NovelToon NovelToon
Anggun Bidadariku Season 2

Anggun Bidadariku Season 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:374k
Nilai: 4.8
Nama Author: Erna Wati

Anggun yang mengira hidupnya sudah bahagia dengan mendapat cinta Adrian,, namun ternyata itu hanya mimpi sesaat baginya. Kenyataan pahit menghempaskannya kembali pada kehancuran dimana Adrian harus terjerat kembali pada wanita di masa lalunya.
Dan kali ini dia harus menghadapi badai yang lebih berat dari sebelumnya. Adrian melayangkan gugatan cerai padanya di saat dia sendiri sudah menanggalkan cintanya pada pria tersebut. Dan disaat yang bersamaan,, muncullah pria yang sebelumnya selalu memberikan dukungan untuknya. Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Akankah Anggun memperoleh kebahagiaannya kembali?? Simak kisahnya di "Anggun Bidadariku Season 2"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Anggun sudah selesai menghidangkan masakan terakhirnya. Dan waktu ternyata sudah menunjuk angka lima sore. Baiklah. Ini yang terakhir. Katanya dalam hati dan menyiapkan dua gelas jus buah naga yang baru saja ia blender.

Wanita itu lalu menghempaskan tubuhnya di sebuah kursi panjang yang biasa di pakai Dion untuk bersantai sambil membaca buku. Anggun benar-benar merasa tubuhnya letih.

Lengkap sudah penderitaanku. Setelah hatiku yang di buat remuk redam oleh Adrian. Sekarang tubuhku yang di buat remuk redam oleh Dion. Mereka memang sama saja. Sahabat yang sehati dalam menyiksaku.

"Kenapa? Lelah?" Suara Dion menginterupsi lamunan Anggun. Pria itu ternyata sudah tampil bersih dan lebih tampan dari sebelumnya. Rupanya dia sudah mandi lebih dulu. Anggun mendudukkan dirinya seketika.

Harum mint menyeruak dari tubuh pria itu saat ia duduk di sebelah Anggun. Hati dan jantung wanita itu sempat di buat bergejolak hampir bersamaan. "Kau sudah tau aku lelah, dan masih saja bertanya," ujarnya sambil melengos. Tangannya bersilang di depan dada.

"Kau masih marah?" tanya Dion lembut. Anggun diam tak menjawab. Biarlah. Dia ingin mengerjai pria itu dengan berpura-pura marah padanya. "Maaf. Aku melakukan hal ini sebenarnya tidak benar-benar berniat untuk mengerjai seperti dugaanmu. Aku hanya tak ingin melihatmu larut dalam kesedihan jika ku biarkan kau berdiam diri terus." Anggun menoleh tiba-tiba padanya. Menatap Dion dengan lekat. Wanita itu terharu dengan kalimat pengucapan pria di sampingnya barusan.

"Kenapa kau selalu memperhatikan aku, Dion?" tanyanya kemudian.

"Kenapa? Perlukah kau bertanya?" Dion merubah gaya duduknya menjadi menghadap Anggun lebih intim. "Anggun, aku tidak akan main-main lagi dengan ucapanku. Aku tau kau baru saja bercerai dari Adrian. Dan kau pasti memerlukan waktu untuk sendiri tanpa ingin seseorang mengusik hidupmu lagi. Tapi, kembali lagi aku akan mengulangi pernyataan yang dulu pernah aku sampaikan padamu. Jika suatu hari nanti Adrian menyakitimu, maka kau harus bersedia menerima uluran tanganku untuk meraihmu." Mata pria itu seakan menembus manik mata wanita di hadapannya.

Anggun membeku. Tak bisa berkata apa-apa. Tentu dia masih ingat kalimat itu. Dia bahkan sudah berjanji akan menurut kata-kata Dion jika sampai hal buruk itu terjadi. "Dion.....aku...."

"Aku mencintaimu, Anggun. Dan aku ingin menjadikanmu bagian dari hidupku agar aku bisa melindungimu." Mata Dion menari-nari menelusuri wajah wanita di hadapannya. Dan lambat namun pasti, wajah Dion kini semakin dekat dengan Anggun. "Bolehkah aku menciummu?" Suara pria itu hampir berbisik.

Anggun tak berkata apa-apa dan hanya memejamkan matanya sebagai jawaban atas ijin yang ia berikan pada Dion. Pria itu tak membuang kesempatan. Dan akhirnya sedetik kemudian bibir mereka sudah bersatu. Dion mencium Anggun dengan lembut. Sangat lembut sampai wanita itu terhanyut. Bukan ciuman yang mengandung nafsu. Tapi hanya ungkapan perasaan cinta terpendam dalam hati Dion pada wanita itu. Dia berharap Anggun bisa membaca perasaannya yang begitu dalam mencintainya.

Dan sesaat kemudian bibir mereka terlepas kembali. Tangan Dion terulur mengusap pipi Anggun yang tiba-tiba merona. Pria itu tersenyum tipis. "Terima kasih, bidadariku. Aku berjanji mulai sekarang tak akan ada satu orang pun yang bisa menyakitimu bahkan itu termasuk diriku." Terakhir kali pria itu mencium kening Anggun. "Sekarang, mandilah. Aku akan menunggumu di meja makan."

Anggun mengangguk lalu berjalan meninggalkan Dion yang masih menatapnya tanpa berkedip. Di satu pihak, Anggun masih merasa shock dengan ciuman yang dilakukan Dion barusan. Apakah aku bermimpi? Anggun meraba bibirnya sendiri seperti ingin membuktikan kalau itu memang bukan mimpi.

👇

👇

👇

👇

Anggun sudah selesai dengan mandinya. Dan wanita itu kini berjalan menuju meja makan. Disana sudah menanti Dion yang sedang asik membaca koran. Tiba-tiba Anggun tertegun melihat secangkir kopi yang ada di hadapan pria itu. Asal tau saja. Di kopi itu sudah ia campur bubuk cabai yang banyak dengan garam beberapa sendok sehingga jika Dion meminumnya, pria itu pasti akan merasa tenggorokannya tercekik.

Dion menoleh seketika saat mendengar suara langkah kaki mendekat. "Kau sudah selesai?" Pria itu lalu melipat surat kabarnya dan meneguk kopi di hadapannya. Anggun menelan ludah saat pria itu mulai menyesap kopi tersebut. Kenapa? Kenapa tidak ada reaksi apa-apa? Kenapa Dion nyaman-nyaman saja? Seharusnya saat ini pria itu sudah masuk dalam jebakannya. "Kenapa kau berdiri di situ terus?" Dion bertanya heran. Anggun jadi tergagap karenanya.

Wanita itu menarik kursi di depan Dion. Mulai menata piring dan menyendukkan nasi ke atasnya sambil sesekali melirik pada kopi buatannya. Aneh, kenapa tidak bereaksi sama sekali? Anggun lalu menyerahkan piring berisi nasi tersebut pada Dion lalu mulai menyenduk kembali untuk dirinya sendiri.

Seperti yang Dion janjikan, dia akan menghabiskan semua masakan milik Anggun. Pria itu makan dengan sangat lahap seakan baru keluar dari rumah tahanan dan baru kali ini merasakan makanan seenak ini.

"Pelan-pelan, Dion. Kau bisa tersedak," Anggun memperingatkan.

"Kau tau, ini makanan terlezat setelah setahun lebih aku meninggalkanmu," ujar Dion sambil menatap Anggun sekilas hingga akhirnya dia kembali fokus pada makanannya lagi. Wanita itu tersenyum. Entah kenapa dia sangat senang setiap kali melihat Dion memakan masakannya.

Anggun lalu kembali menyantap makanannya sendiri. Sungguh tak di duga, selama sehari ini dia hampir lupa pada kesedihannya. Itu karena kesibukan yang dijalaninya sehingga serasa tak ada waktu baginya untuk memikirkan masalah yang tadi membelitnya. Ya. Kata-kata Dion memang benar. Hanya dengan menyibukkan diri, Anggun jadi bisa melupakan kesedihannya. Mungkin besok-besok diapun akan melakukan hal yang sama seperti ini.

Makan malam itu berakhir dengan Dion yang membantu mencuci piring-piring kotor bekas makanan mereka. Awalnya Anggun menolak bantuan. Namun pria itu terlalu kekeuh untuk membantu. Dan mau tidak mau, wanita itu hanya menurut pasrah.

"Sepertinya aku tadi membuat jus buah naga, dan ku taruh disini," gumam Anggun pelan setelah menyelesaikan kegiatan DJ-nya bersama Dion.

"Apa kau mencari ini?" Tiba-tiba Dion muncul dengan membawa dua gelas jus buah naga merah.

"Dimana kau menemukannya? Bukankah tadi aku sudah menyiapkannya di meja makan?" Pria itu hanya mengerdikkan bahunya dengan kedua alis yang ia angkat bersamaan.

Anggun menerima minuman tersebut dan mulai meneguknya langsung. Namun seketika saja, minuman itu tersembur keluar saat Anggun menikmati rasa yang tercampur di dalamnya. Pedas dan sangat asin. Dan mulutnya berteriak seketika saat melihat Dion sudah berlari menjauh dengan tawa yang terbahak-bahak. "Dioooooonnnnnnn!!!!!" Jelas ini perbuatannya.

Bagaimana bisa kini senjata jadi makan tuan? Dia yang ingin menjebak Dion dalam perangkapnya, berganti dia sendiri yang terjebak. Dan sejak kapan pria itu melakukannya? Anggun meletakkan minumannya seketika di meja dan berlari menyusul Dion yang sudah naik ke lantai dua di kamarnya berada. Mengunci pintu dengan cepat sehingga Anggun tak bisa lagi membuat perhitungan dengannya.

"Awaasss kau, Diooonnn!!!"

👇

👇

👇

👇

Setengah berlari Adrian menyusuri koridor kantor. Hari ini dia bangun agak terlambat. Tadi malam dia memang tidur hampir dini hari. Setelah menyusul Andini dari rumah sakit, dan mengajaknya keluar untuk makan malam sebentar, pria itu memutuskan untuk pulang. Namun nyatanya dia tidak bisa tidur hampir semalam penuh. Entah apa yang membuatnya gelisah sampai matanya tak bisa terpejam.

Mungkin itu karena kesendiriannya. Ya. Bukankah awalnya dia tidur ditemani seseorang? Dan sekarang sudah tidak lagi. Tentu saja dirinya gelisah. Serasa ada yang hilang dan kurang di rumah itu termasuk ranjangnya. Sehingga Adrian memutuskan untuk menonton TV sampai waktu hampir menunjukkan jam empat pagi barulah kantuk mulai menyerang. Dan saat ini dia harus mengejar waktu masuk kantor. Dia sudah terlambat bekerja.

Karena terburu-buru, Adrian jadi tak melihat dengan jelas sekitarnya sampai akhirnya dia menabrak seseorang yang sedang berjalan dengan membawa beberapa berkas di tangannya. "Ouuuhhh, sorry," kata Adrian yang membuat kertas-kertas ditangan orang itu hampir jatuh berceceran.

Dan terbelalaklah matanya manakala tahu siapa orang yang ada di hadapannya itu. "Dion, kau?!" Serunya dengan suara tercekat di kerongkongan. "Kapan kau datang?" lanjutnya kemudian berusaha menetralkan ketegangan yang sesaat lalu menghinggapinya.

"Kemarin," jawab Dion singkat. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya kemudian.

"Aku...yach...seperti yang kau lihat. Dan bagaimana denganmu sendiri?" Adrian bertanya balik.

"Baik. Sangat baik." Dion melebarkan senyumnya. "Ehm....sorry. Mungkin waktu ngobrol kita harus tertunda dulu karena aku harus segera menghadap pak Hendro untuk memberikan laporan. Aku pergi dulu." Dion hendak melangkah, namun tiba-tiba Adrian mencekal lengan sahabatnya itu. Dionpun berhenti seketika.

"Tunggu!! Apakah kedatanganmu kesini lagi ada hubungannya dengan Anggun?" Kedua mata pria itu saling menatap tajam.

Dion menghela napas panjang. "Kau adalah sahabatku, Adrian. Dan aku tak ingin menyembunyikan apapun darimu. Ya. Memang benar, satu hal alasan aku kesini memang karena dia," jelas Dion tenang. Adrian merasa sesuatu di dalam darahnya berdesir dan memanas seketika.

"Jadi kau sudah tau rupanya tentang berita perceraianku? Wow, luar biasa sekali. Kau yang jauh di negeri orang bahkan cepat mendengar berita itu." Adrian tersenyum sinis.

"Adrian, satu hal yang mungkin kau tidak tahu, kalau aku terus mengawasi keberadaan kalian." Adrian mengeratkan gigi-giginya seketika.

"Jadi selama ini kau mengawasi kami? Semua yang kami lakukan?"

"Tidak semua. Aku hanya memastikan kalau Anggun baik-baik saja dan tidak mengalami hal seperti dulu lagi. Dan nyatanya, sekarang aku masih menjumpai kejadian sama seperti satu tahun yang lalu. Sayang sekali. Kau sudah merusak kepercayaanku padamu, Adrian." Dion menepuk bahu Adrian pelan untuk kemudian berlalu meninggalkannya.

Adrian hanya diam terpaku dengan kedua tangan mengepal keras. Kenapa? Kenapa dia harus marah? Untuk apa dia marah? Apakah karena Dion yang terlalu perhatian terhadap Anggun, mantan istrinya?

Tidak!! Semua sudah berlalu. Aku sudah tidak ada hubungan lagi dengan Anggun. Untuk apa aku merasa keberatan kalau Dion datang dan akan mendekatinya lagi?

Adrian menepis semua perasaan kesalnya yang sesaat lalu hinggap dan menyelubunginya. Dia lalu berjalan kembali menuju ruangannya.

🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃🌺🍃

1
Mom Q
bagus awalnya cma maaf endingnya agak janggal kya blm selesai.
kecuali klo ada bonus nya
Erna Wati: Emang belum karena masih ada yg season 3. "Anggun Bidadariku Ending Story". kalau mau baca di platform sebelah. WP
total 1 replies
abu😻acii
nyimak dulu
Azzuraaa
aku suka tulisan bagus begini, tapi kok yang baca sepi ya? tetep semangat thor
Lili Lintangraya
ditunggu lanjutannya,gmn kehidupan dion&anggun.adrian jg,penasaran kehidupanny selanjutny
Neni Anggraini
angun dh ambil tuh batang emas (Dion).... buang batang kayu (Adrian) bikin dia nyesal lemepas kamu.... 🤣🤣
Yudhiari Denada
kayaknya masih nggantung?
tapi seru c
semua dpt porsinya, Andini & andrian g bersatu,, Andini suka mempermainkan, andrian blm dewasa, cepat kebawa emosi, labil, kasih yg jadii pasangannya, gampang terombang ambing. baca ceritanya yg ending part 1 aja udah jelas hambar rumahtangga nya, cuma main² aja. memang baik anggun sama dion, cuma agak aneh, klo habis kena serangan jantung atau apalah yg keliatan sakit, knp habis ijab kabul gak istirahat aja?
Erna Wati: season 3 ada platform sebelah. sudah end juga kok disana.
total 2 replies
rumah kazuya
end nya koq gak enak amat yaa...
Yulianna Novia
aihhh... kok aku tak puas niiii, lanjut donk
Erna Wati: ada yang season 3 di pf sebelah.
total 1 replies
Nenk Kwr
ceritanya sudah tamat. tapi pelakor andini tidak diceritain dapat karma.
Ar Syaina Syaina
penyesalannn ayoo mendekatlah adrian sdh menunggu,,semoga RSJ,,masih menerima adrian
Ar Syaina Syaina
hmmm adrian terllalu percaya diri,,,,ingat penyesalanmu sdh mulai merapat,,,ayoo thoor semangat critamu baguss jempol yg bnyk utkmu👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼👌🏼
bunga seroja
👍👍👍👍👍👍👍
Mawar berduri
benar2 cerita yg byk memguras airmata & emosi jiwa dgn tingkah lelaki bagas & adrian. kok bs orgtua mrk yg sgt baik & penuh kasih bs punya 2 anak lelaki yg berengsek bin pecundang🤦‍♀️
Rai Ayi Rohayati
ih jd gemes thuu c andrian, buktikan anggun kau bisa lebih hebat dr pelakor....
Efan Zega
koq dah end sih. aq penasaran dion sakit apa sih. trus bagas gak datang ya kepernikahan anggun
Erna Wati: Ada Anggun season 3
total 1 replies
Efan Zega
loh katanya u gak mencintai anggun rian
Efan Zega
wahhh anggun tambah cantik nih....nyesel u rian
Efan Zega
2 bersaudara sama aja,,,biadab smua
Efan Zega
nyesek bgt lihat nasibmu gun..
dulu bagas dan niken skrg rian dan andini
Efan Zega
sakit banget kelakuan smua keluarga bagas dan rian. kalo mertuanya gak cerita keandini pasti smua gak sekacau ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!