Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 - Malam Yang Membuat Salah Tingkah
Malam semakin larut ketika Retna dan Nathan akhirnya kembali ke rumah.
Perjalanan pulang berlangsung cukup tenang.
Setelah berjalan cukup lama di pantai, Retna ternyata mulai mengantuk. Ia beberapa kali menguap di dalam mobil.
Nathan yang menyadarinya hanya tersenyum.
“Ngantuk?”
Retna mengangguk kecil.
“Sedikit.”
“Kalau begitu tidur saja.”
Retna awalnya masih berusaha menahan kantuk.
Namun beberapa menit kemudian, matanya perlahan terpejam.
Kepalanya bersandar pada kaca jendela.
Nathan sesekali melirik ke arahnya.
Perempuan itu benar-benar tertidur.
Wajahnya terlihat begitu tenang.
Tidak ada ekspresi canggung seperti biasanya.
Tidak ada senyum malu ketika Nathan menggoda.
Hanya wajah polos seorang perempuan yang akhirnya bisa beristirahat setelah melewati begitu banyak hal.
Ketika sampai di rumah, Nathan mematikan mesin mobil.
Ia menoleh.
“Retna.”
Tidak ada jawaban.
Nathan tersenyum kecil.
“Retna, kita sudah sampai.”
Perempuan itu hanya bergerak sedikit, lalu kembali terlelap.
Nathan akhirnya turun dari mobil.
Ia membuka pintu di sisi Retna.
“Retna.”
Tetap tidak bangun.
Nathan menghela napas pelan.
Ia sebenarnya ingin membangunkannya.
Namun melihat Retna begitu lelah, ia mengurungkan niatnya.
Dengan hati-hati, Nathan membungkuk dan mengangkat tubuh kecil itu.
Retna bergerak dalam tidurnya.
Tangannya tanpa sadar mencengkeram bagian depan kemeja Nathan.
Nathan terdiam sesaat.
“Tenang.”
Ia membawanya masuk ke rumah.
Langkah Nathan perlahan menaiki tangga.
Tubuh Retna terasa ringan dalam pelukannya.
Sesampainya di depan kamar, Nathan membuka pintu.
Ia kemudian membaringkan Retna perlahan di atas tempat tidur.
Namun ketika hendak melepaskan tangannya, Retna justru bergerak.
Matanya terbuka sedikit.
“Mas...”
Nathan langsung menunduk.
“Sudah sampai.”
Retna masih setengah sadar.
“Mas yang bawa saya?”
Nathan mengangguk.
“Kamu tidur di mobil.”
Retna menatapnya beberapa detik.
Kemudian matanya kembali terpejam.
Nathan hendak berdiri.
Namun tiba-tiba tangan Retna masih menggenggam ujung kemejanya.
Nathan kembali menatapnya.
“Retna?”
Tidak ada jawaban.
Nathan tersenyum kecil.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Perlahan ia melepaskan tangan Retna dari kemejanya.
Namun sebelum benar-benar berdiri, Retna membuka mata lagi.
Kali ini lebih sadar.
“Maaf...”
“Untuk apa?”
“Saya merepotkan.”
“Kamu tidak merepotkan.”
Nathan menatapnya lembut.
“Kamu cuma ketiduran.”
Retna mengangguk.
Ia mencoba duduk, tetapi tubuhnya masih terlalu lelah.
Nathan spontan menahan bahunya.
“Pelan-pelan.”
Retna menatap tangan Nathan di bahunya.
Kemudian menatap wajah pria itu.
Jarak mereka begitu dekat.
Keduanya terdiam.
Suasana kamar mendadak terasa sangat sunyi.
Retna bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Nathan pun tidak segera menarik tangannya.
Tatapan mereka bertemu.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Nathan kemudian perlahan menarik tangannya.
“Maaf.”
Retna menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Nathan berdiri.
Namun sebelum keluar, ia kembali menoleh.
“Selamat malam, Retna.”
“Selamat malam, Mas.”
Nathan hendak pergi.
Tetapi langkahnya terhenti. Ia menatap Retna yang sudah kembali berbaring, lalu tersenyum lembut.
“Tidur yang nyenyak.”
Retna mengangguk kecil.
Nathan mendekat beberapa langkah. Dengan gerakan hati-hati, ia membungkuk dan mengecup kening Retna singkat, seolah takut membuat perempuan itu terkejut.
Retna membeku.
Matanya membesar, sementara wajahnya perlahan memerah.
Nathan pun tampak salah tingkah. Ia segera berdiri dan berusaha bersikap tenang.
“Selamat malam,” ucapnya sekali lagi, lebih pelan.
“Se... selamat malam, Mas,” jawab Retna terbata.
Nathan kemudian berjalan keluar.
Pintu kamar tertutup perlahan.
Retna langsung menarik selimut hingga menutupi sebagian wajahnya.
Dadanya masih berdebar.
Ia memejamkan mata.
Namun pikirannya justru kembali kepada kejadian tadi.
Cara Nathan menggendongnya.
Tatapannya.
Suara lembutnya.
Dan kecupan singkat di keningnya.
Retna menepuk pipinya sendiri.
“Kenapa aku jadi begini?”
Ia mencoba tidur.
Tetapi senyum kecil justru muncul tanpa disadarinya.
Di luar kamar, Nathan belum langsung pergi. Ia berdiri beberapa saat di depan pintu, menatap gagang pintu dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak tahu mengapa kecupan singkat itu terasa begitu berarti. Selama ini ia selalu menjaga jarak dengan Retna, takut perbedaan usia, status, dan latar belakang membuat perempuan itu merasa tertekan.
Namun malam ini, ketika Retna menggenggam kemejanya dalam tidur, Nathan merasakan sesuatu yang berbeda. Ada kepercayaan di sana. Ada rasa nyaman yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Nathan mengusap wajahnya sendiri.
“Jangan terlalu berharap,” gumamnya pelan.
Tetapi senyum di wajahnya tidak juga hilang.
Di dalam kamar, Retna masih belum bisa tidur. Ia memeluk bantal erat-erat, lalu membayangkan kembali saat Nathan membawanya menaiki tangga. Ia bisa mengingat aroma tubuh pria itu, hangat lengannya, dan suara rendah yang menenangkan.
Tanpa sadar, Retna menyentuh keningnya.
Bekas kecupan itu sebenarnya sudah tidak terasa, tetapi hatinya seolah masih menyimpannya.
“Mas Nathan...” bisiknya.
Ia segera menutup mulut sendiri, malu karena menyebut nama pria itu dengan nada yang begitu lembut.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Retna tidur dengan senyum yang tidak bisa ia sembunyikan.
Pagi harinya, suasana rumah terasa sedikit berbeda.
Retna sedang menyiapkan sarapan ketika mendengar langkah kaki Nathan.
“Selamat pagi.”
Retna menoleh.
“Pagi, Mas.”
Keduanya saling memandang.
Kemudian...
Sama-sama cepat mengalihkan pandangan.
Retna pura-pura sibuk mengaduk masakan.
Nathan pura-pura memeriksa ponselnya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan canggung.
Nathan akhirnya duduk.
“Tidurmu nyenyak?”
Retna mengangguk.
“Iya.”
“Bagus.”
“Hm.”
Hening lagi.
Retna meletakkan piring di meja.
“Ini sarapannya.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama.”
Nathan mengambil sendok.
Retna hendak kembali ke dapur.
Namun Nathan memanggilnya.
“Retna.”
Retna berhenti.
“Iya?”
Nathan terlihat sedikit ragu.
“Masalah semalam...”
Wajah Retna langsung memerah.
“Semalam?”
Nathan ikut salah tingkah.
“Maksud saya... ketika saya mencium kening kamu.”
“Oh.”
Retna menunduk.
“Iya.”
Nathan menarik napas.
“Saya minta maaf kalau sikap saya membuat kamu tidak nyaman.”
Retna langsung menatapnya.
“Tidak.”
“Benar?”
Retna mengangguk.
“Saya cuma malu.”
Nathan tersenyum tipis.
“Saya juga.”
Keduanya kembali terdiam.
Nathan kemudian berkata,
“Saya tidak bermaksud membuat keadaan menjadi aneh.”
“Tidak apa-apa.”
“Dan soal menggendong juga, saya cuma tidak tega membangunkan kamu.”
Retna tersenyum kecil.
“Terima kasih sudah mengantarkan saya.”
Nathan mengangguk.
“Baik.”
Setelah itu, mereka kembali diam.
Namun kali ini suasananya tidak lagi terasa canggung seperti sebelumnya.
Justru ada rasa hangat yang sulit dijelaskan.
Nathan mulai makan.
Retna kembali ke dapur.
Beberapa saat kemudian, Nathan berkata,
“Retna.”
“Iya?”
“Masakannya enak.”
Retna tersenyum.
“Terima kasih.”
Nathan menatapnya sebentar.
“Kamu tahu?”
“Apa?”
“Saya mulai terbiasa dengan makanan buatan kamu.”
Retna tertawa kecil.
“Berarti mas jangan sering makan junk food lagi.”
Nathan ikut tersenyum.
“Kalau kamu yang masak, saya tidak keberatan.”
Retna kembali menunduk.
Pipinya memerah lagi.
Nathan menyadarinya.
Namun kali ini ia memilih tidak menggoda.
Ia tidak ingin membuat Retna merasa tidak nyaman.
Baginya, kedekatan mereka harus berjalan perlahan.
Tanpa paksaan.
Tanpa membuat Retna merasa harus membalas perasaannya.
Sementara Retna sendiri mulai menyadari sesuatu.
Kehadiran Nathan di rumah itu sudah tidak terasa seperti kehadiran seorang majikan.
Ia mulai merasa nyaman.
Mulai menunggu suara langkah kaki Nathan.
Mulai tersenyum ketika pria itu memanggil namanya.
Dan yang paling membuatnya takut...
Ia mulai menantikan hari-hari berikutnya bersama pria bule itu.
Sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan ketika pertama kali datang ke Bali.
Setelah sarapan selesai, Nathan membawa piringnya ke dapur. Retna yang sedang mencuci peralatan makan langsung menoleh.
“Biar saya saja, Mas.”
“Tidak apa-apa. Saya bisa membantu.”
Nathan berdiri di sampingnya dan mulai membilas piring. Ruang dapur yang tidak terlalu luas membuat bahu mereka beberapa kali bersentuhan.
Setiap kali itu terjadi, Retna langsung menahan napas.
Nathan menyadarinya, tetapi pura-pura tidak tahu.
“Retna.”
“Iya?”
“Besok kamu ada waktu?”
Retna mematikan keran.
“Kenapa?”
“Saya ingin mengajak kamu pergi.”
“Pergi ke mana?”
Nathan tersenyum.
“Rahasia.”
Retna mengerutkan kening.
“Mas jangan macam-macam.”
“Saya tidak akan macam-macam.”
Nathan menatapnya serius, lalu menambahkan dengan suara lebih lembut,
“Saya hanya ingin menghabiskan waktu bersama kamu.”
Kalimat sederhana itu membuat Retna terdiam.
Nathan segera mengalihkan pandangan, seolah baru menyadari betapa jujurnya ucapan tersebut.
Retna menunduk, menyembunyikan senyum kecil di bibirnya.
“Baiklah.”
Nathan menoleh.
“Benar?”
“Iya. Tapi jangan terlalu jauh.”
“Kalau begitu, saya akan memastikan kamu tetap nyaman.”
Retna mengangguk.
Nathan kemudian mengambil sehelai rambut yang jatuh di dekat wajah Retna. Dengan hati-hati, ia menyelipkannya ke belakang telinga perempuan itu.
Gerakannya begitu lembut hingga Retna tidak sempat menghindar.
Jari Nathan berhenti sesaat di dekat telinganya.
Mereka kembali saling menatap.
Kali ini tidak ada yang segera mengalihkan pandangan.
Nathan tersenyum kecil.
“Rambutmu mengganggu.”
Retna berusaha terdengar tenang.
“Bisa bilang dari tadi.”
“Saya baru menemukan alasan untuk mendekat.”
Retna langsung membelalakkan mata.
“Mas Nathan!”
Nathan tertawa pelan.
“Maaf.”
Namun tawanya membuat Retna ikut tersenyum.
Pagi itu, di dapur sederhana dengan aroma kopi dan masakan hangat, jarak di antara mereka terasa semakin dekat.
Tidak ada janji.
Tidak ada pengakuan.
Hanya tatapan, senyum, dan sentuhan kecil yang perlahan mengubah hubungan mereka.
Dan tanpa mereka sadari, perasaan yang awalnya tumbuh diam-diam mulai menemukan tempat di hati masing-masing.