Demi harta warisan, Gadhiata rela menikahi gadis cupu pilihan sang kakek. Pernikahan sandiwara yang akan mereka jalani apakah berjalan sesuai rencana? Apa Hanum sang calon istri akan diam saja saat mengetahui dia hanya dipakai sebagai alat? Bagaimana jika Hanum marah, apakah gadis cupu itu akan menjadi suhu? Hanya untuk membalas dendam pada perlakuan Arrogant Gadhiata selama ini padanya yang memandang sebelah mata.
Baca juga novel Sept yang lain :
Rahim Bayaran
Suami Satu Malam
Dinikahi Milyader
Suamiku Pria Tulen
Dea I love you
My boss my Husband
Pernikahan Tanpa rasa
Menikahi pria dewasa
Cinta yang terbelah
Wanita Pilihan CEO
The Lost Mafia Boy
Dokter Asha and KOMPOL Bimasena
KANINA yang Ternoda
IG Sept_September2020
Fb Sept September
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri Dalam Daging
Crazy Rich Bagian 12
Oleh Sept
"Tolong lepaskan," pinta Hanum sembari menatap sosok yang kini mencengkram bahunya.
"Aku masih bicara denganmu!"
Sorot matanya tajam menatap gadis yang ingin keluar dari mobilnya.
"Sudah malam, dan sepertinya tidak ada hal yang perlu dibicarakan," jawab Hanum sembari menepis lengan calon suaminya dengan keras.
'Apa? Dia bahkan belum menjadi istriku tapi sudah berani? Kau hanya gadis miskin!' rutuk Gadhiata Ratama Prakas dengan jengkel. Pewaris global Tourshine Groups itu merasa Hanum sama sekali tidak menghormati dirinya.
Padahal Hanum adalah orang biasa, harusnya ia senang bisa berbicara dengan pria sepertinya. Benar-benar gadis tidak tahu menempatkan diri. Hanya karena kakek memilihnya, gadis itu jadi sangat sombong. Pria itu pun terus saja merutuk, sembari matanya menatap kepergian Hanum yang semakin lama menjauh dan menghilang di balik pintu besar D'Rose House.
Tok tok tok
Gadhi membuka pintu mobil dengan kesal, sedangkan sekretaris Jo, ia langsung duduk di kursi depan.
"Apa Kita langsung pulang, Tuan?"
"Hemm!" jawab Gadhi sambil menutup mata. Ia masih menahan jengkel.
***
Tiba di rumah sang mama langsung mengintrogasi Gadhi.
"Dari mana saja kamu sampai selarut ini? Dan kenapa kamu main batalkan desainer yang Mama kirim ke perusahaan? Jangan seenaknya. Mari lakukan mau kakek, kamu jangan membuat semuanya jadi rumit!" cerocos Nyonya Geni dengan wajah kesal.
Sudah capek, kesal pada Hanum ditambah ibunya marah-marah, cerewet dan ngomel-ngomel panjang lebar, membuat kepala Gadhi tambah pusing dibuatnya. Pria itu langsung duduk dan merebahkan tubuhnya di atas sofa.
"Biar Gadhi istirahat dulu, Ma!"
"Gadhi! Mama bicara sama kamu!"
Gadhi tidak peduli, ia malah menaikkan sebelah lengannya untuk menutupi wajah. Dia benar-benar malas berdebat malam ini.
Terdengar Nyonya Geni menghela napas panjang, wanita yang selalu bersikap elegant itu pun memanggil bibi. Meminta menyiapkan air mandi hangat untuk putranya.
"Oke! Kita bahas besok. Sekarang kamu istirahat saja!"
Nyonya Geni mengalah, karena kalau dilihat memang Gadhi sepertinya tampak lelah malam ini.
***
Pagi hari di D'Rose House
Hanum duduk sarapan seorang diri di meja panjang. Di sebelahnya ada pelayan yang sejak tadi berdiri. Kedua pelayan berdiri di sebelah kanan dan kirinya. Belum lagi beberapa pelayan yang siap mengambilkan menu yang mau ia makan.
'Tumben aku boleh makan banyak?' batin Hanum melihat banyak makanan yang terhidang lezat di atas meja.
Tap tap tap
Hanum berdiri seketika saat melihat siapa yang datang.
"Selamat pagi," sapa Hanum pada kakek Mahindra. Mana tahu kalau kakek Mahindra datang ke sana hanya untuk sarapan.
Kakek hanya mengangguk pelan. Kemudian Madam Li mendekati Hanum, lalu berbisik di telinga gadis tersebut.
"Makanlah yang banyak, Nona. Hari ini nona butuh tenaga ektra," bisik madam Li.
Hanum sedikit mendesis, 'Nanti harus apa lagi?' batin Hanum. Kemudian mulai memakan makanan yang penuh gizi tersebut.
"Pelan-pelan!" Madam Li menunduk, sedikit membungkuk dan kembali berbisik pada Hanum.
Seperti anak kecil yang dimarahi ibunya, Hanum langsung menurut. Ia mengunyah dengan pelan hampir tanpa suara. Sedangkan kakek Mahindra hanya melirik sekilas pada Hanum, pria tua itu kemudian melanjutkan makannya kembali.
Selesai makan, mereka beserta rombongan yaitu para asisten kakek Mahindra, masuk ke dalam mobil besar. Hanum dan kakek berada di dalam mobil yang berbeda. Tapi keduanya menuju tempat yang sama.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil mereka berhenti di sebuah perternakan kuda.
"Mari, Nona. Kita sudah sampai." Madam Li meminta Hanum untuk turun.
Sedangkan Kakek Mahindra, ia sudah turun terlebih dahulu. Kakek turun dan menghampiri mobil lain yang juga baru tiba di sana.
"Apa kabar, Pa?" sapa Akas.
"Kenapa kau ada di sini?" tanya kakek tanpa basa-basi.
"Sama seperti kakek, Akas hanya ingin melepas stress dan berkuda di sini?"
"Benarkah?"
Kakek Mahindra menatap penuh curiga.
"Pa," sapa Suha. Menantunya itu melempar senyum paling ramah pada ayah mertuanya. Tapi sikap kakek malah terlihat sangat dingin. Membuat Suha harus menelan kembali senyumnya dengan mentah-mentah.
'Tua bangkaaa sialannn!' rutuk Suha marah.
'Apa kau mau menyusul Prakas putramu?' batin Suha yang kesal karena kakek Mahindra seperti tidak menganggap dirinya ada.
BERSAMBUNG
eh, konspirasi..
.....
si sulung aku umur 8 th baru punya adek.
aku menyaksikan sendiri,walau bukan aku yg mengalami.ada keluarga yg boleh dikata mampu dan berkecukupan tapi masih juga resahndan ingin menguasai harta saudaranya yg lain.padahal sdh dibagi rata oleh orangtua mereka dulunya.sampai memutuskan tali silaturahmi dg saudara2nya yg lain.