Butuh waktu lima tahun lamanya bagi Mer untuk siap bertemu lagi dengan cinta pertamanya. Teman masa kecilnya yang begitu ramah dan ceria itu seketika berubah menjadi sesosok pria misterius nan dingin. Akan tetapi, kepribadian Vallen yang berubah tetap tak melunturkan perasaan yang telah lama bersinggah di hatinya. Mer tetap mencintai Vallen meski pria itu tak menganggap Mer ada.
Perjuangan terus Mer lakukan untuk mendapatkan perhatian Vallen. Ia terus mendekati Vallen walau pria itu selalu melontarkan kata yang menyakitkan. Meski sering tak diacuhkan olehnya, bukanlah sebuah alasan bagi Mer untuk menyerah. Semua itu dilakukannya untuk mendapatkan cinta Vallen kembali.
Hanya soal waktu saja Mer dapat meluluhkan hati Vallen. Merubah kepribadiannya kembali menjadi sosok yang hangat. Menjadikan hal yang mustahil dapat diraihnya. Meski begitu, Vallen tetap menolak cintanya dengan alasan takdir yang selalu ia katakan. Akankah alasan takdir itu suatu saat akan menenggelamkan cinta mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIFA IFTITA RAHMA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KECEMBURUAN
Sabtu, 20 Oktober 2018
Hati ini begitu teriris
Oleh seseorang yang selalu ada dalam hidupku
Dikhianati olehnya, begitu sakit
Sekian lama kudengannya, dan ternyata ia berkhianat
Kau tahu apa perasaanku saat ini?
Sekali lagi kuingat momen berharga bersamanya
Begitu senang saat kudiperhatikan
Kurasa ia menyukaiku
Berkali-kali ku pikirkan kata-kata itu
Apakah aku benar?
Tidak, aku salah, dia sudah punya yang baru
Terlihat lebih manis, terlihat lebih lembut dan cantik
Apakah aku terlihat cemburu?
Untuk kesekian kalinya aku mengaliri air mata. Semua yang kutakutkan ternyata benar. Hantu-hantu bayangan berkelana membalut emosi. Ia sungguh tak menyematkanku dari dalam mimpi indahnya. Ia sudah tak menggunakanku lagi sebagai tempat kembali kekecewaan. Semua sudah berlalu. Mimpi-mimpi indah, hari-hari berharga, seperti daun yang terbiarkan terbang begitu saja. Lepas dari tangkainya, terlontang-lanting tak menentu arah, hilang dimakan waktu.
Aku melihat keluar jendela. Telah berdiri kokoh di seberang sana, sebuah rumah tempat penuh kenangan. Membuatku teringat kembali padanya. Memainkan memori dalam pikiran.
Jemari manis menyatu indah diterpa langit sore. Tersinar cahaya kerenan. Dua lengan yang menyatu. Tempat itulah yang selalu menjadi harapan jemariku. Direbut oleh orang lain, dikuasai oleh yang lain. Aku sudah tahu apa rahasianya, rahasia yang ia katakan dikala aku menembaknya kemarin, ternyata telah ada yang menggantikan posisiku. Terlihat begitu akrab dibandingkan diriku. Hebatnya, ia tak berontak saat gadis itu menggenggam erat jemarinnya. Sedangkan aku, pulang bersamanya saja seperti memberatkan hidupnya.
Vallen begitu bahagia, meski tanpa aku. Meski tanpa diriku yang begitu berharap. Mengharapkan ia yang suatu saat akan kembali padaku. Harapan yang sudah jelas di depan mata, bahwa aku gagal.
Langkahnya beriringan, Vallen dan gadis itu. Selepas jam pelajaran terakhir usai, selepas bel berbunyi sangat nyaringnya, aku tak sengaja menangkap sosoknya tengah bergandengan tangan dengan gadis lain. Gadis yang berasal dari sekolah lain. Dan yang membuat hati ini pilu, ia tersenyum ke arahnya, bukan ke arahku yang seperti tritagonis dalam kisah cinta mereka. Vallen tersenyum hangat, membuatku iri. Terpukul oleh rasa kecemburuan. kuikuti mereka yang justru membuat dadaku semakin terasa sesak, mereka berdua mampir ke taman.
Disana, bunga berwarna-warni bermekaran dengan indahnya. Kupu-kupu beterbangan menciptakan mutualisme bersama bunga. Pengunjung sepi karena waktu sore hendak mendatangkan malam membutakan. Mereka asyik memakan es krim yang sempat di belinya tadi di Indomaret. Sungguh bencana bagi hatiku melihatnya.
Yang membuatku terheran-heran, meski gelapnya malam menghitamkan sekitar, mereka tak kunjung berpisah. Bahkan Vallen tak kunjung pulang ke rumahnya. Ia melewati jalan, gang-gang yang tak kuketahui tujuannya. Saat masa-masa memuncak oleh pertanyaan, Vallen memasuki sebuah rumah bersama dirinya. Satu rumah, dengan gadis itu.
Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat. Kuambil ponselku yang semula terkurung dalam kantong rok seragam. Membuka pesan lantas menghubungi tante Reta, ibu tiri Vallen.
Tante vallen nya udah pulang?
Vallen nya nggak pulang sayang katanya hari ini mau menginap di rumah orang
Siapa tante?
Maaf mer tantenya nggak tahu mungkin ke rumah temannya begitu vallen minta izin langsung tante izinkan habisnya tante senang banget akhirnya anak itu bisa berbaur dengan orang lain dan nggak terus-terusan di dalam kamar .
Barulah air mataku menderas. Teman, ingin sekali aku bilang langsung kepada tante Reta bahwa yang dimaksud teman di sini adalah seorang gadis yang lebih manis dariku. Seorang gadis yang lebih menarik perhatiannya ketimbang diriku. Gadis pertama kali yang mampu melelehkan hati beku milik Vallen selain diriku. Bahkan, aku tak mampu melakukannya.
Kumatikan ponselku dan kumasukkan kembali ke dalam saku rok milikku. Pandanganku kosong, lututku tak mampu mengukuhkanku. Rasanya bumi hendak menenggelamkanku. Membuatku serta-merta gontai dalam mengarungi jalanan yang hendak kutempuh pulang.
---
Hatiku masih terasa membekas sakitnya. Untuk sementara ini, aku tak ingin bertemu dengannya. Bukan berarti menyerah, angkat tangan, ataupun mengibarkan bendera putih untuk terus memperjuangkannya, melainkan karena aku butuh renungan diri agar aku tetap kokoh pada tujuan awal.
Jamm berganti hari, hari berganti minggu, dan dua minggu tak terasa lamanya. Kehidupan selama dua minggu terakhir sungguh tak ada istimewanya sama sekali. Hari ini, tanggal 03 November 2018, Mer yang selalu ceria dan aktif, kini tak seperti biasanya lagi. Mer yang seolah berkamuflase menjadi Mer yang dahulu. Diam, tak banyak bicara, dan malas menyaut omongan dari orang-orang. Kehidupan yang datar tanpa ada keceriaan menghiasi.
“Woy, Mer, lo kenapa?”
Sudah bisa kutebak siapa orangnya, bermata sipit dengan rambut sebahu itu datang menghampiriku. Seperti hari-hari biasa, hanyalah jawaban singkat yang dapat kulontarkan. Mood-ku semakin tak baik, dan kian hari bertambah buruk.
“Mer, kita janjikan nggak ada satupun rahasia yang dipendam sendirian? Gue serasa menjadi sahabat yang nggak berguna, gue nggak berperan kalo lo nyembunyiin rahasia sama gue,”
Aku mencubit pipi Via, memberikan senyuman yang terbaik. Beruntungnya masih ada sahabat yang siap menemaniku. Aku berjanji, suatu saat akan kubalas jasanya meski harus mengorbankan apapun yang kumiliki.
“Gue nggak papa,”
“Nggak usah basa-basi deh, udah buruan cerita!”
Aku menghembuskan napas, sahabatku yang satu ini memang keras kepala apabila ia penasaran.
“Vallen,”
Aku menghentikan ucapanku sejenak, menarik nafas untuk mengatur emosiku agar tak terlampiaskan. Sementara itu, mata sipitnya seakan membelok menyimak cerita yang tergantung.
“Gue udah nembak dia,”
“APA? KAPAN? lo nggak pernah cerita tentang itu sebelumnya sama gue,”
Aku melotot, kusenggol lengan atasnya agar Via dapat mengontrol suaranya. Kebiasaan memang jika terungkap rahasia yang menggerogoti benarnya, Via akan tanpa sadar berteriak mengundang perhatian para siswa-siswi.
“Baru sekitar dua minggu yang lalu,”
“Terus terus, apa jawabannya?”
Sekali lagi kuatur nafasku agar air mata tak merembes mengalir dari kelopak mata.
“Gue ditolak,”
“Kok bisa? aneh banget sih cowok itu, seorang Mer yang diincar para cowok bisa ditolak?! Matanya rabun kali, masa cewek terpopuler di sekolah bisa-bisanya ditolak! Nih ya Mer, kalo aja jenis kelamin gue laki-laki, terus lo nembak gue, nggak ada satu menit langsung gua terima. Apa coba yang kurang dari lo, udah cantik alami, imut, pinter, aktif jadi ketua angkatan dan gue yakin pas lo kelas sebelas lo bisa naik jabatan jadi ketua OSIS,”
Sedikit terhibur dengan pujian Via. Akan tetapi, hal baik yang kualami saat ini serta merta karena jasanya jasa Vallen dahulu.
“Gue enggak sehebat atau sepopuler itu Vi,”
“ Lo hebat Mer, lo populer, cowok mana yang nggak melirik lo. Lo kan juga jadi princess sekolah kita. ingat enggak?”
Kuanggukkan kepala pertanda aku mengingatnya. Waktu itu, aku dipilih langsung oleh pak Yoyon, wali kelasku sekaligus wali kelas angkatanku untuk mengikuti lomba speeling bee. Aku menolak karena aku program itu untuk kakak senior kelas sebelas dan dua belas, kelas sepuluh tugasnya hanya menonton. Akan tetapi, kata pak Yoyon, aku bisa mengikutinya karena katanya aku tak kalah hebat dari mereka. Aku akhirnya mengangguk pasrah mengiyakan. Saaat acara perlombaan dimulai, aku didandani cantik layaknya seorang princess, duduk manis di atas panggung yang telah disediakan dua lawan di samping kanan ku. Masing-masing perwakilan dari angkatan kelas sebelas dan dua belas.
Mereka sama cantiknya, sama pintarnya, sama populernya. Aku ragu dapat mengalahkan mereka. Aku masih junior yang saat itu belum terkenal, belum banyak yang mengenalku, belum tahu tentang diriku. Barulah namaku mulai terdengar ke penjuru sekolah saat aku berhasil mengalahkan mereka. Fotoku yang mengenakan mahkota putih sebagai penobatan princess sekolah terpampang jelas di papan informasi sekolah. Dibingkai dengan indah di sana. Baru kali ini, murid dari kelas sepuluh dapat mengalahkan Senorita, salah satu perwakilan kelas dua belas yang tahun sebelumnya adalah princess sekolah.
---
Kehidupan Kehidupanku terasa membosankan. Dua hari lalu aku merasa masih murid baru yang mencuri pandang Vallen, hari lalu aku merasa masih mengejarnya, dan sekarang harapanku serasa putus karena tolakan olehnya. Via pernah berkata kepadaku seminggu yang lalu, saat ia masih memuji kelebihanku untuk menghibur.
Mer kalo kak Vallen nolak lo, saran gue lebih baik lo bangun jarak sementara sama dia. Kan nggak wajar kalau justru cewek yang mengajar. Mending lo jauhin dia untuk sementara. Lo harus kelihatan menyerah. Barulah saat kak Vallen merasa telah kehilangan orang yang ternyata telah membuat warna pada monokrom hatinya telah hilang, lo terima dia. Kalo menurut gue, cinta itu akan semakin bergejolak apabila telah merasakan kehilangan orang yang kita sayang
Setelah mendengar saran Via, aku langsung menemui Rasyid dan menyetujui tawarannya. Menjadikan Rasyid sebagai pacar pura-pura selama minggu terakhir dari saran via minggu lalu.
Hari ini, hari Sabtu 10 November 2018 kami selalu berbarengan layaknya seorang kekasih. Mulai dari hari Senin 5 November 2018 hingga sekarang, aku memiliki antar jemput pribadi menuju sekolah, tak lagi berjalan kaki. Aku sudah berkali-kali menyuruh Rasyid agar tak perlu repot-repot antar jemput dengan status yang hanya berpura-pura, tapi Rasyid menolaknya. Katanya, itu justru akan mencurigakan apabila sepasang kekasih tak saling bersama.
Ternyata kabar itu menjadi gentar penjuru sekolah. Cowok-cowok yang sempat kutolak, cewek-cewek yang mengagumi Rasyid, semua patah hati mendengar kabar itu. Jangan tanya soal Via, ia tak kalah update. Via lebih dahulu menarikku ke toilet wanita, meminta penjelasan. Aku menjawab seadanya, apa saja yang perlu dijelaskan.
Dulu Via juga mengagumi Rasyid, entah sekarang masih atau tidak, aku menjawab sebisanya agar tak membuat Via sakit hati. Namun ternyata, ia justru mendukungku. Tak kusangka kekagumannya terhadap Rasyid luntur dengan cepat.
Sesekali aku masih tetap menstalker Vallen. Mencari tahu bagaimana tepatnya ia dengan gadis itu. Rupanya ,gadis itu tak bersamanya lagi sepulang sekolah. Vallen berjalan sendirian. Ingin sekali aku keluar dari mobil avanza milik Rasyid dan berlari mengejar Vallen, berjalan beriringan dengannya ketika sepulang sekolah, tapi kutahan itu karena akan menggagalkan rencana jarak.
“Mer, udah sampai, ayo!”
Rasyid mengulurkan tangannya kepadaku. Hendak kusaut uluran tangan Rasyid tapi sebuah tangan lain menyambar tanganku lebih dahulu. Meremas jemariku erat. Menarikku menjauhi Rasyid aku berjalan di belakangnya, mengikuti tarikan pria itu. Sesekali aku melihat ke belakang, melihat ke arah Rasyid yang telah tertinggal. Rasyid mengangkat tangan kanannya, jempolnya teracung tinggi-tinggi. Melontarkan senyuman tipis ke arahku seolah memberiku semangat untuk meraih kembali seseorang yang telah kuberi jarak sementara.
“Selamat tinggal, Mer.”
Begitulah kata sekilas yang sempat terdengar ditelingaku. Vallen menarikku keluar pagar sekolah. Masih kurang lima belas menit sebelum pagar benar-benar ditutup.
"Len?"
Pria itu masih tetap menarikku tanpa memedulikan segudang pertanyaan yang menikam otakku. Vallen yang menjaga jarak padaku, kemudian memutuskan dengan cewek lain. Saat aku juga hendak memberikan jarak padanya, ia menarikku dengan paksa. Muncul kembali dan membawaku pergi seenak jidatnya. Aku muak, aku sudah tak tahan lagi dengan keingintahuanku. Kutarik tanganku yang digenggamnya erat, membuat langkah Vallen dengan reflek berhenti dan memutar balik tubuhnya menghadapku.
“Baru datang ke sekolah tiba-tiba datang tanpa permisi dan narik tangan gue, enggak sopan!”
Sungguh itu perkataan yang tak ingin kuucapkan. Mau bagaimana lagi, aku ini manusia yang tak bisa seenaknya dijadikan boneka olehnya. Main tarik ulur hatiku seenaknya. Serasa baru dua hari yang lalu ia menolakku mentah-mentah, kemarin ia membuat tangisan mengalir di pipiku karena berjalan dengan cewek lain, dan sekarang ia menarikku seenaknya yang berjalan dengan cowok lain
“Capek gue Len, lo tarik ulur perasaan gue yang coba mengejar lo!"
Vallen terdiam. Sejak awal ia menarikku ke sini ia belum bicara sama sekali. Matanya yang seperti elang itu memusatkan pandangannya ke arahku. Hampir meleleh aku dibuatnya tapi kutahan. Saat ini suasana hatiku sedang kesal.
“Lo masih sama kayak awal kita bertemu lagi. Setelah lima tahun yang lalu. Lo masih diam, irit bicara. Ngerasa waktu lo terbuang sia-sia karena bicara dengan gadis di depan lo yang sama sekali nggak lo anggap penting. Sama egoisnya, nggak mau berbagi cerita ke gue yang berharap. Tiba-tiba menjauh dan di saat gue udah punya pacar baru, di saat gue udah mau ngelupain lo, disaat gue mau ngelepasin lo seutuhnya, apa yang lo lakuin barusan itu terlalu semau lo aja tanpa memikirkan perasaan orang lain yang udah lu gituin!”
Bibir Vallen masih mengantup. Bahkan aku bicara panjang lebar ia sama sekali tak membalasnya.
“Udah ah Len, gue capek lo gituin terus-terusan,”
Aku hendak membalik badan kembali ke kelas sebelum gerbang ditutup tapi Vallen justru menarik pundakku. Sangat mendadak, belum sempat memposisikan tubuhku dengan benar sampai aku telah terjatuh dalam dekapannya. Tangannya mengelus puncak ubun-ubunku. Mencium dahi ku sekilas lalu kembali dalam posisi semula, mendekap tubuhku yang telah dialiri air mata. Perlakuan hangatnya kali ini membuat hatiku goyah. Aku terlanjur jatuh, jatuh dari kata cinta dengan seorang pria yang membolak-balikkan hati ku. Mengobrak-abrik perasaanku saat ini.
“Seandainya bisa Mer, seandainya,”
Aku merasakan ada tetesan air mata yang menjatuhi kepalaku. Vallen menangis.
“Maksud lo apa?”
“Untuk kali ini aja, gue pengen bolos sama lo,”
---
aku akan lanjutin nanti... 🥰
salam cilamici