⚠️⚠️ NO PLAGIAT!!
UPDATE SETIAP HARI KAMIS & MINGGU JAM 21.00 WIB
Hari-hari bahagia Silvia mendadak hancur begitu saja karena dirinya yang tiba-tiba mengandung anak dari pacarnya.
Di tengah-tengah reputasi buruknya itu, apakah Silvia dapat bertahan?
Yuk pantauin terus ceritanya! 😉
-----
Cerita ini dibuat berdasarkan imajinasi author semata. Jangan lupa untuk like, comment, dan vote ceritanya ya para readers yang budiman..
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Revina Willy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa dia?
"Hah.."
Semua perkataan yang pak Daryo katakan, hanya menjadi angin lalu di telingaku. Aku tak bisa fokus dengan pelajaran. Kakiku bahkan tidak henti-hentinya menghentak lantai sejak tadi.
Karena terus teringat sikap Rendi padaku di UKS tadi, sekarang aku jadi terus memikirkannya. Ah aku ingin menemuinya dan memeluknya. Padahal belum ada 3 jam setelah pertemuanku dengan Rendi, tapi aku sudah merindukannya lagi.
"Psst.. psst! Silvi!"
Aku tersadar dari lamunanku seketika. Aku menoleh, lalu menatap ke arah Tania yang memanggilku. Aku kesal sih, karena dia sudah merusak khayalanku.
"Kenapa sih?" Aku menatapnya sinis.
"I..itu.."
Sambil berbisik, Tania menunjuk ke arah papan tulis. Aku merasa heran dengan ekspresinya yang tampak panik dan cemas. Karena aku penasaran dengan apa yang membuat Tania sampai menunjukkan ekspresi seperti itu, aku langsung saja menoleh ke arah papan tulis di depanku.
"Ehem!"
Kulihat Pak Daryo menatapku dengan tajam sambil berkacak pinggang. Lalu entah kenapa aku merasa teman-teman sekelasku menatapku dengan wajah khawatir.
Aku melirik ke arah kanan dan kiriku. Ku tatap balik semua mata yang memandangku. Di saat itu pula, pak Daryo tiba-tiba memanggil namaku.
"Silvia Wulandari!" Sebut pak Daryo.
"I..iya pak."
Aku langsung bangkit dari kursiku sesaat namaku dipanggil.
"Bapak sudah memanggil kamu lebih dari 5 kali, kamu ini kenapa?" Tanya Pak Daryo padaku.
Mendadak aku merasa tubuhku seperti tersengat aliran listrik. Apa pak Daryo memanggilku ketika aku sedang tidak fokus tadi? Jika benar, sepertinya kali ini aku akan terkena masalah.
"M..maaf pak." Ucapku lirih.
"Tadi kamu juga terlambat di jam saya. Ngapain aja kamu sewaktu jam istirahat? Kamu gak dengar suara bel tadi?" Tanya Pak Daryo lagi.
"S..Saya dengar pak.. Maaf.." Jawabku lirih.
"Hah.. Ya sudahlah. Cepat kerjakan soal ini di papan tulis!" Perintah Pak Daryo dengan nada yang tegas.
"Iya pak.."
Aku bergegas melangkah ke arah papan tulis. Karena banyaknya tatapan-tatapan menusuk yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasku, aku jadi semakin gugup.
"Sudah pak."
Aku mengerjakan semua soal yang diberikan Pak Daryo dengan cepat. Itu sudah pasti karena semua soal-soal itu sangat mudah bagiku. Kulihat pak Daryo tersenyum puas. Mungkin itu karena aku mengerjakan semua soal di papan tulis tanpa adanya kesalahan.
"Bagus! Seperti murid yang bapak harapkan, kamu memang hebat. Sekarang kamu boleh duduk!" Ucap Pak Daryo.
Aku mengangguk, lalu berjalan kembali ke tempat dudukku. Aku lihat Tania yang awalnya cemas dan gelisah, kini tersenyum bangga. Dia memberikan dua jempol padaku sembari mengedipkan sebelah matanya.
Sementara itu, tidak sedikit pula dari teman-teman sekelasku yang menatapku sinis karena merasa iri. Ya sudahlah biarkan saja. Tak ada gunanya juga jika aku meladeni mereka semua.
"Psst psst woi Sil!"
Suara bisikan Tania yang terdengar keras itu mampu membuatku jengkel. Padahal mood ku sudah memburuk karena tatapan kebencian mereka. Dan sekarang aku jadi semakin dibuat kesal karena Tania.
"Iya. Lo kenapa sih?" Tanyaku.
"Tadi di UKS kelas 3 lo kenapa? Tangan gue masih sakit nih gara lo! Mana kita jadi telat masuk kelas lagi!" Gerutu Tania.
"Sstt.. udah deh lo diem aja! Itu rahasia." Balasku.
"What? Kan lo sendiri yang bilang mau jelasin, ngeselin banget!" Balas Tania.
"Iya.. Iya.. maap deh kalau gue ngeselin." Timpalku.
Teett
Suara bel sekolah berbunyi. Kulihat Pak Daryo berdiri dari bangkunya kemudian berjalan ke hadapan kami semua.
"Baik pelajaran sudah selesai, kalian boleh istirahat."
Sesaat Pak Daryo berkata seperti itu, langsung saja banyak anak-anak yang berhamburan keluar dari dalam kelas. Wajah lesu mereka selama pelajaran entah kenapa kini terlihat segar.
"Tan, ke kantin yuk! Laper!" Ajakku.
Aku bangkit dari dudukku. Tidak bisa dipungkiri kalau aku juga merasa jenuh di dalam kelas.
"Ga mau! Gue masih ngambek!" Ucap Tania.
Apa-apaan? Kenapa dia malah bersikap kekanak-kanakan begini. Tania tampak cemberut dengan kedua tangannya yang sengaja ia lipat.
"Hadeh.. ntar gue traktir deh.." Bujukku.
"Hah? Serius lo Sil? Oke deh."
Tak perlu menunggu lama, Tania langsung bersemangat dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa padanya sebelumnya.
"Iya-iya.. padahal cuma traktir doang. Emangnya lo ga mampu apa?" Tanyaku.
"Lo gatau ya kalau level kekayaan keluarga kita itu beda?" Tanyanya balik.
"Lo ngomong apa sih? Level apanya?"
Aku menyikut bahu Tania. Hal yang tak aku sukai darinya adalah ini. Tania terkadang suka sekali merendahkan dirinya sendiri. Dan aku tak suka dengan hal itu.
"Ya udahlah ayo buru ke kantin, sebelum ga kedapetan meja lho." Ucap Tania sambil menarik tanganku.
"Ya udah ayo." Kataku.
*****
Berbeda dengan setiap tingkatan kelas yang dibedakan tempatnya, kantin di SMA Emerald Garden hanya ada satu di sekolah ini. Eits! Meski hanya satu, kantin sekolahku ini luasnya bukan main-main.
Kantin ini terletak di antara ketiga gedung utama. Banyak sekali meja-meja dan kursi yang tersusun rapi di kantin ini hingga hanya akan membuang-buang waktu saja jika ingin menghitung semuanya.
"Eh Sil, lo cari tempat ya! Biar gue aja yang pesen." Ucap Tania.
"Lo ga nanya dulu nih gue mau pesan apa?" Tanyaku.
"Gausah! Pasti lo mau mesen nasi goreng kan? Gue udah tau." Tania tersenyum getir.
"Hehe lo tau aja. Gue pesen air putih pake es juga deh." Seruku
"Ya udah gue pergi. Cepetan lo cari meja sebelum dicolong orang!" Perintah Tania.
"Iya-iya santai aja elah."
Aku dan Tania berpisah di sana. Tania pergi untuk memesan makanan dan minuman, sementara aku pergi mencari meja untuk kami berdua.
Meski tidak ada aturan untuk pembatasan setiap angkatan di kantin ini, namun entah kenapa rasanya kantin di sekolahku ini seperti ada pembatas tak terlihat yang terbagi menjadi tiga.
Contohnya seperti saat ini. Pemandangan ini terlihat sangat jelas. Murid-murid kelas 1 berada di bagian kiri kantin, murid-murid kelas 2 di sebelah kanan, dan murid-murid kelas 3 yang menguasai di tengah-tengah kantin.
Karena aku sudah tau di mana tempatku yang seharusnya, aku langsung saja berjalan ke arah kantin sebelah kiri. Di sana cukup banyak meja dan kursi yang kosong. Aku sengaja memilih meja yang terletak di paling ujung. Karena aku tidak suka diperhatikan.
"Sil!"
Aku langsung menoleh saat mendengar suara Tania yang memanggilku. Kulihat Tania datang membawa pesanan ku dan miliknya. Aku menghampirinya lalu mengambil sebagian piring di tangannya agar dia tidak kesulitan.
"Lho Tan! Kenapa air putih gue cuma setengah gelas?" Keluhku.
"Aduh maaf nih, sebelum kesini tadi gue ga sengaja nabrak kakel kelas 3. Lo liat aja nih baju gue jadi ketumpahan saos gini." Jawabnya.
"Hah.. ya sudahlah.." Aku menghela nafas.
Aku tak terlalu mempermasalahkan hal itu. Lagipula Tania juga tak tau kalau ini akan terjadi. Tanpa basa-basi lagi, aku langsung menyantap nasi gorengku hingga tak bersisa. Tidak lupa pula ku habiskan minumanku yang tinggal sedikit.
"Eh Tan! Itu siapa ya? Tuh orang kok kayanya mau kesini? Apa cuma perasaan gue?" Tanyaku pada Tania.
"Eh?! Itukan kakel yang nabrak gue tadi!" Seru Tania.
"Eh serius lo?" Tanyaku lagi.
"Ya iyalah, ngapain gue boong coba? Seragam gue jadi kotor gini kan karena dia!" Balas Tania.
Dan benar saja. Orang itu datang, lalu duduk di kursi kosong yang ada di sampingku. Orang itu meletakkan nampannya yang berisikan banyak makanan itu di atas mejaku dan Tania.
"S..Silvi! Gue pernah liat nih kakel sewaktu nemenin lo ke gedung kelas 3. Lo ga curiga?" Tanya Tania sambil berbisik padaku. Aku justru tak mengerti dengan apa yang ia katakan.
"Curiga? Kenapa gue harus curig-"
"Kakak boleh gabung gak?"
Orang itu datang dengan senyuman yang terpancar di wajah cantiknya. Suaranya yang terdengar lembut seakan mampu membuat orang lain terbius.
"Eh tapi.."
Tania terlihat ragu dan gelisah. Setidaknya, itulah yang aku lihat dari dirinya saat ini. Aku tidak tau kenapa Tania menunjukkan raut wajah seperti itu.
"Boleh kok kak!"
Tidak ingin membuat kakak itu menunggu jawaban kami lebih lama lagi, aku langsung saja mempersilahkan kakak itu untuk bergabung bersama kami.
"Eh Tania! Lo kenapa?"
Sejak tadi Tania terlihat gelisah. Kulihat dia juga tidak meminum teh es miliknya, dan hanya mengaduknya terus dengan sendok.
Pandanganku teralihkan oleh kak Sera yang sedang berjalan kemari. Kedua matanya tampak melebar. Ia seperti tengah mencemaskan diriku.
"SILVI!!"
Eh? Kak Sera? Kenapa dia berteriak seperti itu?
BYUR
"Akh!"