Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Pagi itu Radit sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Dia mencari jam tangan nya di laci mejanya. Tiba-tiba sebuah benda berbentuk persegi panjang terjatuh. Radit mengambilnya. Sebuah ponsel dengan layar yang sudah retak. Dia mencoba mengaktifkan ponsel itu dan ternyata berhasil. Tampak foto dirinya yang tengah duduk di sebuah batu karang, menjadi wallpaper. Dia membuka galeri ponsel itu, Radit pun terkejut melihat foto Winda bersama seorang laki-laki.
"Winda? Dia kan office girl di kantor ku? Kenapa foto Winda ada di ponsel ku? Dan siapa laki-laki yang bersama dia?"
Radit bertanya sendiri dalam hati. Banyak lagi foto Winda di galeri ponselnya itu.
Tok !!!
Tok !!!
Tok !!!
Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar nya.
"Radit, boleh kakak masuk?" dari luar terdengar suara seorang perempuan.
"Masuk saja, kak."
Pintu kamar terbuka dan seorang wanita cantik berusia tiga puluh tahun masuk. Dia adalah Vika Amanda, kakak dari Radit yang juga CEO di perusahaan milik mereka. Vika duduk di samping Radit.
"Lagi ngapain kamu?"
"Kak, ini ponsel siapa?"
Radit menunjukkan ponsel yang dia pegang. Vika mengernyitkan dahinya.
"Ya ponsel kamu. Ponsel lama kamu. Memang kenapa?"
"Kalau ini ponsel aku, kenapa banyak foto Winda di dalamnya? Memangnya ada hubungan apa antara aku dan Winda? Lantas, siapa laki-laki yang bersama Winda itu?"
Radit menunjukkan semua foto Winda kepada Vika. Vika mengamati foto itu, lalu menatap ke arah Radit.
"Memangnya kamu lupa siapa Winda itu?"
"Memangnya siapa dia? Bukannya dia office girl baru di kantor kita?"
"Kamu juga tidak ingat siapa laki-laki yang bersama Winda itu?"
Radit menatap foto laki-laki itu. Dia berusaha menginggat sesuatu.
"Ah, entahlah aku tidak ingat. Memangnya siapa dia, kak?"
"Kamu."
"Aku? Maksud kakak?"
Vika tertawa melihat ekspresi adiknya yang terkejut itu.
"Ah, enggak kok. Kakak cuma bercanda. Udah yuk kebawah sarapan. Mama sudah nungguin tuh."
"Tapi kak..."
Vika berlalu tanpa menghiraukan Radit yang masih penasaran.
'Maafkan kakak ya Dit. Mungkin belum saatnya kamu tau yang sebenarnya.' kata Vika dalam hati. Vika sampai di meja makan di susul oleh Radit.
"Kalian kenapa lama sekali?" tanya mama Heni.
"Iya maaf ma kelamaan menunggu. Vika tadi bantuin Radit cari jam tangannya."
Vika memberikan kode pada Radit untuk diam di saat Radit hendak bersuara. Mereka pun sarapan tanpa bersuara. Selesai sarapan, Radit dan Vika segera berangkat ke kantor dengan satu mobil.
####
Winda sedang bercerita dengan mbak Septi di pantry. Sementara itu, mas Seno sedang mengantarkan minuman. Tiba-tiba, telfon pantry berbunyi.
"Win, coba kamu angkat telfonnya. Mbak lagi tanggung nih.".
"Iya, mbak."
Winda segera mengangkat telfon.
"Halo selamat siang..."
"Tolong buatkan saya kopi dan antar ke ruangan saya."
Terdengar suara Radit di ujung telfon.
"Baik, pak."
Telfon pun terputus.
"Siapa, Win?" tanya Mbak Septi.
"Pak Radit minta di buatkan kopi."
"Ya udah kamu buatkan. Setelah itu langsung antarkan."
"Iya, mbak."
Winda pun segera membuatkan kopi pesanan pak Radit dan segera mengantarkannya ke ruangan direktur utama. Di lorong ruangan, Winda berpapasan dengan Vika. Winda menegurnya.
"Selamat siang, bu."
Vika tersenyum.
"Selamat siang, Winda. Kopi untuk siapa itu?"
"Untuk pak Radit."
"Oh, baik. Kalau begitu, saya ke ruangan dulu ya."
"Silahkan, Bu."
Vika berlalu dari hadapan Winda. Winda mengiringi kepergian Vika dengan pandangan. Winda terkejut ketika melihat Vika masuk kedalam ruangan CEO.
' Jadi Bu Vika CEO di perusahaan ini? Gak sangka. Masih muda sudah jadi wanita karir yang sukses.' gumam Winda. Winda memang belum tau siapa sebenarnya CEO di perusahaan ini. Winda menggeleng dan segera menuju ke ruangan Radit. Winda mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk...". terdengar suara Radit dari dalam. Winda membuka pintu dan melihat bosnya itu seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Permisi, pak. Ini kopi pesanan bapak."
"Oh iya terimakasih."
Winda meletakkan cangkir kopi tak jaug dari posisi Radit sedang duduk. Ketika Winda hendak berbalik, Radit memanggilnya.
"Tunggu, Winda."
Winda berbalik menghadap ke arah Radit.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu lagi?"
Radit tak menjawab. Dia tak berkedip menatap Winda sambil mengernyitkan dahinya, seolah sedang memikirkan sesuatu. Di tatap seperti itu, Winda menjadi risih.
"Pak Radit..."
Radit terkejut. Dia menarik nafas dalam-dalam.
"Ya..."
"Bapak baik-baik saja?"
"Ah, iya. Saya baik-baik saja."
Radit tampak gugup menjawab pertanyaan Winda.
"Ada yang bisa saya bantu lagi, pak?"
"Enggak. Terimakasih. Kamu boleh keluar."
"Terimakasih, pak. Saya permisi."
Radit mengangguk. Dia menatap Winda sampai hilang di balik pintu. Dia termangu.
"Winda. Rasanya aku pernah mengenal dia. Tapi kapan dan di mana? Winda, siapa sebenarnya kamu? Kenapa fotomu ada di ponsel ku? Apakah kita pernah saling mengenal sebelumnya?"
Radit memijit pelipisnya sambil memejamkan mata. Dia berusaha untuk mendapatkan kenangan masa lalu nya. Tapi tak berhasil.
"Aaarrrgh..."
Karena kesal, Radit membanting pena ke meja. Dia mengusap wajahnya dengan kesal. Untuk mengalihkan kekesalannya, dia pun fokus kepada pekerjaannya.
####
Pada saat istirahat, Winda duduk sendirian di pantry. Septi dan juga Seno sedang di kantin untuk makan siang. Winda terus menatap foto Gito di ponselnya. Winda benar-benar merindukan kekasihnya itu dan sangat berharap untuk berjumpa.
"Dorrrr..."
Tiba-tiba dari belakang ada yang mengagetkanku Winda. Ketika menoleh, ternyata Sony yang mengagetkannya.
"Ih, mas Sony ngagetin aja."
Winda mencubit lengan Sony hingga Sony meringgis kesakitan.
"Kok nyubit sih. Sakit tau..." sunggut Sony sambil mengusap lengannya yang di cubit oleh Winda tadi.
"Syukurin. Habis mas Sony ngagetin sih. Kalau aku mati karena jantungan gimana."
"Ya di kubur."
Winda melotot ke arah Sony yang tertawa. Sony duduk di sebelah Winda.
"Kamu kok gak ke kantin, Win?" tanya Sony.
"Kalau pantry kosong, terus nanti ada yang minta minum, bagaimana?"
"Oh iya ya..."
"Mas Sony sendiri ngapain gak ke kantin? Mbak Septi mana?"
"Septi ada di kantin. Lagi makan."
"Kok gak nemani mbak Septi?"
"Ah, mending di sini saja sama kamu. Ini aku beliin makan siang."
Sony menyerahkan sebungkus nasi ke pada Winda. Winda menerimanya dengan sambil menatap Sony.
"Kenapa?" tanya Sony.
"Pasti ada maunya."
Sony yang hendak mengambil piring pun menghentikan langkahnya.
"Ya Allah, ikhlas aku, Win."
Winda tertawa melihat ekspresi wajah Sony yang memelas.
"Maaf, mas. Cuma bercanda."
Winda mengambil dua piring dan sendok untuk mereka makan. Tak lupa juga dengan dua gelas air putih. Dia menyerahkannya pada Sony.
"Terima kasih. Duh bahagianya di layani sama calon istri."
Winda melotot ke arah Sony, lalu duduk di sebelahnya. Sony hanya cengengesan. Mereka makan tanpa suara.
"Win..." Suara Sony memecah kesunyian.
"Hmmm..."
"Kamu udah punya pacar?"
"Kenapa memangnya?"
"Mau daftar."
"Daftar? Daftar apa?"
"Daftar jadi pacar kamu."
Winda mengedikkan bahunya. Dia terus melanjutkan makannya. Jujur dalam hatinya, Winda masih mengharapkan kehadiran sosok Gito dalam hari-harinya. Tetapi dia tak tahu harus sampai kapan menunggu kedatangan Gito.
meluncur ke cerita lainnya