Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Reinkarnasi Menjadi Usia 15 Tahun — Part 7
"Sudah waktunya kau mengingat siapa dirimu."
Suara monster itu menggema di antara pepohonan di pinggiran Hutan Elaria. Bukan gema biasa yang memantul di batang pohon. Gema itu terasa seperti bergetar di dalam tanah, di dalam tulang, di dalam dua jiwa yang berbagi satu tubuh.
Angin berhenti total. Bahkan daun-daun kering yang tadi beterbangan karena pertarungan melawan tiga Horned Direwolf kini jatuh dan diam di tanah, seolah-olah takut bergerak.
Yamada tidak bergerak. Kakinya yang tadi gemetar karena lelah dan takut, kini terkunci di tempat. Bukan karena dia tidak ingin lari, tapi karena tatapan mata merah menyala di depannya itu menguncinya.
Matanya tetap tertuju pada makhluk besar di depannya. Makhluk setinggi hampir tiga meter, dengan mahkota tiga tanduk hitam, bulu yang menyerap cahaya, dan ekor bercabang.
Sistem terus berkedip di depan wajahnya, dengan suara alarm yang melengking, yang hanya bisa didengar oleh Yamada.
[WARNING.]
[WARNING.]
[SYSTEM ERROR. UNKNOWN INTERFERENCE.]
[Synchronization: 64% -> 58% -> 61% -> 54% - UNSTABLE]
Kemudian, dengan suara 'pop' pelan seperti gelembung sabun yang pecah—
seluruh jendela transparan itu menghilang. Total. Tidak ada status, tidak ada level, tidak ada peta, tidak ada peringatan. Hanya kegelapan hutan dan monster di depannya.
"Bagus." Yamada menghela napas, napas yang berat, tapi kali ini ada sedikit rasa lega yang aneh di dalamnya. Uap putih keluar dari mulutnya karena hawa dingin yang tiba-tiba turun.
"Sistemku mati. Akhirnya dia diam juga. Berisik dari tadi."
Jangan bercanda! Suara Yamada yang asli, yang ada di dalam kepalanya, berteriak panik. Sistem mati itu bahaya! Itu berarti kita tidak dilindungi apa pun! Bagaimana kalau dia menyerang sekarang?!
"Aku tidak bercanda." Jawab Yamada pelan, matanya tidak lepas dari monster itu. Dia memegang erat pedang kayu yang tersisa setengah, yang ujungnya sudah tumpul dan penuh dengan darah hitam monster sebelumnya. Kayu itu bergetar di tangannya, bukan karena takut, tapi karena tangannya sudah kehabisan tenaga.
Dia tahu satu hal dengan insting yang tidak bisa dijelaskan oleh logika. Satu hal yang membuat bulu kuduknya berdiri lebih dari sekadar takut mati.
Makhluk di depannya berbeda dari monster sebelumnya. Jauh, jauh berbeda.
Monster biasa, seperti tiga serigala bertanduk tadi, menyerang karena naluri lapar, karena teritorial, karena diperintah oleh alpha. Mereka menggeram, menerkam, menggigit.
Makhluk ini berbicara. Dengan bahasa manusia yang fasih. Dengan intonasi yang mengandung emosi, mengandung ingatan.
Dan yang lebih mengkhawatirkan dari semuanya— lebih mengkhawatirkan daripada levelnya yang tidak terdeteksi—
dia mengenal Yamada. Bukan mengenal sebagai mangsa. Mengenal sebagai... seseorang yang dia tunggu.
"Aku punya pertanyaan." Kata Yamada akhirnya, dengan suara serak karena debu dan teriakan tadi. Dia mencoba menegakkan punggungnya, meskipun punggungnya perih karena cakaran.
Monster besar itu menatapnya, kepala besarnya sedikit miring, seperti seekor anjing cerdas yang sedang mendengarkan. Mata merahnya berkedip pelan.
"Silakan. Tanyakan apa saja. Malam ini panjang." Suaranya berat, dalam, tapi tidak lagi mengancam seperti tadi. Lebih seperti... lelah.
"Siapa kau? Apa kau bos dari serigala-serigala tadi? Alpha mereka?" Yamada bertanya, pertanyaan paling dasar.
Makhluk tersebut tersenyum. Senyum serigala yang mengerikan, yang memperlihatkan taring sepanjang jari kelingking, tapi senyum itu tidak terasa buas, lebih terasa... nostalgia.
"Pertanyaan yang sederhana." Dia melangkah maju satu langkah. Satu langkahnya membuat tanah bergetar pelan, daun-daun kering bergetar. "Tapi jawabannya tidak sederhana. Tidak sesederhana level dan nama spesies yang biasanya ditampilkan oleh teman kecilmu itu, sistem itu."
Yamada tetap diam, tidak mundur, meskipun nalurinya berteriak untuk mundur.
"Namaku tidak penting untukmu saat ini." Lanjut makhluk itu. "Nama adalah sesuatu yang diberikan oleh orang lain untuk memanggilmu. Aku sudah terlalu lama tidak dipanggil dengan nama."
"Kalau begitu aku akan memanggilmu apa? Pak Tanduk? Bos Besar? Aku butuh sebutan, biar tidak merepotkan." Jawab Yamada, dengan sedikit sarkasme malas yang muncul sebagai mekanisme pertahanan diri saat takut.
Monster itu tertawa. Suara tawanya berat, seperti batu-batu besar yang berguling di dalam gua, tapi tawa itu tulus.
"Seperti dulu. Panggil aku seperti dulu kau memanggilku."
"Seperti dulu?" Yamada mengerutkan kening, alisnya bertaut. "Jadi kita pernah bertemu? Kapan? Di mana? Aku baru tiga hari di dunia ini. Bahkan di kehidupan pertamaku, aku belum pernah melihat anjing sebesar truk."
Monster itu tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Sebaliknya, ia menatap mata Yamada lebih dalam, matanya yang merah menyala itu seolah-olah mencoba melihat menembus bola mata, menembus otak, menembus langsung ke dua jiwa yang ada di dalamnya.
Tatapannya berubah. Dari tatapan predator yang menilai mangsa, menjadi tatapan seseorang yang sedang memastikan sesuatu, memastikan bahwa wajah di depannya adalah wajah yang benar, bahwa jiwa di dalamnya adalah jiwa yang benar.
Kemudian berkata, dengan suara yang lebih pelan, hampir berbisik,
"Benar. Matamu... masih sama. Malas, tapi... masih sama seperti waktu itu."
Yamada merasakan sesuatu yang aneh di dalam kepalanya. Bukan suara sistem. Bukan suara Yamada yang asli.
Sakit.
Sangat sakit. Rasa sakit yang tajam, yang menusuk dari dalam tengkorak, dari belakang mata, seperti ada paku panas yang ditusukkan perlahan.
"Yamada!" Suara kesadaran kedua, Yamada yang asli, terdengar kaget dan khawatir. "Kenapa? Apa yang terjadi? Kepalaku sakit!"
"Aku tahu! Kepalaku juga!" Yamada memegang kepalanya dengan kedua tangan, pedang kayu setengahnya jatuh ke tanah dengan suara 'tuk'. Lututnya lemas.
Sebuah gambaran muncul, bukan seperti ingatan biasa yang kabur, tapi seperti film yang diputar paksa di dalam otaknya dengan kecerahan yang menyakitkan.
Hutan. Bukan pinggiran hutan seperti sekarang, tapi jauh lebih dalam, gelap, dengan pohon-pohon yang tingginya tidak masuk akal, yang daunnya tidak pernah terkena sinar matahari.
Api. Api hitam, bukan api merah biasa, yang membakar pepohonan tapi tidak menghasilkan asap.
Darah. Banyak darah, menggenang di tanah, membentuk pola yang mirip dengan lingkaran sihir yang dia lihat di kertas ayahnya.
Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun berdiri di tengah lingkaran sihir yang menyala dengan cahaya ungu. Wajahnya adalah wajahnya, wajah Yamada yang ada di cermin, tapi ekspresinya berbeda, penuh ketakutan dan keputusasaan, bukan kemalasan.
Di depannya... makhluk yang sama. Makhluk bertanduk tiga yang sedang berdiri di depannya sekarang, tapi terlihat sedikit lebih kecil, dengan bulu yang tidak terlalu hitam.
Kemudian suara, suara makhluk itu, tapi jauh lebih lembut, jauh lebih muda.
"Jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin membawamu pulang."
Gambaran berubah dengan cepat, seperti kaset yang dipercepat.
Seorang pria yang mirip ayahnya, tapi lebih muda, tanpa uban, sedang mengayunkan pedang baja sungguhan, bukan pedang kayu, melawan bayangan-bayangan hitam.
Seorang wanita yang mirip ibunya, tapi lebih muda dan cantik, sedang memeluk anak laki-laki kecil sambil menangis.
Rumah kayu yang sama, tapi terlihat lebih baru, lebih hangat, dengan lampu yang menyala terang.
Kehidupan yang sederhana, bahagia.
Kemudian— semuanya terbakar.
Seorang anak laki-laki yang lebih tua, mungkin 18 atau 19 tahun, dengan wajah yang mirip Yamada tapi lebih dewasa, lebih tampan, tersenyum sambil mengacak-acak rambut Yamada kecil yang masih berusia 10 tahun.
"Jangan menangis, Yamada. Kakak akan selalu melindungimu. Kakak janji."
Kemudian api hitam itu datang lagi, menelan rumah itu.
Darah.
Jeritan ibu.
Jeritan ayah.
Dan sebuah suara yang dalam, suara yang sama, berkata dari dalam api,
"Aku akan kembali untuk mengambil adikmu. Dia milikku. Dia sudah dijanjikan."
Gambaran itu menghilang seketika, seperti lampu yang dimatikan.
Yamada membuka matanya dengan paksa, napasnya tersengal-sengal, seperti orang yang baru saja tenggelam dan berhasil muncul ke permukaan. Keringat dingin membasahi seluruh wajah dan punggungnya, meskipun udara malam sangat dingin.
"Apa... apa itu tadi..." Dia menatap tangannya sendiri. Tangannya gemetar hebat, tidak terkendali.
Itu ingatanku. Suara kesadaran kedua, Yamada yang asli, terdengar pelan, bergetar, penuh kesedihan yang mendalam, bukan ketakutan lagi. Itu... itu hari itu... hari kakakku...
"Tidak." Yamada menggeleng keras, memegang kepalanya yang masih berdenyut. "Itu bukan ingatanku. Aku tidak pernah punya kakak. Aku anak tunggal di kehidupan pertamaku."
Lalu kenapa kau bisa melihatnya? Kenapa kita berdua bisa melihatnya? Tanya suara itu balik.
"Aku tidak tahu." Jawab Yamada jujur, dengan suara yang lemah.
Monster besar itu tersenyum, melihat reaksi mereka berdua, melihat bagaimana mereka berdua gemetar karena ingatan yang sama.
"Kau mulai mengingat. Perlahan, tapi kau mulai mengingat. Tubuh itu mengingat, bahkan jika jiwamu yang baru mencoba melupakannya."
Yamada menatapnya tajam, dengan mata yang masih berkaca-kaca karena rasa sakit kepala.
"Apa yang kau lakukan padaku? Sihir apa itu? Kau memasukkan ingatan palsu?"
"Aku tidak melakukan apa pun." Monster itu menggelengkan kepala besarnya perlahan. "Aku bahkan tidak menyentuhmu. Ingatan itu berasal dari tubuhmu sendiri. Dari darahmu sendiri. Dari tulang-tulangmu sendiri. Bukan dari jiwamu yang asing itu."
Yamada terdiam. Kata-kata itu... tubuhmu sendiri, bukan jiwamu. Membedakan antara tubuh dan jiwa.
Tubuhnya? Bukan jiwanya?
"Jelaskan. Jelaskan dengan bahasa yang tidak berbelit-belit. Aku benci teka-teki. Teka-teki itu merepotkan." Kata Yamada.
"Belum waktunya." Jawab monster itu, jawaban yang paling dibenci Yamada di seluruh alam semesta, di kehidupan pertama maupun kedua.
Yamada mengerutkan kening dalam.
"Aku benci jawaban seperti itu. Itu jawaban paling malas dan paling tidak bertanggung jawab."
Monster itu tertawa lagi, tawa yang lebih keras, yang membuat burung-burung malam yang bersembunyi di kejauhan terbang ketakutan.
"Kalau begitu kau masih sama. Masih sama seperti dia. Selalu membenci jawaban yang menggantung. Selalu ingin jawaban instan, tapi malas mencari jawabannya sendiri."
"Sama dengan siapa? Siapa 'dia' yang kau maksud?" Yamada bertanya, menangkap kata itu.
"Dirimu yang dahulu. Dirimu sebelum kau menjadi pemalas." Jawab monster itu, dengan tatapan yang jauh, menatap masa lalu yang tidak diketahui Yamada.
Tiba-tiba— di tengah keheningan yang mencekam itu—
[System recovery. Emergency reboot complete.]
Jendela transparan yang tadi hilang, muncul kembali dengan paksa, dengan suara berdengung keras, seperti mesin tua yang dipaksa menyala.
[Emergency protocol activated: Host in contact with Forbidden Entity.]
[Unknown entity detected. Re-establishing barrier...]
[Threat classification: Impossible. Beyond system calculation.]
Yamada membaca tulisan itu dengan napas masih terengah-engah, sambil memegangi kepalanya.
"Impossible? Klasifikasi mustahil?"
[Entity does not conform to known biological classification of Benua Arkania. Entity predates System.]
"Dan levelnya? Berapa levelnya? Tampilkan levelnya biar aku tahu seberapa mustahil dia."
[Unable to calculate. Level exceeds system limit. Estimated Level: > 80.]
Yamada menghela napas, kali ini napas pasrah yang total. Level 80, sedangkan dia Level 1. Perbedaan 80 kali lipat.
"Setidaknya konsisten. Dari tadi tidak bisa dihitung terus."
Monster itu mengangkat satu cakarnya yang besar, cakar yang setiap kukunya sebesar pisau. Yamada langsung bersiap, mengambil kembali pedang kayu setengahnya dari tanah dengan gerakan refleks, meskipun dia tahu pedang itu tidak akan berguna sama sekali melawan makhluk Level 80.
Namun monster itu tidak menyerang. Ia hanya menunjuk dengan kuku telunjuknya yang panjang ke belakang Yamada, ke arah desa, ke arah rumahnya yang lampunya terlihat samar dari kejauhan.
"Pergilah."
Yamada terdiam, tidak mengerti. Ototnya masih tegang.
"Apa?"
"Pergilah. Kembali ke rumahmu. Kembali ke ibumu yang sedang khawatir."
"Kenapa? Kenapa kau membiarkanku pergi? Kau bisa membunuhku sekarang. Kau bisa mengambil tubuh ini, kalau memang tubuh ini milikmu seperti yang kau bilang."
"Karena waktumu belum tiba." Jawab monster itu, dengan suara yang terdengar seperti seorang guru yang kecewa pada muridnya yang datang terlambat. "Benihnya belum tumbuh. Ingatannya belum kembali sepenuhnya. Kalau aku mengambilmu sekarang, yang kudapat hanya cangkang kosong yang malas."
Yamada tidak bergerak, masih curiga. Ini terlalu mudah.
Monster itu melanjutkan, matanya melirik ke jendela sistem merah yang berkedip-kedip di depan Yamada,
"Jika kau tetap di sini lebih lama, sistem itu akan memaksamu melawanku. Dan kau akan mati. Sistem itu tidak suka padaku. Dia akan mengorbankanmu hanya untuk mencoba menggoresku. Dan aku tidak ingin kau mati lagi untuk kedua kalinya."
Yamada melihat jendela sistemnya. Benar saja, di bawah peringatan Impossible, ada tulisan baru yang muncul.
[Combat mode available. Host is encouraged to engage.]
[Recommended action: Engage Forbidden Entity to gain massive EXP. Risk: 99.8% death.]
[Accept? Yes / No]
Yamada mendengus, melihat pilihan Yes/No itu.
"Sistem menyuruhku menyerangmu. Bilang akan dapat EXP besar."
Monster itu tersenyum, senyum yang mengejek sistem.
"Dan kau akan menurutinya? Kau akan menurut pada sistem yang bahkan tidak bisa melindungimu dari rasa sakit kepala tadi? Sistem yang kau sendiri bilang jangan dipercaya?"
Yamada berpikir, hanya sepersekian detik. Lalu menjawab dengan tegas,
"Tidak. Aku malas mati malam ini."
[......]
[Host refused combat recommendation.]
[Calculating alternative...]
Sistem terdiam, seolah-olah bingung dengan penolakan itu.