#Mature conten
#Harap bijak memilih bacaan
# Isi mengandung unsur 18+
Sebuah rayuan, bisa membuat seseorang terjebak dalam pusara angan-angan yang indah, melebihi logikanya tanpa sadar.
Disinilah kisah sang tokoh utama bermula. Elena tanpa sadar mulai masuk kedalam bujuk rayu yang akan mengubah hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisahnya?
Jangan lupa, untuk menekan tap Love, like serta komentnya ya, Terima kasih telah membaca.
Find me on IG @Armalik King
Facebook @Armalik King
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armalik King, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyelidikan
Matahari mulai meninggi. Tepat di atas kepala. Dengan teriknya matahari dan udara yang mulai panas, terlihat Elena sedang terdiam seribu bahasa. Ia duduk dengan wajah serius dan terlihat memikirkan sesuatu. Sesekali keringat mengucur dari dahi Elena karena udara panas saat ini. Padahal rumah besar itu memiliki air conditioner, atau alat pendingin ruangan yang bisa menyaring debu di ruangan tersebut pula.
“Ah, cuacanya sangat terik! Aku ingin air yang dingin! Bibi, tolong ambilkan aku air minum yang dingin, ya!?” ujar Lucy yang memecahkan keheningan saat ini.
Sang sahabat memang sengaja melakukannya. Untuk mengulur waktu dan agar Elena bisa berpikir jernih, Lucy pun mengalihkan pembicaraan. Ia terus berbicara bahwa ia kepanasan, lantas Lucy mengikat rambutnya yang tergerai sedari tadi. “Oh, maaf... sepertinya cuaca hari ini begitu menyengat! Apa tuan-tuan tak kehausn? Silahkan diminum karena gelas itu bukan hanya hiasan, hahaha....” Lucy menggunakan banyak cara agar sang sahabat tidak terlihat panik dam kebingungan.
“Maaf, tuan-tuan! Saya baru datang dari Macau karena saya harus Suting untuk beberapa iklan dan program televisi! Jadi mungkin cuaca di sini begitu berbeda,” ungkap Lucy kembali yang lagi-lagi ia selalu membual.
“Oh, astaga! Aku sangat lancang tidak memperkenalkan diri,” ucapnya dengan beranjak berdiri. Ia mengangguk dengan senyum ramah dan memperkenalkan diri, bahwa dirinya adalah Lucy Anderson sang selebriti yang memerankan film terkenal.
Seketika Elena berdehem. Ia sedang memberikan kode pada sang sahabat yang mengisyaratkan bahwa ia telah kelewatan. Seketika itu, Lucy puj terduduk di kursinya kembali dan menyeruput gelas tinggi yang berwarna merah dengan beberapa es batu yang berada mengambang didalam minumannya itu. “Ah, sangat segar sekali! “ ucapnya dengan menyimpan minuman yang di berikan dari sang bibi Ruby barusan.
“Oh, maaf! Silakan tuan-tuan meneruskan urusannya kembali,” ungkap Lucy dengan menyandarkan punggung di sandaran sofa.
Elena mulai berbicara. Ia berkata bahwa besok dirinya akan meminta semua para petinggi di perusahaan untuk menyepakati keputusan agar lebih adil dan semua orang pun lebih memerima hasilnya. “Ah, baiklah! Besok saya akan menjadwalkan rapat para pimpinan sekitar pukul 10 pagi. Apa ada lagi yang ingin anda utarakan?” tanya pria yang berkacamata dengan menatap Elena tersenyum paksa.
Semua orang terdiam ketika Elena berbicara dengan Elena. Hingga sang pria berkacamata itu akurnya sekasai dengan urusannya di rumah besar, milik Leonard. Ketiga pria itu pamit dan di ikuti oleh sang Paman yang akan mengantar mereka. Sepeninggalan semua orang, Elena dan Lucy pun bangkit juga dari duduknya. Mereka mulai berjalan menuju lift untuk pergi ke kamar Elena. Karena tempat yang paling aman dan tak ada seorang pun yang dapat mendengar percakapan mereka hanya disana.
Di dalam lift, Lucy berkata bahwa baru saja kemarin Xander menghilang dan sekarang mereka menanyakan posisi pengganti presdir. “Apa menurutmu itu tak mencurigakan?” ucap Lucy dengan raut wajah lucunya. Elena terdiam sejenak, lantas ia mengangguk dengan pelan seraya memberikan jawaban pada Lucy. “Aku pikir semua yang terjadi berhubungan dengan Xander!?” ungkap Lucy kembali dengan menyipitkan matanya.
Akhirnya, lift pun terbuka. Mereka pun bertiga bersama sang bibi melangkah menuju kamar Elena. Setibanya didalam kamar, Lucy bergegas melemparkan tubuhnya keatas ranjang tidur. Ia menghela napas dan menghembuskannya, seraya lega. Elena duduk di sampingnya. “Apa tadi aktingku bagus? Astaga! Aku bahkan seperti orang bodooh bahkan aku mungkin akan dikenal dengan selebriti yang cerewet dan suka mengganggu! Hahahah...,” celetuk Lucy dengan berbicara cepat.
Elena melirik kearah Lucy. Ia sibuk dengan ponselnya saat ini. “Aku pikir bahwa kau memang begitu yang sebenarnya? Jadi tak ada yang harus kau takutkan!” ujar Elena dengan ucapan dinginnya.
“Aih, baiklah tuan putri! Kau selalu benar! Tapi... aku berpikir bahwa, bagaimana bisa...,” ujar Lucy, ucapannya terpotong oleh Elena.
“Bagimana bisa apanya? Kau kan seorang selebriti, dan aku seorang keturunan bangsawan! Bahkan aku belajar kepribadian serta peraturan dalam istana sepanjang hidup! Padahal aku tak tinggal diistan!? Itu hal yang sangat menyebalkan!” gerutu Elena dengan kembali menatap layar ponselnya lagi.
Jemari tangan Elena menekan layar dengan cepat. Elena sedari tadi mengirimkan pesan pada sang asisten pribadi mendiang ayahnya untuk menyelidiki apa yang terjadi di perusahaan. Selesai dengan mengirimkan pesan, Elena mulai berbicara pada Lucy dan juga bibi Ruby. Karena hanya mereka yang dapat di percaya selain sang asisten pribadi dari sang ayah dan juga seorang koki di rumah besar itu.
“Aku berpikir bahwa selama ini ada seseorang yang memang membuat rencana ini untukku,” ucap Elena dengan nada datar.
“Jadi, menurutmu siapa? Dan lebih tepatnya kenapa tunanganmu pergi dengan alasan konyol?” ucap Lucy dengan wajah yang terlihat kesal.
“Ya, kita harus menyelidiki terlebih dahulu tentang Xander! Bagimana pun caranya, kita harus mengetahui semua hal yang terjadi secara beruntun ini!” jawab Elena yang bangkit berdiri dan meraih sebuah bingkai foto besar yang tercantum diatas dinding kamar itu.
“Hmm, benar... ini terjadi secara beruntun... sangat aneh dan sepertinya ada sesuatu dibalik semua masalah ini,” gumam Lucy yang kemudian mengambil ponsel yang ada didalam tas kecil berselendang, yang selalu ia bawa kemanapun.
Elena menatap foto yang ada dalam bingkai besar, dengan ukuran 1x1 meter itu. Dengan wajahnya yang datar, ia meremass ujung bingkai foto itu dengan sekuat tenaga. Wajahnya kini berubah geram. Seketika itu Elena membuka penutup bingkai foto, dan segera mengeluarkan foto didalamnya. Gambar di dalam foto itu tampak dirinya sedang tersenyum sambil memeluk sang kekasihnya, Xander.
Mereka tampak bahagia dengan mengenakan pakaian berwarna senada putih. Jemari tangan Elena seketika merobek dengan keras kertas foto itu, hingga berukuran kecil dan tak berbentuk lagi. Sang bibi dan Lucy yang melihat sikap Elena itu, mereka hanya bisa “Tolong ambilkan pemantik dan tempat sampahnya,” ucap Elena datar.
“Ya, nona!” jawab sang bibi dengan bergegas pergi keluar kamar. Elena menyimpan sobekan kertas foto itu. Langkahnya berjalan menuju nakas di samping ranjangnya. Ia menarik tuas laci dan mencari sesuatu disana. Terlihat sebuh kotak cincin yang diambil oleh Elena. Lucy mendekatinya setelah mengirimkan pesan pada sang ayah.
“Apa kau masih berniat menyimpannya?” tanya Lucy yang kemudian duduk di pinggir ranjang, dimana Elena berada. Kepalanya menggeleng kencang.
“Aku hanya berpikir, bagimana caranya agar cincin ini tidak di buang begitu saja. Karena, banyak di luar sana orang yang bahkan tak bisa membeli sebuah cincin pernikahan mereka,” tutur Elena dengan masih menatap sebuah kotak yang berisi cincin polos berwarna silver, dengan batu permata kecil di tengahnya.
Kemudian, suara ketukkan pintu mengingatkan mereka berdua. Terdengar suara seorang pria dari luar pintu kamar Elena. “Oh, siapa itu? Aku pikir tadi yang mengetuk, bi Ruby?” celetuk Lucy dengan raut wajah kebingungan yang bercampur was-was.
To be continue...