Story of Mizyan Abdillah. Sekuel dari EMPAT SEKAWAN LOVE STORY.
Keputusannya menjadi seorang mualaf tidak serta merta hidupnya dalam ketenangan. Godaan dari teman masa lalu, cinta yang mulai tumbuh di hati, namun ternyata tidak mudah untuk menaklukan wanita yang selalu hadir menguasai pikiran. Makin bertambah masalah yang menimpanya kala menyadari jika aset vitalnya tak lagi berfungsi.
Mampukah ia istiqomah menjadi muslim yang taat dengan segala masalah yang menghampirinya?
Bisakah ia mendapatkan hati dari wanita yang didambakannya?
Rahma. Dia belum siap menikah lagi. Namun bujukan sang ibu berpuluh kali membuat keteguhannya mulai goyah.
"Mizyan lelaki yang baik. Seorang mualaf yang bersungguh-sungguh belajar agama. Dia bisa menjadi imam untukmu dan Dika."
Benarkah sudah waktunya ia menerima cinta yang lain, disaat cinta dan kenangan bersama almarhum suaminya masih ia rawat dan pupuk di hatinya.
MELUKIS SENJA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Senja Kala
Mizyan memperhatikan gerak Rendi yang tengah mempersiapkan tensimeter digital. Sebagai tandar pemeriksaan awal sebelum mengecek bagian tubuh lainnya. Ia harus sabar menunggu kedatangan dokter Rendi 2 jam lamanya sebab masih bertugas di rumah sakit.
"Tadinya abis apa? Sampe pucat begini." Rendi menatap sekilas lalu meraih tangan kiri Mizyan. Bersiap melakukan tensi darah.
"Aku dijebak teman lama." Mizyan menghembuskan nafas panjang. Lalu menceritakan secara singkat apa yang telah menimpanya tadi malam. Dan ia meminta Rendi untuk mengecek di lab zat apa yang terkandung dalam soft drink yang diminumnya
"90/60." ujar Rendi mengakhiri kegiatan pengecekan tensi darah.
"Kamu minum sampai habis?" Ia lanjut mempersiapkan jarum suntik untuk mengambil sampel darah seperti yang dipinta Mizyan.
"Habis setengahnya kayaknya."
"Bisa jadi temanmu itu tahu kalau kamu sudah hijrah." Ujar Rendi sambil mengikat lengan Mizyan dengan torniquet (pengikat lengan). Ia mengidentifikasi letak pembuluh vena lalu mengusapnya dengan alkohol. "Jadi sengaja lakuin itu biar kamu balik lagi kayak dulu. Biar dia ada teman lagi. Just my opinion." Pungkasnya usai mengambil darah dan menutup bekas tusukan jarum dengan plester.
"I think so." Mizyan merasa sepemikiran juga dengan pendapat Rendi.
"Oh ya. Kamu harus tidur yang cukup. Perbanyak makan sayur dan buah. Aku resepkan vitamin juga." Rendi mengingatkan hal yang hampir lupa menyangkut tensi darah Mizyan yang terbilang rendah. Sebab dari tadi memeriksa sambil menanggapi cerita Mizyan.
"Sabar, bro." Rendi kembali ke jalur cerita. "Setiap pilihan jalan hidup, mau lurus atau belok, tantangan akan selalu ada. Kamu harus bisa istiqomah di jalan yang lurus." lanjutnya memberikan motivasi sebab ia tahu pasti bagaimana lika-liku perjalanan hidup kawannya itu.
"Thanks, bruh."
Mizyan merasa bersyukur masih punya teman dekat dan selalu memotivasinya dalam berubah, berhijrah.
"Kapan kita hangout, aku kangen ngumpul lengkap sama gengster Arya." Ia tertawa sambil geleng-geleng kepala sebab teringat bagaimana happy nya diri jika berada di tengah kumpulan 4 sekawan yang konyol dan gesreknya kambuh jika sudah berkumpul.
Rendi mengangkat bahu. "Entar deh atur waktu. Udah pada punya anak makin susah ngumpul lengkap. Ada aja halangan salah seorang."
"Bentar. Willi telepon."
Mizyan mengangguk. Membiarkan Rendi yang berjalan mendekati jendela apartemen. Ia pun meraih ponselnya untuk mengecek sesiapa chat yang masuk sebab dari tadi terdengar notif berulang."
"Assalamualaikum, kak Mizyan. Saya dengar dari Dado, kakak sakit. Perbanyak istirahat ya, jangan kurang tidur."
"Syafakallah, kak."
"Olla."
Mizyan mengernyit. Ia merasa tidak pernah memberikan nomer ponselnya kepada Olla.
Mungkin Umi yang ngasih tahu.
"Thanks, Olla." Ia memberikan balasan singkat. Beralih membuka reminder untuk melihat tugas mana saja yang dekat dengan deadline.
"Heran. Punya kawan senengnya gratisan mulu." Rendi geleng-geleng kepala sembari membereskan peralatan dokternya bersiap pulang. "Kamu juga." Lanjutnya dengan tatapan sengit.
"What's wrong?!" Mizyan mengernyit. Merasa heran dengan perubahan sikap Rendi. Padahal tadi biasa saja, sekarang menjadi galak.
"Si Willi nyeri ulu hati udah 2 hari, katanya. Minta aku nanti malam mampir ke cafenya, pengen check up."
"Heran. Pada nggak mau periksa ke dokter."
"Aku kan dokter spesialis anak. Bukan dokter umum."
Mizyan terbahak mendengar gerutuan Rendi. Kini ia baru faham penyabab Rendi moody.
"Gunanya temen emang untuk dimanfaatin, bukan?" Mizyan menaikkan kedua alisnya diiringi kekehan tawa. "Kamu kan dokter cerdas. Materi dokter umum udah khatam pastinya. So, ngapain pergi ke dokter lain."
Tanggapan yang membuat Rendi mencebik. Memilih pergi menuju kulkas untuk mengambil minuman dingin.
Sendiri lagi.
Mizyan menghela nafas panjang mendapati ruang apartemen yang luas kembali sunyi sebab Rendi sudah pulang. Dulu ia merasa biasa dengan susana sendiri seperti ini, tapi sekarang merasa ingin ada teman bicara. Aneh.
Dan rasa terkejut juga hinggap di hatinya saat besoknya janjian bertemu Rendi di jam makan siang di sebuah rumah makan sunda. Rendi memperlihatkan hasil uji lab dengan istilah medis yang membuat keningnya mengkerut.
"Jelasin aja, Ren." Ia mengembalikan lembaran diagnosis lab ke depan Rendi. Memilih mendengar penjelasannya saja daripada membaca istilah yang tidak dimengertinya.
****
Mizyan kembali mengisi hari dengan rutinitasnya, dunia arsitektur yang menjadi candunya. Pilihannya bersolo karir, tak mau terikat dengan beberapa perusahaan properti ternama yang meminangnya meski dengan tawaran gaji fantastis. Ia tak bergeming. Tak terikat membuat dirinya bebas mengatur waktu, bebas mengekspresikan diri dan imajinasi. That's his passion.
Ia melirik jam yang melingkar di tangannya. Sebentar lagi waktu ashar tiba. Meeting bersama klien di restoran Jepang untuk menyerahkan soft file dan hard file gambar rumah mewah 2 lantai gaya eropa klasik, selesai dengan semburat kepuasan di wajah klien yang merupakan sepasang suami istri. Ia kini tengah melajukan mobilnya di jalan Otista yang ramai lancar dan memilih membelokkan mobil menuju Masjid Bandung Raya. Ia bertekad sebisa mungkin tidak ketinggalan shalat berjamaah.
"Ini adalah zat yang terdapat pada obat perangsang dan obat tidur."
"Perpaduan yang harusnya membuat kamu tertidur sesaat lalu nge fly dan membuat senjatamu kuat tempur sampai pagi."
Ia meraba tengkuknya kala teringat kembali penjelasan Rendi 2 hari yang lalu saat membahas hasil lab. Tak habis pikir dengan kelakuan Oji yang berani menjebaknya. Bahkan lupa diri pada jasa yang sudah diberikan yang membuat temannya itu bisa bekerja di perusahaan bonafid. Bukan ingin dibalas budi. Tapi janganlah menusuknya dari belakang.
"Alhamdulillah. Allah masih menjagamu dari kejahatan mereka."
"Dosisnya tinggi, bro. Semoga tidak ada efek samping."
"Kalau nanti ada keluhan ngomong aja."
Kilau jingga tampak di langit cerah yang menaungi kawasan masjid dan alun-alun Bandung. Usai shalat, ia memilih bersantai di bangku pelataran masjid yang menghadap lapangan berkarpet rumput sintetis. Tak terpengaruh dengan keriangan anak-anak bermain gelembung sabun dan bermain bola. Juga tak terpengaruh dengan para petugas satpol PP yang menghalau kedatangan para pedagang asongan dan menegur pengunjung untuk tidak makan dan minum di area lapang rumput sintetis. Padahal sudah jelas ada plang larangannya, demi kenyamanan bersama.
Mizyan masih asyik dengan pikirannya yang mencerna semua penjelasan dokter Rendi kawannya itu. Matanya yang tertutup kaca mata hitam tak akan terlihat oleh pandangan orang jika ia tengah berpikir keras sambil sesekali meneguk air mineral yang dipegangnya. Ia juga tak mengindahkan tatapan penuh kekaguman dari kaum hawa. Bahkan yang lewat di depannya berjalan sampai memelintirkan leher menatapnya, tak pula dihiraukan.
Dug.
Sebuah bola menggelinding mengenai kaki, spontan ditahannya. Lalu disusul seorang anak kecil berlari mendekat untuk mengambil bola yang ditahan di bawah sepatunya.
"Dika!"
Mizyan tersenyum lebar melihat siapa anak kecil yang menghampirinya itu. Ia membuka kacamatanya sebab Dika tampak bengong menatapnya.
"Ay.....Om?!" Dika meralat ucapannya dengan cepat mungkin teringat nasehat sang bunda. Namun ia tampak girang terlihat dari gesturnya yang berjingkrak-jingkrak.
"Dika sama siapa?" Mizyan menatap wajah tampan dengan kedua pipi yang memerah seperti tomat.
Dika belum sempat menjawab, keburu Pak Badru datang menghampiri keduanya.
"Wah ketemu nak Mizyan di sini."
Mizyan dan pak Badru larut dalam obrolan santai sambil menunggu neneknya Dika selesai shalat sebab bergiliran menjaga Dika yang tidak bisa diam.
"Tadi shaf mana? kok nggak lihat ya."
"Shaf pertama pak." Mizyan menjawab sambil melayani Dika yang menendang bola ke arahnya.
"Oh, pantesan nggak liat. Bapak shaf kedua pojok," sahutnya sambil terkekeh.
"Ehmm, bundanya Dika nggak ikut?" Mizyan tak tahan ingin bertanya sebab penasaran obrolan dari tadi tidak menyentil keberadaan bunda Dika.
"Enggak, masih sibuk di toko banyak pesanan. Ini juga abis jemput Dika dari toko. Rahma baru bisa pulang nanti jam 8 malam."
Mizyan mengangguk. Terjawab sudah rasa penasarannya.
"Pak, saya minta ijin ngajak Dika main, boleh pak?"
Anggukan pak Badru mengiringi kepergian Mizyan dan Dika ke tengah lapangan rumput sintetis usai sama-sama melepas sepatu. Mizyan terlebih dulu membeli sebotol mainan balon sabun. Dika tertawa lepas kala menangkap puluhan balon sabun yang diterbangkan Mizyan di udara dan terbawa angin. Sebagian yang lepas dari tangkapn Dika, balon sabun itu pecah di udara.
Senja yang indah di alun-alun Bandung dengan semburat jingga yang semakin menukik seolah bergerak mendekat. Sejatinya, lukisan alam itu sedang mengantarkan kepergian sang mentari yang surut menuju peraduan. Namun kebahagiaan dua pria tampan beda generasi itu tak ikut surut. Malah semakin larut dalam keriaan saling kejar mengejar diantara keramaian orang-orang yang menghabiskan waktu sore di alun-alun.
Tampak pula saling pandang serta senyum penuh arti dua orang tua yang tengah duduk di bangku. Mereka memperhatikan tingkah cucunya yang nemplok di punggung Mizyan bermain kuda-kudaan sambil tertawa-tawa.