Zalina dan Riki sama-sama saling mencintai, mereka menyembunyikan dalam diam hingga waktu yang tepat. Ketika akan meminta izin untuk menikah, tiba-tiba Zalina mengetahui sebuah rahasia bahwa ia dan Riki adalah saudara sepersusuan sehingga haram untuk menikah. Dengan berat hati ia melepas cinta pertamanya.
Sementara Riki tak mudah menerima kenyataan itu, ia terus menteror Zalina. Menuduh hanya mempermainkan perasaannya hingga diminta membuktikan dengan kawin lari.
Zalina tetap teguh. Tak ingin menentang Sang Pemilik kehidupan ini. Berbagai cara ia lakukan agar bisa lepas dari Riki, termasuk membuka hati untuk lelaki lain.
Memang tak mudah menemukan pelabuhan hati meski Zalina punya banyak pengagum. Berbagai hambatan ia temui. Lalu pada siapakah hatinya akhirnya berlabuh?
(Dear pembaca, semoga ada hikmah dari cerita ini yang bisa diambil. Jangan lupa like dan komen yaa :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Pernikahan Uda Riki
"Sekarang kamu puas, Na?" tanya Uda Riki, saat kami berpapasan di halaman rumah. Ia menatapku tajam, seolah ingin menerkam dan menghabisiku saat itu. Tatapan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Uda Riki berubah seperti seseorang yang tidak kukenali. Bahkan kini aku merasa begitu takut oleh sikapnya barusan. "Mau kemana kamu?" ia menghardikku yang hendak berlalu.
"Mau bagi-bagi undangan pada tetangga." jawabku, pelan. Tak ingin menimbulkan keributan meski sebenarnya dadaku bergemuruh karena kaget oleh sikapnya barusan. Ia menghardik seolah aku melakukan kesalahan besar padanya.
"Undangan? Sepertinya kamu puas sekali memainkan perasaan orang Na. Setelah kamu membalas cintaku, sekarang kamu merestui pernikahanku dengan Puti. Kamu kira aku benar-benar menyukainya? Bahkan membayangkan ia jadi istriku saja tidak pernah, Na. Lelucon yang kamu buat benar-benar memuakkan!"
"Apa maksud Uda?"
"Heh, kamu nggak sedang pura-pura, kan Na? Semua orang juga bisa melihat cacatnya Puti. Tidak ada lelaki di kampung ini yang mau mendekatinya, apalagi menjadikannya sebagai calon suami. Tapi, sialnya, kalian malah menjebakku. Entah ini rencana siapa, tapi kamu yang paling bertanggung jawab Zalina!"
"Uda boleh marah atau memakiku. Aku terima meski semua yang Uda pikirkan itu tidaklah benar. Tapi aku tidak terima jika Uda berani merendahkan Uni Puti. Ia perempuan yang sangat baik, tidak pantas diperlakukan seperti itu."
"Hahahaha, Zalina ... Zalina. Kau tahu kan, dia itu gadis buruk rupa. Bagaimana aku yang sudah sarjana dan punya wajah rupawan ini mau menikahinya. Kau pikir aku buta, bisa menghabiskan seumur hidupku hanya dengan perempuan yang cacat fisiknya. Aku juga punya harga diri Zalina. Bahkan lelaki paling buruk di kampung ini saja tidak ingin menikahinya. Wajahnya sungguh menakutkan Zalina."
"Astagfirullah. Uda benar-benar keterlaluan! Sungguh tega Uda mengatakan hal seperti itu tentang Uni Puti. Wajahnya begitu karena kecelakaan Uda. Jangan jahat mengatainya begitu. Ia sudah banyak menderita. Kalau Uda tak menyukainya, harusnya menolak lamaran Abi, bukan malah menerimanya!"
"Kamu yang keterlaluan Zalian. Tega membuatku dalam posisi ini. Lagi pula bagaimana caranya aku menolak permintaan ayahmu setelah banyak kebaikan yang mereka lakukan untukku. Aku berhutang Budi!"
"Salahkan aku terus, tapi jangan coba-coba menyakiti Uni Puti. Ia bahkan tak tahu apai. Hidupnya sudah sangat menderita selama ini, tolong jangan tambah luka baru di hidupnya! Tidak ada yang memaksa Uda, bahkan Abi memberikan kebebasan sekalipun ada jasa Abi pada Uda."
"Enak sekali kau bicara seperti itu. Lalu bagaimana dengan hatiku? Aku juga punya harga diri. Kalian tega, aku menginginkan putri dari rumah itu, tapi malah memberikan gadis buruk rupa. Apa karena aku hanya orang miskin? Bagaimana dengan perasaanku?"
"Persetan dengan itu semua. Aku tak akan membiarkan Uda menyakiti Uni Puti!" tanpa mempedulikannya lagi, aku bergegas masuk ke rumah kami, menerobos melewati Umi dan Bibi Hana yang sedang membicarakan masalah mahar.
"Na, Zalina?" Panggil Umi, tapi kuabaikan.
"Ada apa Zalina?" tanya Abi yang sedang berdiskusi dengan Uda Rizal tentang pemasangan tenda.
Karena rencana pernikahan Uni Puti dan Uda Riki begitu dadakan, makanya acara tidak terlalu mewah. Tapi tetap memakai tenda dan mengundang cukup banyak orang. Tetangga, keluarga besar serta beberapa kenalan dan rekan bisnis Abi.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Sebab masih terbawa emosi. Makanya berusaha menenangkan diri agar tak ada air mata yang tumpah.
"Na, kamu baik-baik saja? Kenapa cepat sekali kembali? Itu undangannya kenapa tidak diantarkan?" tanya Abi lagi.
"Na ... Na ... Na nggak apa-apa." kataku, masih dengan hati yang sesak. Tapi tak dapat berkata apa-apa sebab Uni Puti datang menghampiri dengan wajah berbinar sebab ia baru saja menjalani proses bainai.
"Na?" tanya Uda Rizal. "Apa ada yang mau dibicarakan dengan Uda?" tanya Uda Rizal.
"Nggak Da. Na minta diantar ke rumah Ayu saja, ya. Dan undangan ini, Uda saja yang antar ya?" pintaku.
Tanpa berkata-kata lagi, Uda Rizal mengajakku meninggalkan rumah. Dengan mobil Abi kami menuju rumah Ayu yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.
"Kenapa Na?" tanya Uda Rizal. "Apa ada yang tidak beres?"
"Nggak. Nggak apa-apa. Nanti malam Na tidur di tempat Ayu ya. Uda tolong sampaikan pada Abi dan Umi."
"Lho, besok kan Puti akad nikah?"
"Na akan berusaha pulang secepatnya."
"Baiklah. Lakukan apapun yang membuat hati kamu tenang, Na. Satu hal lagi, kamu adalah adik kesayangan Uda, kalau ada apa-apa dan kamu butuh teman bicara, Uda siap membantu kamu!" ucap Uda Rizal, sebelum aku turun dari mobil, di depan rumah Ayu.
***
Sudah pukul delapan pagi. Entah sudah berapa kali Ayu memintaku agar segera bersiap-siap pulang ke rumah karena akad nikah Uni Puti dimulai jam sembilan pagi. Tapi aku masih enggan. Bukan karena aku tak merelakan Uda Riki, tapi karena khawatir dengan ancaman Uda Riki. Jika ia sudah menikahi Uni Puti nanti, apakah benar ia akan membuat Uni semakin menderita? Ya Allah ...
"Aku merasa bersalah pada Uni Puti, Yu. Mungkin tidak seharusnya aku mencintai Uda Riki dan membuat semuanya jadi kacau seperti ini." kataku.
"Na, namanya hati, punya fitrah untuk jatuh cinta. Kamu juga tidak melakukan kesalahan apapun. Bahkan kamu sebelumnya juga tidak tahu kalau kalian adalah saudara sepersusuan. ketidak tahunan bukanlah sebuah kesalahan!"
Aku juga meyakini apa yang dikatakan oleh Ayu benar. Tapi tetap saja, rasa bersalah itu ada. Bagaimanapun juga, aku sangat menyayangi Uni Puti. Andai Uda Riki bisa mencintai Uni seperti rasa cintanya padaku, aku pasti bisa merelakannya.
Ya Allah ...
***
Dari halaman rumah, bisa kudengarkan suara Uda Riki mengucap ijab kabul, setelah tiga kali salah. Akhirnya mereka sah menjadi suami istri.
"Na, kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Ayu, sebab langkahku terhenti. "Kamu nangis, Na?" tanya Ayu lagi.
Aku menggeleng cepat, sembari menghapus kasar air mata yang berjatuhan tanpa permisi. Soalnya, malah tambah deras. Ditambah hati yang semakin tak menentu rasanya.
Aku benar-benar kalut, takut dan juga sedih.
Ya Allah, maaf jika masih ada perasaan sakit, ketika akhirnya lelaki itu mengucapkan ijab kabul, bukan untukku, terapi pada wanita lain. Sejujurnya aku masih merasakan kesedihan, bagaimana tidak, di hati ini, namanya belum benar-benar hilang.
"Na," Ayu menggenggam tanganku. "Ikhlaskan ya." pinta Ayu.
"Sakit Yu," kataku, sembari berusaha tersenyum meski sebenarnya hati ini masih tak karuan.
Harusnya kamu merelakan semuanya, Zalina. Bukankah memang sudah tak ada jalan. Dan, ini pasti yang terbaik menurut Allah. Sabarlah Zalina, sebentar lagi kamupun akan menemukan kebahagiaanmu juga.
tetap semangat dan jaga kesehatan Thor .
semoga yang semua baca ini di jauhkan dari namanya iri dengki Aamiin .
hiks terharu aku semoga calon imam masa depan ku seperti sharim yah Thor hehehheheh .
puas saya bacanya
padahal masih banyak yg belum selesau dari cerita2 sebelumnya.
selalu samawa utk za dan sahrim ya thor, urusan umi dan abi biar athor saja yg urus
hhee
10 like mendarat buat kk.
Lanjut up ya.
msmpir jg di bukalah hatimu untukku