Safa Zaina adalah seorang gadis yang tumbuh dalam keluarga yang sederhana. Namun karena kecerdasannya dia berhasil mendapatkan beasiswa di Universita Negeri terbaik di kotanya. Pertemuannya dengan Azka Imam Haqiqi, seorang pria kaya membawa perubahan pada dirinya. Imam adalah cinta pertama Safa. Namun berbeda dengan Azka. Safa adalah wanitanya yang entah yang ke berapa. Tak dapat lagi di hitung saking banyaknya. Namun satu yang pasti, Safa adalah pelabuhan cinta terakhirnya. Hubungan jarak jauh tak menjadi halangan bagi kisah cinta mereka. Dan di usia hubungan mereka yang ke 8 tahun, mereka akan melangsungkan pernikahan. Bertepatan dengan selesainya masa program dokter internship Imam.
Namun manusia hanya mahir berencana, dan Tuhanlah yang menentukan takdirnya. Malapetaka itu datang. Malapetaka yang membuat hidup Safa hancur. Malapetaka yang membuatnya tak lagi mempunyai alasan untuk hidup.
Mampukah safa bertahan? Atau dia akan mengalah pada takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kristiyana Nopiyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gagal Total 2
Safa Zaina
Pekerjaannya sudah selesai. Semua data pengunjung dan peminjam buku sudah berhasil dia print out. Ya, dia memang selalu teliti dalam mengerjakan pekerjaan apapun. Dia selalu mempunyai rekap data yang berbentuk hard coppy, mencegah kehilangan data jika suatu saat nanti terjadi Error dengan server utamanya. Menyimpan rapih semua hasil print outnya hari ini di dalam map besar yang setiap bulan selalu dia cek ulang dan memperbaharui semua data.
Saat hendak keluar dari perpustakaan dia merasakan ponsel yang sengaja di silent yang dia pegang bergetar. Namun tak segera dia membuka pesan yang masuk. Dia lebih dulu untuk membantu Miss Betty membawa 2 kardus berisi buku yang sudah rusak karena termakan usia, untuk nanti di ganti dengan yang baru. Atau mungkin di perbaiki jika buku yang rusak itu sudah langka. Membawa kardus berisi buku tadi ke bagasi mobil Miss Betty yang selalu parkir di tempat yang sama setiap harinya.
Setelah Miss Betty mengunci pintu perpustakaan dan masuk ke dalam mobil yang kemudian melaju keluar dari parkiran, barulah dia membuka pesan WhatsApp yang tadi terkirim. Yang ternyata dari Azka.
Azka : Masih sibuk?
Azka : Maaf, hari ini kita batal makan malam bareng. Aku ada keperluan lain. Jadi kamu gak usah nunggu.
Azka : Kalau kamu udah gak sibuk, cepet kabarin aku.
Membaca dengan teliti semua pesan yang terkirim ke ponselnya sebelum akhirnya dia membalas pesan itu.
Safa : Maaf, baru beres.
Safa : iya gak apa-apa. Aku langsung pulang ke asrama.
Begitu yang dia ketik di dalam ponselnya sebelum akhirnya menyimpan ponsel itu ke dalam sling bag nya dan mulai berjalan melewati gedung-gedung yang menjulang tinggi, pertokoan dan tiba di depan pintu gerbang asramanya.
Ada rasa kecewa yang dia rasakan ketika Azka tiba-tiba membatalkan janji makan malam dengannya. Namun dia tak ingin terlalu memikirkannya.
Dia terus berjalan masuk ke dalam Asramanya, melewati lorong yang terdiri dari kamar-kamar yang berjejer dan saling berhadapan. Mirip sebuah hotel. Hingga tiba di depan pintu kamarnya yang tak tertutup rapat.
"Koq udah pulang? Bukannya kamu ada janji sama Azka malam ini?" Tanya Jenny yang saat dia masuk sedang sibuk merapikan kamarnya.
"Gak jadi" jawabnya singkat.
"Lho kenapa?"
"Azkanya ada keperluan mendadak" jawabnya lagi sambil berlalu ke kamar mandi. Seperti biasa, setiap malam, selepas pulang dari perpustakaan Safa selalu menyempatkan diri untuk mandi sebelum akhirnya membuka buku untuk mempelajari kembali, pelajaran yang tadi di terangkan guru.
15 menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dan mulai duduk di meja belajar, untuk mengulang kembali pelajaran tadi.
"Safa" panggil Jenny dengan suara setengah teriak. Membuatnya harus memalingkan tatapannya dari buku kimia yang baru saja dibukanya beberapa menit yang lalu.
"Hmm" jawabnya hanya dengan gumaman.
"Kamu sebenernya jadian gak sih sama Azka?" Tanya Jenny dengan wajah penasaran.
"Hah? Ya enggak lah. Gak mungkin" jawab Safa spontan.
"Kenapa gak mungkin?" Tanya Jenny yang kali ini seolah penuh selidik. Dia tak bergeming. Hanya diam menjelajahi imajinasinya sendiri. Sambil memutar kembali memory di otaknya. Mengingat setiap inchi pertemuannya dengan Azka. "Kamu mulai suka sama Azka?" Tanya Jenny lagi.
"Ihhh, gak lah" kali ini kalimatnya bergetar karena merasa tertangkap basah. Namun hati dan fikirannya justru bertanya pada dirinya sendiri.
Apa dia memang mulai menyukai Azka?
Mengagumi Azka?
Atau malah mulai mencintainya?
Tapi apa memang jatuh cinta itu hanya butuh waktu sesingkat itu?
Ahh, tak mungkin. Dia tak mungkin mencintai Azka, pria yang terkenal bad boys dan raja mematahkan hati para gadis yang di kencaninya, lantas di tinggalkannya.
Mana mungkin??
Dia masih sangat waras.
"Kalau iya juga gak apa-apa kali. Wajar kan jika seorang perempuan mencintai pria? Lagian Azka itu ganteng, populer, kaya, pinter lagi. Jadi tak heran kalau..."
"Aduh... Udah deh. Aku gak mungkin suka sama dia. Kalaupun kemaren dan hari ini aku mau di ajak makan malem sama dia, itu bukan karena aku suka sama dia. Tapi lebih ke merasa gak enak aja kalau nolak" Sambar Safa tanpa menunggu Jenny menyelesaikan kalimatnya.
"Hmm..." Guman Jenny sambil mendekati tempatnya duduk. "Tapi aku yakin banget, kalau kamu bakalan jatuh cinta sama dia" kali ini Jenny menggodanya. Yang membuat muka Safa memerah karena malu juga kesal.
"Ihh apaan sih? Ngedoain aku jatuh cinta sama cowok badboys kaya Azka. Benar-benar sahabat yang menjerumuskan" kata Safa sambil mencebikan bibirnya dan beberapa detik kemuadian dia menjulurkan lidahnya sambil tersenyum meledek.
"Ya terus harus doain jatuh cinta sama siapa?" Tanya Jenny yang kali ini merasa menang karena ledekannya berhasil membuat wajah Safa memerah. "Azka kan cowok paling keren di sekolah kita. Lagian semua cewek pasti suk..."
"Apaan sih?" Jawab Safa sambil membalikan badannya lagi menghadap tumpukan buku yang tersusun rapi di meja belajarnya. Memunggungi Jenny, yang masih terus saja menggodanya meski kini dia sudah membalikan badan.
"Azka juga kayaknya suka sama kamu, kalau gak mana mungkin dia terus-terusan ngajak kamu jalan. Beruntung bang..."
"Jenny..." Pekiknya sambil kembali membalikan badan. Konsentrasinya pada pelajaran kimia buyar sudah. "Bukan jalan tapi cuma makan aja..."
"Ya ya ya... Sama aja nona" ledek Jenny lagi.
"Tapi gak terus-terusan juga. Cuma baru 2 kali, itupun yang sekali lagi..."
"Baru? Ngarep di ajak Azka lagi ya? Hahaha"
"Ehh maksudku hanya 2 kali" katanya dengan muka memerah karena salah ucap.
"Nanti juga bakal di ajak ketemuan lagi, percaya deh" kata Jenny lagi sambil menepuk pelan dadanya yang sudah di busungkan terlebih dahulu. Menampilkan kesan sangat percaya diri dan yakin dengan apa yang di ucapkannya barusan. Dia hanya memutar bola matanya kesal sambil menghembuskan nafas panjang. Tak lupa bibirnyapun mencibir. "Ehhh, kayaknya ada suara handphone bergetar deh" katanya lebih pada dirinya sendiri. "Ehhh tunggu-tunggu" lanjutnya seraya mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas kasur. "Bukan punya aku, punya kamu kali" lanjutnya lagi setelah melihat tak ada notif apapun di layar ponselnya.
Safa beranjak dari tempatnya duduk, mengambil ponsel yang masih tersimpan di dalam slingbagnya.
"Eh iya.." katanya seraya melihat notif di ponselnya. 10 pesan chat. 2 panggilan tak terjawab, dan semuanya dari Azka. "Azka..." Katanya dengan mata terbelalak sambil menatap wajah Jenny. "10 chat, 2 missed call" lanjutnya lagi sembari membuka kunci layar ponselnya.
Azka : Maaf banget ya. Ada urusan di luar rencana.
Azka : kamu udah sampe Asrama?
Azka : Sibuk ya?
Azka : Safa
Azka : Masih sibuk?
Azka : Masih belum baca chat aku
Missed call Azka
Azka : Safa
Azka : Kamu marah?
Azka : Maaf
Azka : udah lewat dari 2 jam kamu belum jawab chat aku. Kamu beneran marah?
Missed call Azka
"Apa katanya?" Tanya Jenny yang sedari tadi terus memperhatikannya.
Dia sempat ragu untuk membalas chat Azka sekarang atau menunggu pagi saja, karena saat ini sudah pukul 10:30 malam. Dia masih menimbang-nimbang hingga matanya menangkap status Azka yang tadinya last seen menjadi online dan kemudian typing.
Azka : Kamu marah?
Pesan baru masuk ke ponselnya. Buru-buru dia mengetikan sesuatu di layar ponselnya.
Safa : Marah? Kenapa harus marah?
Azka : Ya karena tadi aku batalin dinner sama kamu.
Safa : Gak koq
Azka : Kesel?
Safa : Gak juga.
Azka : Terus kenapa? Semua pesanku kamu abaikan?
Safa : tadi hape nya di silent.
Azka : Ohh, kirain marah.
Safa : Gak lah
Azka : Aku mau ajak kamu makan lagi, gak keberatan kan?
Safa : Kapan?
Azka : Tapi kayaknya seminggu ini belum bisa deh.
Safa : Ohh. Ya udah.
Chating antara Azka dan dirinya terus berlanjut, meski hanya seputar pertanyaan-pertanyaan yang masih dalam taraf wajar. Tak terasa malam semakin larut, namun dirinya tak juga diserang kantuk. Dia terlalu asyik saling berbalas pesan dengan Azka. Hingga dirinya terlelap tanpa dia sadari. Pergi ke alam mimpi dengan ponsel yang masih tergenggam di tangannya.
#gadis imut diantara dua raja
mksh ya ka
lanjut