NovelToon NovelToon
Beauty & Berondong

Beauty & Berondong

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:835.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bundew

Ayunda Zhia Wijaya yang baru saja kehilangan calon suaminya, sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan.

Kehilangan demi kehilangan yang dialami oleh Ayunda meninggalkan bekas trauma yang mendalam di diri gadis itu, hingga Ayunda selalu dilanda keraguan untuk menjalin sebuah hubungan.

Namun takdir malah mempertemukan Ayunda dengan Bennedic Rainer, seorang pemuda tanggung yang jiwa mudanya begitu berkobar.

Ben yang merupakan sepupu dari boss Ayunda di kantor, kerap menggoda Ayunda dan selalu kepo dengan hidup Ayunda.

Sekuat apapun Ayunda menghindari Ben, pemuda itu malah semakin mengejar Ayunda dengan gila.

Mampukah Ben yang juga masih labil menyembuhkan rasa trauma yang dialami oleh Ayunda dan memberikan kebahagiaan yang sesungguhnya untuk wanita yang usianya lebih tua dari Ben tersebut?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BEN KENAPA?

"Ben kenapa, Ay? Kenapa babak belur begitu?" Tanya Opa Ronny seraya mendekat ke arah Ben dan Ayunda.

"Berkelahi dengan begal, Pa!" Jelas Ayunda yang sudah selesai mengompres lebam di wajah Ben. Ayunda segera bangkit berdiri dan membawa baskom berisi air tadi ke dapur, meninggalkan Ben bersama Opa Ronny.

"Parah tidak lukanya?" Tanya Opa Ronny lagi menyelidik sekaligus memeriksa tangan Ben yang sudah terbalut perban.

"Hanya luka gores, Pa! Sudah diobati tadi oleh Ayunda," jawab Ben sesantai mungkin.

Ayunda sudah kembali seraya membawa bantal dan selimut, lalu meletakkannya di samping Ben.

"Ben mengeluh pusing dan jalannya sempoyongan, Pa! Mobilnya juga diambil begal tadi," lapor Ayunda menjelaskan pada Opa Ronny.

"Iya sebaiknya kamu istirahat disini saja, Ben! Malam sudah larut juga." Opa Ronny beranjak dari duduknya dan menepuk pundak Ben.

"Terima kasih karena sudah mengantar Ayunda pulang dan menjaganya," ucap Opa Ronny lagi dengan tulus.

Ben hanya mengangguk dan sedikit salah tingkah.

Pusing?

Sempoyongan?

Ayunda percaya saja pada akting Ben.

Ben hanya membatin dan tertawa dalam hati.

Opa Ronny sudah meninggalkan ruang tamu, dan kini hanya ada Ben dan Ayunda yang sedang menyusun bantal untuk Ben tidur.

"Mau menghubungi orang tuamu?" Tanya Ayunda seraya menyodorkan ponselnya pada Ben.

"Bukannya ponselmu tadi diambil begal juga? Ini ponsel siapa?" Tanya Ben bingung.

Aku baru ingat kalau ponselku tertinggal di rumah sejak tadi," jawab Ayunda seraya meringis.

"Tasmu tadi isi apa berarti?" Ben mengernyit penuh tanda tanya.

"Hanya tisu dan sapu tangan sepertinya," jawab Ayunda sedikit ragu.

Terang saja hal itu langsung membuat Ben terkekeh, seolah merasa senang karena sudah berhasil menipu begal sialan tadi.

Padahal dompet Ben juga dirampas tadi, bersama ponsel dan jam tangan Ben juga. Kenapa Ben malah tertawa begitu. Dan jangan lupakan mobil sport mewah Ben yang ringsek dan mungkin sudah dibawa kabur begal juga.

Dasar Ben aneh!

"Kenapa tertawa senang begitu?" Tanya Ayunda heran.

"Begalnya kena prank! Ngrampas tas kamu cuma dapat tisu," jawab Ben yang masih saja tergelak.

"Tapi dompet dan mobil kamu kan juga diambil tadi. Nggak kamu tangisin?" Ujar Ayunda mengingatkan.

Tawa Ben langsung hilang seketika.

"Iya, juga, ya!" Ben menggaruk tengkuknya yabg tak gatal.

"Mobilnya ada asuransi, jadi tidak usah terlalu ambil pusing. Kalau dompet dan kartu-kartu di dalamnya-" Ben segera meraih ponsel Ayunda dan mengetikkan nomor sang Papa yang Ben hafal di luar kepala.

"Halo, Papa! Ini Ben!" Ucap Ben cepat sesaat setelah panggilannya dijawab oleh Papa Theo.

"Ben! Kamu keluyuran kemana? Ini sudah lewat tengah malam."

Ben menjauhkan ponsel Ayunda dari telinganya karena Papa Theo yang malah mengomel di seberang telepon.

"Ben dan Ayunda kena begal, Pa!"

"Apa!!" Teriakan Papa Theo benar-benar seperti speaker konslet. Telinga Ben sampai berdenging.

Dasar Papa lebay!

"Kalian dimana sekarang? Apa kalian terluka? Sudah lapor polisi?"

"Satu-satu tanyanya, Pa!"

"Ben kena sabet pisau dari begal, tapi sudah diobati sama Ayunda. Dan sekarang Ben ada di panti asuhan tempat Ayunda tinggal. Ben menginap disini, ya, Pa! Ben tidak bisa pulang karena kepala Ben pusing dan mata Ben berkunang-kunang," jelas Ben panjang lebar dengan nada bicara yang dibuat-buat.

"Papa akan menjemputmu!"

"Pa!" Ben merengek seperti bayi.

"Papa akan menjemputmu besok pagi. Jangan macam-macam di rumah Ayunda! Awas kamu!" Papa Theo memperingatkan Ben namun Ben malah tersenyum penuh kemenangan.

Namun saat melihat Ayunda yang ternyata masih memperhatikannya, Ben kembali pura-pura meringis dan memegangi kepalanya.

Eh, tapi yang disabet begal tadi tangan Ben.

Kenapa Ben memegangi kepala?

Aktingmu gagal, Ben!

Dasar aktor gadungan!

"Sudah, ya, Pa! Tentang barang-barang Ben yang hilang, tolong Papa tangani," ucap Ben berpamitan pada Papa Theo.

"Dasar bocah manja!"

"Manja-manja gini kan anak kesayangannya Papa," cengir Ben seraya menutup telepon. Ben segera mengembalikan ponsel Ayunda pada sang empunya.

"Aduh!" Ben kembali meringis dan memegangi kepalanya lagi saat hendak berbaring.

"Sakit, ya? Perasaan kepala kamu nggak ada yang memar," Ayunda meraba-raba kepala dan bagian kening Ben saat wanita itu menemukan bekas luka yang sepertinya cukup parah, karena ada bekas jahitannya,

"Ini apa?" Tanya Ayunda yang mendadak berubah kepo.

Sudah ketularan Ben sepertinya.

"Mana?" Ben ikut meraba-raba kepalanya di bagian depan hingga akhirnya menemukan bekas luka saat kecelakaan beberapa tahun yang lalu.

"Oh, ini luka bekas kecelakaan waktu masih kuliah dulu," jawab Ben seraya mengusap-usap bekas luka di kepalanya tersebut.

"Kelihatannya parah," gumam Ayunda menerka-nerka.

"Iya, sampai harus transfusi darah. Untung ada nona baik hati yang menolong serta mendonorkan darahnya. Sayang, belum sempat bertemu lagi dengan nona baik hati yang kata Papa tidak bisa melihat itu," jelas Ben panjang lebar yang sontak membuat Ayunda tertegun.

"Kau kecelakaan saat naik motor di kota?" Ayunda menyebutkan sebuah nama kota.

"Iya. Kok tahu? Perasaan aku belum pernah cerita sama kamu," Ben balik bertanya dan merasa bingung.

"Pasien kehilangan banyak darah dan stok darahnya sedang kosong," ucapan dokter yang menangani korban kecelakaan yang baru saja ditolong oleh Ayunda dan Gabrian, tak sengaja di dengar oleh Ayunda yang baru saja akan pergi.

"Bri, coba tanya dokternya, golongan darah pemuda yang kita tolong tadi apa? Mungkin aku atau kamu bisa jadi pendonor," Ayunda mengguncang lengan Gabrian dan sedikit memohon pada kekasihnya tersebut.

"Kita pulang aja, Ay! Nanti pasti ada orang lain yang akan jadi pendonor. Keluarganya juga pasti datang sebentar lagi," tolak Gabrian memberikan sederet alasan pada Ayunda.

"Nggak bisa gitu, dong, Bri! Menolong orang jangan hanya setengah-setengah! Cepat tanyakan, atau aku tidak mau pulang," ancam Ayunda pada Gabrian.

"Ngancem! Atau jangan-jangan kamu naksir sama pemuda tadi?" Goda Gabrian seraya mencubit hidung Ayunda.

"Mana ada! Aku hanya ingin menolongnya," kelit Ayunda mencari alasan.

"Baiklah, baiklah! Ketimbang kita ketinggalan pesawat dan aku harus membeli tiket lagi, aku akan menanyakan golongan darah pemuda tadi. Semoga bukan darahku yang harus diambil. Aku masih takut jarum suntik," kekeh Gabrian sebelum memanggil perawat dan menyampaikan pertanyaan serta niatnya untuk mendonorkan darah. Dan tanpa dinyana, ternyata malah darah Ayunda yang cocok dengan darah pemuda tadi. Jadilah Ayunda yang akhirnya menjadi pendonor.

Setelah mendonorkan darah, Ayunda dan Gabrian langsung bergegas ke bandara dan tak sempat bertemu keluarga pemuda yang ia tolong. Dan hingga detik ini Ayunda tak tahu siapa pemuda yang ia tolong waktu itu.

Hingga tiba-tiba lekuk wajah Ben dan bekas luka di kepala Ben membuat Ayunda jadi menerka-nerka.

Mungkinkah pemuda yang Ayunda dan Gabrian tolong waktu itu adalah Ben?

"Ay! Kok melamun?" Tanya Ben yang langsung membuyarkan lamunan Ayunda.

"Eh, enggak! Siapa yang melamun?" Kilah Ayunda yang sudah selesai menata bantal untuk Ben.

"Kamu istirahat, gih! Udah malam juga," ucap Ayunda selanjutnya yang hanya dijawab Ben dengan anggukan kepala.

Ben segera berbaring diatas kursi ruang tamu dan Ayunda membenarkan selimut pria tersebut.

"Ay," panggil Ben lagi saat Ayunda hendak meninggalkan ruang tamu.

"Hmmm?"

"Gabrian siapa, sih? Papa kamu, ya?" Tanya Ben tiba-tiba yang langsung membuat Ayunda mematung di tempatnya.

Darimana Ben tahu soal Gabrian?

.

.

.

Terima kasih yang sudah mampir.

Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.

Tanya dulu tolong dijawab jujur.

Kalau Ben dan Ayunda nya ini pas apa nggak?

Aku nggak pinter nyari visual 😭😭

1
Janah Husna Ugy
inget suami Sasha siapa ya lupa Ando apa Aldo ya🤭🤭🤭egois
Si Memeh
menghibur banget cerita nya thor
Nurul Laila Zulaikah
Luar biasa
Desi Nur
lalu dimana si kayla tante ya ayunda adek dari kenzo
Maya Ratnasari
pluto udah bukan planet lagi
Maya Ratnasari
surprise
Maya Ratnasari
waduh kalo AC suhunya dikecilkan bakalan tambah dingin thor.
biar agak hangat, suhu AC dinaikkan.
Maya Ratnasari
kayanya sebelumnya namanya oma nuna, bukan oma salsa. oh mungkin namanya nuna salsa ya
Maya Ratnasari: asiyaapp. makasiii thor.
total 2 replies
Rossy Susilawati
lucu
Ran Aulia
terimakasih author 😍😍😍😍👍👍👍👍
dream
Duh berondong kuat bener baru udahan dah naik lagi🤣🤣🤣
dream
yaelah... ben.... nyusu mulu, kaya bayi gede
dream
Hadeh.... pake acara ngegeledak.... 🤣🤣🤣
dream
Alamak..... gini nih kl sama brondong, kuat.... 😝😝🤣🤣🤣
dream
yeay..... udah gak gelisah lagi, udah tembus beneran ya ben😂😂😂😂
dream
Hahaha..... mana tahan.... 🤣🤣🤣🤣
dream
udah senyum2 ndiri bacanya, gak ku.... ku..... 😂😂
dream
Hahaha..... liat ular kadut depan mata🤭😂
dream
itu mah modus bang Ben🤭🤧
susi 2020
😂😂🤫
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!