Annisa tak dapat memungkiri betapa hatinya sakit ketika mendapati suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Tapi ia tak punya pilihan lain, selain memilih untuk dimadu.
Tapi meskipun hatinya sakit, ia tetap berjuang untuk menata hatinya yang remuk, dan memulai menjalin hubungan dengan istri kedua suaminya, layaknya kakak beradik.
"aku tak lagi memiliki cemburu. karena semua
rasa yang kumilki buat suamiku hanyalah sebentuk rindu," bisik Annisa.
"satu hal yang perlu kita ketahui tentang sebuah poligami, jangan sampai kebolehan yang sudah Allah tetapkan itu dijadikan sarana untuk mengumbar hawa nafsu. karena pernikahan itu kan bukan sekedar urusan icip-icip atau rasa merasai, jika di ibaratkan sebuah masakan," ucap Fikri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jannah Zein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Bukan Pelakor
Suara azan terdengar begitu syahdu, membangunkan tidurnya. Di kumpulkannya segenap kesadaran. Begitu dia membuka mata, di lihatnya sepasang tangan melingkar di perutnya. Ahh..pelukan itu sungguh mendebarkan.
Cup.
Fikri tak bisa menahan untuk mendaratkan kecupan di kening Zahra.
Ahh..
Tubuh mungil itu menggeliat dan membuka matanya.
"Kak."
Fikri tersenyum menatap wajah bantal istrinya.
"Selamat pagi, Istriku Sayang."
Dia melihat ada yang merona di wajahnya.
"Selamat pagi juga, Suamiku Sayang." Ia menyurutkan wajahnya di dada Fikri.
*************
"Ding."
"Ya, Kak."
Zahra mengulurkan sepotong roti kepada Fikri. Menemani secangkir teh yang terlebih dulu tersaji di hadapannya
"Pagi ini Kakak mau ke toko. Pian mau ikut?" tawarnya.
Matanya berbinar.
"Emang boleh ikut?"
Fikri mengangguk.
"Boleh dong, Sayang. Zahra kan pintar di pembukuan. Boleh dong Kakak minta bantu?" Fikri sengaja menggodanya.
Zahra menjulurkan lidahnya.
"Halah.. dasar modus."
Fikri tergelak.
"Emang sih. Tapi itu buat kebaikan Pian jua." Fikri menyahut sambil mengelus kepalanya.
***************
Fikri memahami Zahra itu passionnya memang di bisnis. Turunan dari orang tuanya sih. Tapi dia bertekad untuk mengembangkan Zahra sesuai bakat dan minatnya.
Pemahamannya sebagai seorang suami bukan sekedar memberi nafkah seperti menyediakan makan, pakaian, dan tempat tinggal yang layak kepadanya. Tapi juga seorang istri berhak untuk di dorong supaya ia bisa maju dan berkembang. Sepanjang itu tidak menyalahi syariat.
Apalagi Zahra yang cepat atau lambat pasti akan di bebani tugas untuk meneruskan usaha orang tuanya. Karena tentunya tidak mau kan, usaha yang susah payah di bangun harus hancur karena salah mengelola?
"Abah tidak meminta apa-apa, Nak. Cukup jaga Zahra dan bimbing dia supaya bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Masih terngiang-ngiang ucapan mertuanya menjelang hari pernikahannya.
Itulah tanggung jawabnya, kewajiban yang harus di tunaikan dengan segala kemampuannya. Pernikahan adalah sebuah komitmen agar kita bisa bersama menuju surgaNya kelak. InsyaAllah.
****************
Siang yang terik. Zahra bergegas berjalan di tengah hilir mudik santriwati menuju kelasnya, kelas 3 Ulya. Dia harus secepatnya sampai ke kelas. Ustadz Amin yang masuk di jam pelajaran pertama terkenal sebagai Ustadz paling disiplin soal waktu. Beliau sampai di kelas dan mengajar tepat waktu.
Setidaknya, dia tidak ingin merusak reputasi suaminya. Tidak lucu kan, kalo istri kedua Ustadz Fikri sampai terlambat masuk kelas? Apa kata dunia? Hayoo..
Di samping itu, akan menjadi contoh yang tidak baik buat santriwati lainnya. Dia juga tidak mau ada rumor yang beredar, mentang-mentang istri Ustadz sini bisa masuk dan mengikuti pelajaran sesuka hati.
Zahra mendaratkan tubuhnya di kursi tempat duduknya. Alhamdulillah..
Di layangkan pandangannya menatap sekeliling ruangan. Beberapa santriwati sudah menempati tempat duduknya masing-masing.
Tiba-tiba Zahra kembali teringat percakapannya kemarin disaat ibu mertuanya dan Kak Ruqayyah mengunjunginya di rumah. Zahra menggelengkan kepala.
Dia benar-benar tak mengerti dengan cara berpikir mereka. Mereka memintanya untuk melepas kontrasepsi. Hanya dengan satu alasan, istri pertema suaminya di anggap mandul !
Padahal mereka baru menikah dua tahun. Santai aja kali.. Dan juga masih banyak waktu. Usia Annisa masih 27 tahun. Dan Fikri malah 26 tahun.
Usia yang terbilang masih muda dan tak seharusnya di bebani dengan urusan anak. Toh kalau memang Allah memberikan kepercayaan untuk mendapatkan keturunan, kak Annisa pasti hamil.
Diam-diam Zahra merasa iba dengan madunya. Pantas aja dia menerima begitu saja saat suaminya meminta poligami. Ohh ternyata ini ya masalahnya?
Zahra tersenyum miris. Keluarga suaminya memang keluarga besar. Ayahnya Fikri memiliki dua istri. Ibunya kak Fikri itu istri pertama dan memiliki 4 anak. 3 anak perempuan, dan satu anak laki-laki, yaitu Kak Fikri.
Sementara dari istri keduanya, ayahnya memiliki dua anak. Dua-duanya laki-laki.
"Hei.." seseorang menyentuh bahunya.
"Ifah." . Ifah adalah teman sebangku Zahra.
"Gimana nih? Gimana ceritanya pengantin baru? Hayoo.." Gadis itu bertanya tanpa tedeng aling-aling.
Zahra tergelak.
"Rahasia dong. Ntar juga Kamu tau kalo udah nikah. Hihihi..."
"Zahra!" pekik Ifah.
"Kepo amat sih? Gitu aja di tanyain." Gadis itu tertawa.
"Penasaran, tau."
"Zahra, sebenarnya Aku sendiri masih tak habis pikir, kenapa Kamu mau aja di jadikan istri kedua?"
"Secara kan Kamu cantik, anak orang berada, Abahmu pengusaha, rasanya gak sulit buat menemukan laki-laki lain yang statusnya single. Lha ini, kamu malah menikah dengan laki-laki yang sudah beristri. Apa gak takut kalo ada orang yang menyebutmu sebagai pelakor?" Pertanyaan Ifah beruntun.
Zahra tertawa lepas.
"Pelakor dari Hongkong? Istrinya aja hadir di acara pernikahan Kami. Aku gak merebut suami orang, Ifah."
"Aku pernah bertemu dengan istrinya. Kak Nisa itu orangnya baik. Dia gak melarang suaminya menikah lagi. Dan dia berjanji akan menganggapku selayaknya teman dan adik."
Ifah menggelengkan kepala dan kemudian berdecak.
"Entah terbuat dari apa hati istrinya Ustadz Fikri itu. Kok dia bisa bersikap seperti itu. Kalo Aku berada di posisi seperti dia, udah kucakar-cakar muka wanita yang menikah dengan suamiku."
Lha kok si Ifah yang gemes sih? Zahra jadi bergidik mendengarnya.
"Kalo mau cakar muka, cakar aja muka Abahku, Ifah.."
"Aku ini di jodohkan. Dan Abahku yang meminta ustadz Fikri untuk menikahiku. Ustadz Fikri menerimanya setelah konsultasi dengan ayahnya dan mendapat izin poligami dari istrinya."
"Tapi kenapa Abahmu malah menjodohkanmu dengan laki- laki yang sudah beristri? Kayak gak ada laki-laki lain aja." keluh Ifah.
Zahra mengendikkan kedua bahunya.
"Mana aku tahu? Tanya aja langsung sama Abahku. Tapi satu hal nih yang mesti kamu tahu Ifah, tidak ada di dunia ini orang tua yang mau menjerumuskan anaknya. Apapun yang di lakukan abahku, pastinya demi kebaikanku juga. Aku percaya itu, Ifah."
"Tapi Ustadz Fikri memperlakukan Kamu dengan baik kan?"
Zahra menganggukkan kepala.
"Kak Fikri orangnya baik dan perhatian, Ifah.
Jangan khawatir." Zahra tertawa.
"Orangnya tampan, alim, baik, romantis, siapa juga perempuan yang gak luluh dengan sikapnya, Ifah. Pernikahan Kami memang hasil perjodohan. Tapi aku percaya, cinta itu akan datang karena terbiasa bersama."
Ifah menggelengkan kelapa.
"Andai Ustadz Fikri itu bukan laki-laki beristri, pasti aku mendukungmu, Zahra. Ingat, istri kedua itu identik dengan yang namanya pelakor."
"Orang kan cuma bisa melihat di permukaan aja. Mana tahu orang yang terjadi sebenarnya. Kamu tetap akan jadi orang yang paling di salahkan, Zahra. Karena Kamu di anggap telah mengambil suami orang."
Zahra kembali mengendikkan kedua bahunya.
"Aku hanya menjalankan ketaatanku sebagai anak, Ifah. Lagipula kulihat kak Fikri itu orang baik, bukan sebangsa laki-laki hidung belang yang mengejar kenikmatan wanita. Bahkan ia selalu mengarahkanku ke hal-hal yang positif."
"Aku percaya, akan banyak hikmah yang kudapatkan dari pernikahan ini. Aku akan terus belajar untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Biarkan saja orang bilang apa tentangku. Aku juga gak keberatan kok di sebut sebagai pelakor. Wong aku gak salah, ngapain harus pusing sih?"
"Pasti Kamu ingat kan, sejarah Nabi ketika menikahi Sayyidah Aisyah Ra..? Sebelum menikahi Aisyah, Nabi terlebih dulu menikahi Sayyidah Saudah Ra. Lalu apakah sayyidah Aisyah harus disebut sebagai pelakor? Dan apakah setelah menikahi Aisyah, lalu Nabi menceraikan Sayyidah Saudah?"
"Bahkan Sayyidah Aisyah menyebut Sayyidah Saudah itu sebagai ibu keduanya dan teman takdirnya,"
"Jadi jangan pernah menyamakan istri kedua itu dengan pelakor, Ifah."
Zahra menghela nafas.
"Udah ya, stop bahas itu. Tuu ustadz Amin udah datang." Zahra merendahkan suaranya sambil menunjuk ke depan.
Gadis itu mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Zahra pun segera meraih kitab I'anatut Thalibin yang terletak di dalam tasnya. Kemudian segera membukanya. Suasana hening. Hanya terdengar sang Ustadz yang membaca kitab itu berikut penjelasannya.