Di Benua Tianxu, setiap orang terlahir dengan kemampuan menyerap Qi untuk berkultivasi. Namun Xiao Yun, bocah yatim dari Desa Kabut, lahir tanpa memiliki Qi sedikit pun dan hidup sebagai bahan hinaan seluruh desa.
Setelah kakek angkatnya meninggal, Xiao Yun bertahan hidup seorang diri dengan mencari tanaman obat di Hutan Terlarang. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan membawanya ke Lembah Iblis — tempat ia bertemu roh petapa kuno bernama Luo Hai.
Tanpa disadari siapa pun, di dalam tubuh Xiao Yun tersegel kekuatan kuno bernama Nadi Kekosongan, kekuatan terlarang yang bahkan ditakuti langit.
Dari bocah tanpa Qi yang dipandang sampah, Xiao Yun memulai perjalanan untuk mengguncang dunia kultivasi.
{ Update setiap hari }
Mohon dukungannya 👍🏻⭐🔁
Terima kasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.31 — Perpisahan
Seluruh kawanan Serigala Bulan Perak mendadak membeku di tempat. Tidak satu pun dari mereka bergerak ataupun kembali menerjang, seolah apa yang baru saja terjadi berada di luar dugaan mereka. Selama ini, pemimpin kawanan selalu menjadi sosok yang tak tergoyahkan, tetapi kini makhluk itu benar-benar terluka oleh tebasan seorang bocah manusia. Pemandangan tersebut membuat seluruh kawanan ragu untuk melangkah.
Han Wei menjadi orang pertama yang tersadar dari keterkejutannya. Matanya langsung memancarkan semangat ketika melihat kesempatan yang begitu langka itu.
"Serang!" teriaknya lantang.
Teriakan tersebut membangunkan semangat seluruh pemburu yang tersisa. Mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun. Anak-anak panah segera melesat membelah udara, tombak ditusukkan bertubi-tubi, sementara kapak dan senjata lain diayunkan dari berbagai arah. Walaupun serangan-serangan itu belum mampu memberikan luka yang benar-benar mematikan, tekanan yang terus-menerus mereka berikan membuat pemimpin kawanan semakin terdesak.
Aroma darah mulai memenuhi udara hutan, bercampur dengan bau tanah dan dedaunan yang porak-poranda akibat pertempuran. Setelah beberapa saat, pemimpin kawanan akhirnya kembali berdiri. Namun kali ini langkahnya sudah tidak lagi tegap sebelumnya. Kaki depan kanannya pincang akibat luka panjang yang ditorehkan Pisau Naga Kuno, sementara sepasang mata hijau terangnya memancarkan kemarahan yang begitu pekat.
Tatapan itu perlahan beralih hingga berhenti pada Xiao Yun.
Dialah penyebab luka tersebut.
Untuk beberapa saat, tidak ada suara yang terdengar selain embusan angin yang berdesir pelan di antara pepohonan. Xiao Yun dan pemimpin kawanan saling menatap tanpa berkedip, seolah keduanya sedang mengukur tekad lawan masing-masing.
Kemudian sesuatu yang sama sekali tidak diduga terjadi.
Pemimpin kawanan perlahan mengangkat kepalanya ke arah langit.
AUUUUUUUUUUUU!!!
Lolongan panjang yang sarat wibawa menggema ke seluruh Hutan Pinus Utara. Suaranya jauh berbeda dari lolongan serigala biasa, terdengar lebih dalam dan penuh perintah.
Begitu lolongan itu berakhir, seluruh Serigala Bulan Perak langsung menghentikan serangan mereka. Satu demi satu mereka mulai mundur perlahan tanpa sedikit pun membantah perintah tersebut.
Han Wei memandang pemandangan itu dengan wajah tercengang.
"Itu..."
Di samping Xiao Yun, Luo Hai hanya memperlihatkan senyum tipis.
"Ia memerintahkan mundur."
Pemimpin kawanan telah mengambil keputusan. Walaupun kekuatannya masih berada di atas manusia-manusia di hadapannya, ia memahami bahwa kemenangan tidak lagi dapat dipastikan. Jika pertarungan dipaksakan hingga akhir, terlalu banyak anggota kawanan yang akan kehilangan nyawa. Sebagai pemimpin, ia memilih menjaga kelangsungan kawanan daripada mempertaruhkan semuanya dalam satu pertempuran.
Satu demi satu Serigala Bulan Perak menghilang ke balik pepohonan yang mulai diselimuti kegelapan senja. Pemimpin kawanan menjadi yang terakhir meninggalkan tempat itu. Sebelum berbalik, ia kembali menoleh ke arah Xiao Yun. Tatapan hijau tajamnya kembali bertemu dengan mata bocah tersebut, seolah ingin mengingat wajah manusia muda yang telah berhasil melukainya.
Beberapa detik kemudian, ia memalingkan tubuh dan menghilang di antara rimbunnya pepohonan bersama seluruh kawanannya.
Kesunyian akhirnya kembali menyelimuti Hutan Pinus Utara.
Tidak seorang pun langsung berbicara. Semua orang masih berusaha memastikan bahwa mereka benar-benar berhasil selamat.
Lalu, keheningan itu pecah.
"Kita hidup!"
"Kita berhasil!"
Sorakan penuh kelegaan menggema di seluruh hutan. Para pemburu tertawa lepas setelah berhasil lolos dari ancaman maut. Beberapa bahkan terduduk di tanah sambil mengusap wajah mereka, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang panjang.
Han Wei berjalan menghampiri Xiao Yun. Ia berhenti tepat di depan bocah itu, menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tertawa keras.
"Hahaha! Aku benar-benar tidak menyangka."
Tangannya menepuk bahu Xiao Yun dengan penuh penghargaan.
"Tanpamu, kami mungkin tidak akan pernah pulang hidup-hidup."
Para pemburu lain ikut menganggukkan kepala. Tatapan mereka kini telah berubah sepenuhnya. Tidak ada lagi yang memandang Xiao Yun sebagai seorang anak kecil. Di mata mereka, bocah itu telah menjadi rekan seperjuangan yang menyelamatkan nyawa seluruh kelompok.
Setelah keadaan benar-benar tenang, mereka mulai mengumpulkan hasil perburuan. Bangkai beberapa Serigala Bulan Perak yang tewas ditangani dengan hati-hati agar seluruh bagian yang bernilai tetap terjaga. Sesuai kesepakatan bersama, Xiao Yun memperoleh bagian yang cukup besar berupa beberapa taring berkualitas baik, kulit serigala yang masih utuh, serta berbagai bahan hewan iblis lain yang dapat dijual dengan harga tinggi.
Malam pun tiba perlahan. Di sebuah tempat yang dianggap cukup aman, kelompok pemburu mendirikan perkemahan sederhana. Api unggun segera dinyalakan hingga cahaya jingganya menerangi wajah setiap orang yang duduk mengelilinginya.
Tidak jauh dari sana, Xiao Yun memilih duduk sendirian di dekat nyala api. Di atas kedua tangannya terbaring Pisau Naga Kuno yang memantulkan cahaya hangat dari kobaran api unggun.
Pikirannya kembali mengingat kejadian aneh yang terjadi di tengah pertempuran tadi. Getaran halus yang muncul tanpa sebab, disusul cahaya samar pada mata naga yang terukir di ganggang pisau, masih terasa begitu nyata dalam ingatannya. Ia yakin sepenuhnya bahwa semua itu bukanlah khayalan.
"Guru," bisiknya pelan, "apa sebenarnya pisau ini?"
Luo Hai memandang Pisau Naga Kuno cukup lama tanpa segera menjawab. Tatapannya tampak dalam, seolah sedang mengenang sesuatu yang sangat jauh di masa lalu. Namun pada akhirnya ia hanya menggeleng perlahan.
"Rahasia pisau itu belum waktunya terungkap."
"Kau harus menjadi lebih kuat terlebih dahulu."
Xiao Yun kembali menundukkan kepala, memandangi peninggalan terakhir kakek angkatnya itu. Di balik logam tua yang tampak sederhana serta ukiran kepala naga kuno pada ganggangnya, pasti tersembunyi sebuah rahasia besar. Rahasia itu mungkin berkaitan dengan asal-usul dirinya, atau bahkan memiliki hubungan dengan Nadi Kekosongan yang selama ini masih menjadi teka-teki.
Namun untuk saat ini, semuanya masih tertutup rapat oleh kabut misteri.
Api unggun terus menari di tengah malam yang sunyi di Hutan Pinus Utara, sementara Pisau Naga Kuno memantulkan cahaya redup di tangan Xiao Yun. Ia memang belum mengetahui rahasia apa yang tersembunyi di balik peninggalan terakhir kakeknya, tetapi jauh di dalam hatinya telah tumbuh keyakinan yang semakin kuat.
Suatu hari nanti, di ujung jalan kultivasi yang sedang ditempuhnya, seluruh jawaban itu pasti akan menantinya.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan Hutan Pinus Utara, memancarkan berkas cahaya keemasan yang menyinari perkemahan sederhana para pemburu. Api unggun yang semalam menghangatkan mereka kini telah padam, hanya menyisakan bara yang perlahan berubah menjadi abu. Udara pagi terasa sejuk dan segar, sementara embun masih menempel di dedaunan. Meski tubuh mereka dipenuhi luka dan kelelahan akibat pertempuran semalam, suasana di perkemahan jauh lebih cerah dibanding hari sebelumnya. Tidak seorang pun menyangka mereka mampu selamat dari serangan kawanan Serigala Bulan Perak. Fakta bahwa mereka masih dapat berdiri dan menghirup udara pagi sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk disyukuri.
Para pemburu segera membereskan perlengkapan mereka. Sebagian sibuk membersihkan tombak dan pedang yang masih berlumuran darah, sebagian lagi menguliti hasil buruan dengan gerakan terampil agar setiap bagian hewan iblis dapat dimanfaatkan. Beberapa orang lainnya mulai merapikan barang bawaan dan menyiapkan perjalanan pulang menuju desa. Xiao Yun pun turut bersiap melanjutkan perjalanannya. Tujuannya tidak berubah sejak awal, yakni Kerajaan Yan Utara, tempat yang selama ini hanya ia kenal melalui cerita Luo Hai dan berbagai kisah yang belum pernah ia saksikan dengan matanya sendiri.
"Jadi kau benar-benar akan pergi ke sana?" tanya Han Wei sambil menghampiri Xiao Yun.
Xiao Yun mengangguk pelan. "Aku masih memiliki urusan yang harus ku selesaikan."
Han Wei tertawa kecil sambil menggelengkan kepala. "Meski usiamu masih sangat kecil, cara bicaramu justru terdengar seperti orang dewasa yang sudah mengalami banyak hal."
Xiao Yun hanya membalas dengan senyum tipis. Ia tidak mungkin menceritakan semua pengalaman yang telah mengubah hidupnya, mulai dari kebangkitan Nadi Kekosongan, warisan Altar Pertama yang diperolehnya, hingga keberadaan Luo Hai yang selama ini membimbingnya. Semua itu terlalu sulit dijelaskan kepada orang lain.
Tak lama kemudian Han Wei kembali membawa sebuah kantong kain kecil. Ia mengulurkannya kepada Xiao Yun tanpa banyak bicara.
"Apa ini?" tanya Xiao Yun sambil menerima kantong tersebut.
"Itu bagianmu," jawab Han Wei singkat.
Xiao Yun membuka kantong kain itu dan seketika sedikit terkejut. Di dalamnya terdapat puluhan Koin Emas beserta beberapa bahan hewan iblis hasil pertempuran kemarin yang nilainya jelas tidak sedikit.
Ia segera menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menerima sebanyak ini."
Han Wei langsung tertawa keras hingga beberapa pemburu lain ikut menoleh. "Kalau bukan karena dirimu, kami semua mungkin sudah menjadi makanan kawanan serigala."
Beberapa pemburu lain mengangguk setuju.
"Itu memang hakmu."
"Ambillah."
"Jangan membuat kami merasa masih memiliki utang budi kepadamu."
Melihat kesungguhan mereka, Xiao Yun akhirnya tidak lagi menolak. Ia menyimpan kantong itu dengan hati-hati. Menurut perhitungannya, jumlah harta tersebut sangat besar, bahkan jauh melampaui seluruh kekayaan yang pernah dimilikinya selama hidup di Desa Kabut.
"Koin memang penting," ujar Luo Hai tenang. "Namun pengalaman yang kau peroleh dalam pertempuran jauh lebih berharga daripada semua itu."
Xiao Yun mengangguk dalam hati. Ia memahami maksud gurunya. Harta bisa habis digunakan, tetapi pengalaman bertarung akan tetap menjadi bekal yang menyelamatkan nyawanya di masa depan.
Setelah seluruh urusan selesai, tibalah saatnya mereka berpisah. Han Wei melangkah mendekat, lalu menepuk bahu Xiao Yun dengan lembut.
"Kerajaan Yan Utara sangat berbeda dengan tempat-tempat yang pernah kau datangi," katanya dengan wajah yang berubah serius. "Di sana hidup banyak kultivator, banyak penipu, dan tidak sedikit orang yang rela membunuh hanya demi memperoleh keuntungan."
Tatapannya semakin tajam.
"Jangan mudah mempercayai siapa pun."
Xiao Yun mengingat baik-baik nasihat tersebut sebelum mengangguk mantap.
"Aku akan mengingatnya."
Han Wei tersenyum puas. "Kalau begitu semoga perjalananmu lancar. Kita pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti."
Setelah saling memberi salam perpisahan, kedua belah pihak akhirnya mengambil jalan masing-masing. Kelompok Han Wei kembali menuju kampung mereka sambil membawa hasil buruan, sedangkan Xiao Yun kembali melanjutkan perjalanan ke arah utara sesuai tujuan yang telah ditetapkannya sejak awal.
...BERSAMBUNG ...
Yun ada kaitannya sama tokoh sblm nya nggak sih?