NovelToon NovelToon
Pengantin Kecil Alvaro

Pengantin Kecil Alvaro

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.8
Nama Author: reesha swee

"Om, apakah saya boleh pacaran?"

"Boleh, asal tidak ada pegangan tangan, ciuman, dan kontak fisik lainnya."

Azlina, gadis yang masih duduk di bangku SMA itu harus menjalani pernikahan dadakan dengan seorang pria dewasa karena sebuah kesalahpahaman. Mereka sama-sama memiliki pasangan impian dan sampai saat ini masih berjuang untuk mendapatkan cinta sang pujaan hati. Mereka saling bekerjasama untuk membantu mendapatkan pasangan impian masing-masing, tetapi hal itu justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka tanpa disadari.

Akankah pernikahan keduanya tetap berlanjut atau keduanya memilih berpisah demi mendapatkan pasangan impian?

"Aku akan membantumu mendapatkan pria yang kau suka, asalkan kau mau membantuku?

"Apa?"

"Kita rahasiakan pernikahan ini. Aku akan mengejar gadis impianku dan kau mengejar pria idamanmu, setuju?"

"Oke. Deal!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon reesha swee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Melacak Lokasi

"San, Azlina ikut kamu, enggak?" Mbak Salwa dengan wajah cemas menghubungi adiknya, Ahsan, yang kini masih sibuk dengan pesta pernikahan client-nya. Ahsan segera menepi, mencari tempat yang agak sunyi dari hiruk pikuk tamu yang ternyata begitu ramai.

Bu Darmini sangat cemas ketika menghubungi Salwa, meminta bantuan putri sulungnya itu untuk mencari Azlina. Salwa dengan sabar meyakinkan Bu Darmini jika Azlina pasti akan segera ditemukan, agar wanita sepuh itu tak terlalu mencemaskan keberadaan putri bungsunya.

"Enggak, Mbak. Dia harusnya sudah pulang dari kantor. Tadi aku cuma minta bantuan Azlina buat jagain sampe jam pulang." Ahsan menilik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul delapan malam. Wajahnya pun tampak cemas, jangan-jangan terjadi sesuatu terhadap adiknya itu.

"Dia belum pulang, San. Mbak sudah menghubungi ponselnya, tetapi tidak aktif."

Seketika Ahsan teringat akan panggilan telepon adiknya siang tadi, yaitu ketika dirinya dan tim sedang begitu sibuk mempersiapkan pesta, Azlina menghubunginya untuk meminta izin mencari bunga, mengambil satu job untuk pelanggan yang datang ke kantor Aurora Event Organizer. Hingga dia segera berpikir satu tempat di mana mereka bisa mendapatkan bunga yang segar dan sulit ditemukan.

"Mbak, jangan-jangan Azlina ke tempat Asri."

"Apa?!"

...***...

Informasi dari Ahsan cukup membantu bagi Salwa untuk mencari keberadaan Azlina. Sampai ketika Sean Paderson-suaminya-telah menyelesaikan mandi malam selepas pulang bekerja, dia berniat memberi tahunya. Salwa menemani sang suami untuk menikmati makan malam bersama, tetapi lelaki itu tampaknya menyadari wajah penuh kecemasan dari raut muka sang istri.

Sean menghentikan kegiatannya menikmati masakan Salwa. Tatapannya penuh selidik, tetapi berbalut kelembutan yang nyata ketika memperhatikan wanita itu. Dia menjulurkan tangannya, menyentuh jemari Salwa yang sedari tadi berada di atas meja.

"Ada apa? Apa yang sedang kau pikirkan?"

Salwa menggeleng, lalu menipiskan bibir tersenyum. Jemarinya menyentuh tangan suami yang kini telah menggenggam tangan kirinya. "Habiskan makananmu. Aku akan menceritakannya setelah ini."

Sean mengangguk mengiakan perkataan Salwa. Dengan tenang dia menikmati hidangannya kembali. Betapa pun rasa cemas yang sedang Salwa rasakan, tak membuat perempuan itu menyuruh suaminya untuk mempercepat menghabiskan makanannya. Sehingga Sean bisa merasai hidangan itu dengan tenang agar lambungnya mudah mencerna makanan dengan baik.

"Jadi, katakan! Apa yang membuatmu gelisah?" tanya Sean kemudian, setelah menenggak habis minuman yang disediakan oleh Salwa.

"Azlina hilang, Mas. Maukah kau membantuku mencarinya?"

...***...

Penjelasan Salwa cukup untuk mendapatkan petunjuk. Lelaki itu segera meretas CCTV yang berada di Aurora Event Organizer dengan menyetel waktu saat Azlina menghubungi Ahsan.

Sean Paderson memang memiliki perusahaan yang bergerak di bidang sistem keamanan. Hanya meretas CCTV adik ipar sendiri bukanlah perkara yang sulit. Dengan cepat layar di depannya itu menunjukkan rekaman kejadian beberapa jam yang lalu.

Matanya tercengang melihat siapa seseorang yang sedang terlibat perbincangan dengan Azlina. Dia tampak geram, bagaimana lelaki itu bisa mendekati adik iparnya. Apakah memang dia berniat ingin membalas dendam karena tak bisa mendapatkan kakaknya?

Di masa yang lalu, Sean paderson pernah terlibat cekcok dengan lelaki itu, Alvaro. Di mana ketika itu Alvaro sedang berusaha mengejar-ngejar Salwa tepat saat Sean ke luar negeri untuk menyelesaikan suatu keperluan. Mereka sempat melakukan baku hantam hingga Alvaro berakhir babak belur di rumah sakit.

Andai saat itu Sean tak memandang seorang Agus Cahyono, Ayah dari Alvaro, akan jasa-jasa pria paruh baya itu dalam menyatukan dirinya dan Salwa, mungkin Sean sudah menghabisi Alvaro saat itu juga. Dan saat ini, ketika Azlina telah tumbuh dewasa, pria itu mulai berulah lagi.

Sean beranjak dari duduknya, segera menghubungi Tuan Agus untuk menanyakan di mana putranya berada. Namun, apa yang telah menjadi jawbaan dari pria itu, membuat Sean semakin berang.

Tuan Agus menjelaskan bahwa Alvaro tiba-tiba mematikan panggilan ketika menghubunginya sehingga dia tak sempat mencari informasi di mana keberadaan Alvaro saat itu.

"Dia kembali membawa kabur iparku," ucap Sean dingin di sambungan telepon itu. "Cepat kemari, bawa ponselmu! Aku akan melacak keberadaan mereka dari panggilan terakhir yang sempat anakmu lakukan." Sean berkata penuh perintah kepada Tuan Agus yang mana merupakan salah satu kolega bisnisnya.

***

Salwa menunduk dengan sesekali meremàs jemarinya yang telah menyatu. Rasa khawatir yang mendera akan keselamatan adik bungsunya itu tak sanggup dia sembunyikan. Sean bisa melihat itu, hingga dia duduk di samping sang istri, lalu melingkarkan tangan kekarnya memeluk punggung Salwa.

"Tenanglah! Semua akan baik-baik saja."

Dia teringat akan Alvaro, bagaimana pria itu pernah nekat menyembunyikan dirinya di belakang gedung kampus hanya untuk memaksakan kehendak kepada Salwa. Apakah Alvaro memang sengaja mengincar Azlina karena ingin membalas dendam. Harusnya Salwa menyadari itu ketika mendapatkan laporan jika Alvaro membawa Azlina pergi.

Namun, penjelasan Azlina bahwa dirinya tanpa sengaja bertemu Alvaro dan berakhir di sebuah rumah makan cepat saji membuat Salwa berpikir jika itu memang hanya sebuah kebetulan. Akan tetapi, mengapa sekarang Alvaro kembali membawa adiknya pergi? Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?

Sampai genggaman tangan itu kian mengerat, membuat Salwa menoleh ke arah suaminya. "Tolong temukan dia."

"Aku akan menemukannya," jawab Sean kemudian dengan memeluk Salwa, menenangkan perempuan itu agar tidak terlalu mencemaskan keberadaan Azlina.

***

Bukan hanya Sean dan Agus Cahyono, ayah Alvaro, yang ikut mencari Azlina, tetapi Salwa dan dua orang adiknya Ahsan dan Alfatih turut mencari. Mereka berangkat setelah selesai mempersiapkan diri dan mendapatkan lokasi yang dituju tepat pukul dua belas malam.

Iring-iringan mobil pun tak bisa terelakkan. Ada tiga buah mobil melaju kencang menembus gerimis hujan. Tuan Agus bersama sang istri duduk di kabin penumpang dengan mobil dikendarai sopir pribadinya. Sementara dua mobil lain ditumpangi oleh keluarga Azlina termasuk Sean dan Salwa.

"Mas, apakah mereka tidak melakukan sesuatu yang buruk? Aku takut Azlina kenapa-kenapa?" Salwa menggigit ujung kukunya, terlampau cemas dengan apa yang terjadi dengan Azlina. Semoga Alvaro tidak menghancurkan masa depan adik sulungnya itu.

Sean hanya menggenggam tangan Salwa tanpa menjawab pertanyaan istrinya itu, tangan kanannya sibuk mengendara dengan pandangan lurus ke depan karena hujan lebat telah mengganggu jarak pandangnya.

Semakin jauh mereka meninggakkan area perkotaan, hujan mengucur semakin deras membuat mereka tak bisa cepat sampai ke lokasi. Hingga sebuah informasi jika di daratan tinggi yang akan mereka tuju sedang terjadi badai, membuat rasa cemas semakin menghantui Salwa. Dia ingin segera menemukan Azlina, tetapi kondisi tidak memungkinkan.

"Mereka baik-baik saja. Panggilan terakhir laki-laki itu berada di sebuah hotel. Sayangnya, mereka hanya memesan satu kamar ukuran single untuk bermalam."

Perkataan Sean akan informasi yang dia dapatkan dari hasil meretas beberapa databse hotel yang dikunjungi Alvaro membuat Salwa semakin gelisah. Apa yang mereka lakukan saat ini? Semoga Alvaro dan Azlina tak melakukan dosa dengan berbuat yang tidak sepatutnya.

》Lanjut ..

1
Ran Aulia
ceritanya bagus ,sukses bikin mewek 😘😘😘

terimakasih ya kak ❤️❤️❤️❤️❤️
Reetha
kapan nih krlnjutannya...🤔🤔
Indah Utammi Dapoer MakYong
sudah januari 2024 ex chapter nya mana kak e?
Bila Tami
bagus
Ria Onits
aku br mampir 2023
Aning Kusumo
sudah setahun lebih belum jd di update kak?
Wei
ceritanya seru
Ernia
nasib punya istri bocil, jd inget aku sm pak suami dl, kami selisih 13 th, dan Alhamdulillah pernikahan kami sdh berjalan 11th
Biarkan aku menangis: semoga langgeng terus, Kak 🤗
total 1 replies
Juan Sastra
bagus thorr,,
hanya saja ggak jauh jauh dari cerita sebelumnya perempuan selalu lemah selalu dpt pelecehan..coba sekali kali wanitanya tangguh gitu , kuat stroong
Juan Sastra
rani ggak otak,,udah habis otaknya di makan sama almera
Juan Sastra
soni,,
Juan Sastra
rani bego buta mata buta hati...menanguslah di masa tua mu
Juan Sastra
hancur hancur hancur hatiku...hatiku hancuuurr,,
Juan Sastra
percuma pendidikan tinggi anak orang bermatabat cantik pintar namun ggak punya malu dan harga diri terlebih atitude yg rendah..
Juan Sastra
itulah perempuan yg kau kagumi dan kau kejar kejar varo ternyata tidak lebih dari seorang ular yg berbisa..dan bahkan mama rani mendukungnya..
Juan Sastra
biarkan kesalahpahaman itu membentuk dirimu lebih dewasa dan menjadi wanita yg sukses dengan pergi ke paris sesuai dengan angan anganmu..
Juan Sastra
pergilah ke paris zi raih cita citamu,,jika masih satu kota pasti varo akan menemuimu
Juan Sastra
tidak melihat mama rani jika almera sengaja menjadi kompor dan sengaja menjadikan kesakitan dan ketidak tahuan azlina menjadi senjatanya buat menjatuhkan azlina..penyesalan terbesarmu di mulai saat ini rani..jika mera wanita baik baik dia tidak akan mau menceritakan apa pun mengenai zizi atau menjelek jelekan namanya..tertawa bahagialah kau mama rani mulai sekarang..
Juan Sastra
aduhh mera pd banget,,pakai di ambil lagi itu cincin
Juan Sastra
jika itu terjadi siap siap saja babak belur hati dan jiwamu dan terutama ragamu di hajar sean habis habisan..😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!