Setelah mengorbankan wujud fananya untuk menyelamatkan jiwa Su Qingyue, Lin Chen hancur oleh cakar Kaisar Langit dari Ras Naga Sejati.
Sisa jiwanya yang nyaris sirna diselamatkan oleh pengorbanan umur Tian Yu yang memanggil Esensi Phoenix Abadi, mengubahnya menjadi sebuah kepompong api. Atas kehendak Tuan Istana Ujung Takdir, kepompong itu dibuang ke dunia fana murni Kerajaan Chen tempat di mana hukum kultivasi, Qi spiritual, dan ancaman dewa tidak pernah ada.
Ratusan tahun berlalu dalam keheningan, menunggu sang Penantang Langit untuk menetas kembali. Tanpa kultivasi, tanpa tombak dewa di tangannya, namun membawa fondasi fisik gabungan dari Naga, Kekacauan, dan Phoenix Abadi, Lin Chen memulai kehidupan keduanya bukan sebagai monster kehancuran, melainkan sebagai seorang pangeran fana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Alam Abadi
Badai petir kosmik yang menyelimuti pilar cahaya ungu di Jurang Kematian Utara bergemuruh, menelan suara rintihan angin fajar. Di tepi tebing yang hancur, Lin Chen berdiri menatap ke dalam kegelapan tak berdasar tersebut.
"Mo Yuan. Shen Lu," panggil Lin Chen tanpa menoleh.
Keduanya langsung berlutut di belakangnya. "Hadir, Kakak Pertama!"
"Ikuti konvoi Pangeran Pertama dari jarak tiga mil. Lindungi mereka dari bayang-bayang hingga mereka tiba di Ibukota dengan selamat. Jangan biarkan satu pun monster sisa atau bandit fana menyentuh mereka," perintah Lin Chen. Nada suaranya dingin, namun Mo Yuan dan Shen Lu bisa merasakan beban kepedulian di balik perintah itu.
"Bagaimana dengan Kakak Pertama?" tanya Shen Lu, matanya melirik cemas ke arah pilar cahaya yang memancarkan tekanan spiritual mengerikan.
"Aku akan turun ke bawah sana," Lin Chen menyeringai tipis, melangkah maju hingga ujung sepatunya menggantung di atas jurang. "Sudah saatnya aku mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Tanpa menunggu jawaban, Lin Chen menjatuhkan dirinya ke dalam kegelapan.
Angin berdesir ganas mengiris telinganya saat ia meluncur jatuh ribuan kaki ke perut bumi. Semakin dalam ia turun, udara fana yang tipis tergantikan oleh kabut Qi Spiritual yang luar biasa kental. Ini bukanlah dunia fana lagi; ini adalah sepotong alam semesta yang terperangkap.
BAM!
Lin Chen mendarat dengan lutut ditekuk, menghancurkan lantai batu giok hitam di bawahnya.
Ia perlahan berdiri, menepis debu dari jubahnya. Mata keemasannya memindai sekeliling. Ia kini berada di sebuah kawah bawah tanah raksasa yang luasnya setara dengan separuh Ibukota Kerajaan Chen. Di tengah kawah tersebut, berdiri megah reruntuhan sebuah kuil perunggu raksasa. Pilar-pilarnya dipenuhi ukiran galaksi dan wajah-wajah tak bernama.
"Sebuah pecahan dari Kuil Wajah Kosong yang terbawa saat cermin itu hancur," gumam Lin Chen, mengingat kembali momen saat ia merobek portal Sektor Langit.
Namun, kuil ini tidak kosong.
Begitu Lin Chen melangkahkan kakinya melewati gerbang perunggu, empat patung raksasa berbentuk Asura batu yang menjaga altar seketika membuka mata mereka. Formasi kuno pertahanan kuil aktif. Mata patung-patung itu memancarkan cahaya merah, dan mereka mengayunkan kapak batu raksasa yang masing-masing membawa kekuatan Kondensasi Qi Tingkat Puncak.
"Hanya batu rongsokan," desis Lin Chen.
Ia tidak menghindar. Darah Naga Primordial di nadinya mendidih, otot-ototnya mengembang sesaat. Ia menerjang maju, menggunakan murni tenaga fisiknya.
Satu pukulan Lin Chen menghantam dada patung pertama, menghancurkannya menjadi serpihan kerikil dalam satu ledakan! Patung kedua menebas dari atas, namun Lin Chen menangkap bilah kapak batu raksasa itu dengan satu tangan kosong, meremukkannya, lalu menendang kepala patung itu hingga putus. Hanya dalam sepuluh tarikan napas, keempat penjaga formasi kuno itu telah menjadi tumpukan puing tak berguna.
Lin Chen melangkah dengan tenang menuju pusat altar.
Di sana, mengambang di atas kolam kecil, terdapat sebuah kristal raksasa sebesar kepala manusia yang memancarkan cairan spiritual murni. Ini adalah Sumbat Urat Bumi dari Sektor Langit, sebuah pusaka yang menampung cadangan energi dalam jumlah yang tidak masuk akal.
Tanpa ragu, Lin Chen melompat masuk ke dalam kolam yang mengelilingi kristal itu. Cairan spiritual langsung meresap melalui pori-porinya.
Hawa Kekacauan di dalam Dantian-nya yang selama ini kelaparan, langsung meraung bangkit. Lin Chen memejamkan mata, memutar metode kultivasinya secara maksimal. Pusaran penelan hitam legam terbentuk di atas kepalanya, menyedot pilar cahaya ungu dan esensi kristal itu dengan kebrutalan kuat.
Energi itu terus mengalir, mendobrak dinding meridian fana di tubuhnya. Di saat yang sama, Esensi Phoenix Abadi dan Darah Naga Primordial yang menjadi fondasi fisiknya ikut beresonansi dengan Qi tersebut. Kulit Lin Chen perlahan memunculkan pola sisik transparan yang sangat indah namun mematikan, menyatu dengan tulang-tulangnya yang kini kembali memancarkan semburat emas murni. Fisiknya berevolusi, menciptakan Cangkang Dewa Tahap Awal.
KRAAAK!
Sebuah suara retakan dari dalam Dantian-nya bergema. Samudra Qi yang berbentuk gas kini memadat, berubah menjadi tetesan cairan spiritual yang berkilau layaknya bintang.
Lin Chen akhirnya membuka mata nya, yang kini memancarkan badai petir kosmik.
Ia telah menembus Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment)!
Lin Chen bangkit dari kolam yang kini telah mengering. Ia mengepalkan tangannya, merasakan kekuatan yang akhirnya bisa menopang teknik-teknik bayangan tingkat menengah dari masa lalunya.
Ia menatap aula bawah tanah raksasa yang ditinggalkan kuil perunggu ini. Tempat ini sangat luas, tersembunyi, dan memiliki formasi alami yang kuat.
"Sempurna," bibir Lin Chen melengkung. "Di sinilah markas utama Aliansi Bayangan Langit akan berdiri."
Menggunakan sisa-sisa batu spiritual murni yang berserakan di altar, Lin Chen mulai mengukir Formasi Pengumpul Qi Tingkat Surga di keempat sudut aula. Ia menggambar cetak biru dengan cepat: Sayap timur untuk Paviliun Mawar, sayap barat untuk Paviliun Pedang, utara untuk Paviliun Pembunuh, dan selatan untuk Paviliun Strategi. Dengan formasi raksasa ini, energi Sektor Langit akan terkunci di dalam jurang, memungkinkan seluruh anggota bayangannya yang berdarah fana untuk berkultivasi dengan kecepatan ribuan kali lipat.
Bawa ibunda dan kakakku ke tempat aman, lalu bersiaplah pindah ke Utara, Lin Chen mengirimkan pesan telepati Qi menggunakan transmisi jarak jauh yang kini bisa ia lakukan.
Sementara sang Tiran Cilik membangun istana bayangannya di perut dunia bawah, jauh melampaui triliunan lapisan bintang, di pusat dari segala penciptaan... tirai yang sesungguhnya baru saja dibuka.
Alam Abadi (Immortal Realm) - Benua Langit Suci.
Di atas sebuah pulau raksasa yang melayang di kelilingi oleh naga-naga emas yang berpatroli, sebuah aula perjamuan yang terbuat dari kristal bintang sedang dilangsungkan. Ini bukan pertemuan biasa. Di kursi-kursi kebesaran, duduk para Master Sekte dari faksi-faksi dominan, Patriark Keluarga Kuno, dan Tetua Agung yang napasnya saja mampu memadamkan sebuah tata surya.
Ini adalah Pertemuan 100 Tahun.
Di tengah aula, melayang puluhan bola kristal yang masing-masing menampilkan proyeksi planet-planet dari alam bawah (dunia fana/Sektor Bawah).
"Waktu Seratus Tahun telah tiba," seorang pria paruh baya berjubah naga emas, Patriark dari Keluarga Kuno Lin (cabang Alam Abadi), angkat bicara. Suaranya dipenuhi arogansi dewa. "Alam Rahasia Primordial di Sektor Pusat akan segera terbuka. Namun, seperti yang kalian tahu, kunci untuk memasukkan murid-murid jenius kita ke dalam sana adalah dengan mempersembahkan Roh Dunia murni dari alam-alam bawah yang baru menetas."
Seorang tetua wanita dari Sekte Teratai Es tersenyum dingin. "Turnamen perburuan yang sangat klasik. Kita mengirim para murid jenius kita turun ke alam-alam fana, menaklukkan peradaban kotor mereka, dan memanen Roh Dunia yang baru lahir dari inti planet mereka."
"Tentu saja ada batasan hukum surgawi," sahut seorang pemuda jenius yang memegang kipas bulu merak, memancarkan aura arogansi dari Sekte Pedang Bintang. "Hukum alam semesta menetapkan bahwa jika kita turun ke dunia fana yang memiliki Qi sangat tipis, kultivasi kita akan ditekan secara paksa hingga Tahap Pembangunan Fondasi (Foundation Establishment). Jika kita menggunakan kekuatan lebih dari itu, tubuh kita akan dihancurkan oleh penolakan dunia tersebut."
"Bahkan dengan batasan Foundation Establishment, seorang jenius Alam Abadi bisa membantai jutaan semut fana dengan satu sapuan pedang," tawa seorang Tetua dari Klan Iblis Darah menggelegar. "Pertanyaannya adalah... dunia mana yang paling menggiurkan tahun ini?"
Patriark Keluarga Lin tersenyum tipis. Ia melambaikan tangannya, dan salah satu bola kristal di tengah aula membesar. Bola kristal itu menampilkan sebuah planet biru kehijauan yang terlihat sangat damai. Itu adalah dunia Kerajaan Chen.
"Planet fana ini... aneh," ucap sang Patriark, menyipitkan matanya. "Tiga tahun lalu, planet ini benar-benar mati tanpa setetes pun Qi. Namun baru-baru ini, sebuah robekan dimensi terjadi di wilayah utaranya. Planet itu kini sedang dalam proses metamorfosis. Roh Dunia-nya baru saja lahir dan luar biasa murni karena menyerap sisa-sisa energi Sektor Langit."
Mata para tetua dan jenius dari berbagai faksi langsung berbinar serakah. Roh Dunia yang lahir dari anomali dimensi bernilai sepuluh kali lipat dari Roh Dunia biasa!
"Aku akan mengambil dunia itu," pemuda jenius dari Sekte Pedang Bintang melangkah maju, matanya memancarkan niat membunuh yang arogan. "Aku, Jian Wu, akan turun ke sana. Aku akan mendirikan kerajaan budakku sendiri, memanen Roh Dunia itu, dan membunuh siapa pun jenius sekte lain yang berani menginjakkan kaki di planet itu bersamaku!"
"Sombong sekali! Kau pikir Klan Iblis Darah kami akan membiarkanmu mengambil daging segar itu sendirian?!" bantah seorang pemuda berambut merah, menghunus sabitnya.
"Planet itu akan menjadi ladang pembantaian Turnamen kita tahun ini!"
Di sudut ruangan yang gelap, seorang pria berambut perak yang menyamar sebagai pelayan perjamuan hanya bisa menutupi senyum sinisnya di balik nampan minuman. Tian Yu, sang monster Nirvana yang sedang bersembunyi di Alam Abadi untuk melindungi reinkarnasi Qingyue, melirik ke arah bola kristal yang menampilkan dunia Kerajaan Chen.
Kalian para jenius manja ingin turun ke dunia fana itu untuk bermain? batin Tian Yu, tawanya tertahan di kerongkongan. Turunlah. Dan nikmati neraka yang menunggu kalian. Karena kalian tidak tahu monster macam apa yang sedang tertidur di dunia itu.
Su Qingyue ikut Lin Chen dan Tua hitam ke alam Abadi.
Kenapa ana Qingyue lagi di alam Fana 🤣🤣