NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:492.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 33

Bab 033: Linda, Siaran Langsung yang Mengguncang

Ia menjadi ancaman.

Ancaman itu punya wajah pada keesokan paginya.

Linda Kusuma masuk ke Klinik Mutiara lewat pintu belakang, memakai masker hitam, kacamata besar, dan topi lebar. Dua orang staf mengikuti dari belakang. Chandra sudah menutup akses lantai dua, menahan semua kurir, dan memasang kertas bertuliskan renovasi internal di pintu depan.

Namun nama Linda terlalu besar untuk benar-benar disembunyikan.

Seorang pegawai bangunan di seberang jalan sempat melihat siluetnya.

Sepuluh menit kemudian, grup gosip hiburan mulai bergerak.

Linda Kusuma ke klinik baru di Surabaya?

Comeback beneran?

Mutiara itu klinik siapa?

Di ruang konsultasi lantai dua, Linda melepas kacamata. Usianya sudah lewat empat puluh, tetapi sorot matanya masih punya kendali panggung. Hanya kulit di sekitar rahang dan lipatan nasolabial yang menunjukkan kelelahan panjang dari kamera, lampu studio, dan tahun-tahun menghilang.

"Dokter Ardi," katanya. "Saya tidak mau dijanjikan muda dua puluh tahun."

Ardi duduk di seberangnya, membuka hasil foto wajah dan analisis jaringan. "Bagus. Karena saya tidak akan menjanjikan itu."

Chandra yang berdiri di sudut langsung melirik Rudi.

Rudi berbisik, "Ini cara jualan paling dingin yang pernah saya lihat."

Linda mendengar. Ia justru tersenyum.

"Saya mau kembali ke layar. Bukan jadi gadis dua puluh tahun. Saya hanya tidak mau wajah saya terlihat seperti orang yang kalah sebelum bicara."

Ardi mengangguk. "Keluhan utama: garis rahang turun, lipatan pipi dalam, kulit bawah mata lelah. Kita bisa lakukan kombinasi DGOP Anti-Aging terbatas, penguatan SMAS Lifting selektif, dan penyempurnaan luka kecil dengan prinsip Jahitan Kosmetik Kulit. Tapi saya perlu jelaskan risikonya."

"Jelaskan."

"Bengkak, memar, asimetri sementara, infeksi, hasil tidak sesuai harapan, kemungkinan revisi. Karena Anda ingin siaran langsung, ada risiko reputasi kalau penonton salah memahami proses. Kita perlu delay tiga puluh detik, sudut kamera terbatas, tidak menampilkan area yang terlalu invasif, dan narasi medis yang benar. Kalau satu syarat dilanggar, siaran berhenti."

Linda menatapnya lebih lama.

"Dokter tidak takut kehilangan momentum?"

"Saya lebih takut pasien saya menjadi alat promosi murahan."

Di sudut ruangan, Chandra menutup mulutnya dengan map. Rudi pura-pura melihat plafon.

Linda pelan-pelan melepas masker dari tangannya dan meletakkannya di meja.

"Baik. Saya tanda tangan."

Satu jam kemudian, ruang operasi minor Mutiara berubah menjadi studio yang lebih bersih daripada panggung hiburan mana pun. Kamera utama dipasang di atas bahu Ardi. Kamera kedua fokus pada monitor edukasi. Kamera ketiga hanya menangkap wajah Linda dari sudut yang sudah disetujui.

Di ruang kontrol kecil, Chandra duduk di depan tiga layar. Moderator medis siap membaca komentar. Tim hukum memegang salinan informed consent. Jumlah penonton awal sudah menembus dua ratus ribu sebelum pisau pertama menyentuh kulit.

Rudi berdiri di samping Ardi sebagai asisten.

"Di," bisiknya, "kalau ini gagal, kita terkenal sebelum buka resmi."

Ardi memakai sarung tangan. "Kalau kamu terus bicara, kamu yang terkenal duluan."

Rudi langsung diam.

Linda berbaring dengan wajah sudah disterilkan dan area operasi ditandai halus. Anestesi lokal bekerja. Napasnya stabil. Matanya terbuka sebentar ketika Ardi mendekat.

"Mbak Linda," kata Ardi, "kita mulai."

"Saya percaya, Dokter."

Lampu operasi menyala penuh.

Siaran dimulai.

Di layar publik, wajah Ardi tidak banyak muncul. Yang muncul adalah tangannya, garis penanda anatomi, dan suara tenang yang menjelaskan setiap langkah tanpa membuatnya terdengar seperti pertunjukan sirkus.

"Di area ini, kita tidak mengejar tarikan kasar," kata Ardi. "Tujuannya bukan membuat wajah kencang seperti topeng. Tujuannya mengembalikan arah dukungan jaringan."

Komentar bergerak cepat.

Dokter ini siapa?

Tangannya stabil banget.

Itu Linda beneran?

Pesona pernah live begini?

Di kantor Pesona, Fenny berdiri di depan layar besar. Lima manajer menonton bersamanya. Salah satu staf media sosial mengetik cepat, mencoba mendorong komentar yang mempertanyakan izin siaran.

Namun Chandra sudah menyiapkan semuanya.

Moderator Mutiara menampilkan potongan dokumen persetujuan, nomor izin klinik sementara dalam proses soft opening terbatas, pernyataan edukasi, dan penjelasan bahwa tindakan dilakukan oleh dokter berizin dengan protokol steril.

Serangan pertama Fenny tenggelam sebelum naik.

Di ruang operasi, Ardi mengambil instrumen tipis yang sudah disiapkan khusus. Ujungnya bergerak seperti menyelip, bukan merobek.

"Teknik ini kami sebut Gliding Blade," kata Ardi.

Nama itu langsung ditangkap komentar.

Gliding Blade?

Keren banget namanya.

Itu pisau atau kuas?

Ardi tidak melihat layar. Matanya hanya mengikuti lapisan jaringan. Gerakannya pendek, ringan, nyaris tanpa darah berlebihan. Ia memisahkan bidang dengan tekanan minimal, menjaga pembuluh kecil tetap aman, lalu mengangkat jaringan penopang ke arah yang sudah dihitung.

Rudi, yang biasanya banyak komentar, kali ini hanya menelan ludah.

Ia pernah melihat tangan Ardi di ruang jantung, di wajah terbakar, di IGD yang kacau.

Tetapi ini berbeda.

Di sini, satu milimeter bukan hanya soal hidup mati. Satu milimeter bisa menjadi garis antara wajah yang hidup dan wajah yang terlihat dipaksa.

"Retraksi halus," kata Ardi.

Rudi mengikuti. "Retraksi."

"Jangan tarik kulit. Dukung lapisan bawahnya."

"Siap."

Di layar monitor edukasi, gambar skema SMAS Lifting muncul. Ardi menjelaskan pendek, tidak menggurui. Banyak penonton awam mungkin hanya melihat ketenangan tangannya. Tetapi ratusan dokter muda, residen bedah plastik, dan dokter estetika yang ikut menonton mulai berhenti mengetik.

Mereka sadar satu hal.

Ini bukan gimmick.

Ini teknik.

Angka penonton melewati satu juta.

Gift dan donasi platform mulai meledak. Ikon-ikon virtual naik seperti hujan cahaya di layar kontrol. Chandra tidak sempat tersenyum karena teleponnya bergetar tanpa henti: wartawan, selebgram, pemilik klinik, manajer artis, bahkan satu nomor yang mengaku dari televisi nasional.

"Dokter," bisik moderator, suaranya gemetar lewat interkom, "kita tembus dua juta."

Ardi tidak menjawab.

Ia sedang menutup lapisan dalam.

Jahitan pertamanya masuk, keluar, lalu mengikat tanpa meninggalkan tarikan kasar. Kamera memperbesar. Komentar kembali meledak.

Itu jahitan?

Kok rapi sekali?

Kayak tidak ada bekas.

Fenny memegang sandaran kursi sampai buku jarinya memutih.

"Matikan narasi mereka," katanya.

Manajer medianya pucat. "Tidak bisa, Bu. Komentar positif terlalu banyak. Beberapa dokter ikut menjelaskan ulang. Mereka malah membela."

Fenny menatap layar.

Di sana, Ardi baru saja menyelesaikan satu sisi wajah Linda.

Bengkak ringan sudah mulai muncul, tetapi garis rahang terlihat berubah. Bukan seperti wajah ditarik paksa. Lebih seperti bagian wajah yang dulu turun tiba-tiba mengingat tempat asalnya.

Linda diberi cermin kecil setelah penutupan sementara dan pemeriksaan cepat. Kamera hanya menangkap reaksinya, bukan luka.

Ia menatap bayangannya.

Selama beberapa detik, artis yang biasa bermain di depan kamera itu tidak bisa bicara.

Lalu matanya basah.

"Ini..." suaranya pecah. "Ini wajah saya. Bukan wajah orang lain."

Kalimat itu lebih kuat daripada iklan apa pun.

Jumlah penonton melewati tiga juta.

Di ruang kontrol, Chandra berdiri dari kursinya. "Mutiara trending nomor satu."

Rudi menoleh pada Ardi. "Di, kamu baru buka klinik atau baru menyalakan kota?"

Ardi melepaskan sarung tangan luar dan memeriksa tanda vital Linda sekali lagi. Stabil. Tidak ada perdarahan aktif. Tidak ada tanda komplikasi awal.

Baru saat itulah panel biru muncul di sudut pandangnya.

[Sistem Warisan aktif]

[Siaran edukasi medis terverifikasi]

[Peserta awam: tinggi. Peserta medis teridentifikasi: 18.420 akun]

[Kualitas demonstrasi: tinggi]

[Hadiah: 900 PM]

[Misi Reputasi: Mutiara Pertama selesai]

[Dampak: merek Mutiara dikenal nasional, pasien premium masuk daftar tunggu]

[Hadiah tambahan: 600 PM]

PM: 2710 -> 4210

Ardi menatap angka itu sebentar.

Empat ribu dua ratus sepuluh PM.

Bukan dari menyembunyikan ilmu.

Dari memperlihatkannya kepada dunia.

Di layar kontrol, daftar tunggu pasien melonjak dari nol menjadi ratusan. Lalu ribuan. Chandra memegang kepalanya sendiri, setengah tertawa, setengah panik.

"Dokter," katanya, "kalau ini mimpi, tolong jangan bangunkan saya. Tapi kalau ini nyata, kita butuh tiga resepsionis tambahan sebelum Magrib."

Linda, masih berbaring, tertawa pelan. "Mas Chandra, saya belum selesai operasi tapi sudah ingin booking kontrol seumur hidup."

Ruangan tertawa pendek.

Di luar klinik, beberapa mobil berhenti. Orang-orang mulai memotret papan nama Mutiara dari trotoar. Wartawan pertama tiba bahkan sebelum siaran selesai.

Di kantor Pesona, Fenny mematikan layar.

Tidak ada yang berani bicara.

Ia baru sadar perang yang ia ucapkan kemarin sudah dimulai, tetapi medan perangnya bukan harga, bukan influencer, bukan iklan berbayar.

Medannya adalah tangan Ardi.

Dan tangan itu baru saja dilihat jutaan orang.

Malam itu, nama Mutiara memenuhi media sosial Indonesia.

Keesokan paginya, undangan resmi tiba di email Ardi.

Tokyo Asian Cardiac Surgery Summit.

Subjeknya pendek:

Invitation for dr. Ardi Pratama: Live Surgical Presentation and Award Nomination.

Ardi membaca undangan itu di depan jendela Mutiara, sementara lampu papan nama masih menyala.

Surabaya sudah mendengar namanya.

Sekarang Asia memanggil.

1
Muezza UnU
bagus penulisannya.. 😍
Amiera Syaqilla
hi
Muezza UnU
iiiihh ikut mewek😭
Muezza UnU
semakin seru, semangat dok
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!