Larasati gadis berusia 25 tahun berparas cantik, lulusan ekonomi. Dia anak yatim piatu, karena kedua orang tuanya telah tiada. Sebab kecelakaan maut, dari usianya 5 tahun, dia di titipkan oleh pamannya ke panti asuhan. Aset milik orang tuanya ludes tak tersisa oleh sang paman. Laras menikah kontrak dengan seorang CEO muda di indonesia yang bernama Malik Ibrahim, yang sudah beristri tiga. Ketiga istrinya tak juga kunjung memberikan keturunan pada sang CEO dan tak ingin diceraikan oleh suaminya. Istri pertama yang bernama Dian! mencarikan lagi gadis! ya itu Laras untuk dinikahi sang suami. Dengan harapan Laras bisa memberi keturunan pada sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juleha2606, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aturan untuk nyonya muda
"Ta-tapi Tuan, kan istri anda bukan cuma saya, tapi banyak, kenapa mesti selalu saya yang menyiapkan semuanya? membereskan kamar ini juga, terus tugas tugas istri anda yang lain apa saja! masa cuma nemenin tidur doang, mana tanggung jawabnya sebagai seorang istri? kalau mau bilang ada asisten, kenapa mesti saya juga," ungkap Laras suaranya begitu lirih.
Ibra menatap lekat Laras. "Pintar juga nih gadis, sampai mengungkit tanggung jawab segala. "Di gadaikan, kan kamu juga seorang istri, biar pahalanya buat kamu sendiri. Sudah saya mau mandi," Ibra berjalan menuju kamar mandi.
Laras sedikit memanyunkan bibinya, namun dia tetap melaksanakan tugasnya. Ia mengambil pakaian lengkap buat Ibra dari ruang pakaiannya.
Terus membukakan gorden biar sinaran matahari pagi masuk ke dalam kamar, lanjut merapikan tempat tidur sampai rapi, meralat pakaian kotor. Menyapukan lantai agar tidak berdebu, menyemprot ruangan biar wangi membuat betah penghuninya.
"Huuh ... selesai juga," gumam Laras sambil mendudukkan dirinya di sofa.
Ibra keluar dari ruangan ganti, melihat Laras yang duduk di sofa, "Tolong pasangkan dasi."
Laras menoleh. "Haa! emang biasanya siapa yang pasangkan?" tanya Laras heran. "Apa Susi juga!"
"Tidak, dasi sendiri," sahut Ibra sembari memberikan dasinya pada Laras."Buat apa saya pakai sendiri kalau di sini ada di dirimu," batin Ibra sambil menyembunyikan senyumnya.
Laras yang tidak tinggi jelas kesulitan untuk memasangkan dasi ke leher Ibra yang tinggi itu. "Kau, kan bisa naik ke bangku Nona," titah Ibra menunjuk sebuah bangku.
Laras pun menuruti, dan acara memasang dasi pun selesai. "Sisirkan rambut ku?" pinta Ibra pagi serta membungkuk agar Laras tidak kesulitan lagi.
"Aish ..." ck ck ck Laras berdecak kesal, namun tetap ia lakukan, membuat Ibra tersenyum puas.
Ibra yang sudah berpenampilan rapi, mendekati cermin dan memakai minyak wangi kesukaannya. Di dekat pintu. Dian sudah berdiri. "Sayang, apa sudah siap? sarapan yuk.?"
Laras menoleh kearah Dian. "Pagi Kak?" sapa Laras mengangguk pada Dian.
"Pagi juga! yuk sayang nanti terlambat loh," tangannya melambai pada Ibra
"Iya sayangku, cinta ku," Ibra menghampiri sambil menyambar ponsel miliknya. Sebelum jalan pelukan terlebih dahulu. Laras sih masa bodoh.
Setelah di rasa kamar Ibra rapih. Laras barulah menuju dapur untuk sarapan bersama, sesaat langkah Laras terhenti melihat istri-istri Ibra, yang sudah duduk manis di depan meja makan, berdampingan dengan Ibra, bak ibarat Raja di dampingi tiga permaisuri sekaligus.
Ia termangu, lalu dengan malas mendekati, dan duduk diantara semuanya.
"Kenapa kau baru datang? dari mana saja kamu," tanya Yulia pada Laras, yang baru kelihatan. Sambil mengambil nasi.
Laras hanya melirik tanpa menjawab nya, ia mengambil piring dan menuangkan sayur ke piringnya.
"Eh! kau bisu ya? kok gak jawab sih di tanya kak Yulia," sambung Mary sinis.
"Em ... saya--"
"Laras habis beberes di kamarku," jawab Ibra di sela menyuapkan sendok ke mulutnya.
"Oh."
"Baguslah, meringankan kerjaan pembantu ya?" ucap Mery dengan nada sinis.
"Kalau menurut aku sih! iya juga? apa salahnya sih seorang istri itu beberes, jangan cuma pandai bersolek saja, gak ada salah nya kok! lagian itu, kan sudah kewajiban seorang istri," sahut Laras percaya diri.
Mery yang merasa tersindir kesal dan sangat geram. "Jadi buat apa punya pembantu kalau di kerjakan sendiri-sendiri juga," ketusnya.
Laras menatap Mery dengan tajam namun ia tak sedikitpun ingin membalasnya lagi. Laras lebih memilih melanjutkan makannya.
"Bener Mery, kalau ada pembantu buat apa kita capek-capek di rumah, istri bukan pembantu, kan sayang?" Yulia membenarkan perkataan Mery, lalu melirik kearah Ibra dan mengusap pipinya.
Ibra tersenyum samar, begitupun Dian hanya diam dan tersenyum seolah mengejek juga Laras.
"Heleeh ... istri bukan pembantu! terus kenapa kau menyuruhku ini itu? aneh juga nih orang," gerutu Laras dalam hati.
Setelah sarapan satu/satu orang rumah, berangkat menuju aktivitasnya masing-masing, Dian yang agak siang berangkat masih duduk di sofa lobi dengan berkas di tangan. Laras mendekati.
"Kak, apa aku boleh bekerja lagi?" tanya Laras setelah duduk di sebelah Dian.
Dian menoleh. "Apakah ada di surat perjanjian?" ketus Dian sambil merogoh tas branded nya, mengambil sebuah amplop kecil namun berisi, di lempar kepangkuan Laras. "Itu uang bulanan kamu, gunakan lah semau mu, belanja kek shoping, terserah!" kemudian berdiri dan pergi meninggalkan Laras sendiri.
Laras bengong melihat kepergian Dian, setelah hilang dari pandangan. Laras mengambil amplop itu, dibukanya dengan sangat hati-hati. "Banyak uangnya, lebih dari uang gajiku sebulan nih," sekilas Laras tersenyum.
"Tapi, buat apa? aku gak butuh apa-apa kayanya selama di sini, masih makan dan berpakaian bersih juga sudah cukup kok," bola mata Laras bergerak mengitari gedung tersebut.
Terlintas di pikirannya anak-anak panti. Akhirnya Laras memutuskan akan mengunjungi mereka sebentar.
Berhubung tidak tahu nomor Dian apa lagi nomor Ibra sebagai suaminya. Laras menemui bu Rika untuk meminta ijin sebentar pergi ke panti.
Langkah Laras kian pasti untuk menemui bu Rika yang kebetulan ada di belakang. "Maaf Bu mengganggu waktunya sebentar?" Laras dengan suara lirih dan hormat.
"Iya Nyonya muda ada apa?" bu Rika mengangguk hormat juga.
"Aku mau mengunjungi panti! sebentar kok, sudah lama tidak bertemu mereka."
"Apa sudah minta ijin sama tuan?" tanya bu Rika kembali.
Laras menggeleng. "Belum, tidak tahu nomornya Bu."
"Sama Bu Dian?"
"Tidak juga," lagi-lagi Laras menggeleng.
"Hem ... ya sudah, tapi Nyonya harus kembali sebelum jam makan siang. Sebelum tuan pulang Nyonya harus sudah berada di rumah! itu peraturan yang tuan kasih pada saya buat Nyonya muda,"
"Terus ...kenapa yang lain tidak diberi peraturan seperti itu?" Laras menatap bu Rika heran.
"Kurang tahu Nyonya Muda, yang jelas saya di perintahkan seperti itu untuk Nyonya muda," bu Rika menunduk.
"Ya sudah, baik lah Bu, aku juga ngerti kok. Posisi aku seperti apa di rumah ini," ucap Laras sambil tersenyum. "Aku akan pulang seperti yang Ibu Rika bilang, permisi Bu?" Laras memutar badan nya untuk ke kamar lebih dulu, mengambil tas pundaknya di sana.
"Iya Nyonya muda hati-hati."
Laras keluar dari rumah super mewah itu, dan menunggu taksi online yang sudah di pesan tadi. Tidak lama menunggu yang di tunggu datang juga. Laras naik. "Jalan xx Pak."
Supir mengangguk, dan membawa Laras ke tempat yang di tuju. Di pertengahan jalan Laras belanja makanan dan buah-buahan, sebagai buah tangan untuk mereka.
Singkat kata Laras sudah sampai di panti, dia di sambut dengan sangat gembira oleh anak-anak dan ibu panti.
"Apa kabar Laras? lama ... kau tidak main kesini, Ibu pikir kamu sudah lupa sama kami. Sehingga tidak ada ke sini juga," ucap bu panti.
"Baik Bu, maafkan Laras baru sempat ke sini, dan bukannya lupa, gak mungkin Laras lupa Bu," sambil mencium tangan bu panti.
Mereka berpelukan, melepas rindu yang lama tidak bertemu, anak-anak riuh, memanggil Kak Laras, kak Laras katanya. Laras langsung memberikan apa yang dia bawa supaya dibagi-bagikan, senang rasanya bisa membuat mereka tertawa.
,,,,,
Hi ... malam ini aku sapa lagi kalian nih, gimana suka gak, dengan tulisanku ini, kalau suka aku ucapakan banyak terima kasih ya! tapi bila gak suka, gak apa-apa kok, hak kalian, aku gak memaksa kalian untuk suka.🙏