargai suaminya dan satu lagi, amora wanita tanggu yang berani mengaku salah dan berjuang untuk dapat kesempatan
tampa kitasadarir sebenarnya novel ini sangat bagus karena teori sebab akibat terjadi di novel ini