Kehidupan remaja yang penuh warna nyatanya tak selamanya selalu indah. Kadang ada masa bertemu dengan masalah yang pelik yang justeru datang dari lingkungan keluarga dan teman.
Sama sebagaimana yang dialami Cita, menjadi remaja justeru membuatnya hampir frustasi.
Untunglah ia memiliki Damar dan Adi dalam hidupnya. Meskipun pada akhirnya Cita harus kehilangan salah satu di antara keduanya.
So' seperti apa kisah yang real kehidupan remaja pada umumnya? Yuk ndongeng bersama Cilamici 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cilamici, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Aku Akan Menemukanmu
Cita belum bangun karena badannya demam. Bi Imah sudah mengompresnya pagi tadi dan Bang Damar membelikannya bubur serta obat.
"Istirahatlah, ngga usah mikirin apa-apa dulu."
Kata Bang Damar saat menyempatkan diri menengok Cita lagi di dalam kamar sebelum ia berangkat bekerja.
Bi Imah sendiri berjualan nasi uduk dan juga beberapa lauk lain di depan rumah dengan meja kecil.
Cita hanya bisa mendengar banyak ibu-ibu di depan rumah yang tampaknya membeli dagangan Bi Imah.
Cita memejamkan matanya, ia berusaha tidur lagi, ingin menuruti nasehat Bang Damar untuk tidak usah memikirkan apa-apa dulu.
Yah, pasti Bang Damar tahu jika semalam Cita tak bisa tidur karena banyak pikiran. Ia gelisah tentang banyak hal.
Selain Cita memikirkan ketidak nyamanan nya di rumah, Cita juga memikirkan sekolahnya, dan apa yang akan ia lakukan dengan hidupnya jika tak akan pernah pulang lagi.
Cita juga memikirkan Ayahnya, apakah setelah ia pergi Ayah akan menyadari jika Cita kecewa Ayah tak pernah mendengarkan keinginan Cita lagi? Apakah Ayah akan menyadari jika Cita juga ingin didengar bukan hanya dimarahi, Cita juga ingin ditanya kenapa ia melakukan ini dan itu, didengar alasannya kenapa Cita melakukan nya.
Dan yang pasti, Cita juga ingin Ayah tahu bahwa ia kesepian. Ia kehilangan sosok Ibu di rumah, dan juga kehilangan sosok Ayah.
Ayah ada tapi seperti tidak ada. Sama seperti Ayah memperlakukan Cita, padahal Cita ada tapi seolah tidak berharga.
Satu titik bening mengalir di sudut mata Cita. Dadanya terasa sesak karena tiba-tiba merasa seperti perahu yang terombang-ambing di tengah gelombang samudera yang entah akan membawanya ke mana.
Cita merasa apapun yang ada di masa depannya kini terlihat gelap. Ia tak melihat harapan dan juga mimpi lagi.
Yang ia lihat hanya jalan buntu saja. Lorong gelap tanpa ujung. Ruang sempit tanpa jalan keluar.
Cita ingin berlari dari skenario hidupnya jika saja ia mampu.
Siang hari jelang dzuhur,
Tok tok tok...
Suara ketukan di pintu terdengar pelan.
Tampak Bi Imah muncul membawa segelas jus tomat dicampur madu.
Cita menatap kemunculan Bi Imah.
Bi Imah meletakkan gelas jus tomat di atas meja kayu di kamar anak sulungnya yang kini di tempati Cita.
"Bi Imah tahu pasti Neng Cita tidak minum obat demamnya."
Kata Bi Imah yang hafal kebiasaan Cita sejak kecil, jika diberi obat akan dibuang di kolong tempat tidur.
Cita tampak nyengir.
Bi Imah meletakkan tangannya di atas dahi Cita, untungnya panasnya sudah mulai turun.
"Bibi buatkan jus tomat dengan madu, kalau ini Neng Cita kan suka."
Kata Bi Imah.
Cita kemudian duduk dari posisi berbaringnya. Bi Imah meraih gelas jus buatannya dan kemudian diberikan pada Cita.
Cita meneguknya pelahan, rasa segar langsung terasa.
Jus tomat buatan Bi Imah dulu salah satu jus favorit Cita saat sedang sakit, dan Cita tak menyangka Bi Imah masih ingat kesukaan Cita.
"Terimakasih Bi."
Kata Cita setelah menghabiskan jus tomatnya.
Bi Imah tersenyum.
"Bi Imah akan buatkan sayur sop, biar badannya nanti hangat."
Kata Bi Imah.
Cita menatap Bi Imah.
"Maafkan Cita Bi."
Kata Cita.
Bi Imah mengerutkan kening.
"Maaf untuk apa Neng?"
Tanya Bi Imah bingung.
"Cita merepotkan Bibi, besok Cita akan cari tempat lain supaya Bibi enggak direpotkan terus."
Ujar Cita.
"Aduh Neng, jangan bicara yang bukan-bukan. Sudah Neng Cita di sini saja, tinggal di sini saja sampai Neng Cita merasa baikan, jangan ke mana-mana Neng, bahaya."
Bi Imah meraih tangan Cita dan menggenggamnya.
"Janji yah Neng, jangan pergi ke mana-mana, Bi Imah sama sekali tidak keberatan Neng Cita tinggal di sini. Yah."
Kata Bi Imah wanti-wanti.
Cita jadi menangis.
Ah andai... andai saja Ayah melihat orang yang dulu diperlakukan dengan sangat hina ini justeru memperlakukan Cita jauh lebih baik dari adik-adik kandung Ayah.
**-------**
Siang pulang sekolah Adi langsung pergi ke tempat yang dikatakan Helen melihat Cita dan seorang supir masuk ke sebuah pool tempat mobil-mobil ekspedisi.
Begitu sampai tempat yang sesuai dengan kata Helen, Adi menghentikan motornya dan kemudian menemui satpam yang berjaga di sana.
"Kemarin malam? Anak sekolah?"
Gumam Satpam itu.
Adi mengangguk.
"Sekitar jam berapa dik? Soalnya jam sepuluh malam saya sudah pulang, jadwal malam sejak jam delapan diganti Rahman teman saya."
Kata Satpam dengan nama Danu di seragamnya.
"Ngga yakin Pak, yang lihat temen saya, mungkin jam tujuh sampai jam sembilan."
Kata Adi.
Pak Danu kemudian keluar dari pos, mencoba mencari apakah ada supir yang masih berada di tempat.
Ia bisa saja sebetulnya melihat rekaman CCTV kemarin malam, tapi tampaknya Pak Satpam lebih memilih bertanya pada para supir saja, malas dia harus membuka rekaman dan mengamatinya satu demi satu.
"Ada yang lihat cewek pakai seragam sekolah kemarin malam?"
Tanya Danu begitu melihat beberapa supir sedang main gaple menunggu jadwal pengiriman.
Seorang supir yang sedang duduk tak ikut main tapi sambil merokok menyahut.
"Ada apa memangnya Pak?"
"Itu ada yang nyari."
Kata Pak Danu.
"Kemarin malam memang ada cewek ikut Damar, tapi kata Damar itu sodaranya."
"Oh Bang Damar. Ya ya... Kemarin saya sudah masuk ruangan jadi pasti tidak lihat. Baiklah Bang Josh, terimakasih."
Supir yang dipanggil Bang Josh itu mengangguk santai lalu meneruskan acara merokoknya.
Satpam Danu kembali ke pos, dan menemui Adi.
"Lihat CCTV saja Pak, biar gampang."
Kata Adi pada satpam separuh baya itu.
"Saya tidak begitu pandai urusan komputer dan sebagainya Dik, ini kemarin malam ada yang lihat, katanya bener ada cewek anak sekolah."
Deg!
Adi yang mendengarnya antara lega dan juga terkejut jika ternyata apa yang dikatakan Helen benar.
"Tapi katanya sodara supir di sini."
Kata Pak Danu.
"Sodara supir di sini? Siapa?"
Adi penasaran.
"Bang Damar."
Bang Damar? Adi sepertinya tak asing dengan nama itu, ia mencoba mengingat.
"Bang Damar biasanya pulang ke pool antara jam delapan ke atas, kalau mau ya tunggu saja."
Kata satpam Danu membuyarkan pikiran Adi.
Duh, jam delapan malam ke atas, jelas tidak mungkin Adi menunggu begitu lama.
Tapi jika benar Cita bersama Bang Damar semalam, dibawa ke mana kira-kira Cita? Apa mungkin ke rumah Bang Damar?
Ah Damar, nama itu jelas bukan nama yang baru Adi dengar.
"Ngg... Boleh minta alamat rumah Bang Damar saja Pak?"
Tanya Adi.
"Wah, saya ngga berani Dik, nanti kesalahan kalau memberikan alamat karyawan sembarangan."
Kata Satpam Danu membuat Adi sedikit kecewa.
"Yah baiklah, nanti saya ke sini lagi saja Pak."
Ujar Adi.
Satpam Danu mengangguk.
Adi pun permisi pada pak satpam.
Adi sejenak berpikir, apa yang harus ia katakan pada Ayah Cita. Jika mengatakan Cita bersama laki-laki, pasti Ayah Cita akan mengamuk saat menemukan Cita. Tapi jika Adi mengatakan belum menemukan informasi apapun, Ayah Cita akan melapor pada polisi.
Setelah cukup lama Adi memikirkan apa yang akan ia sampaikan pada Ayah Cita, akhirnya Adi menghubungi Ayah Cita sesuai janjinya.
"Jadi maksudnya Adi sudah tahu Cita di mana?"
Tanya Ayah Cita dengan suara yang terdengar lega.
"Iya Om, saya tahu dari Helen dan Putri teman sekelas Cita."
Kata Adi memilih menyebut nama kedua teman perempuan Cita agar Ayah Cita tak khawatir.
"Nanti Adi akan ke sana nyusulin Cita."
Kata Adi.
"Nanti sama Om sekalian saja Di."
"Ngg... Sepertinya jangan Om, biar Adi saja, maaf Om, soalnya Adi rasa Cita sedang banyak masalah, kemarin waktu main basket Cita sambil nangis Om, jadi Adi rasa Cita memang pengin menghindar dulu dari banyak orang."
Kata Adi.
Mendengar penuturan Adi, Ayah Cita terdiam. Perasaannya sebagai orang tua begitu campur aduk.
"Nanti Adi kabari lagi Om, untuk sekarang Om jangan cemas lagi."
Ayah Cita menghela nafas.
"Yah baiklah, terimakasih Adi."
"Sama-sama Om."
Tuuuuut...
Telfon berakhir. Adi memasukkan hp nya ke dalam saku jaket.
Langit tampak mendung, mungkin akan turun hujan lagi.
Ah semoga malam ini ia bisa menemukan Cita, sekalipun hujan, Adi akan tetap kembali ke pool untuk menemui orang yang bernama Bang Damar.
**--------**